Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Perhatian Viona


__ADS_3

Sudah empat hari berlalu, kondisi Wisnu semakin membaik, meskipun bekas luka di tubuhnya sangat banyak dan belum juga pulih sempurna.


Viona mengambil tisu untuk melap bibir mertuanya yang belepotan karena bubur yang dia suapkan. Dengan telaten dia menyuapi ayah mertuanya, lalu memberikan minum dari gelas yang memakai sedotan.


"Sekarang minum obat, ya, Pa."


Wisnu hanya tersenyum dan menganggukan kepala sedikit. Viona sangat baik dan sabar menjaganya setiap hari, bahkan rela menginap di sana hanya demi memastikan keadaan mertuanya baik-baik saja, meskipun keadaan Rahma masih buruk-belum sadarkan diri sampai hari ini. Kabar itu memang berat diterima. Tapi, itulah kenyataannya. Luka Rahma lebih parah dari yang Wisnu dapatkan, bahkan ibu mertuanya kehilangan banyak darah atas kecelakan tersebut.


"Papa mau buah?"


Wisnu tersenyum lagi. Tidak mengatakan apa pun, namun tetap bahagia saat Viona mengupas jeruk untuknya.


"Marshal bilang, dia akan ke sini pulang kerja nanti, jika semua urusannya udah selesai." Viona menyodorkan jeruk yang telah dibersihkan ke depan mulut Wisnu.


Mertuanya membuka mulut dan memakannya dengan pelan. Telapak tangan Viona terulur lagi ke dekat mulut Wisnu, meminta untuk mertuanya mengeluarkan biji jeruk dari dalam mulut. "Gak apa-apa, Pa." Viona tertawa pelan, Wisnu terlihat enggan. Padahal Viona tidak masalah dengan hal itu.


"Terima kasih, Viona," lirih Wisnu, tersenyum haru mendapat perlakuan seperti itu.


"Iya, Pa." Viona membalas dengan senyuman tulus. Memang sudah seharusnya sebagai seorang menantu dia bersikap baik dan memperlakukan mertua seperti orangtuanya sendiri. Viona senang bisa merawat mertuanya.


"Maaf, karena kecelakaan papa bulan madu kalian jadi gagal."


Viona menggelengkan kepala, lalu kemabli tersenyum. "Nggak, Pa. Aku udah puas kok. Selama di Jepang kita juga udah berkunjung ke banyak tempat. Aku senang."


Wajah yang sendu merasa bersalah terlihat jelah pada diri Wisnu. "Nanti papa ganti sama liburan yang lebih lama, ya. Setelah papa pulih. Papa janji."


"Gak usah, Pa. Gak apa-apa, kok. Yang penting keadaan Papa sama mama sekarang. Gak usah mikiran aku sama Marshal. Kita baik-baik aja."


Tangan berselang infus terangkat perlahan, dengan lemah mengusap tangan Viona. Betapa dia beruntung mempunyai menantu seperti Viona. Wanita itu bukan hanya cantik dan ramah, tapi juga punya hati yang mulia. Marshal tidak salah memilih wanita untuk yang satu ini. Meskipun didapatkan dengan cara yang curang, namun Wisnu mengakui kehebatan anaknya untuk mendapat seorang Viona.


***


"Sudah makan, Sayang?" Marshal mengecup kening istrinya, memberikan kesan manis setiap kali dia pulang bekerja.


"Belum."


"Kenapa belum, hm?" Marshal ditarik untuk duduk di sofa, melihat ke arah depan, ayahnya tengah terlelap. "Papa sudah makan, Sayang?"


"Udah. Baru aja selesai. Udah minum obat, papa tidur."


Marshal menganggukkan kepala pelan, memberikan kecupan hangat di pipi dan berterima kasih, karena Viona sudah menjaga ayahnya dengan baik. Bahkan lebih baik dari perawat rumah sakit, pikirnya.


"Terus kenapa kamu belum makan?"

__ADS_1


"Nungguin kamu." Viona tersenyum lebar melihat suaminya yang memutar bola mata. Dia sengaja mengatakan itu supaya Marshal tidak mengomelinya.


"Aku pesan makan dulu. Kamu mau apa?"


