
Dia mondar-mandir di depan meja kerjanya dengan tidak tenang. Melihat jam tangan dan pintu ruangan dengan cemas. Debar jantung sudah tidak beraturan menantikan kedatangan raja dan ratu yang sebentar lagi akan masuk ke dalam ruangannya.
Semoga mereka tidak bertemu dengan kekasihnya, karena Amanda sudah dia amankan terlebih dahulu. Model cantik itu sudah dia suruh pulang menggunakan lift khusus yang ada di samping ruangannya. Kemungkinan Amanda bertemu dengan kedua orangtuanya sangat kecil karena lift khusus itu langsung tertuju ke parkiran paling belakang. Ya, semoga saja Amanda selamat kali ini.
Tapi dia tetap tidak bisa tenang. Debar jantungnya tidak bisa kembali normal sebelum semuanya usai dan memastikan jika Amanda benar-benar Aman. Dia teguk air putih yang ada di atas meja kerjanya. Melihat lagi ke arah pintu yang masih tertutup. Sudah sepuluh menit berlalu sejak Amanda dia suruh pergi, tanda-tanda orangtuanya akan masuk belum juga terlihat. Seharusnya mereka sudah datang, kan? Mengingat laporan dari Rio, mereka sudah berada di lobby. Tapi tuan dan nyonya Atma itu tidak kunjung mengetuk pintu. Marshal semakin cemas menantikannya.
Dia duduk di kursi kebesaran dengan gusar. Tangannya saling bertumpuan di atas meja dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari pintu ruangan. Kenapa orangtuanya lama sekali sampai? Dia sudah menunggu dengan lama. Semakin cemas saat pikirannya mulai menerka, apa orangtuanya melihat Amanda? Dan mereka melabraknya kemudian memakinya di parkiran?
Tidak. Tidak mungkin mereka melihat Amanda. Rio bilang orangtuanya sudah berada di lobby, tidak mungkin mereka tahu ada Amanda di parkiran belakang.
Tapi, bagaimana jika saat akan naik ke dalam lift, tiba-tiba ayahnya kelupaan sesuatu yang mengharuskannya kembali ke parkiran untuk mengambil suatu barang di mobil? Mereka bisa menemukan Amanda jika benar orangtuanya kembali ke parkiran.
Tidak mungkin juga. Ayah maupun ibunya tidak pelupa. Tidak mungkin kembali ke parkiran hanya untuk buang-buang waktu.
Lalu kenapa mereka tidak kunjung datang? Marshal sudah menantikannya dan bersiap memaksakan untuk tersenyum menyambut kedatangan mereka yang sangat mengejutkan itu. Tapi orangtuanya tidak kunjung terlihat.
Satu jam berlalu, Marshal terus saja melirik pintu ruangannya. Dia mulai heran. Orangtuanya tidak datang? Kenapa tidak ada yang masuk ke dalam ruangannya sama sekali? Satu jam terlalu lama jika mereka hanya menaiki lift. Kecuali jika mereka pulang dulu ke rumah dan kembali lagi ke sini. Itu baru bisa sampai satu jam. Tapi mereka sudah sampai di lobby, tinggal naik lift sebentar sudah bisa sampai di depan ruangan Marshal.
Meskipun satu jam telah berlalu, Marshal tetap tidak bisa tenang. Dia takut orangtuanya melihat Amanda dan memakinya di bawah sehingga mereka tidak kunjung terlihat masuk ke dalam ruangannya. Dia terus berdoa, semoga Amanda aman dan tidak diketahui oleh kedua orangtuanya.
Tok tok tok ...
Diliriknya pintu ruangan dengan cemas saat suara ketukan terdengar keras. Marshal kembali membenahkan duduknya di kursi kebesaran dengan gugup. Apa itu orangtuanya yang mengetuk? Dia sudah mempersiapkan diri untuk menyambut.
Berdehem sejenak. Dia menautkan jemari dia atas meja dan terus melirik pintu ruangan. "Masuk!"
Perlahan pintu terbuka. Marshal berdebar menanti wajah kedua orangtuanya. Dan akan segera menanyakan, mereka ke mana dulu sebelum ke ruangan putranya? Karena satu jam terlalu lama jika dari lobby menuju ruang kerja Marshal. Dia takut orangtuanya benar-benar melihat Amanda di bawah sehingga mereka harus mengurusi dulu Amanda.
"Rio?" Marshal mengernyit heran saat kepala Rio muncul di balik pintu. Kenapa jadi Rio?
Asisten tersayangnya itu celingukan melihat seisi ruangan.
Ke mana si model manja itu? tanya Rio dalam hati.
