Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Viona Terjatuh


__ADS_3

"Huh, capeknya ...." Sebelah tangan Viona bertolak di pinggang yang terasa pegal dan berat. Dia membuka pintu ruangan kerja suaminya, melonggok ke dalam, lalu tersenyum.


Marshal langsung berdiri melihat Viona masuk. Dia sigap menghampiri dan menuntunnya untuk segera duduk di sofa. "Kenapa malah ke sini, bukannya segera tidur, Sayang?"


"Aku udah ngantuk, tapi kamu malah sibuk sama kerjaan. Aku gak mau tidur sendirian, Chal." Viona mencebik lucu, duduk di sofa dengan posisi yang tidak nyaman dan napas yang masih tersenggal. "Aku capek ...."


"Makanya, diam di kamar!"


"Kamu pasti lama ke kamarnya, kalau gak disusulin."


Marshal langsung terdiam, beranjak menuju meja kerja dan membereskannya. Jika sudah seperti itu, mengurus pekerjaan pun tidak ada gunanya. Yang harus menjadi prioritasnya saat ini hanya Viona. Istrinya sudah mengantuk, ingin ditemani. Marshal harus siap siaga mengantarnya sampai lelap ke alam mimpi.


"Pengen digendong ...." Viona merentangkan tangan ke atas, pada Marshal yang berdiri di hadapannya. Dia memang manja. Boleh 'kan dia manja pada suaminya? Kehamilan yang sudah menginjak usia tua selalu membuatnya kewalahan. Viona bahkan susah untuk bangun dari duduknya sekarang.


"Sayang, mungkin lebih baik kita pindah kamar. Kamar yang di atas terlalu jauh, kamu pasti lelah ke sana-kemari."


"Iya, capek. Naik-turun tangga juga malah bikin kaki aku pegel, Chal."


Mendengar keluhan istrinya setiap hari, Marshal juga merasa kasihan. Mungkin memang lebih baik mereka pindah ke kamar yang ada di lantai bawah untuk sementara waktu. Setidaknya sampai Viona melahirkan. Kasihan istrinya yang menanggung beban berat harus berjalan jauh dan penuh dengan perjuangan. Rumah Marshal sangat luas, tidak bisa dilewati hanya dengan dua langkah.


"Besok suruh Mbak buat pindahin barang aku, ya? Biar gak harus ke lantai atas terus. Aku capek, Chal."


Marshal mengangguk patuh, membantu istrinya untuk berdiri. Viona langsung merangkulkan tangannya di leher Marshal sambil menyeringai. Dia mengecup rahang suaminya sekilas, lalu mengerling jahil.


"Ini kode apa?" Marshal senang mendepatkannya, tapi dia juga bingung karena Viona jarang agresif seperti itu.


"Kode minta digendong. Maaf, ya, aku ngerepotin terus. Aku pasti berat digendong, tapi kamu baik banget, Chal."


"Tidak apa, Sayang. Udah kewajiban suami layanin istrinya yang lagi hamil. Jangan sungkan. Kamu dan anak kita harus dijaga dengan baik."

__ADS_1


"Makasih, Sayang." Viona mengecup bibir Marshal kali ini. Dia tersenyum lebar, pasrah ketika Marshal menggendong tubuhnya.


"Kalau hamil tiap tahun, kamu mau, kan?"


"Enak aja!" Viona memukul dada suaminya. "Dikira hamil itu enak apa? Kalau kamu yang hamil gak papa. Kalau aku gak mau!"


Marshal tertawa mendengar omelan istrinya. "Kamu seksi, gemesin begini kalau lagi hamil. Aku suka, makanya berpikir, kalau kamu hamil tiap tahun pasti seru." Dia tertawa semakin kencang karena Viona menjambak kesal rambutnya. Menggoda Viona memang mengasyikan bagi Marshal. Istrinya yang cemberut dengan bibir manyun, sangat terlihat lucu dimatanya.


"Yang ini aja belum lahir, udah mikir mau lihat aku hamil lagi? Hei, dikira aku mesin pencetak anak apa?!"


Marshal tertawa lagi. Viona bisa saja mencekiknya saat ini, jika dia terus melakukan godaan usil. Maka lebih baik hentikan dan fokus pada jalan yang akan dia lalui saat ini. Jangan sampai limbung, jangan sampai jatuh dan jangan sampai dia kehilangan fokus. Karena beban yang dia bawa saat ini sangatlah berat. Tubuh Viona semakin berisi seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Dia memang lumayan berat. Marshal tidak akan menyangkalnya, karena tangan dia sudah mulai terasa pegang jika harus menggendong istrinya.


