Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Hanya satu bulan


__ADS_3

"Tuan tidak bisa melarang saya lagi, tidak bisa mengekang saya lagi. Selama di rumah, saya yang memegang keputusan. Tuan tidak boleh memaksa saya dalam hal apapun! Berikan saya kebebasan semau saya! Bagaimana?"


Marshal melongo mendengar penuturan istrinya. "Apa itu artinya, sekarang kamu yang memegang kendali? Aku harus patuh padamu, begitu?" Viona mengangguk dengan cepat. Marshal tidak percaya, istrinya kenapa jadi seperti ini?


"Bagaimana? Setuju?"


"Sebentar ... kenapa sekarang jadi kamu yang memegang kendali? Harusnya 'kan aku."


Viona menaruh satu tangan di pinggang. "Jika Tuan setuju, saya mau memberi kesempatan, tapi kalau tidak ... ya, tidak jadi."


Marshal terdiam, melirik istrinya dengan sinis. Viona yang memegang kendali? Bagiamana rasanya nanti? Selama ini selalu Marshal yang berkuasa, tidak pernah sekalipun dia dikendalikan orang lain, jika bukan oleh ayahnya sendiri.


Setelah lama berpikir, Marshal menyeringai penuh misteri. Viona sampai heran melihatnya. "Kamu yakin mau memegang kendali atas suamimu?" Viona mengangguk dengan penuh percaya diri. Hanya itu yang bisa dia lakukan supaya Marshal tidak seenaknya lagi padanya. "Lupa dengan alasan kita menikah? Sejak dulu aku yang berkuasa, kenapa sekarang kamu yang mengatur?"


Viona membuang napasnya dengan kasar. Menurunkan tangan dari pinggang. "Tuan mau membahas masalah itu? Baiklah, pernikahan kita cukup sana di sini. Tidak akan ada tambahan waktu lagi. Secepatnya saya akan bayar hutang papa pada Tuan."


Viona melangkah pergi. Dia jengah dengan suaminya sendiri. Diajak negosiasi malah mengingatkannya pada kejadian dulu. Ingatlah, Viona yang sekarang bukanlah Viona yang seperti waktu itu. Dia akan lebih kuat menghadapi Marshal demi mengambil hak kebebasannya, karena dia sudah menemukan kelemahan Marshal yang sesungguhnya. Jadi, dapat dengan mudah dia mengendalikan segalanya.


"Eh, tunggu, Ra!" Dengan cepat Marshal menarik tangan Viona hingga membalik badan dan hampir menubruk tubuhnya. "Oke, aku setuju. Tapi, jangan pergi! Kita tidak akan berpisah, kan?"


Nah, Viona semakin yakin mengetahui kelemahan Marshal. Dia tersenyum pada Marshal dengan penuh arti yang terselubung. "Tapi, janji Tuan tidak akan mengekang saya lagi!"


Marshal mengangkat tangan kanannya di samping telinga. "Aku berjanji! Tapi, kita tidak akan berpisahkan, kan?"


Dengan terpaksa Viona mengangguk. "Hanya satu bulan, setelah itu kita bercerai."


Dengan senang Marshal kembali menyongsong tubuh istrinya. Viona mendorongnya dengan kuat mengahalangi. "Jangan memeluk saya terus!"


Marshal mendengus sebal. "Kamu mulai mengendalikanku dari sekarang?" Viona mengangguk, menatapnya dengan tajam penuh peringatan. "Tapi, kamu bilang hanya di rumah. Ini-"


"Ini juga di rumah."


"Tapi, ini bukan rumah kita, Sayang."


Viona berdecak serta menggelengkan kepalanya. Sedetik kemudian dia mengacungkang jari telunjuknya. "Ingat, saya yang berkuasa sekarang!"


Pundak Marshal lunglai seketika. Membuang napasnya dengan kesal. Kenapa dia setuju tadi? Sekarang semuanya dikendalikan oleh Viona dan itu artinya dia yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa jadi terasa sangat konyol?

__ADS_1


Marshal yang sudah sangat mengharapkan Viona kembali padanya, malah mengikuti kemauan istrinya. Sepertinya pikiran Marshal mulai terganggu. Bisa-bisanya dia dikendalikan oleh istrinya sendiri.


"Apa Tuan menyesal?"


Marshal memandang istrinya tidak mengerti. Dia masih setengah sadar dengan keadaan.


"Kesepakatan masih bisa diganti, mumpung saya masih di sini."


"Tidak. Aku tidak mau kamu pergi. Aku berjanji tidak akan menganggu kebebasanmu lagi."


Viona menganguk-anggukkan kepala dengan tenang. Dia berbalik badan untuk pergi dari sana, tetapi lagi-lagi Marshal malah menahannya.


"Mau ke mana lagi? Kenapa malah meninggalkanku?"


"Ke kamar."


Mata Marshal berbinar. "Ke kamar?"


Viona segera menatapnya tajam. Ada apa dengan Marshal? Kenapa jadi aneh seperti ini? Apa terjadi sesuatu padanya, saat Viona tidak ada? Perubahannya sangat drastis sekali. Sepertinya dia harus menanyakan aktivitas Marshal beberapa hari terakhir pada Rio. Dia takut Marshal terkena gangguan mental.


"Ayo, aku temani!" Dengan semangat Marshal menarik tangan Viona. Istrinya tersentak dengan kaget, menarik tangannya dengan cepat.


"Kenapa?" Marshal menghentikan langkahnya dengan bingung. "Bukannya mau ke kamar?"


"Apa Tuan sakit?"


