Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Hanya Pelayan


__ADS_3

Viona mengerjapkan matanya berkali-kali. Kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya. Saat matanya terbuka, Viona mengernyit. "Aku dimana?" Ternyata dia tak menyadari jika dirinya sedang berada dikamar Marshal.


  Viona ingin menggeliat. Namun saat mencoba menggeliat, tubuhnya terasa berat. Dia meraba bagian perutnya. Dan betapa terkejutnya dia, ternyata ada tangan yang melingkar di perutnya.


Viona melihat kesamping. Terlihat pria tampan sedang terlelap sambil memeluk tubuh Viona. Setelah melihat wajah Marshal, Viona tersadar. Dia sudah menikah. Dan sekarang sedang tidur dikamar Marshal.


  Semalam tidak terjadi apa-apa. Semua yang Viona cemaskan tidak terjadi karena Marshal mengerti, Viona belum siap. Dan dia juga tidak akan memaksa. Cukup menunggu Viona siap saja. Pikirnya.


  Semalam Marshal hanya menahan Viona untuk tidak keluar kamar dan menemani Marshal tidur. Viona tidak bisa menolak walaupun sebenarnya dia tidak mau. Tapi dia hanya menurut saja apa kata Marshal.


  Viona merasa tidak nyaman dengan jarak yang begitu dekat dengan Marshal. Terlebih lagi Marshal yang memeluknya membuat Viona semakin tidak nyaman. Tapi dia mencoba menggeliat supaya bisa terlepas.


  Namun, pelukan Marshal semakin erat. Mata Viona terbelalak kaget.


Apa dia sudah bangun? Kenapa dia malah mengeratkan pelukannya?..


Viona kembali melirik wajah Marshal yang memejamkan mata disampingnya.


Masih tidur. Gumamnya.


Viona menghela napas dalam. Sekali lagi dia mencoba menggeliat. Melepaskan pelukan Marshal. Namun, lagi-lagi pelukan Marshal semakin erat dan tubuhnya semakin menempel pada tubuh Viona.


Jujur saja, Viona merasa risih. Ingin berontak. Dia tak terbiasa seperti ini. Apalagi harus tidur dengan pria yang belum terbiasa dengan Viona. Meskipun Marshal adalah suaminya, tetap saja Viona tidak biasa tidur bersama seorang pria selain tidur dengan Vino ataupun Heru, itupun saat Viona masih polos belum seperti sekarang.  dan juga tak sedekat ini. Hanya sekedar tidur. Tak seperti Marshal yang mepet bahkan memeluknya erat.


"Mau kemana?"


Refleks Viona menoleh pada Marshal setelah mendengar suaranya. Marshal tetap saja memejamkan matanya.


"Tuan sudah bangun?"


Dia tidak menjawab. Namun kembali mengeratkan pelukannya.


"Saya mau keluar tuan. Ini sudah subuh. Saya akan sholat dulu"


"Kamu tidak membangunkanku?"


"Saya takut mengganggu tuan"


Sekali lagi Viona mencoba menggeliat. Dia benar-benar ingin terlepas dari pelukan Marshal. Namun tetap sia-sia. Marshal tak mau melepas pelukannya.


"Tuan" Viona melirik Marshal. "Tolong lepaskan pelukannya. Saya ingin bangun"


"Sebentar lagi saja. Aku juga belum sholat subuh" Marshal kini menempatkan wajahnya pada ceruk leher Viona yang membuat Viona semakin tak nyaman. Viona ingin terlepas dari Marshal, jerit hatinya.


  Apa maunya dia sekarang. Aku ingin bangun, dan keluar dari sini.


Viona pasrah. Dia akhirnya hanya diam dengan perasaan kesal menerima perlakuan dari Marshal. Mungkin jika pernikahan mereka dilandasi cinta, hal yang Marshal lakukan akan terasa sangat romantis. Tapi bagi Viona, ini sangat membebankan. Tidak nyaman. Risih. Terasa menyiksa.


Sepuluh menit kemudian, Marshal melepaskan pelukannya. Viona bisa bernapas lega. Setelah Marshal bangun dan turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandi, dengan segera Viona ikut turun kemudian keluar dari kamar Marshal. Kembali ke kamarnya. Membersihkan diri kemudian menunaikan sholat subuh.


  Setelah sholat subuh, dia turun ke lantai bawah untuk melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri sekaligus seorang pelayan.


Saat masuk ke dapur, ternyata sudah ada beberapa pelayan. Para pelayan lainnya juga sedang mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


  Ternyata dirumah ini pelayannya banyak juga.