"Orangtuaku mana?" tanya Marshal semakin heran dengan kedatangan Rio yang malah diam di ambang pintu. Melirik kanan kiri dengan teliti. "Rio?"
"Eh, euhh ...eum... maaf, Tuan saya mau ke kantin sebentar," sahut Rio dengan gelagapan. Dia langsung keluar dari ruangan dan menutup kembali pintunya.
Alis Marshal bertaut dengan tajam. Ada apa dengan Rio? Dia masuk hanya celingukan dan kembali keluar. Aneh.
__ADS_1
Lalu ke mana orangtua Marshal? Kenapa mereka tidak kunjung masuk? Apa mereka tidak jadi menemuinya?
Ah, mungkin iya.
Tapi tuan dan nyonya Atma untuk apa datang menemuinya? Jika ada yang penting, tidak mungkin mereka tidak jadi datang dan kembali pulang. Mereka pasti langsung masuk ke dalam ruangannya. Daripada bingung, lebih baik dia menghubunginya saja. Dan memastikan di mana mereka sekarang.
Rio tertawa terpingkal-pingkal di dalam ruangannya. "Untunglah aku punya mata yang rabun," Dia tertawa lagi sambil mengusap matanya. "secara tidak langsung aku berhasil mengusir si model dengan halus karena aku salah melihat orang." Tawanya semakin keras.
Sangat puas rasanya. Dia mengerjai majikannya sendiri. Padahal tadi dia salah melihat orang. Rio kira tuan Wisnu dan nyonya Rahma yang berada di lobby, tapi saat dia mendekat, ternyata bukan. Dia salah orang. Dia tidak mengatakannya lagi pada Marshal. Biarlah majikannya itu kelabakan. Dan ternyata berhasil. Marshal langsung menyuruh Amanda pulang.
"Hahaha ...." tawa Rio semakin menggema.
Beberapa menit kemudian ...,
"Tiga puluh lima, tiga puluh enam, tiga puluh ... ah, Tuan sudah, ya," Rio telungkup di atas lantai dengan keringat bercucuran. "saya lelah ...," keluhnya dengan lemah.
"Tidak! Belum selesai. Kamu harus push up enam puluh empat kali lagi!" Marshal duduk di kursi kebesarannya dengan secangkir jus apel di tangan. Kaki menyilang. Mengawasi Rio yang sedang mendapat hukuman.
Rio mendesah lelah. Kembali bangun dengan kedua telapak tangan dijadikan sebagai tumpuan dengan badan yang naik-turun. "Tiga puluh tujuh, tiga puluh delapan, tiga puluh sembilan, empat pul …"
Itulah. Dia dihukum karena sebuah kebohongan yang dia perbuat.
Hanya diam yang dia lakukan. Tangannya yang siap mengetuk pintu hanya melayang di udara. Dia ragu. Takut mengusik istrinya. Padahal biasanya dia langsung masuk saja ke dalam kamar istrinya, tapi kali ini dia tidak melakukan hal itu. Karena dia dan istrinya belum membaik semenjak perdebatan hebat yang mempermasalahkan keadilan tempo hari.
Viona tidak banyak bicara lagi padanya. Setiap hari dia hanya mengurung diri di dalam kamarnya dengan alasan harus fokus mengerjakan skripsi. Kini sandiwara yang Viona katakan pada ibu dan ibu mertuanya waktu, terasa menjadi nyata. Dan Marshal juga tidak bisa mengusiknya. Dia takut istrinya semakin marah dan hubungan mereka semakin memburuk.
Belum Marshal mengetuk, tetapi pintunya sudah terbuka menampilkan wajah cantik istrinya yang nampak terkejut dengan kehadiran Marshal.
"Tuan?"
"Mama meminta kita datang ke rumahnya. Kak Miranda ada di sana," ucap Marshal dengan cepat langsung pada tujuan. Dia tidak bisa banyak berbasa-basi dengan Viona karena istrinya itu terlihat masih belum menghangat.
Viona terdiam sejenak sebelum dia kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya.
Marshal memandangi pintu yang tertutup dengan bingung. Viona tidak mengatakan apapun. Dia tidak tahu isi pikiran Viona. Apa Viona mau ikut dengannya atau tidak? Tanpa menunggu lama, Marshal langsung masuk ke dalam kamar Viona. Dia tertegun saat melihat istrinya sedang membuka pakaian.
Viona membalik badan dengan kaget dan langsung berlari masuk kamar mandi dengan membawa baju ganti. Debar jantungnya sudah tidak beraturan. Wajahnya memanas menahan malu. Dia ingin berteriak tapi takut didengar oleh banyak orang. Dan akhirnya dia memakai baju dengan memaki tidak jelas. Kenapa juga Marshal tiba-tiba masuk seperti itu? Ah, dia malu sekali.
