Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kenapa Garmita yang menerima teleponnya?


__ADS_3

Tidak ada kata bahagia untuk hari ini. Hancur, semuanya tidak menyenangkan. Sejak tadi, Viona hanya murung dan mencoba tersenyum, meskipun terasa pahit.


Marshal sialan! Viona akan mengutuki suaminya yang menyebalkan itu sampai beribu-ribu kali. Bisa-bisanya dia pergi di hari yang paling Viona tunggu. Selain itu, selama seharian Viona tidak mendapat kabar sama sekali darinya. Tidak tahukah Viona sangat menantikan kabarnya? Apa memang benar dia sudah tidak ingat dengan istrinya?


Menyebalkan!


Kamu mengirimiku pesan sampai puluhan seperti itu untuk apa? Aku sama sekali tidak berniat membukanya. Tidak penting dan hanya mengganggu aktivitasku saja.


Kau tahu, bagaimana perasaan Viona saat membaca pesan balasan dari suaminya? Sudah tentu perasaan ingin melempar ponsel sangatlah besar. Keinginan untuk membunuh Marshal juga ada. Dia kesal, dongkol, marah dan ingin mencekik orang saat itu juga.


Tidak bisakah Marshal kembali lembut seperti semula? Kenapa dia suka sekali mengacuhkan Viona akhir-akhir ini, bahkan bersikap tidak baik padanya. Kata-katanya menusuk, tidak manis sedikit pun. Marshal memang tidak bisa diharapkan lagi. Untuk apa Viona terus mengingat laki-laki menyebalkan itu? Hanya buang-buang waktu. Marshal bahkan tidak menginginkan pesan darinya.


"Kenapa gak makan, Dek?"


"Gak lapar." Viona memandang ibunya sejenak, lalu berdiri meninggalkan meja makan yang sudah terdapat kumpulan keluarga juga makanan yang mereka buat sejak tadi sore. Sungguh, dia tidak mood untuk makan saat ini. Dia tidak ingin melihat siapa pun juga.


"Mau ke mana, Kak?" Michelle menahan tangannya. Viona ingin tersenyum geli melihat kedua pipi adik iparnya yang mengembung, juga bumbu masakan belepotan di depan bibirnya. Sangat menggemaskan!


"Mau tidur aja, Chelle. Aku ngantuk."


"Lha, kok tidur, sih." Hampir saja sebagian makanan dari dalam mulut Michelle muncrat keluar. "Ini perayaan untukmu, Kak."


"Tapi, aku lelah, Chelle." Viona terlihat lemas memandangi keluarga satu per satu. "Aku izin ke kamar aja, ya, Ma, Pa. Maaf, ya."


"Tidak apa, Sayang, istirahatlah," sahut Rahma dengan ramah, diangguki oleh keluarga lainnya.


Tidak membuang banyak waktu, Viona pergi ke kamarnya. Dia ingin memaki, menangis dan membanting apa pun yang bisa mengurangi perasaan bencinya terhadap Marshal. Suaminya benar-benar menyebalkan, tidak bisa membuat hati Viona senang sedikit pun.

__ADS_1


Denting ponsel membuat langkah Viona semakin cepat masuk ke dalam kamar. Dahinya mengernyit melihat pesan masuk yang berasal dari Rio. "Tumben," gumamnya melihat layar ponsel sambil menutup pintu dengan rapat dan menguncinya.


Apa Nyonya sedang sibuk saat ini?


Viona pun membalas pesan tersebut dengan cepat, bahwa dia tidak sedang sibuk dan menanyakan kenapa Rio bertanya seperti itu.


Tuan berpesan, Nyonya tidak perlu mengiriminya pesan lagi atau melakukan panggilan. Tuan sedang ingin fokus mengurus pekerjaan. Cukup Nyonya memastikan diri baik-baik saja berada di sana, itu sudah lebih baik bagi tuan.


Viona membulatkan mata dengan nanar memandangi layar ponselnya. Memangnya sesibuk apa pekerjaan dia saat ini sampai dia tidak mau diganggu oleh istrinya sendiri? Bukankah hanya meninjau lokasi. Seharusnya tidak memerlukan fokus berlebihan dan menghindari istrinya seperti itu. Dia rasa Marshal hanya mencari-cari alasan saja.


Bilang sama tuan, lebih baik jangan pulang lagi ke sini. Aku mau berhenti jadi istrinya, jika dia masih saja mengacuhkanku seperti itu.