"Pagi Semua!" Viona memasuki dapur. Semua pelayan yang ada disana terkejut melihat kearah Viona.


Semua para pelayan berdiri dengan sigap. Membungkukkan badan. Hormat pada Viona.


Kenapa Nyonya datang kedapur? Begitulah isi keheranan penuh keterkejutan mereka.


  Viona merasa tidak enak hati sekarang. Kenapa semua pelayan selalu menghormatinya berlebihan.


"Nyonya sudah bangun" Erni menghampiri Viona disertai senyuman yang dibalas hangat oleh Viona.


"Jangan memanggilku Nyonya! Panggil namaku saja"


"Saya tidak berani memanggil seperti itu


Nyonya" Erni menundukkan kepalanya.


Viona mendecak. Dia sungguh tidak ingin dipanggil Nyonya. Bukan hanya karena Marshal yang tak menganggapnya istri dan menjadikannya pelayan, tapi dia juga risih dipanggil seperti itu.


"Ok, panggil aku Nona saja! Jangan memanggil Nyonya!" Viona menyunggingkan senyumannya. "Lagian aku disini juga bukan Nyonya kalian. Kedudukanku sama seperti kalian. Aku hanya pelayan disini"


Semua orang yang ada disana terbelalak. Bagaimana mungkin Viona menganggap kedudukannya sebagai pelayan. Jelas-jelas dia istri dari Marshal. Sudah tentu dia adalah Nyonya disana.


"Apa yang bisa ku kerjakan?" Viona melirik sekeliling. Dan para pelayan kembali dibuat terkejut olehnya.


  Viona menanyakan pekerjaan? Untuk apa dia melakukan pekerjaan rumah. Dia'kan Nyonya dirumah ini. Dia tidak perlu melakukan pekerjaan dirumah. Yang perlu dia lakukan hanya duduk manis dan memerintah para pelayan. Begitulah kiranya pikiran semua pelayan.


"Nyonya tidak usah melakukan apapun. Ada kami yang melakukannya" ucap Erni lembut.


  Viona menyadari kebingungan para pelayan, dia hanya menghembuskan napasnya kasar.


"Dengarkan aku!" Viona melihat semua para pelayan yang masih menunduk. "Kalian tidak perlu menghormatiku. Aku disini hanya sebagai pelayan. Tuan sendiri yang mengatakannya padaku, jika aku hanya dijadikan pelayan disini. Jadi kalian tidak perlu sungkan maupun hormat padaku. Kedudukanku hanya sebagai pelayan. Tidak lebih"


  Pikiran para pelayan begitu ruet. Bagaimana mungkin Marshal menganggap istrinya sendiri sebagai pelayan. Sungguh tak bisa dipercaya. Tapi mereka tetap diam. Tidak ada yang berani berucap pada Viona. Bagaimana pun juga Viona adalah Nyonya mereka, meskipun Viona mengatakan bahwa dirinya pelayan. Tapi mereka tetap tak percaya. Dan sudah semestinya menghormati Viona.


"Maaf, Nyonya. Tapi anda istri dari tuan. Bagaimana mungkin kami tidak menghormati Nyonya. Kami tidak bisa menyamakan Nyonya dengan kedudukan kami" hanya Erni yang berani bicara diantara para pelayan. Karena dia adalah pelayan pribadi Viona jadi dialah yang berani berucap.


Jika Viona berkedudukan sebagai pelayan, masa iya seorang pelayan punya pelayan pribadi.


Viona menggeram frustasi. "Jangan memanggilku Nyonya! Aku mohon!" Semua pelayan hanya menunduk. Dan Viona kembali menghembuskan napas kasarnya.


  Oke, biarkan saja mereka bersikap semaunya. Pusing juga aku mengatakannya. Aku paham jika mereka tak percaya dengan ucapanku. Aku sendiri saja tak percaya jika tuan Marshal menikahiku hanya menjadikanku sebagai pelayan. Jadi tidak heran jika mereka juga tak percaya. Tapi memang itu kenyataannya... Aku hanya seorang pelayan.


"Baiklah. Lupakan apa yang aku ucapkan. Kalian kembali melanjutkan pekerjaan!"


Semua para pelayan itu kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Meskipun pikiran mereka masih bertanya-tanya juga kebingungan. Tapi mereka juga tak mungkin bertanya pada Viona. Mereka hanya bisa diam tak mau ambil pusing.


"Apa yang harus aku kerjakan?" Viona kembali bertanya membuat Erni kembali terbelalak.


