
Ehem! Tes-tes-tes. Lumayan, pengobat rindu. Siapa tau kalian merindukan mereka wkwk ....
Atau merindukan Zhao? Hmmm ....😂😂
_________________________________
"Sayang, dasi aku belum diambilin?!"
"Sayang, tadi kamu simpan jas aku di mana?!"
"Sayang!"
"Sayang!"
"Sayang!"
"Sebentar, Chal!" Viona menarik jas biru dari samping box bayi. Dengan setengah berlari, dia keluar dari kamar anaknya menuju kamar utama, tempat di mana suaminya kini berteriak rusuh di depan pintu kamar.
Suara tangisan Zehan memekakan telinga, membuat Viona semakin terlihat kacau. Dia terburu-buru menghampiri suaminya yang memasang wajah kesal karena paginya tidak sesuai dengan rutinitas. Marshal pasti ikut rewel jika pagi-pagi begini, tidak mau kalah dengan anaknya.
"Dasi aku mana?"
"Tadi udah aku siapin. Masih di ruang ganti mungkin." Viona menyerahkan jas pada suaminya. Jika saja Marshal bisa bersiap sendiri, memakai pakaian lengkap sejak tadi, maka pagi ini Viona tidak akan kerepotan lagi. Dia harus ke sana-kemari mencari dasi. Ternyata ada di atas meja tempat terakhir kali dia menyimpannya, saat menyiapkan pakaian tadi.
Dasar Marshal yang tidak bisa diatur. Jika saja dia tidak bertingkah berlebihan ketika Viona sedang menyusui Zehan, maka dasi itu pasti sudah melilit di lehernya. Jas juga sampai berpindah tempat ke kamar anaknya, sangking banyaknya ulah Marshal pagi ini. Padahal dia harus berangkat bekerja sejak tadi.
"Kamu tuh jangan bikin aku repot terus, dong, Chal. Biasanya juga bisa siap-siap sendiri. Kasian Zehan lagi rewel, kamu jangan ikutan rewel. Aku pusing." Viona menarik suaminya untuk bisa berhadapan. Dia menyampirkan dasi di leher suaminya dengan cepat dan mulai membuat jalinan yang rapi. "Udah. Sekarang berangkat, udah siang. Jangan buat aku pusing lagi!"
__ADS_1
"Siapa yang nolak untuk menyewa baby sitter? Kalau kita mempekerjakannya, kamu gak akan seperti sekarang, Sayang."
Langkah Viona terhenti di depan pintu kamar, hendak beranjak ke kamar Zehan. Dia melihat Marshal sambil menghela napas lelah. Oke, dia tidak akan menjawab apa pun, karena Marshal memang menyalahkan keputusannya. Viona yang menolak untuk mempekerjakan seorang pengasuh untuk Zehan, karena dia ingin mengurus anaknya sendiri. Tidak pernah menduga kalau ternyata suaminya juga bisa membuat ia mengurus dua anak sekaligus. Marshal malah merepotkannya, alih-alih membantu meringankan.
Mendengar suara tangisan anaknya yang semakin kencang, Viona segera pergi ke kamar sebelah tempat Zehan ditinggalkan sendiri. Dia menggendongnya dengan cepat. Wajah tampan anak itu kini sudah memerah dengan air mata yang membasahi pipi gembulnya. Viona menimang-nimang anaknya dengan telaten, mencoba menghentikan tangisannya.
"Susuin, Sayang. Mungkin dia masih lapar."
Viona memutar mata melihat Marshal yang sudah rapi, kini berada di belakangnya. Laki-laki itu tampak santai, berbeda dengannya yang sudah darah tinggi sejak tadi. Dia duduk di ranjang yang memang tersedia di sana, menyusui anaknya, berharap tangisnya bisa cepat reda.
Melihat Marshal yang masih berdiri memperhatikan, Viona mengembuskan napas dengan kasar. "Udah siang, kenapa belum berangkat?"
Marshal hanya tersenyum, melangkah mendekati ranjang, duduk di samping istrinya yang sabar memberikan ASI pada Zehan. Marshal selalu suka melihat sifat keibuan Viona. Rasa sayangnya akan bertambah berkali-kali lipat.
"Chal ...."
"Sebentar lagi, Sayang. Aku mau lihat pangeran ini bobok dulu."