"Argh ...!" Viona melempar ponsel sembarangan, untung mengenai bantal. Dia kesal pada Marshal. Sekarang dia sudah bersikap seenaknya, tidak lagi mementingkan Viona sebagai istrinya. "Ternyata jauh dan diacuhkan suami seperti ini rasanya." Dia bermonolog sendiri, merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk.


Ponselnya kembali berbunyi, Viona tidak peduli. Dua kali mengingatkan ada notifikasi, Viona tetap tidak mengambilnya. Entah siapa pun yang mengirimi pesan, Viona tidak mau melihatnya. Memegang ponsel sama saja dengan memancing amarah. Viona benci benda itu. Gara-gara benda pipih tersebut dia jadi semakin tahu, jika Marshal memang sudah tidak peduli lagi terhadapnya.


"Bodo amat!" Viona menarik selimut untuk menutupi tubuh. Melirik sejenak pada ponsel yang tergeletak di dekat bantal, dia mendengus. Layar ponsel masih menyala, menampilkan notifikasi pesan yang tidak bisa Viona lihat dari samping. Biarkan saja. Viona sedang tidak mau membukanya, lebih baik dia segera tidur dan melupakan suaminya, seperti yang Marshal lakukan di luaran sana.


Tergesa Viona membuka pesan tersebut. Meskipun kesal dia tetap penasaran dengan isinya, maka dia pun melihatnya. Seketika amarah kembali naik, bahkan sampai ubun-ubun.


Dua pesan Marshal kirimkan padanya. Pesan pertama berisi sebuah foto seorang wanita yang tengah duduk di samping seorang pria yang nampak tersenyum hangat. Duduk mereka menempel sekali, terkesan seperti pasangan yang romantis di bawah cahaya malam, duduk seperti di sebuah restoran yang bertema outdoor.


Itu foto Marshal dan Garmita. Di bawahnya di tambahkan dengan pesan susulan yang semakin membuat darah Viona mendidih.


Aku sedang bekerja saat ini. Tidak peduli malam atau pun siang, karena pekerjaanku belum selesai. Jadi, aku harap kamu bisa mengerti. Dan jangan pernah berbicara sembarangan lagi, terutama terhadap Rio. Kamu tetap istriku.


Mengerti dengan hal apa? Membiarkannya mengencani Garmita dengan alasan pekerjaan?

__ADS_1


Cih!


Viona semakin tidak bisa mentolerir pekerjaan suaminya yang satu ini. Apa harus sampai seperti itu? Mana ada bekerja malah seperti orang berpacaran di malam hari, memakai pakaian santai dan rapi, mereka terlihat seperti seorang kekasih.


Marshal lebih mementingkan pekerjaannya, bisa saja karena ada Garmita di sana. Sekalian cuci mata. Pantas dia lupa sudah punya istri.


"Tidak usah pulang ke rumah saja sekalian, Sialan!" Viona memaki ponselnya sendiri, menunjuk-nunjuk gambar Marshal yang sok tampan di foto yang diterimanya.


Katanya Garmita hanya rekan bisnis biasa. Mereka tidak punya hubungan apa pun. Tapi, nyatanya kedekatan mereka terlihat tidak wajar.


"Si tuan Marshal itu ternyata sudah berani mempermainkanku, ya." Viona menekan nomor suaminya, langsung menyambungkan ke panggilan pertama.


Tidak mendapat jawaban.


Bagus!


Dia akan mencoba sekali lagi.


Tetap tidak mendapat jawaban.


"Sepertinya si Marshal sedang bersenang-senang, ya." Viona bersungut-sungut sendiri sambil menunggu panggilannya di terima. Tapi, sampai tiga panggilan pun tetap tidak mendapat jawaban juga dari suaminya. Dia semakin murka.


Lihat saja, jika panggilan keempat tidak menjadapat jawaban juga, maka dia akan-"Bodoh! Kenapa baru diterima teleponnya?! Tidak tahukah aku darah tinggi di sini menahan rindu dan cemburu?! Marshal sial-"


"Halo, Nyonya. Selamat malam. Mohon maaf, saya lancang. Tuan Marshal sedang ke-"


Tut!

__ADS_1


Viona terdiam memandangi ponselnya, setelah mematikan sambungan. Napasnya masih tidak beraturan karena emosi yang belum keluar semua, masih tertahan oleh rasa terkejut mendengar suara yang menyahut dari seberang sana.


Kenapa Garmita yang menerima teleponnya?


__ADS_2