
Dor!
"Tuan!" Rio berteriak keras, mendorong tubuh Marshal hingga tersungkur.
Pyarrr!
"Herlan, perketat penjagaan!"
Enam orang berpakaian rapi, dengan gagah segera berlari ke arah mereka. Dua di antaranya menolong Marshal, membantunya berdiri dan segera menepi. Sedangkan empat lainnya berpencar mengejar dua orang yang barusan berani menembakkan peluru terhadap suami Viona.
Suasana malam terasa ricuh di depan restoran mewah, tempat Marshal akan bertemu dengan kliennya. Baru dia akan masuk ke dalam restoran, suara pistol terdengar kencang, menembakan peluru mengarah pada Marshal. Untung saja, Rio sigap menyadari dan mendorong Marshal, sehingga peluru tersebut tidak mengenai majikannya, tapi meleset pada kaca besar luar restoran.
"Tuan, tidak apa?"
Marshal masih syok. Dia menggeleng, memperhatikan sekitar. Orang-orang berhamburan keluar untuk melihat keributan. Semua terlihat panik, begitu pun dirinya. "Apa itu tadi?"
"Seperti dugaan ... mereka mulai penyerangan diam-diam."
Marshal terlihat masih kaget. Dia memperhatikan Rio yang menghubungi seseorang, sedangkan dirinya berada di pojokan luar restoran diapit oleh dua pengawal. Seorang pria paruh baya menghampirinya. Terlihat panik dan kebingungan. Marshal ingin maju menghampirinya, tapi di ditahan oleh pengawalnya sendiri.
"Dia pemilik restoran. Tidak apa." Baru pengawalnya memberikan dia kebebasan untuk mendekat dengan pria paruh baya itu.
"Ada apa ini, Tuan?" tanya pria itu pada Marshal. Dia terlihat panik memperhatikan sekitar.
Marshal ingin menjelaskannya, tapi Rio sudah lebih dulu menghampiri mereka. Rio menjelaskan semuanya pada pemilik restoran tersebut. Seketika pemilik restoran terlihat ketakutan. Dia memerintah pegawainya untuk berhati-hati. Semua staf dia kerahkan. Pihak mereka juga menenangkan pengunjung hingga mereka paham dan kembali ke dalam, meskipun masih terlihat panik. Bahkan ada yang lebih memilih pulang, ketakutan, demi menyelamatkan diri dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
"Apa sudah ditemukan?"
Rio melirik Marshal yang terlihat mengernyitkan dahi dengan kuat. "Dalam pengejaran, Tuan. Mereka berpencar cepat. Kami sedang mengejarnya."
"Cepat tangani! Mereka harus tertangkap."
__ADS_1
"Pasti, Tuan."
***
"Halo? Siapa?"
"Halo, Nyonya. Selamat malam. Kami menghubungi Anda ingin mengabarkan kabar darurat. Suami Anda, Tuan Marshal, mengalami kecelakaan parah baru saja. Bisakah Anda segera datang? Beliau membutuhkan Anda. Saya akan kirim alamatnya sekarang. Saya harap Anda segera ke sini. Tuan Marshal terluka parah dan membutuhkan Anda."
Antara terkejut, syok, dan bingung Viona memandangi ponselnya yang baru saja menerima panggilan dari nomor asing. Panggilannya baru saja terputus secara sepihak, kemudian pesan masuk berupa alamat. Perasaannya mulai tidak enak. Antara percaya dan tidak, apakah berita itu benar? Viona menghubungi nomor itu lagi, tapi sudah tidak aktif.
Marshal kecelakaan?
Siapa yang menelponnya barusan? Jika benar Marshal mengalami kecelakaan, yang pertama kali menghubungi pasti orang-orang suaminya. Tapi, yang barusan siapa?
Dia menghubungi nomor Marshal, tidak bisa. Nomornya tidak bisa dihubungi, nomor Rio pun sama. Nomor siapa lagi yang bisa dia hubungi? Viona tidak tahu harus menelpon siapa. Perasaannya mulai tidak enak. Dia takut, jika berita itu benar, meskipun dia tidak boleh langsung percaya dengan berita yang tiba-tiba tersebut.
Viona berlari keluar dari kamar, menuruni tangga dengan tergesa. Dia terus menghubungi nomor siapa saja yang kenal dengan Marshal. Perasaannya semakin tidak karuan. Semua nomor tidak ada yang menerima panggilan darinya.
