
"Amanda menemui papa, dua hari yang lalu."
Rio terlihat kaget sampai mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruangan Marshal. Dia kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan majikannya. "Jadi, kemarin kedatangan tuan ...."
Marshal mengangguk dan menyandarkan punggungnya dengan lelah. "Amanda tidak mengatakan semua, hanya mengatakan hubunganku dengannya belum berakhir. Aku takut Amanda mengatakan semuanya, maka habislah semua yang kusembunyikan."
"Nyonya tahu hal ini?"
"Tentu saja tidak." Marshal memijit pangkal hidung, matanya terpejam serta embusan napasnya terdengar sangat gusar. "Semalam dia menanyakannya padaku. Tapi, aku tidak mengatakan apapun padanya. Aku hanya bilang urusan pekerjaan. Aku tahu dia tidak percaya, tapi aku tidak mungkin mengatakan semuanya, kan?"
Rio terdiam memandangi Marshal. Dia cukup kasihan melihat majikannya tertekan dengan keadaan yang sebenarnya dia sendiri yang membuatnya. Sekarang adalah impas dari apa yang dia lakukan, seharusnya Marshal sudah memprediksi hal ini terjadi. Tapi, melihat Marshal seperti sekarang, dia juga merasa tidak tega.
"Kapan Tuan akan mengakhiri semuanya? Tuan harus tegas! Saya tidak yakin, nona Amanda akan berhenti sampai di sini. Bisa saja dia malah membongkar semuanya pada keluarga Tuan sebelum kita memperkirakannya."
Ditegakkannya badan, Marshal mengambil gelas berisi air putih di atas mejanya. "Itulah yang aku takutkan." Diteguknya sejenak, lalu menyimpannya kembali. "Amanda sudah berani mendatangi papa, dan aku takutnya, dia malah semakin menjadi dengan membawa nama keluarga Pratama. Papa sudah memberi peringatan semalam, jika saja mertuaku tahu, papa dan besannya itu akan menyepakati sebuah perjanjian. Entah perjanjian apa, aku juga tidak tahu."
Melihat kerumitan Marshal, Rio tidak tahu harus membantu apa. Dia tidak bisa membantu banyak, namun tetap akan berdiri paling depan jika Marshal memerlukan bantuannya.
"Usahakan untuk membuat Amanda pindah kerja secepatnya. Jika uang yang kemarin tidak cukup untuk menghentikan kontrak kerjanya yang sekarang, kamu buat lagi kontrak baru dan serahkkan pada agensinya. Pastikan Amanda menyetujuinya supaya aku tidak terlalu cemas."
Asistennya tersebut mengangguk patuh. Setelah beberapa hal Marshal sampaikan, Rio keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Marshal yang kembali merenung. Hari sudah mulai sore, tetapi istrinya belum juga menelepon untuk minta dijemput. Apa lebih baik Marshal menghubunginya terlebih dahulu? Tapi, dia takut mengganggu. Dilihatnya nomor ponsel Viona, Marshal akhirnya mengirimkan pesan,
Sayang, pulang jam berapa? Pekerjaanku sebentar lagi selesai. Mau dijemput di mana?
Setelah pesan terkirim, Marshal menyimpan ponselnya di atas meja. Viona pasti sedang bersama temannya. Dia tidak peduli pesannya akan dibalas ataupun tidak. Yang penting dia sudah mengingatkan istrinya untuk masalah jam pulang, secara tidak langsung. Namun, tidak diduga, ponselnya menampilkan notifikasi masuk. Senyuman Marshal langsung terpancar melihat pesannya yang langsung mendapat jawaban.
Tidal tahu pulang jam berapa. Aku sedang berada di restoran Amura bersama Aness dan Frans.
Marshal menyandarkan tubuh dengan ponsel di tangannya. Dia kembali mengetikkan pesan pada istrinya.
Mau aku jemput sekarang?
Lama tidak mendapat balasan, Marshal tetap memantau ponselnya. Dengan pikiran melayang, Marshal mengetuk-ngetuk ponsel dengan jemarinya. Tidak lama kemudian, layar ponsel menyala. Marshal kembali menegakkan tubuh.
Tidak usah, nanti aku pulang bersama Frans. Kamu tunggu aku di rumah saja, ya, oke?
***
"Itu karena kamu jomblo terus, Ness." Viona tertawa renyah menanggapi gurauan temannya. Dia dan dua sahabatnya berada di sebuah restoran jepang sejak dua jam yang lalu.