  Apa Nyonya benar-benar ingin melakukan pekerjaan? Bagaimana mungkin seorang nyonya melakukan pekerjaan rumah? Pikiran Erni kembali dibuat bingung penuh keheranan.


"Tidak ada yang perlu Anda kerjakan, Nyonya" ujar Erni sembari menunduk. Membuat Viona kembali mendecak kesal.

__ADS_1


Baiklah, sepertinya dia tidak perlu mendebat. Mereka tidak akan pernah mengerti. Tak akan ada juga yang percaya. Dia hanya perlu melakukan pekerjaan sekarang. Bukan hanya menyakinkan para pelayan bahwa dirinya tidak perlu dihormati sebagai Nyonya.


"Biar aku yang memasak"


"Tidak perlu Nyonya. Sudah ada pelayan yang memasak. Nyonya tidak perlu melakukan apapun" tolak Erni kembali.


  Apa mereka benar-benar menganggapku Nyonya disini? Kenapa aku tidak boleh melakukan apapun?


"Tinggalkan aku dan Mba Erni disini. Kalian kerjakan pekerjaan lain" suruh Viona pada para pelayan.


Meskipun bingung, namun para pelayan menurut. Mereka pergi dari dapur meninggalkan Erni dan Viona hanya berdua.


Erni hanya menyaksikan dalam diam. Dia juga heran dengan apa yang Viona katakan.


Apa yang akan Nyonya lakukan? Tidak mungkin Nyonya akan benar-benar melakukan pekerjaan pelayan.


Kepala Erni rasanya pusing. Penuh bingung. Penuh heran. Majikannya ini sungguh keras kepala. Apa yang akan dilakukannya sungguh tidak masuk akal bagi seorang majikan. Bagaimana mungkin seorang Nyonya melakukan pekerjaan pelayan.


"Mba, biasanya tuan suka masakan apa?" Tanya Viona sembari menuju tempat sayuran.


Erni tak langsung menjawab. Dia tetap diam dalam kebingungan. Viona benar-benar ingin melakukan pekerjaan rumahan.


"Mba.." Viona menoleh pada Erni yang tampak mematung.


Erni tersadar dan menghampiri Viona menuju tempat sayuran. "Maaf, ada apa Nyonya?"


"Jangan memanggilku Nyonya lagi!" Kesal sekali rasanya Viona dipanggil Nyonya. "Jika tidak mau memanggil namaku, panggil aku Nona saja! Oke!" Erni akhirnya mengangguk patuh.


"Tuan biasanya suka dimasakin apa?"


"Em... selera tuan tidak sulit. Tuan akan makan apapun yang tersaji. Tuan tidak pernah mempermasalahkan hidangan" Viona manggut-manggut mengerti.


"Apa jika dihidangkan batu, tuan juga akan memakannya?"


Erni terbelalak. "Ba-bagaimana mungkin memakan batu?"


Erni ingin tertawa, tapi dia tidak berani. Ucapan Viona terasa jenaka. Bagaimana mungkin Tuan Marshal dikasih hidangan batu. Yang benar saja.


"Jika aku memasukan racun dalam makanan tuan, apa itu juga akan dimakan olehnya?"


"Hah? Ra-racun?" Erni menganga tak percaya jika Viona bicara akan menghidangkan makanan dengan racun untuk suaminya.


Apa Nyonya berniat membunuh tuan?


Sadar dengan keterkejutan Erni, Viona tergelak. Tawanya renyah hingga Erni jadi bernafas lega, ternyata Viona hanya bergurau, Erni kira benaran Viona akan memberi racun pada makanan Marshal.


"Bantu aku memilih bahan-bahannya!"


Mereka pun menyiapkan semua bahan-bahan yang akan Viona masak. Dan mulai memasak beberapa menu.


Sekali lagi Erni terbelalak. Viona sungguh lihai dalam memasak. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang Nyonya muda, istri dari majikannya ini sepertinya sudah biasa melakukan semuanya. Viona tidak nampak kesulitan. Bahkan Erni tak bisa banyak membantu. Dia hanya membantu memotong atau mencuci sayuran. Semuanya didominasi oleh Viona.


Viona memang pandai memasak. Bisa dibilang, memasak adalah salah satu hobinya. Meskipun dia berasal dari keluarga yang terpandang dengan mempergunakan banyak pelayan, bukan berarti dia tidak bisa apa-apa. Viona bukan perempuan manja yang hanya bisa menghabiskan uang keluarga saja, tapi dia juga suka melakukan semuanya sendiri. Saat dirumah Heru pun Viona selalu memasak membantu Lina. Bahkan dia juga kadang mengerjakan pekerjaan rumah membantu para pelayan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2