
"Masa marah terus sih, Chal." Viona memasang raut cemberut melihat tingkah suaminya yang mulai tidak biasa. Dilayani berpakaian pun Marshal hanya terdiam, tidak banyak bicara seperti biasanya. Efek percakapan semalam malah seperti ini. Viona tidak akan lagi-lagi membahas masalah itu. "Sudah rapi."
Marshal hanya menganggukkan kepala pelan, berjalan keluar dari ruang ganti. Tidak mengatakan ucapan terima kasih, tidak ada sosoran tiba-tiba dan juga tidak ada kata satu pun yang keluar dari mulutnya. Aneh dan juga membuat Viona tidak nyaman.
Diamnya Marshal berlanjut sampai sarapan. Viona melayani sebagaimana biasanya dia melakukan hal itu dengan baik. Marshal tidak menolak, hanya saja sikapnya masih tidak mau berubah. Viona harus ekstra mengeluarkan tenaganya. Entah dengan cara apa dia harus membujuk Marshal. Biasanya dia yang dibujuk, tidak pernah menyangka jika suaminya juga bisa merajuk.
"Segini cukup?" Viona menambahkan makanan di piring suaminya, berharap Marshal akan mengeluarkan suara. Tapi, tidak. Suaminya tetap saja bungkam.
Setelah mengambilkan makanan untuk Marshal, Viona duduk di kursinya mengambil makanan untuk diri sendiri. Di seberang sana ada Rio yang tengah bingung memandangi mereka. Rio bahkan tidak kunjung membuka mulut untuk makan, nampak heran melihat interaksi majikannya yang tidak seperti biasa. Ada apa dengan mereka? Begitulah kiranya pikiran Rio.
"Kenapa? Cepat makan!" Marshal menatap Viona datar. Istrinya tidak juga menyantap sarapannya dan malah menopang dagu sambil memperhatikan Marshal yang sedang menyantap makanan.
Akhirnya bersuara juga. Viona tersenyum manis dan segera makan. Tidak terlalu buruk. Marshal masih bisa berbicara, berarti tidak akan membisu selamanya.
"Mau nambah?" Viona menelan makanannya cepat saat Marshal terlihat hampir menghabiskan sarapannya.
Marshal menggelengkan kepala. Cepat menghabiskan makanan, minum dan segera merapikan diri. Dia beranjak dari duduknya, melirik Rio mengintruksi untuk tidak terburu-buru makan seperti dirinya. Rio hanya mengangguk dan Marshal pamit untuk ke ruang tengah menelepon seseorang.
Viona memandangi kepergian suaminya sambil mengunyah. Dia melirik Rio sejenak. Tidak mengatakan apa-apa, Viona mengikuti langkah suaminya masih dengan sisa kunyahan di dalam mulut.
"Ya, saya akan menemui Anda siang ini. Baik, Terima kasih, Tuan." Marshal menutup sambungan telepon, langsung terkesiap saat membalik badan mendapati Viona sudah di belakangnya. "Ngapain kamu di sini? Bukannya sarapan."
"Kamu kesal, marah atau kenapa, sih, Chal? Aku gak ngerti, deh."
Alis Marshal bertaut memperhatikan Viona. Dia menggeleng pelan, berniat pergi dan menjauh dari istrinya. Tapi, dengan sigap Viona menahannya membuat Marshal tidak bisa beranjak sedikit pun.
"Aku gak suka sifat dingin kamu ini, Sayang."
Marshal hanya terdiam. Hal apa lagi yang akan Viona lakukan untuk merayunya? Istrinya mulai banyak tingkah ternyata.
"Kamu marah sama aku sampai saat ini hanya karena pembahasan kita yang semalam. Kenapa harus sampai seperti ini? Pembahasan kita gak berat, lho, padahal."
__ADS_1
Tidak menggubris. Marshal hanya menampakkan ekspresi wajah datarnya.
"Chal!" Viona terlihat kesal sekarang. Mengepalkan tangan di udara, geram terhadap suaminya. "Mau sampai kapan diamin aku?" Terlihat frustrasi, Saudara-saudara, sedangkan Marshal masih terlihat biasa saja.
"Oke, kamu mau diamin aku sampai lama? Aku juga bisa!" tantangnya dengan nada kesal.
"Terserah!" Marshal berlalu melewati Viona begitu saja, tidak peduli istrinya menggeram marah dan berteriak tidak suka. Senyuman kecil muncul di wajah Marshal. Viona cukup menggemaskan dengan raut frustrasinya.
***
"Zahra!" tegur Marshal pada Viona yang sama sekali tidak mau melihatnya. Tangan Marshal sudah terulur sejak tadi, meminta Viona untuk mencium punggung tangannya seperti biasa. Dia akan segera berangkat, tetapi istrinya nampak tidak mau melakukan rutinitasnya sekarang.
Oh, Viona balas dendam. Marshal ingin terkekeh geli melihatnya.
"Tidak mau salim? Ya, sudah. Jangan harap bisa salim lagi nanti saat aku pulang."