"Apa aja. Asal sama kamu, semua makan enak, kok."


Lagi, Marshal memutar bola mata. Viona dengan tingkah yang selalu mengejutkan akhir-akhir ini, selalu berhasil menghilangkan rasa penat dan sedihnya. Marshal rasa Viona sengaja melakukan itu supaya dia terhibur dan melupakan beban pikiran sejenak. Dan itu selalu berhasil. Marshal jadi bisa beraktivitas lagi dengan baik, namun tetap fokus dengan kondisi kedua orangtuanya.


"Chal."


Marshal bergumam, masih melihat ponsel karena sedang memesan makanan.


"Kamu di kantor gak genit sama wanita lain, kan?"


Terkejut. Marshal memandang Viona dengan cepat, mengalihkan pandangan dari layar sejenak. "Kamu ini bicara apa, Sayang?" Marshal semakin tidak mengerti dengan pikiran istrinya. Selalu saja menuduh yang tidak-tidak dan bertanya yang membuatnya tidak habis pikir dengan tingkat kecemburuan Viona yang semakin hari malah semakin meningkat.


"Aku hanya bertanya," kilah Viona, langsung membuang muka, sebal terhadap suaminya.


"Jangan mulai lagi, Sayang! Aku baru pulang bekerja dan sekarang lapar. Jangan dulu mengajak debat, okay? Ada papa di sini."


"Ya, ya, ya ...."


"Sayang ...."


***


"Yang sabar, ya, Chelle. Kita berdoa saja. Mama pasti cepat sadar," dukung Viona pada adik iparnya dari sambungan telepon.


Pagi ini, Michelle kembali mengabarkan, jika Rahma masih belum sadarkan diri. Viona ikut prihatin mendengarnya. Dia sedang berada di rumah, tidak menjaga di rumah sakit. Rencananya siang nanti baru akan pergi ke sana bersama Marshal yang sekarang masih berbincang entah dengan siapa di ruangannya. Sepertinya ada orang penting yang datang mengunjunginya.


"Yaudah, Kak. Aku mau makan dulu, ya. Kak Miranda udah ngomel dari tadi."


"Iya, Chelle. Makan yang banyak, minum vitamin! Kamu kurang tidur akhir-akhir ini. Sampaikan juga sama kak Miranda, nanti aku ke sana sama Chal, ya."


"Iya, Kak." Lalu panggilan terputus.


Semoga saja Rahma segera sadar dari masa kritisnya, harap Viona dalam hati.


"Tuan di mana, Yo?" Viona bertanya pada asisten suaminya yang tengah minum di depan kulkas.


"Masih di ruangannya, Nyonya."


"Tamu tadi emang siapa? Belum pulang?"

__ADS_1


Rio menggeleng. "Yang datang temannya tuan. Dia baru datang dari Ausie. Mendengar kabar tuan Atma yang kecelakaan, dia jadi khawatir, makanya datang ke sini untuk.menjenguknya."


"Teman dekat?"


Rio memberikan anggukan cepat. "Iya. Setahu saya, orang itu teman semasa tuan berada di sana. Tuan pernah tinggal di Ausie dulu."


Viona hanya ber'oh' ria dan berlalu untuk melihat taman di halaman belakang. Pagi hari yang segar pasti akan terasa menyenangkan ditambah pemandangan indah. Perkerja kebun pasti sedang menyiram tanamannya di jam-jam pagi seperti ini. Udaranya akan menyejukkan.


***


Suara tawa menggema di ruang kerja Marshal. Tangannya menunjuk wajah Marshal dengan geli. "Kau gila! Curang sekali mendapatkan istri dengan cara menjijikan seperti itu. Pantas saja ada bidadari yang sangat baik hati, kenapa bisa mau nikah denganmu." Tawa Rojer semakin menyebalkan di telinga Marshal. Laki-laki itu terus saja menertawakannya tanpa henti.


"Apakah dia tahu cara licik ini?" tanyanya lagi, masih terdapat sisa tawa di wajahnya.


