Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Apa aku bisa menjadi seorang ibu, Chal?


__ADS_3

"Anak itu anugerah, Sayang. Titipan yang paling berharga." Marshal mengusap tangan Viona yang melingkar di perutnya, bahkan tablet yang menjadi perhatian, telah dia tinggalkan. "Seorang ibu pasti sangat menyayangi anaknya. Itu naluriah. Semua ibu akan melakukan hal sama seperti yang Garmita lakukan."


Viona terdiam, masih menyandarkan kepala di dada Marshal. Kepalanya menengadah, merasakan usapan lembut di puncak kepala. Nampak senyuman hangat yang suaminya berikan. Viona hanya membisu.


"Anak itu buah hati, hasil cinta dari pasangan yang memang layak untuk mempunyainya. Mereka tercipta untuk disayangi, mendapat perhatian dan menjadi penerus generasi yang butuh banyak didikan. Semua orangtua pasti ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya. Begitu pun seorang ibu yang senantiasa memberikan waktu dan perhatiannya. Seperti Garmita pada anaknya yang imut-imut itu. Kamu juga melihatnya sendiri, kan."


Viona mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Tangannya mengusap pinggang Marshal dengan lembut, dia menengadah. "Apa aku bisa menjadi seorang ibu, Chal?"


"Tentu saja, Sayang." Marshal tersenyum hangat. "Pasti bisa, jika Tuhan mengizinkannya. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, hm?"


Viona menggelengkan kepala pelan, kembali menyandarkan kepala di dada bidang suaminya yang selalu terasa nyaman. Mereka terdiam saling mendekap dan larut dalam pemikiran yang entah berpijak ke mana.


Bagaimana perhatian dan kasih sayang yang Garmita perlihatkan tadi, membuat Viona terenyuh dan terus terpikirkan. Garmita adalah wanita yang sempurna. Mempunyai paras cantik, masih muda dan punya karier yang lumayan baik. Tidak disangka dia mempunyai sisi keibuan yang sangat lembut dan penyayang. Sedikit banyaknya membuat Viona tidak percaya, jika Garmita bisa melakukan perannya sesempurna itu.


Lalu, bagaimana dengan dirinya? Saat ini dia hanya berperan menjadi seorang istri yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Dia belum ada rencana untuk melakukan pekerjaan apa pun dan juga tidak punya hal lain yang harus dia perhatikan, selain suaminya. Mungkin lama-kelamaan perannya ini akan membosankan. Tapi, tidak ada yang bisa dia lakukan setelah menjadi istri yang baik dan duduk diam di rumah.


"Chal."


"Hm?"


"Setelah wisuda, apa aku boleh meneruskan lagi pendidikan?"


"Tidak!"

__ADS_1


Viona langsung terbangun. Menatap suaminya dengan terkejut dan tidak terima. "Kenapa?"


"Kamu sudah menikah, untuk apa masih mau sekolah? Bukankah lebih baik mengurus suami?"


"Chal ...." Viona memberengut tidak suka. Bagaimana mungkin pemikiran Marshal bisa sedangkal itu. Padahal masih banyak yang ingin Viona capai dalam hidupnya, tidak semua tentang menjadi istri. Dia ingin bersekolah tinggi dan meniti kariernya sendiri seperti kebanyakan wanita hebat di luaran sana. Dia ingin menjadi wanita keren.


"Pembahasan ditutup, Nyonya. Sudah malam. Aku tidak ingin berdebat." Melihat kilatan tidak terima di wajah Viona, Marshal tahu apa yang sedang istrinya pikirkan. Lebih baik menyudahi pembicaraan, jika tidak mau masalah ini menjadi pemicu perdebatan di antara mereka. "Tidurlah! Sudah malam."


Viona menolak ajakan Marshal. Dia menepis tangan suaminya yang mencoba meraih untuk segera berbaring. Raut kecewa dan tidak terima terlihat jelas di wajahnya. Tapi, Marshal seolah tidak peduli dan malah berbaring miring memunggunginya. Marshal menutup pembahasan seolah menegaskan, bahwa Viona sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Sebuah larangan yang jelas tertuju supaya Viona tidak menuruti keinginannya dan lebih mementingkan perannya saat ini.


"Bukannya kamu udah janji buat menjamin pendidikan aku? Mana? Kenapa gak boleh?"


Marshal memilih bungkam, berpura-pura tidur. Membiarkan Viona yang memandangi punggungnya, mungkin sudah mulai terdapat amarah di dalam dadanya. Bukan dia tidak mau menjamin pendidikan Viona. Dia mampu. Dia bisa untuk melakukan itu. Marshal juga bisa mengerti keinginan istrinya. Dan dia juga yakin Viona bisa melakukan dua hal sekaligus. Melanjutkan sekolah dan menjadi seorang istri. Tapi, bukan itu yang Marshal mau.