__ADS_1
"Idih, dia lupa, Frans," Aness ikut tertawa. "dia lupa, kalo gak nikah sama tuan Marshal, Viona 'kan jomblo akut dari bayi."
Viona menyahuti ledekannya dengan angkuh. "Setidaknya aku gak jomblo lagi. Di rumah tetap punya suami. Punya laki-laki yang bisa dijadikan pelindung, gak kayak kamu ... suami gak ada, pacar gak punya, yang deketin juga pada minggat. Giliran ada yang lamar, malah aki-aki tua belangkotan."
"Enak aja, lu! Gini-gini gue banyak yang naksir tauk. Bukan cuma kakek tua itu," ucap Aness memukul kesal lengan Viona membuat mereka kembali tergelak tawa sampai suara mereka terhenti karena ponsel Viona yang berada di atas meja berdering.
Dengan kesal Viona mengangkat ponselnya. Setelah lama mendiamkannya sampai mendapat panggilan ketiga, dia baru menerima panggilan tersebut.
"Jangan marah, aku memang sengaja mengabaikan panggilannya," ucap Viona saat ponsel sudah menempel di telinga. Sebelum suaminya mengomel, dia sudah berkata jujur tidak peduli Marshal semakin marah padanya. "Pulang duluan aja! Kamu pasti capai, lebih baik segera pulang dan istirahat."
"Jangan ke mana-mana! Aku ke sana sekarang."
Viona menghela napas kasar. "Oke. Tapi, aku mau pulang satu jam lagi, baru boleh kamu jemput." Tidak ada sahutan dari seberang sana. Viona ikut terdiam sambil melirik dua sahabatnya yang sedang berbisik-bisik tidak mengikutsertakan dirinya. "Ya, sudah ... jangan seperti ini!" Mengalah bagi Viona adalah cara terbaik supaya Marshal tidak terus diam di seberang sana. "hati-hati di jalan! Aku tunggu kamu di sini."
Panggilan terputus begitu saja. Viona hanya menghela napas, kembali menyimpan ponsel di atas meja. Dua sahabatnya melihat dengan tatapan penuh introgasi setelah mereka berbisik-bisik tadi.
"Kenapa?" Viona meminum jus miliknya guna menghilangkan rasa tidak nyaman melihat tatapan dua sahabatnya.
"Lo udah berubah, sekarang," ucap Aness. Dia dan Frans kembali berpandangan dengan sorotan mata saling berbicara membuat Viona tidak mengerti dengan mereka. "Jadi, udah buka hati buat suami lo?"
Viona tertegun menerima pertanyaan tersebut. Dilihatnya Frans yang malah nyengir sambil mengedikkan bahu. Viona langsung menatapnya tajam. "Jangan percaya omongan si buaya ini, Ness!" Ditunjuknya Frans yang malah terkekeh geli, Viona semakin sebal melihatnya.
Viona hanya bisa menghela napas. Aness belum tahu semua ceritanya karena mereka jarang bertemu. Frans pasti melebih-lebihkan cerita sampai Aness berkata seperti itu. "Aku belum mencobanya, sih. Tapi, emang niatnya mau mencoba buka hati buat suami. Kalian doakan saja, ya, supaya bayang-bayang Sendi cepat pergi."
Aness menjentikkan jari tangan. "Nah, iya! Emang harusnya gitu. Lagian, nih, ya ...," Aness mulai terlihat serius. "lo itu sangat beruntung bisa nikah sama tuan Marshal. Dia tajir, ganteng, berwibawa, punya kekuasaan tinggi pula. Kalo dibandingin sama Sendi, jauh! Kalo diliat-liat, dia juga kayaknya sayang banget sama lo. Perhatian gitu sampai hampir setiap saat dihubungin cuma buat ngejemput, doang."
Viona mendelik sebal. "Kamu gak tahu aja kalo dia pengekang."
"Eits, jangan salah!" Aness menegakkan duduknya, menatap Viona serius. "mengekang itu artinya sayang. Dia ngelarang, dia ngekang ini-itu, semua dia lakukan karena gak mau kehilangan, itu sih, yang gue tahu dari sifat cowok. Tipe-tipe cowok kayak gitu, pasti bakal serius jalanin hubungan. Karena takut kehilangan, biasanya dia sampe berani ngelakuin apapun termasuk melepas sesuatu yang berharga demi pasangannya. Lo percaya deh, sama gue! Suami lo itu pasti tipe cowok yang setia banget."