Tidak lama kemudian, Erni muncul dari balik pintu yang baru saja terbuka. Dia terlihat kaget dengan kedatangan Viona. "Ada apa, Nyonya? Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?"
"Telepon Rio!"
"Maaf, ada apa Nyonya?" Erni terlihat kebingungan. Viona nampak sangat panik, wajahnya dipenuhi rasa cemas.
"Tu-tuan kecelakaan."
Mata Erni membulat. Tanpa pikir panjang dan banyak bertanya, dia berlari ke dalam kamar mengambil ponsel. Segera dia mengotak-atik benda tersebut dan menempelkannya ke depan telinga. Viona masuk ke dalam kamarnya, duduk di tepi ranjang, mencoba menghubungi nomor Wisnu. Entah kenapa dia hanya teringat dengan ayah mertuanya. Wisnu bisa saja tahu hal apapun yang terjadi terhadap putra tercintanya. Tapi, panggilan Viona tidak mendapat jawaban.
"Tidak bisa dihubungi." Erni menggeleng pada Viona.
Suami Marshal memang sudah mencobanya sejak tadi. Nomor Rio dan Marshal memang sama-sama tidak bisa dihubungi. Marshal tidak aktif, sedangkan milik Rio selalu dalam panggilan lain. Dia semakin cemas, takut beritanya memang sungguhan. Tapi, Viona tidak boleh gegabah. Penelepon tadi tidak jelas. Dia tidak boleh langsung percaya, sebelum terkonfirmasi dari orang-orang suruhan Marshal.
__ADS_1
Tapi, dia gelisah. Ponselnya tidak berhenti untuk menghubungi nomor. Dia tidak bisa tenang.
"Diangkat!" Erni berseru kencang, memberikan ponselnya pada Viona.
Dengan cepat Viona menerimanya dan menempelkan benda tersebut ke telinga. "Rio? Halo? Tuan di mana? Dia tidak apa-apa, kan?" Viona yang panik tergesa-gesa bertanya. Dadanya sudah berdebar menunggu jawaban. Yang terdengar hanya suara ricuh dan bisik-bisik seseorang. "Rio! Rio, halo!"
"Nyonya kenapa?"
"Tuan mana? Dia baik-baik saja? Dia tidak kecelakan, kan? Rio!"
Rio malah bertanya lagi, Viona kenapa. Dengan panik dan cemas yang luar biasa, Viona menjelaskan semuanya. Terdengar kesiap dari mulut Rio sebelum bisik-bisik kembali terdengar. Viona ingin tahu apa yang terjadi, tapi panggilan malah ditutup begitu saja. Dia ingin menghubungi Rio lagi, tapi nomor tersebut sudah lebih dulu masuk ke ponsel milik Erni.
"Berhati-hatilah di rumah, Sayang. Jangan terima panggilan dari nomor yang tidak kenal. Aku baik-baik saja. Harap tenang, ya. Aku tidak mau hal buruk terjadi padamu."
"Tapi, Chal-Chal!" Viona menatap marah pada ponsel di tangannya. Apa maksud dari perkataan Marshal? Apa sebenarnya terjadi?
"Tenang, Nyonya. Jangan panik!" Erni mengusap bahu Viona dengan lembut. Dia memberikan segelas air yang belum dia minum dari atas nakas. Setelah melihat Viona sedikit tenang, meski terus menghubungi nomor Rio dan Marshal, dia bisa sedikit lebih terkontrol.
"Rio! Rrrgh!" Viona menggeram marah pada ponselnya. Dia tidak akan bisa tenang, jika tidak tahu kebenaran. "Apa yang terjadi dengan tuan?"
"Sepertinya tidak terjadi apa-apa, Nyonya. Tadi tuan berbicara baik-baik saja, kan? Apa Rio juga bilang, jika tuan kecelakaan?"
Viona menggeleng menatap Erni. Benar juga. Seharusnya dia tidak berburuk pikiran seperti itu.
Panggilan dari nomor Rio. Viona menerimanya dengan cepat. "Tuan tidak-"
"Kirimkan alamat yang orang tadi kirim padamu. Aku akan menyelidikinya." Itu suara Marshal. Panggilan kembali terputus dan Viona mematung.
Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Viona merasa linglung dan kesusahan untuk mencerna semua keadaan saat ini.
__ADS_1