
"Halo, Rio?"
"Iya, Nyonya? Saya di sini." Rio menjauh dari kamar Amanda, berjalan menuju lorong yang terlihat sepi. Dia memerintahkan anak buahnya untuk terus berjaga di sana, karena Marshal masih harus dalam pengawasan yang baik. Amanda di dalam bersama majikannya. Hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat membahayakan.
"Tuan ke mana? Aku telepon gak bisa," suara Viona kembali terdengar.
Dengan ponsel yang menempel di telinga, Rio memandang lurus ke depan. Dia berdiri di depan sebuah jendela besar yang menampakkan pemandangan kota dari gedung tinggi hotel tersebut. "Tuan ada, Nyonya. Tapi, sedang ada urusan. Mungkin tadi lupa menghidupkan handphone-nya."
"Urusan apa?"
"Emm ...," Apa yang harus Rio katakan? "masalah resort, Nyonya."
"Mengurusnya sendiri? Tanpa kamu temani?" Viona mulai banyak bertanya membuat Rio bingung harus menjawab apa. Sepertinya sang ratu sedang sangat merindukan rajanya.
"Saya hanya menemani sampai luar ruangan. Tuan sedang berbincang dengan seseorang di dalam." Tidak sepenuhnya berbohong, karena Rio mengatakan apa yang memang tengah terjadi. "Apa Nyonya ingin mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Aku cuma bertanya. Ya, sudah, sampaikan pada tuan, aku akan pergi keluar, sebentar." Setelah mengatakan itu, panggilan terputus sepihak. Rio menatap layar ponselnya. Jika saja Viona tahu, Marshal sedang berada dalam kamar Amanda, apa yang akan terjadi?
"Tidak-tidak. Ini kasus yang berbeda." Rio menggelengkan kepala pelan. Memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Baru dia akan melangkah, ponselnya kembali berdering. Alisnya seketika mengernyit dan cemas mulai menguasai. Dia berlari cepat ke tempat yang sebelumnya dia datangi, sambil menerima panggilan dari majikannya. Takut sesuatu telah terjadi.
"Bersiaplah! Aku akan pulang." Hanya itu yang Rio dengar dan panggilan terputus.
Ada apa gerangan? Kenapa Marshal tiba-tiba ingin pulang? Apakah urusannya sudah selesai?
***
Dengan napas terengah-engah, Rio menatap majikannya yang baru keluar dari kamar Amanda. Marshal hanya menatapnya diam. Tidak berkata apapun dan malah memerintahkannya untuk pergi melalui pandangan mata.
"Apa yang terjadi?" Rio mengikuti langkah Marshal, berusaha mencari tahu, apa yang sudah dia lewatkan. Marshal tidak terlihat marah. Dia terlihat ... gelisah? "Tuan?"
__ADS_1
"Nanti, Yo."
Rio hanya mengangguk. Dia mengisyaratkan orang-orang suruhannya untuk tetap mengikuti di belakang dan dia mempercepat langkah seirama dengan Marshal. Pikirannya terus bertanya, apa yang telah terjadi? Tapi, dia tidak berani untuk menanyakannya langsung, sekarang. Marshal akan bilang sendiri, jika dia memang merasa Rio perlu mengetahuinya. Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk yang Marshal tutupi. Rio perlu tahu. Dia harus ikut terlibat dan membantu majikannya. Apapun itu keadaannya.
Sampai masuk ke dalam mobil pun, Marshal masih tetap diam. Rio terus memperhatikannya, jadi semakin cemas dan bingung. Marshal kenapa? Apa Amanda melakukan sesuatu yang buruk? Dia terlihat sangat gelisah, sesekali menghela napas dalam seolah ada hal berat yang dia rasakan.
"Pesan tiket yang cepat, Yo!"
Rio berada di kursi depan, samping seorang sopir. Dia menoleh ke belakang pada Marshal yang juga kini sedang menatapnya. Rio sedikit terkejut. "Apa kita pulang ke rumah? Bukan ke resort?"
"Langsung ke Bandara. Biar barang-barang suruh orang untuk membawakannya dari resort. Aku pulang langsung ke rumah. Tidak perlu kembali ke sana."
