Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kekasih suamiku


__ADS_3

Suasana dapur terasa hening saat dia mengulurkan tangannya kepada istri Marshal.


"Ha-halo, Nona!" Viona menerima uluran tangannya dengan ragu.


  Amanda, kekasih Marshal datang ke rumah, untuk apa? Marshal sedang tidak ada di rumah. Untuk apa dia datang?


Amanda tersenyum pada Viona yang masih mengenakan apron. Berdiri terbengong, masih tidak percaya dan bingung dengan kedatangannya.


"Kamu sedang memasak, ya?" Viona mengangguk. Tersenyum dengan canggung. Tidak tahu harus bagaimana saat berhadapan dengan kekasih suaminya.


"Apa Nona akan menemui tuan?" tanya Viona dengan pelan. Antara sadar dan tidak, sungguh sulit dipercaya jika dia sekarang berhadapan dengan Amanda.


"Tidak. Aku datang untuk menemuimu."


Viona mengernyit kuat. Menunjuk diri sendiri. "Menemui saya?" Amanda mengangguk dengan yakin. Kedatangannya memang untuk menemui Viona. Karena dia juga tahu jika Marshal saat ini sedang tidak ada di rumah.


Viona terdiam, memandang Amanda dengan intens. Tidak pernah terpikir dalam benaknya jika dia akan bertemu dengan Amanda. Tapi siang ini, Amanda sendiri yang datang menemuinya. Untuk apa? Apa Amanda akan marah padanya dan memaki Viona yang sudah menikah dengan Marshal? Atau Viona akan dikatai sebagai pelakor dan dijambak habis-habisan?


"Kamu sedang masak apa?"


"Eh?" Viona tersadar dari lamunannya. Ternyata Amanda dari tadi terus memperhatikannya.


  Viona yang masih kaget dengan kedatangan Amanda, dia hanya bisa terdiam dengan bingung. Namun, bagaimanapun juga, dia harus memberanikan diri untuk bisa berinteraksi dengan baik.


Entah mengapa dia jadi canggung dan tidak tahu harus bagaimana sekarang. Terlebih ini adalah pertemuan keduanya setelah hari pernikahan. Dan ini adalah kali pertama Amanda menyapanya.  Dia begitu ramah pada Viona membuat Viona jadi bingung sendiri. Kenapa Amanda tidak terlihat marah ataupun ingin memakinya? Jika bukan untuk melabrak Viona, lantas untuk apa Amanda datang menemuinya?


Pikiran Viona mungkin terlalu kritis. Yang dia tahu, jika sesama wanita yang terikat dengan satu pria, maka salah satunya pasti akan melabrak, mencaci, memaki, bahkan saling menjatuhkan. Seperti di sinetron.


Tapi, kenapa Amanda terlihat biasa saja? Apa Amanda memang tidak marah jika Marshal menikahi Viona? Jika benar tidak marah, kenapa Amanda mengizinkan Marshal untuk menikah dengan wanita lain? Bukankah mereka pacaran, seharusnya Marshal menikahi Amanda, bukan malah memaksa Viona untuk menerima tawarannnya.


Viona menggelengkan kepalanya. Banyak pertanyaan yang rumit singgah dalam benaknya. Dia tidak tahu apa alasan Marshal ingin menikahinya bukan menikahi pacarnya sendiri.


Mungkin aku kebanyakan nonton sinetron. Pikiran, oh, pikiran... aku harus postif tinking saja. Mungkin dia datang hanya untuk mengenalku bukan memarahiku. Ya, semoga saja, batin Viona.


"Nona, sebaiknya kita tidak bicara di sini." Viona menyunggingkan senyuman ramahnya. "Kita berbincang di ruangan lain saja. Tidak enak jika harus di sini." Viona benar-benar merasa tidak enak hati. Kedaan dia saat ini sedang berada di dapur. Masa seorang tamu harus diajak berbincang didapur?


"Tidak apa. Di sini saja," sahutnya ramah disertai senyuman membuat Viona semakin salah tingkah.


  Kenapa kekasih Marshal begitu ramah padanya? Apa dia tidak marah pada Viona yang sudah merebut Marshal darinya?


"Kalian pergilah dulu!" suruh Viona pada beberapa pelayan yang sedang membantunya memasak. "Aku akan bicara dengan Nona Amanda." Para pelayan itu pergi dari dapur meninggalkan Viona dan Amanda berdua.


 "Apa yang akan Nona Amanda lakukan pada Nyonya?"


"Kenapa dia kemari? Ada urusan apa dia datang menemui nyonya?"


"Apa tuan Marshal tidak memutuskan hubungannya dengan Nona Amanda sebelum menikahi Nyonya muda?"