Dengan cepat Viona menoleh, meraih tangan Marshal yang sudah dimasukkan ke dalam saku celana dan segera mencium punggung tangannya. Marshal terkejut dengan tingkah istrinya. Mau bertindak sok acuh, tapi ternyata Viona kalah.
"Chal!"
Marshal menoleh pelan, alisnya terangkat sebelah.
"Nggak ada kecupan ...." Viona menyentuh keningnya, terlihat sedih, lalu menunjuk bibirnya yang mulai bergetar pelan. Dia menggigit ujung telunjuknya, nampak sendu. Ingin mendapat kecupan seperti biasanya, tapi Marshal kali ini tidak memberikan rutinitas itu.
"Apa itu perlu?"
Tangan Viona mengepal di udara, terlihat kesal dengan ucapan Marshal yang santai. Dia ingin kecupan! Kenapa Marshal jadi seperti itu! Argh, Viona ingin menampar wajahnya sekarang!
Dengan cepat Viona berjalan menghampiri Marshal. Kekesalan ekstra begitu terlihat di wajahnya. Dia mengepalkan tangan di samping paha. Marshal melihatnya nampak was-was dan segera beringsut mundur dua langkah secara perlahan. Langkah Viona semakin dekat dan cepat. Marshal mundur lagi satu langkah. Tinggal beberapa detik lagi, Viona pasti berada di depannya dan ...
Cup!
__ADS_1
Mata Marshal membulat, terkejut merasakan bibir Viona menempel di bibirnya. Butuh beberapa kerjapan mata untuk mengembalikan kesadaran. Dia kira Viona akan menghajarnya dengan kepalan tangan, ternyata bukan. Viona malah menghajarnya dengan bibir yang bergetar pelan. Terasa buas dan menuntut.
Marshal mendorong pelan bahu istrinya. Terlihat bingung dengan sikap Viona saat ini. Dia melirik Rio yang langsung membuang muka. Viona benar-benar berubah. Tidak tahu malu sekarang. Biasanya dia akan malu jika Marshal menyosornya saat ada orang lain. Tapi kali ini justru Viona yang memulainya.
"Kamu pernah bilang, mengecup istri sebelum berangkat kerja itu wajib supaya saat bekerja tidak melupakan aku. Tapi, sekarang apa?! Kamu mau melupakan aku? Iya?" Viona terlihat kesal sekali. Napasnya memburu mengeluarkan rasa frustrasinya.
Tiba-tiba Marshal memekik kaget, kaki kanan terangkat secara otomatis saat Viona menendang tulang keringnya.
"Kamu mau marah sama aku boleh, tapi jangan lupain aku, Chal!"
Memangnya dia bisa melupakannya? tanya Marshal dalam hati. Dia meringis pelan, kaki istrinya ternyata kuat juga saat menghantam.
"Pergi sana!"
Marshal tidak mengerti, kenapa sekarang Viona mengusirnya? Bukankah barusan dia menahannya dan mengeluhkan masalah sikapnya? Oh, istrinya sudah meluapkan semua perasaan, pasti sudah muak melihat Marshal.
Cepat Marshal membalik badan, menggeser tubuh Viona untuk menjauh dan segera masuk ke dalam mobil. Sesuai dengan keinginan istrinya, dia akan segera pergi. Tapi, tidak jadi. Viona menggeram di depan pintu yang akan dia tutup. Wajahnya terlihat murka dan mulai memerah. Marshal tidak mengerti, jadi apa yang sebenarnya Viona inginkan? Jika istrinya seperti ini, Marshal tidak mungkin bisa kuat bertahan lama untuk cuek padanya.
"Keluar kamu!"
Aneh, bukan? Tadi dia yang menyuruh pergi, sekarang dia menyuruh Marshal untuk turun kembali.
Marshal turun dari mobil nampak terlihat tenang. Lebih tepatnya dipaksakan untuk terlihat tenang. Viona mulai menatap tajam, dia tidak berani melihat matanya. Mudah sekali keadaan berbalik. Harusnya Marshal yang seperti itu, tapi kenapa sekarang malah jadi istrinya.
Bugh!
Viona memukul dada Marshal. "Sudah aku bilang, aku gak suka sikap dingin kamu!" sentaknya di depan wajah Marshal. "Aku gak mau kamu begini, Chal! Aku pengen diperhatiin, pengen dipeluk, pengen dicium, pengen dik-" Viona langsung terdiam saat Marshal membungkam mulutnya dengan ciuman.
Setelah melihat tidak ada tanda-tanda pemberontakan lagi, Marshal melepaskan bibirnya. "Ini yang kamu mau, kan? Sekarang mau apa lagi? Mau aku tiduri? Mau aku gagahi sampai kamu puas, hm?" lanjutnya berbisik, tidak mau sampai Rio mendengarnya.
Viona menunduk dengan wajah merah merona. Masih terdapat sisa kekesalan di sana. "I-iya."
__ADS_1
"Iya?" Marshal menganga melihat Viona memberikan anggukan kepala. Seriusan Viona mengatakan itu? Yang benar saja!