Marshal memandang Viona tidak mengerti. Kenapa istrinya bertanya seperti itu? Marshal sudah merasa baik-baik saja sekarang, karena dia sudah bisa kembali dengan istrinya. Tapi, kenapa Viona malah memperhatikannya terlihat aneh?


Viona meneliti suaminya dengan penuh keheranan. Marshal memang terlihat kurang sehat. Tapi, Viona rasa bukan pengaruh kondisi tubuhnya yang menjadi masalah saat ini. Sepertinya ada yang bermasalah dengan otak Marshal. Viona sangat bingung melihat perubahan yang sama sekali tidak Viona kenali tersebut.


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?" Viona mengangguk pelan. "Aku biasa saja. Ya, memang akhir-akhir ini aku banyak pikiran. Tapi, sekarang sudah lebih membaik."


Viona memilih acuh, mengedikkan bahu dan berlalu menuju kamar Marshal di lantai atas. Suaminya terus saja mengikuti, tapi tidak banyak bicara. Hanya sedikit mengeluarkan suara, namun cukup memuakkan bagi Viona. Karena Marshal terus saja mengatakan jika dia bahagia, karena Viona mau kembali padanya.


***


"Mau ke mana lagi?" Marshal menarik tubuh Viona yang malah menghindar saat diajak untuk duduk di ranjang.

__ADS_1


"Ke kamar mandi, ganti baju."


"Tidak usah ganti baju, temani aku tidur!"


Viona menghela napas dalam, membuangnya seperti semburan. Dia memandangi Marshal dengan jengah. "Pagi sudah lewat, menjelang siang, Tuan."


Marshal menekuk wajahnya dengan kesal. Viona malah pergi begitu saja ke kamar mandi tanpa peduli dengannya lagi. Viona sangat berubah, dia tidak suka. Tapi, Marshal harus bertahan menerima sikapnya tersebut, dia tidak mau Viona berniat pergi darinya lagi. Sebisa mungkin, Marshal harus bisa merebut hati Viona secepatnya supaya pernikahan mereka tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun.


"Kemari!"


Viona yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Marshal dengan tatapan datar. Dia tidak peduli Marshal mau menyuruhnya untuk mendekat pun, dia tidak akan sepatuh dulu lagi. Dengan santainya, Viona melewati Marshal begitu saja. Lebih baik dia keluar dari kamar itu sekarang juga daripada harus dekat dengan suami menyebalkannya itu.


"Zahra ...!"


Viona yang baru saja akan membuka pintu, membalikkan badan dengan kesal mendengar teriakan suaminya. Dia tidak tuli, kenapa Marshal harus berteriak dalam jarak yang cukup dekat?


"Kamu mulai berani padaku, ya ...." Marshal beranjak mendekat pada Viona. Menyorot istrinya dengan pandangan tidak suka. "Mau ke mana lagi, huh?"


Viona masih terlihat tenang. Hanya diam memandangi Marshal yang sudah mengeraskan rahang, menahan kesal. Viona tidak peduli, karena dia sudah tidak bisa dikekang lagi oleh suaminya. Dia mau ke mana pun, itu urusannya, tidak ada urusan dengan Marshal.


"Kamu mulai kurang ajar pada suamimu sendiri. Mulai bera-"


"Saya mau ke kamar mama. Tuan mau ikut?"


Marshal yang tadinya sudah meradang, amarahnya menguap seketika digantikan rasa bingung. "Ngapain ke kamar mama?"


Viona tidak menjawab dan malah keluar dari kamar begitu saja. Dengan cepat Marshal menyusulnya. Menarik tangannya dengan kasar sampai Viona berbalik badan. Emosi yang tadi menguap, kini berembun dalam otaknya, menyisakan amarah yang tertahan.


"Berani sekali kamu mendiamkanku! Apa kamu mau jadi istri kurang ajar?!"


Dengan kesal Viona menarik kembali tangannya yang dicekal oleh Marshal. Sifat suaminya sudah kembali lagi. Dia tidak paham, jadi tadi yang dia ajak negosiasi itu memang bukan suaminya atau Marshal memang lupa dan tidak sadar telah menyetujui keinginannya?


"Kamu semakin berani padaku, ya!" Marshal menarik tangan Viona kembali ke kamar.


Viona menurut dalam diam. Suaminya terlihat kembali meradang, dia tidak mungkin malah menyulut api yang sebentar lagi akan membara. Yang harus dia lakukan hanyalah menyipratkan air dingin supaya Marshal bisa tersadar dengan kesepakatan yang sudah dia setujui sebelumnya.


"Diam di sini! Jangan keluar, temani aku tidur!"

__ADS_1


Viona masih diam saat Marshal membawanya untuk berbaring di ranjang. Dia harus ekstra sabar menghadapi sikap suaminya yang harus selalu dituruti kemauannya tersebut. Viona sebenarnya sudah lelah. Dia tidak mau kembali pada Marshal, namun banyak pertimbangan yang sudah dia pikirkan baik-baik. Ada satu alasan yang membuatnya terpaksa harus kembali memperbaiki rumah tangganya, meskipun ia tidak suka. Tapi, tak apa, dia akan terus bersabar hingga waktunya tiba dia bisa benar-benar keluar dari sangkar yang sudah Marshal buat untuknya.


Senang, namun masih kesal, Marshal memeluk tubuh Viona yang sudah menurut untuk menemaninya tidur. Viona tidak menolak saat tangan Marshal melingkar erat di tubuhnya dan Viona malah mengusap tangan yang melingkar tersebut.


__ADS_2