Saat itu juga Marshal membalik badan, terkejut. Viona nampak serius dengan ucapannya. Sangat mengejutkan sekali. "Tidak bisa!"


"Kenapa?" Viona membalas tatapan tajam yang menghunus dari mata suaminya. Dia tidak peduli.


"Aku mau kita segera punya anak. Kalau kamu sekolah lagi, mau bagaimana? Aku selalu berusaha mengerti kamu yang masih ingin menunda. Tapi, jika menunda dengan alasan bersekolah lagi ... apa aku akan mengizinkan? Terlalu lama!"


Viona diam, mengatupkan kedua bibir rapat. Mata Marshal berkilat marah sekarang. Tuan muda bergerak untuk bangun, berhadapan dengan Viona yang hanya terdiam dalam perasaan yang bercampur aduk.


"Aku pikir kamu membahas Garmita karena sudah tertarik menjadi seorang ibu. Lantas kenapa malah menyerempet ke masalah pendidikan?"

__ADS_1


Viona diam, memainkan jemari tangan di pangkuan, menunduk.


"Aku tidak akan mempermasalahkan keinginan kamu untuk sekolah. Aku bisa. Aku mampu menyekolahkan kamu sampai mendapat gelar sempurna, di mana pun yang kamu mau. Tapi, bukan berarti aku akan mengizinkan hal itu. Kamu istriku, tidak bisakah mengerti dengan apa yang aku mau?"


"Kamu juga tidak pernah mengerti dengan apa yang aku mau, Chal," gumam Viona, tidak berani mengangkat wajah. Dia bisa menduga ekspresi Marshal sangat menakutkan kali ini. Mendengar suaranya saja Viona sudah tidak mau melawan, sebenarnya. Jika Marshal sudah membahas masalah anak, semuanya akan kacau. Pembahasan ini cukup sensitif.


"Berhenti untuk membahas masalah ini dan pikirkan peranmu. Itu sudah cukup."


"Tapi, akuļ¼baik." Viona membuang napas gusar, mengalah. Tatapan Marshal sangat tajam, begitu kentara jika dia tidak suka dengan apa yang Viona katakan.


Marshal kembali berbaring dan meminta Viona juga melakukan hal yang sama. Viona terdiam memandangi langit-langit kamar dalam cahaya temaran. Melirik ke samping pada Marshal yang memunggungi. Tidak ada pelukan sebelum tidur, tidak ada kecupan selamat malam. Marshal terlihat sangat marah kali ini.


"Chal."


Tidak ada jawaban. Laki-laki itu memilih bungkam, membiarkan istrinya berada dalam perasaan yang tidak menentu. Padahal Viona hanya bertanya, tidak menyangka Marshal akan berakhir murka. Dia ingin menjadi wanita keren, tapi Marshal sepertinya tidak akan mengizinkan. Marshal nampak tidak mau lagi bicara dengannya saat ini.


"Chal ...." Viona memeluknya dari belakang, tidak mendapat respon apa pun. "Maaf." Entah permintaan maaf untuk apa, dia hanya merasa perlu mengatakan hal itu.


Marshal tetap tidak memberikan respon dan memilih untuk memejamkan mata, membiarkan Viona jadi semakin berkecamuk dengan perasaannya. Viona bingung, bagaimana jika Marshal tetap seperti ini sampai esok pagi? Dia tidak bisa menghadapi suaminya, jika sudah seperti ini.


Dan benar saja. Semalaman Marshal acuh, bahkan tidak mau memeluk Viona sebentar saja. Hanya Viona yang berusaha untuk mendekat, Marshal nampak banyak diam. Bangun tidur pun sama demikian. Tidak ada sambutan hangat seperti biasa. Tidak ada kecupan selamat pagi dan hanya bisu kembali mengiringi kebersamaan mereka.


"Sayang." Viona melihat Marshal sudah sejak tadi membuka mata, namun belum beranjak dari ranjang. Hanya melamun, setelah melihat ponsel yang dia ambil di atas nakas. "Kok marah, sih?"

__ADS_1


Marshal masih diam membiarkan Viona merayu sesukanya. Viona nampak sudah frustasi, semalaman menjadi tidak tenang karena ucapan Marshal. Dia sempat berpikir untuk menghentikan minum pil dan mulai program supaya Marshal tidak lagi sensitif. Tapi, apa dia mampu menjadi seorang ibu? Keraguan itu kembali hinggap dalam benaknya.


__ADS_2