
"Kenapa, hm?"
Viona menggelengkan kepalanya pelan. Bersikap untuk acuh terhadap keberadaan Marshal yang terasa sangat mengganggunya. Apalagi wanita tadi malah duduk di samping suaminya. Makin besarlah kesal Viona.
Acara sudah dimulai dan pembawa acara telah mengeluarkan suara. Lalu, Marshal dipanggil untuk naik ke atas podium, selaku pemilih hotel yang dinaungi oleh Mars Corporations. Tidak lupa dia juga menyapa semua petinggi perusahaan yang hadir. Dan Viona semakin muak saat menyapa para petinggi, pandangannya melihat sejenak pada nona Garmita tadi. Dan riuh hadirin bertepuk tangan saat Marshal menyapa sang Nyonya Mars Corporations dari atas podium disertai dengan senyuman bangga.
Viona memberikan senyuman manis, pada hadirin tentunya, bukan pada suaminya. Marshal menyampaikan beberapa hal dan Viona tidak terlalu mendengarkan apa saja yang suaminya ucapkan. Cukup hanya dengan duduk diam, menyaksikan dan memberikan respon yang sama seperti para hadirin yang lain. Mereka memberikan tepukan tangan untuk Marshal, Viona melakukan hal yang sama. Hanya begitu saja sampai sambutan dari pemilik perusahaan selesai.
Marshal turun dan kembali duduk di samping istrinya. Terlihat sangat berwibawa dan penuh percaya diri telah membuka kembali satu hotel yang sangat mewah di bawah naungan perusahaannya. Marshal memang keren di usianya yang masih muda. Hampir menginjak kepala tiga. Tapi, dia memang seperti elang yang mengepakkan sayap indah di udara. Terbang tinggi dan menjelajah tanpa batas dengan ketajaman yang sangat tidak tertandingi. Viona akui dia memang bangga. Tapi, tidak dengan sikapnya saat ini.
Viona mendengus pelan melihat Marshal yang condong ke samping kanan, pada Garmita, sedangkan dirinya yang ada di samping kiri terabaikan. Marshal nampak berbicara dengan wanita cantik itu, terlihat sangat serius. Suasana mulai terasa panas bagi Viona. Apalagi sesekali Marshal bicara terhadap wanita itu lebih mendekat, karena suara mereka tidak begitu jelas terdengar, dikalahkan oleh suara mic dari pembawa acara dan beberapa kata demi kata dari para pejabat perusahaan.
Kapan acara ini akan selesai? Viona sudah bosan berada di posisi itu. Marshal memang tidak terlihat macam-macam atau romantis dengan wanita bernama Garmita tersebut. Hanya terlihat serius, menampilkan formalitas sebagai rekan kerja. Tapi, kenapa dada Viona bergemuruh, rasanya Ingin menjambak rambut Garmita sampai terlepas dari kepalanya.
"Apa Nyonya ada waktu malam besok?"
"Hah?" Viona melirik kikuk ke arah Garmita yang condong kepadanya. Seketika pandangan Viona menajam, karena tubuh yang condong itu sangat dekat pada tubuh Marshal. Tidak bisakah mereka berjauhan sedikit? Viona panas melihatnya. "Maaf, bagaimana, Nona?" Viona tersenyum kikuk, tidak terlalu mendengarkan apapun di sekitarnya. Dia telah larut dengan rasa kesal sampai tidak tahu jika Garmita sejak tadi mengajak bicara.
__ADS_1
"Garmita bertanya, 'apa kamu ada waktu besok malam?'" Marshal mengulanginya dengan senyuman tercetak jelas di bibir.
Viona diam sejenak. Tidak ada embel-embel Nyonya atau Nona? Langsung menyebut nama seperti itu ternyata membuat api amarahnya semakin naik. Sebenarnya, sedekat apa mereka ini?
"Tentu saja ada, Nona. Memangnya kenapa, ya?" Dia tertawa hambar sejenak, mencairkan kikuk yang dia rasakan. Dan amarah, sebenarnya.
Garmita tersenyum, masih terlihat cantik dan ramah. "Saya ingin mengajak Nyonya untuk sekadar berkenalan. Apa bisa Nyonya datang ke tempat saya, besok malam?"