"Sayang, kenapa anak kita sangat tampan?"
Viona hanya terdiam ketika Marshal menyentuh wajah anaknya. Senyuman mengembang di bibir suaminya, Viona tidak akan menjawab apa pun. Dia sudah tahu apa yang akan suaminya ucapkan nanti.
"Sayang?"
"Karena dia titisan dewa, pantas jika tampan."
"Salah!" hardik Marshal. Viona memutar mata, menutup telinga, sudah bisa menduga apa yang akan suaminya katakan selanjutnya. "Dia tampan karena mirip papanya."
__ADS_1
Narsis!
Selalu itu yang menjadi patokan. Memang Viona juga bisa melihat bagaimana kemiripan mereka. Dia tidak suka mengakui itu, tapi tidak bisa mengelaknya juga. Lihat saja nanti, jika mereka punya anak perempuan, dia akan pastikan anak itu akan sangat mirip dengannya. Harus! Supaya Viona tidak kalah dari Marshal.
Mata Zehan mulai meredup perlahan-lahan. Pipinya kembang-kempis saat menyedot air dari dada Viona. Bibir bungilnya terlihat segar, terdapat cairan putih di sekitarnya yang melumer keluar karena derasnya ASI yang dihasilkan.
"Aku yakin, Zehan akan gagah perkasa saat besar nanti. Lihat saja papanya!" Marshal tertawa melihat istrinya membuang muka, pura-pura muntah. "Aku tampan, Sayang. Tidak punya kekurangan. Dan kamu harusnya bersyukur akan hal itu." Tawa Marshal semakin pecah karena istrinya berakting pura-pura muntah lagi dengan lidah yang terjulur keluar. Viona mual mendengar perkataannya.
"Sussst!" Viona memperingatkan Marshal untuk diam. Zehan menggeliat dalam gendongan, terganggu karena suara tawa Marshal yang menggema. Tangan Viona menepuk-nepuk pelan pantat bayinya supaya kembali terlelap. Saat bibir Zehan terlepas dari dadanya, Viona yakin anaknya sudah nyenyak. Dia pun membenarkan kembali pakaian dan menutupnya dengan rapi. Dia melirik tajam pada Marshal yang selalu jelalatan. Suaminya hanya memberikan cengiran lebar, ketahuan sudah tergiur dengan aset istrinya.
"Sayang ...." Marshal memeluk tubuh Viona dengan mesra, padahal istrinya baru saja menidurkan Zehan di box bayi.
"Apa?" Viona menajamkan pandangan saat berbalik badan. Dengusan kesal terdengar ketika Marshal dengan tidak tahu aturan malah mengecup bibirnya. "Chal! Udah, deh. Mending pergi ke kantor sekarang. Ini udah siang."
Tubuh Viona refleks menjauh, melihat tangan suaminya yang sudah terangkat ingin menggapai tubuhnya. Sikap siaga mulai menyala. Melihat sorotan mata suaminya yang tertuju pada satu arah, Viona bisa menebak apa yang sedang Marshal inginkan. Segera dia menepis tangan suaminya yang ingin menyentuh sumber mata air bagi Zehan. Mata Viona melotot tajam, memberi peringatan.
"Masa Zehan doang yang dikasih asupan, sih? Itu milik bersama. Papa juga mau."
"Enggak, Chal!" Tangan Viona menyilang di dada, menatap Marshal dengan horror. "Udah, ah. Sana berangkat!"
"Sebentar aja, Sayang."
Viona menggeleng tegas. "Gak boleh!"
"Sayang ...." Marshal memelas, seperti anak kecil minta dibelikan mainan. "Sebentar aja."
Benarkan, Viona sekarang punya dua anak. Satu anak tertidur, satu lagi rewel minta jatah. Jika sudah seperti itu, Viona merasa akan segera menua.
__ADS_1
"Chal!" Viona terpekik kaget, segera menutup mulutnya dengan sebelah tangan, takut Zehan terbangun. Marshal menggendong tubuhnya dengan tiba-tiba, membawanya menuju ranjang. Seringaian muncul di wajahnya yang mulai mesum. Jika sudah seperti itu, Marshal pasti akan berangkat ke kantor siang dan berakhir dengan Viona yang kelelahan.
Huh, ternyata seperti itu rasanya menjadi seorang istri, sekaligus ibu. Melelahkan!