
"Ya, begitulah, Ma." Viona berjalan mengambil tas, lalu keluar dari kamar. Turun dari tangga masih dengan ponsel menempel di telinga. "Kayaknya nggak, deh, Ma. Kak Vino pulang besok, kan? Nah, iya, makanya besok aja aku ke sananya, ya."
Langkahnya terhenti begitu sampai di dapur. "Oke, bye, Mama. Waalaikumsalam." Menutup sambungan telepon dari Lina dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Viona meraih kantong lunch box yang ada di atas meja bar, telah dia siapkan beberapa saat lalu dan membawanya keluar.
Sebuah makan siang sederhana untuk sang suami. Kali ini, Viona ingin mengantarkannya sendiri, karena sangat bosan berada di rumah. Tidak memberitahu Marshal supaya menjadi kejutan. Dan semoga suaminya memang akan terkejut dengan kedatangan Viona yang tiba-tiba.
"Apa aku tidak boleh pergi sendiri?" tanya Viona pada Egi, sopir pribadinya.
"Maaf, Nyonya, tidak bisa. Nanti saya yang dimarahi oleh tuan."
Viona hanya menghela napas. Selalu saja begitu. "Baiklah, ayo berangkat!"
Egi mengangguk patuh, kemudian membukakan pintu untuk Viona. Siap memulai perjalanan dan membuat kejutan kecil untuk sang tuan.
***
"Proposal yang ini gagal. Kurang meyakinkan. Kalian tinggal mengganti beberapa poin yang telah kutandai tadi."
"Baik, Tuan. Kami akan memperbaikinya."
"Hm, ya, bagus. Segera perbaiki dan bawa kembali padaku jika sudah benar, ya."
"Siap, Tuan."
"Rapat hari ini selesai. Kalian boleh istirahat."
Viona segera berdehem, merapikan penampilan supaya terlihat semakin cantik. Menarik bibir selebar mungkin dan mengeratkan pegangan pada kantong lunch box yang dibawanya. Bersiap menantikan Marshal yang baru saja menutup rapat. Sebentar lagi dia pasti akan keluar.
Dan ya, benar saja. Marshal keluar pertama kali dari ruang rapat. Langsung terlihat kaget dengan kehadiran Viona yang berada di depan pintu sambil tersenyum manis padanya.
"Selamat siang, Sayang. Apa aku terlihat cantik?"
__ADS_1
"Si ... ang, Sayang." Marshal masih mematung di tempatnya. Satu tangan masih memegang handle pintu yang baru saja dia tutup, tidak mempedulikan Rio yang mencoba menarik pintu, ketinggalan di belakangnya. Dia tidak bisa keluar, jika tangan Marshal menahan gagang pintu untuk tetap tertutup. "Kapan kamu datang?"
Muncul wajah kesal Rio dari belakang Marshal, setelah tangan yang memegang handle itu terlepas dan mengusap wajah Viona. Memastikan jika pandangannya tidak salah.
"Kenapa? Gak senang istrinya datang?"
"Bukan begitu, Sayang." Marshal meraih tangan Viona, menarik pelan untuk pergi ke ruangannya. "Kamu datang tidak memberitahu dulu."
"Sengaja." Viona menampilkan senyuman lebar, mengangkat kantong lunch box ke hadapan Marshal. Tadi pagi Marshal tidak membawa bekal seperti biasanya, karena Viona yang belum siap dan malah kembali ingin tidur karena kelelahan. Jika mengetahui istrinya tidak berhalangan, malam memang akan terasa panjang. Viona sampai hampir kehabisan tenaga meladeninya. Jadilah dia bangun kesiangan.
"Tapi, aku ada janji makan siang di luar, Sayang."
Langkah Viona terhenti. Pintu ruangan sudah Marshal buka untuk mempersilakannya masuk. Melihat wajah Marshal yang nampak merasa bersalah, Viona hanya terdiam. Lalu makan siang buatannya bagaimana? Tidak mungkin jika Viona bawa pulang kembali, kan.
***
"Aku mau ke rumah mama," ucap Viona dengan malas menerima panggilan telepon dari Marshal yang tengah makan siang di restoran depan bersama dengan kliennya.
"Aku mau pergi sendiri. Sekarang." Viona memandang kesal pada kantong lunch box yang berada di atas meja kerja suaminya. Makanan itu pasti mubajir. Sang Tuan malah pergi keluar dan sudah pasti saat kembali perutnya telah kenyang. Menyebalkan!