Viona terdiam, melihat wajah Marshal yang tampak tenang memperhatikan seorang kepala hotel yang masih mengoceh di atas podium. Sesekali dia melirik ke arah lain, tapi telinganya memang jeli. Perbincangan antara dua wanita yang mengapitnya masih bisa dia dengarkan dengan baik.
"Emang boleh?" Viona bertanya pada Marshal yang langsung menoleh padanya.
"Baiklah, Insya Allah, saya akan datang, Nona." Sekali lagi Viona memberikan senyuman ramahnya yang dipaksakan. Cukup sudah drama ini. Dia muak dan sangat muak dengan suaminya. Marshal terlihat tenang menikmati rangkaian demi rangkaian acara sampai Tuan Menyebalkan itu dipanggil ke depan untuk memotong pita sebagai tanda pembukaan hotel baru mereka.
Terpaksa dia harus terlihat baik-baik saja mendampingi suaminya berada di barisan depan. Marshal memberikan gunting itu padanya dan menyuruh Viona untuk memotongnya. Viona ragu dan tidak mau. Tapi, tangan Marshal lebih sigap untuk menuntun melakukan pemotongan pita. Viona tersenyum kikuk mendengar tepukan tangan dan tanda selamat yang bergemuruh. Marshal mengusap wajahnya lembut, memperlihatkan pandangan penuh makna, seolah semuanya akan baik-baik saja.
Tapi, tidak baik-baik saja sampai mereka selesai dengan pemotongan pita dan semua hadirin menikmati hidangan yang tersedia. Acara Grand Opening yang Marshal gelar sangat mewah, bahkan mendatangkan artis terkenal sebagai hiburan. Tidak seperti acara Opening-opening pada umumnya, ini seperti acara resepsi penikahan menurut Viona.
__ADS_1
Beberapa artis menghibur mereka dengan iringan musik dan beberapa hadirin malah datang untuk menyalaminya dan Marshal sebagai tanda ucapan selamat atas pembukaan hotel baru mereka. Seketika kejadian beberapa bulan lalu berputar. Dan kejadian seperti ini selalu saja memaksanya untuk tetap tersenyum saat perasaan berkecamuk.
Saat pernikahan, dia memaksa tersenyum karena terpaksa menikah. Dan sekarang dia tersenyum karena rasa cemburu terhadap suaminya. Benar-benar konyol. Keadaan terpaksa yang berubah sampai sejauh ini tidak pernah bisa disangkanya. Viona benar-benar cemburu terhadap Marshal. Semedihkan itukah perasannya? Kenapa tidak pernah merasa bahagia dan tersenyum benar-benar bukan sandiwara ketika bersalaman seperti sekarang?
***
"Kamu tahu 'kan, tuan Arga Mahendra memang rekan kerjaku. Semua keluarganya aku undang untuk datang."
Viona mengangguk pelan tanpa melihat siapa yang berbicara. Pandangannya tetap lurus ke depan, melihat keluarga Arga Mahendra yang duduk bersamaan di sebuah meja mundar dengan hidangan istimewa tersaji di depan mereka. Tamu VIP. Marshal menjelaskannya seperti itu.
Ada Sendi dan calon istrinya di sana. Mereka terlihat baik-baik saja. Viona menghela napas lega, setidaknya Sendi juga bisa meraih kebahagiaan seperti dirinya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua pasti bisa terjadi, selagi tangan Tuhan menghendaki. Dan Viona juga yakin, semua tetap akan berada di jalan yang baik-baik saja, jika ikhlas menjalani.
Tanpa sadar, sebuah tangan terulur di depannya yang tengah duduk. Viona menengadahkan pandangan ke atas, terkejut melihat siapa yang datang menyapanya.
"Selamat atas pembukaan hotel barunya, Nyonya. Aku mewakili segenap keluarga Arga Mahendra mengucapkan, ikut bahagia dan semoga terinvestasi dengan baik. Menghasilkan kebaikan yang sangat besar dan berkembang semakin pesat."
Viona tidak berkedip melihat senyuman ramah dan ucapan itu keluar dari laki-laki yang pernah di cintai beberapa waktu silam. Tidak percaya jika Sendi bisa bicara dengannya tanpa ada nada yang memelas, sedih ataupun memuja. Terlihat ikhlas dan ramah seperti teman biasa.
__ADS_1
Apakah Sendi sudah benar-benar move on sampai berani mendatanginya dan menyapa tanpa beban?