"Aku berat, ya?"


"Iya, sedikit."


"Yaudah, jangan diturunin. Anggap aja aku barbel buat nambah masa otot."


Viona tertawa renyah melihat suaminya mengibaskan tangan, meregangkan otot yang terasa pegal. Dia juga sadar diri bagaimana berat badannya saat ini. Marshal tidak bisa menutupi bebannya yang memang sangat berat. Viona senang, karena Marshal tetap mau memanjakannya, meskipun harus sakit lengan setiap hari.


"Sini, aku pijitin."


Marshal duduk di tepi ranjang, menyodorkan tangan di depan istrinya. Dia tersenyum manis ketika tangan Viona menyentuh dan memberikan pijatan halus. Sensasinya selalu Marshal suka. Tangan Viona memang selalu lihai memberikan sentuhan, bukan hanya pijatan di tangan saja, tapi di beberapa tempat yang memang menjadi keperkasaannya.


...***...


Sudah dua minggu berlalu. Sekarang dan seterusnya, Viona tidak perlu lagi merasakan lelahnya ketika melewati tangga. Marshal sudah memindahkannya untuk tinggal di kamar tamu yang ada di lantai bawah. Kamar itu cukup luas, meskipun tidak seluas dan semewah kamar milik mereka. Tapi cukup nyaman untuk ditempati. Dan Viona lebih suka tinggal di sana, karena dekat untuk pergi ke sana-kemari. Tidak perlu repot berjalan jauh ketika lapar dan juga dekat dengan taman belakang yang sering dia kunjungi.


"Papa berangkat kerja dulu, Nak. Baik-baik di dalam perut mama, ya. Jangan nakal dan jangan banyak mau sebelum papa pulang."

__ADS_1


"Iya, Papa Sayang." Viona menyahutinya, mengikuti logak khas anak kecil.


Marshal tersenyum lebar, mengecup kening istrinya dengan penuh sayang. "Aku berangkat dulu, ya."


"Iya. Nanti pulangnya bawain aku pie apel, ya. Jangan lupa!"


"Baik, siap, Nyonya! Nanti Tuan bawakan. Ada lagi yang kamu mau?"


Viona terkikik melihat suaminya berdiri tegap dengan sebelah tangan hormat. Dia menggelengkan kepala. "Udah, itu aja."


"Oke, kalau gitu, aku berangkat, Sayang."


Viona ikut berdiri, menyalimi tangan suaminya. Dia tidak mengantar Marshal sampai ke depan, karena suaminya bilang tidak perlu. Takut Viona kelelahan, jadi lebih baik diam saja di dalam kamar. Ketika Marshal sudah keluar dari pintu kamar, Viona masuk ke kamar mandi karena kebelet ingin membuang air lagi. Akhir-akhir ini dia sering kepayahan ketika kebelet pipis. Hampir sulit menahannya sebentar saja.


Bruk!


"CHAL ...!"


Marshal mendengar teriakan istrinya dari dalam kamar. Buru-buru dia kembali masuk, membanting tas kerja pada Rio dan betapa terkejutnya ketika mendapati tubuh Viona terjatuh di kamar mandi. "Sayang!" Dia menghampiri Viona yang meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. "Kenapa bisa jatuh?!"


Marshal menggendong tubuh Viona dengan panik, memeriksa luka tapi tidak ada. "Kita ke rumah sakit sekarang!" Dia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa terhadap istri dan anaknya. Tapi, Viona malah menggelengkan kepala, minta dibaringkan di atas ranjang.


"Aku gak papa." Viona mencoba meyakinkan suaminya, walaupun dia juga kaget dan sedikit merasa sakit di pinggangnya. "Aku cuma kepeleset tadi. Gak sengaļ¼"


"Kamu pipis di celana?"


Viona tercengang ketika Marshal meraba bajunya yang basah dan sampai merembes ke kasur. Viona menggelengkan kepala, dia tidak pipis di celana. Tapi, cairan bening basah keluar dari bagian bawah tubuhnya.


"Sayang?"

__ADS_1


"Chal, ini ...." Viona meraba bagian yang basah tanpa henti keluar dan sampai menggenang di kasur. Tiba-tiba perutnya terasa mulas dan cairan itu semakin banyak keluar membuat baju dan kasurnya basah kuyup. Dengan sebelah tangan memegang perut dan sebelah lagi menyentuh basah dan mencium baunya, Viona tertegun. Tidak bau air seni. Cairan bening itu tidak berbau. "Chal, jangan-jangan ini ...."


Apa yang terjadi?


__ADS_2