Butuh beberapa kali mengerjap untuk Marshal mengembalikan kesadarannya. Dia jadi tidak tenang saat dia melihat istrinya melepaskan pakaian dengan santai. Tidak-tidak. Pikiran dia mulai ke mana-mana sekarang.
__ADS_1
Marshal tersenyum dan menggeleng pelan. Dia merutuki dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak main masuk begitu saja. "Tapi tidak apa selama masih menguntungkan," gumamnya tersenyum smirk.
Viona keluar dari kamar mandi dengan perasaan malu yang luar biasa. Dia hanya menunduk saat melewati Marshal yang sedang duduk di depan meja riasnya. Memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Marshal pada Viona yang sudah mengganti pakaian dengan rapi dan menyiapkan tasnya di dekat ranjang.
Viona membuang napasnya dengan kasar dan berbalik badan menghadap Marshal. "Bukankah kita akan ke rumah nyonya Rahma?"
"Eh?" Marshal menggaruk kepala dengan bingung. Jadi, Viona mau ikut dengannya? Marshal kira Viona tidak akan ikut karena masih marah padanya. "Jangan memanggil nyonya pada ibuku!" ucap Marshal dengan pelan. Masih memperhatikan Viona yang sedang memasukan ponsel dan beberapa benda kecil lain ke dalam tasnya.
Viona mendengus pelan. Selalu saja dia diingatkan dengan masalah panggilan.
Marshal mengernyit saat Viona mendekat dan berdiri di depannya. Viona hanya diam memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa?"
"Permisi, Tuan," Viona mengambil sisir dari meja riasnya. "bisa Tuan pindah sebentar?"
Marshal langsung berdiri dengan patuh. Viona pasti akan berdandan sehingga menyuruhnya pindah. "Tidak perlu berdandan, kamu sudah cantik."
"Tidak diingatkan juga saya tahu, saya memang cantik," sahut Viona dengan santai. Duduk di depan meja rias.
Marshal tersenyum melihat kepercayadirian istrinya. Wanita lain akan salah tingkah dan langsung merona saat dipuji, tetapi istrinya itu berbeda dan nampak biasa saja seolah pujiannya tidak berarti apa-apa. Dia memandangi wajah Viona dengan gemas dari pantulan cermin. "Kamu marah padaku?"
Viona mengusapkan pelembab pada wajahnya. Dia melihat pada Marshal melalui cermin. "Tidak. Hanya kesal saja karena Tuan tidak mengizinkan saya pacaran dengan Sendi."
Marshal mendecak dengan kesal jika Viona menyebut nama Sendi di depannya. Dia tidak suka dan sangat marah jika mengingat semua hal yang berhubungan dengan anaknya Arga tersebut. "Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu berhubungan dengan dia. Bahkan aku akan menyuruh orang untuk mengawalmu supaya kamu tidak bisa bertemu lagi dengannya."
"Sayangnya, saya tidak butuh izin Tuan." Viona menyisir kembali rambutnya dengan pelan. "Setelah dipikir-pikir, izin Tuan tidak penting. Saya bisa menjalin hubungan dengan Sendi tanpa sepengetahuan Tuan."
Tangan Marshal mengepal. "Lakukan saja jika kamu berani!" tantangnya dengan ketus.
Viona malah tersenyum miring. Tangan yang sedang mengambil lip balm, terhenti. Dia memandangi wajah kesal suaminya. "Kenapa Tuan sangat marah jika saya dekat dengan Sendi? Apa Tuan cemburu?"
Marshal hanya terdiam. Segera memalingkan pandangan dan keluar dari kamar Viona. "Aku tunggu di bawah," ucapnya sebelum menutup pintu.
Viona hanya mengangkat bahu dengan acuh. Marshal selalu melarangnya melakukan ini itu, tetapi tidak pernah mengatakan alasan yang jelas saat mengatur kehidupan istrinya. Jika Marshal cemburu pada Sendi, Viona rasa itu tidak mungkin. Untuk apa Marshal cemburu dengan Viona, dia tidak
mencintainya, kan? Atau memang sebaliknya? Viona pun tidak tahu.
Setiap perilaku Marshal yang selalu mengatur itu membuat Viona tertekan. Dia tidak suka diatur-atur. Tapi, Marshal dengan segala ancamannya membuat Viona terus patuh. Tapi, itu dulu. Sekarang dia sudah berani membantah dan akan melakukan segala cara demi mendapatkan kebebasannya.
__ADS_1