Viona hanya terdiam dengan jengah. Aness tidak mengerti dengan apa yang dia alami. Apa yang Aness katakan memang benar semua itu Marshal lakukan demi dirinya. Tapi, untuk masalah kesetiaan ... Viona sangat tidak percaya dengan hal itu.
Setengah jam berlalu, Viona berpamitan pada mereka karena Marshal sudah mengabari menunggunya di depan restoran. Dengan tergesa Viona menghampiri suaminya yang sedang menyandar di kap mobil dengan tangan melipat di depan dada.
Viona menyunggingkan senyuman manisnya, mengusap lengan suaminya yang hanya berlapis kemeja biru muda yang bagian lengannya sudah di gulung sampai siku.
"Apa suamiku sudah bosan dengan penampilan formalnya? Ke mana dasi ikatanku itu?" gutau Viona melirik geli pada suaminya yang terlihat datar. Sejak keluar restoran, dia tidak melihat Marshal tersenyum sedikitpun. "Kamu menyetir sendiri? Rio ke mana?"
"Dia pulang duluan. Aku sengaja menjemputmu secara khusus. Pulang sekarang!"
__ADS_1
Viona menahan tangan Marshal saat suaminya sudah berbalik badan. "Kamu kenapa? Marah sama aku, ya?"
"Bukan. Aku hanya lelah, ingin pulang dan segera tidur."
"Tuhkan, aku bilang juga apa," Viona mengusap rahang suaminya sebentar. "harusnya gak usah jemput, kamu capai seharian bekerja."
Marshal terkekeh geli, mencuri satu ciuman di pipi istrinya yang terlihat sangat menggemaskan. "Aku suka kamu yang seperti ini. Padahal aku hanya ingin berpura-pura dingin seharian supaya kamu mengira aku sedang marah. Tapi, ternyata aku tidak bisa berakting lebih lama lagi."
"Ih, aku sudah tidak enak hati dari tadi. Aku kira kamu marah makanya diam saja." Viona mencubit lengan suaminya dengan kesal sampai Marshal mengaduh sambil tertawa puas telah menggoda istrinya.
"Ayo, cepat pulang! Aku tidak mau menjahilimu di sini. Kita teruskan dirumah saja!"
Viona berjalan menuju pintu mobil dengan kaki yang dihentakkan. Marshal hanya menggeleng melihat istrinya merajuk.
"Mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang?" tanya Marshal sebelum menyalakan mesin mobil mewahnya. Diliriknya ke samping, Viona terlihat berbinar dan sangat antusias memandanginya.
"Memangnya boleh?" Viona memegang lengan suaminya dan tersenyum. "Jangan langsung pulang, ya! Aku mau bersenang-senang, jika boleh."
Marshal mencubit gemas pipi istrinya. "Mau pergi ke mana, hm? Aku turuti ke mana pun kamu mau."
"Kalo pantai, bagaimana?"
Suaminya tersebut nampak berpikir dengan mengusap dagunya perlahan. Dilihatnya jam di pergelangan tangan, sudah menunjukkan pukul lima. "Ke pantainya, bagaimana jika lain waktu saja?"
Viona memberengut. Tapi, dia juga harusnya mengerti, perjalanan ke pantai akan sangat lama dan membutuhkan tenaga yang cukup untuk menempuhnya. Marshal baru selesai bekerja, pasti sangat lelah jika harus menyetir jauh.
"Ya, sudah, kita pulang saja! Kapan-kapan saja pergi ke pantainya."
Melihat Viona yang malah menyandar menatap ke depan, Marshal merasa bersalah jika tidak menurutinya. Tapi, keadaan sekarang tidak memungkinkan untuk mereka pergi. "Bagaimana jika ke tempat lain? Seperti menonton atau jalan-jalan sambil mencuci mata di Mall?"
"Kamu mengajakku berkencan?"
"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Bagaimana?"
Viona mengangguk dengan antusias sembari memberikan senyuman manisnya. "Ayo, berangkat! Kita akan berkencan untuk pertama kalinya, Chal."
"Kita sudah menikah, Sayang, bukan pacaran." Marshal terkekeh geli melihat istrinya yang begitu semangat.
Mobil pun melaju menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota untuk menyenangkan hati istrinya. Hampir saja mobil Marshal oleng karena fokusnya mengemudi terbagi dengan rasa kaget melihat pada istrinya. Viona mendekat, mencium pipinya hangat dan kembali memberikan senyuman andalannya.
__ADS_1
"Pacaran setelah menikah mungkin akan terasa indah, Chal."