Marshal menggeleng membuat dia membuka mata lebar-lebar, tidak percaya. Wajahnya mendekat ke arah Marshal, memastikan ucapan sahabatnya memang tidak membual. "Serius dia tidak tahu? Sampai saat ini kau tidak memberitahunya?" Marshal menggeleng lagi. Kemudian dia tertawa lagi dengan sangat keras. Menunjuk-nunjuk wajah Marshal dengan ujung telunjuknya.


"Kejam sekali kau, Mars! Bagaimana jika istrimu tahu masalah ini? Apa yang akan dia lakukan? Oww ... dia pasti meninggalkanmu, Marshal."


"Tidak akan!" sambar Marshal dengan yakin. "Dia sudah mencintaiku. Tidak mungkin bisa meninggalkanku semudah itu. Dia sudah jatuh cinta sepenuhnya. Mana mungkin bisa membenci aku sebagai suaminya, kalau pun dia akhirnya tahu apa yang telah kuperbuat untuk bisa menikahinya."


"Dasar gila!" Rojer terbahak lagi sampai memegang perutnya. Matanya berair,  dia mengusapnya dan berusaha untuk berhenti tertawa melihat wajah Marshal yang terlihat muak dengan respon dirinya. "Kau membuat skenario kejam tanpa sepengetahuannya. Bagaimana mungkin dia tidak akan membencimu saat tahu semua yang telah kau perbuat? Sudah tentu dia akan marah dan pergi. Aku yakin."


Marshal hanya terdiam, membiarkan Rozer mengatakan apa pun tentang dirinya. Dia yakin Viona tidak akan seperti itu. Viona sudah terikat dengannya, tidak mungkin bisa pergi begitu saja.


"Kau menjebaknya, Brother. Caramu sangat curang. Kau membuat drama seolah ayahnya-siapa tadi nama ayahnya itu? Nama mertuamu siapa?"


"Heru Pratama," sahut Marshal dengan malas.


"Nah, itu dia." Rozer kembali terlihat serius, menandangi Marshal yang hanya terdiam. "Kau mendrama dengan tuan Heru seolah perusahaannya bangkrut dan kau yang membantu, lalu meminta imbalan untuk menikah? Cih! Aku benci mengingatnya. Itu sangat menjijikan. Tapi, aku sangat kasihan dengan istrimu, Mars. Dia telah dibohongi olehmu dan orangtuanya. Padahal kalian hanya membuat sebuah drama, seolah ini nyata. Kau bahkan-"


"Aku melakukan semua itu karena aku ingin menikahinya," potong Marshal dengan cepat.


Rozer berdecak. "I know ...." Dia menghela napas kasar. "Tapi, istrimu gadis baik. Tidak seharusnya dibohongi seperti itu, hanya karena kau ingin menikahinya. Apa tidak ada cara lain lagi untuk mendapatkannya?"


"Tidak ada. Makanya aku melakukan itu. Dia bukan gadis yang gampang luluh. Dia berbeda. Dan dia juga punya seorang kekasih dulunya. Makanya, aku tidak ada pilihan lain lagi, selain melakukan rencana itu."


Tawa Rozer kembali menggema, memukul pahanya dengan gemas. "Kau tetap saja curang!" tuduhnya, menunjuk Marshal lagi. "Bukan hanya menbohongi istrimu, tapi juga menbodohi mertuamu itu. Siapa tadi namanya? ... ah, iya, tuan Heru. Kau meracuni pikirannya dengan apa sampai dia bersedia menjadi teman skenariomu, ha?"


Marshal hanya memutar wajah, semakin muak melihat respon Rozer yang berlebihan. Dia memang telah curang. Tapi, usahanya memang membuahkan hasil yang bagus dan Viona sekarang menjadi istrinya.


Marshal juga telah berjanji dengan hatinya. Cepat atau lambat, dia akan mengatakan kebohongan ini pada Viona. Istrinya berhak tahu dan Marshal harap Viona tidak berniat meninggalkannya saat tahu masalah ini nanti. Setidaknya hanya marah dan menonjoknya sedikit tidak apa. Asal Viona tidak pergi dan menjauh, lalu meninggalkannya dan tidak mau kembali lagi.


____________________________

__ADS_1


Happy Ending atau Sad Ending?


__ADS_2