Rio sedikit kaget dan bingung. Tapi, dia segera menghubungi orang untuk melakukan perintah dari Marshal. Setelah selesai, dia melirik lagi ke belakang. Marshal terlihat sedang menghela dan mengembuskan napasnya secara teratur. Sesekali melirik keluar jendela. Jemarinya mengetuk kaca, gelisah dan pandangannya terlihat tidak tenang.
"Tuan?"
Marshal melirik pada Rio dengan alis yang bertaut. Bertanya, "Ada apa?" Lalu dia terdiam memandangi Rio yang melihatnya khawatir. "Kenapa, Yo? Apa tiketnya tidak dapat?"
"Dia mengatakan apa?" Marshal langsung menegakkan posisi tubuhnya. Matanya membulat, terlihat khawatir. "Apa dia bilang sesuatu? Dia baik-baik aja, kan?" Marshal merogoh saku jasnya, mencari ponsel. Dia menyalakannya dan kembali melirik Rio yang terlihat kebingungan. "Apa dia baik-baik aja? Dia bilang apa tadi?"
Marshal menghubungi seseorang, menempelkan ponsel ke telinga. "Tidak diangkat," gumamnya terlihat semakin cemas.
"Nyonya hanya bilang, dia ingin pergi keluar."
"Apa?" Marshal membulatkan mata dan kembali sibuk mengotak-atik ponselnya. Dia terlihat semakin tidak tenang. Beberapa kali menghubungi seseorang, tapi tidak mendapat jawaban. "Sayang, angkat, sayang!" Nadanya terdengar semakin cemas. Dia terus berusaha menghubungi. Pasti istrinya yang dia hubungi, pikir Rio. Memangnya siapa lagi yang mendapat panggilan manis seperti itu?
"Mungkin nyonya sudah pergi, Tuan. Tadi-"
"Tidak. Tidak boleh. Dia harusnya berada di rumah."
__ADS_1
Rio mengernyit. Apa yang Marshal katakan membuatnya semakin bingung dan tidak enak. Kenapa Marshal sampai berkata seperti itu?
"Cepat hubungi pengawal nyonya! Jangan biarkan dia keluar rumah sebentar saja! Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk dengannya."
Dengan kebingungan yang semakin meningkat, Rio melakukan titah majikannya. Dia menghubungi para pengawal di rumah dan juga pengawal pribadi Viona.
"Tadi dia bilang akan pergi ke mana?" Marshal mulai terlihat sedikit tenang, setelah Rio mengatakan jika dia sudah melakukan perintah dengan baik. "Dengan siapa dia pergi?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Nyonya hanya bilang akan pergi keluar." Marshal terlihat mengembuskan napasnya kasar. Dia akhirnya berhenti untuk menghubungi Viona, yang tidak kunjung bisa dihubungi. "Memangnya kenapa?"
"Aku tidak tahu harus menjelaskannya dari mana, Yo. Masalah resort, Amanda, Zahra dan keluarga mertuaku. Semuanya bersangkutan. Semuanya berasal dari satu titik yang sama. Ini berat. Aku pasti kehilangan semuanya, setelah ini. Bahkan istriku ikut terancam."
"Memangnya apa yang terjadi, Tuan? Apa yang nona Amanda katakan tadi?"
Marshal menghela napas dalam, memandang Rio serius. "Apa yang belum istriku ketahui? Tentang kebohonganku?"
Rio menautkan alis bingung. Dia menggeleng. "Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?"
"Ancaman buruk." Marshal terlihat kembali cemas dan ketakutan. Dia mengambil lagi ponselnya dan menghubungi nomor Viona. Beberapa kali, namun tetap saja tidak mendapat jawaban.
"Tuan, apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
"Amanda-ah, iya, Sayang akhirnya ...."
Rio terdiam menunggu jawaban, karena Marshal malah terlihat sangat senang bisa mendapat jawaban dari istrinya.
"Jangan pergi ke mana-mana! Tidak! Aku tidak mengizinkan! Tidak boleh! Jangan! Aku sebentar lagi akan pulang."
Rio hanya menyimak dalam diam. Dia melirik sopir yang fokus mengemudi. Pikirannya berkecamuk. Apa yang terjadi sehingga Marshal sampai terlihat secemas itu? Jawabannya dia dapatkan saat Marshal menutup sambungan dengan istrinya.
__ADS_1
"Seseorang sedang mencarimu, Sayang. Dia berbahaya. Aku tidak mau kamu kenapa-napa."