"Tidak, Sayang. Aku antar. Nanti. Sekarang aku masih belum bisa kembali. Tapi, tidak akan lama, kok."
"Terserah!" Viona melempar ponselnya asal ke atas meja. Duduk sendiri di sofa yang ada di ruangan Marshal membuatnya semakin kesal. Pandangannya kembali nanar melihat ke arah meja kerja sang suami. Kesal sampai ubun-ubun.
Memang salah dirinya juga yang tidak menghubungi Marshal atau hanya sekadar menanyakan dia akan makan siang di luar atau tidak. Jika seperti itu, maka ceritanya tidak akan jadi begini sekarang.
Mata Viona menoleh malas pada ponsel yang berdering. Tidak mau menerima panggilan yang sudah pasti dari suaminya yang menyebalkan. Lebih baik dia abaikan saja. Supaya Marshal tahu jika dia tidak suka dengan kejadian hari ini. Emosinya cukup terkuras dan dia ingin pergi sesegera mungkin.
"Ck, mau ngapain lagi, sih?!" Dengan kesal Viona meraih ponsel yang tidak henti mengeluarkan suara. "Nomor siapa ini?" Dahinya mengkerut, bingung melihat nomor tidak dikenal yang ternyata menghubunginya.
Ragu-ragu dia menerima panggilan tersebut. Menempelkan ponsel ke telinga, penasaran dan menunggu siapa yang menelepon. Takutnya sambungan penting.
__ADS_1
"Halo, selamat siang, Nyonya!"
Ah, sepertinya Viona kenal dengan suara itu. Terdengar familier di telinga. Membuat perasaannya semakin tidak karuan.
"Saya Garmita. Mohon maaf mengganggu waktu siangnya."
Nahkan, benar dugaan Viona. Wanita itu memperburuk mood-nya di siang hari yang terik ini. Meski pendingin ruangan masih menyala, tapi dadanya bergemuruh menolak hawa dingin.
Viona menyapa balik, seadanya, meski harus tetap terdengar ramah. Lagian dari mana wanita itu mempunyai nomornya. Ck, siapa lagi kalau bukan si tuan menyebalkan?
"Untuk nanti malam, apa Nyonya perlu dijemput atau ...."
"Tidak, tidak perlu. Saya dan suami saja akan datang ke sana dengan sopir kami. Tidak perlu dijemput."
"Tuan Marshal akan ikut?"
Wah, wanita ini benar-benar, ya ... apa harus seantusias itu mengetahui Marshal akan ikut menemaninya?
"Tentu saja, Nona. Tidak mungkin juga jika saya datang sendiri. Tuan tidak pernah mengizinkan saya hadir ke tempat orang lain tanpa dirinya." Viona memberikan tawa hambar yang terpaksa.
"Bagus, jika begitu, Nyonya. Saya akan menantikan kehadiran kalian. Tolong sampaikan salam saya kepada Tuan Marshal."
"Akan saya sampaikan, Nona. Terima kasih atas undangan makan malamnya."
"Sama-sama, Nyonya. Tuan Marshal adalah atasan saya. Sangat saya hormati. Akan menjadi sebuah kehormatan besar, jika beliau mau menghadiri undangan makan malam sederhana yang saya tawarkan."
Marshal tamu kehormatan, dia akan senang jika laki-laki tampan itu datang. Viona semakin muak mendengar wanita di seberang sana terkekeh sendiri. Dia ikut menimpalinya dengan perasaan ingin membunuh seseorang. Kesal.
"Jika begitu, saya tutup teleponnya, Nyonya. Mohon maaf telah mengganggu waktu siang Anda. Saya akan menunggu kehadiran kalian nanti malam. Sampai jumpa. Bla ... bla ... bla ..." Dan wanita itu mengucapkan salam, lalu panggilan berakhir.
Cih, sebenarnya seberapa dekat hubungan mereka ini? Kenapa wanita itu sangat antusias dengan Marshal? Viona yang diundang makan malam, tapi tetap saja mengharapkan kehadiran pemilik Mars Corporations. Apa Garmita mengagumi suaminya? Bisa saja. Makanya dia terlihat sangat senang Marshal akan datang ke sana.
__ADS_1
Sialan!