"Kenapa Nona Amanda bisa ke sini? Apa dia tidak tahu, tuan Marshal sudah menikah?"


Begitulah kiranya kusak kusuk para pelayan yang melihat kedatangan Amanda. Mereka tahu jika Amanda adalah kekasih Marshal. Amanda sering berkunjung ke rumah itu dibawa oleh Marshal. Mereka mengira jika hubungan Marshal dan Amanda sudah berakhir sebelum Marshal menikahi Viona. Tapi kenapa Amanda datang lagi ke rumah Marshal?


Karena benar-benar merasa tidak enak hati jika harus menerima tamu didapur, Viona hendak membuka apron dan mengajak Amanda untuk berbincang di ruang tamu. Namun, Amanda melarangnya, "Lanjutkan saja memasaknya!"

__ADS_1


"Tapi tidak baik jika bicara di sini Nona," ujar Viona semakin merasa tidak enak jika ada tamu namun diajak berbincang didapur. Dimana etikanya?


"Tidak apa. Aku ingin melihat keahlianmu memasak." Amanda mendudukan diri pada kursi di depan meja bar.


  Melihat keahlian memasak? Apa dia meragukan keahlian Viona dalam mengolah makanan? atau dia ingincx menguji Viona?


Baiklah, Viona menuruti saja. Dia kembali melanjutkan kegiatannya. Namun tetap perasaannya merasa tidak enak jika harus melanjutkan kegiatan lalu mengacuhkan Amanda begitu saja. "Apa Nona keberatan jika saya melanjutkan pekerjaan saya?"


"Tidak. Lanjutkan saja!"


"Apa Nona datang hanya sendiri?" tanya Viona dengan ramah. Dia mengambil sayuran yang akan dimasaknya.


"Ya, aku ke sini hanya sendiri. Marshal yang memintaku datang untuk menemuimu."


Viona menghentikan tangannya yang sedang mengiris wortel. Dia beralih menatap Amanda.


Untuk apa tuan meminta dia menemuiku? Apa tuan berniat membuat kami bertengkar setelah bertemu, atau untuk mengenalkan pacarnya padaku? batin Viona.


"Tuan yang meminta Nona datang?"


Amanda mengangguk. "Dan juga aku ingin berkenalan denganmu," lanjutnya membuat Viona mengernyit.


  Berkenalan denganku? untuk apa? dia datang ke sini hanya untuk berkenalan denganku? Atau dia mau memerahiku karena telah merebut pacarnya? ... ah, tau lah. Pusing juga mikirinnya, batin Viona kembali.


"Aku ingin mengenalmu." Amanda mengamati tangan Viona yang kembali mengiris wortel. "Apa kita bisa berkenalan?"


Viona kembali menghentikan aktivitasnya. Menyimpan pisau kemudian menghadap Amanda. "Tentu saja, Nona."


"Baiklah. Kita akan saling kenal dari sekarang."


"Kamu masak apa?"


"Beberapa masakan rumahan biasa." Viona beralih mengaduk sup di panci yang masih mendidih di atas kompor.


"Kenapa kamu memasak sendiri? Di sini 'kan banyak pelayan. Kamu bisa menyuruh mereka."


"Saya di sini tidak ada kegiatan lain, Nona. Lagian ini juga sudah menjadi tugas saya." Viona mencicipi sesendok kuah sup buatannya.


  Apa pekerjaannya saat ini bisa dikatakan tugasnya sebagai seorang istri? Atau masih tugasnya sebagai pelayan? Intinya, Viona mengerjakan semua itu bukan semata-mata karena dia harus melakukannya sebagai seorang istri ataupun pelayan, tapi juga karena di rumah itu dia tidak punya kegiatan lain.


"Apa kamu memasak setiap hari?"


"Ya, setiap hari saya memasak." Viona mematikan kompornya karena supnya sudah matang.


"Apa Nona ingin mencicipi masakan saya?" tanya Viona ragu menghampiri Amanda yang sedang memandanginya dari meja bar. "Apa boleh?" tanya Amanda terlihat antusias.


"Tentu saja, boleh." Viona menyunggingkan senyuman. "Nona ingin mencobanya?"


"Aku mau." Amanda mengangguk-anggukan kepalanya.


Viona mengambil mangkuk kecil dan menungkan Sup buatannya.


"Silahkan dicoba, Nona!" Dia menyerahkan mangkuk kecil itu, disimpan di meja bar depan Amanda. "Maaf jika rasanya tidak enak. Saya tidak ahli memasak."

__ADS_1


"Makasih." Amanda mengecap satu sendok kuahnya. "Emm.. enak." Dia menggut-manggut dan tersenyum kemudian menghabiskan Supnya.


Selesai memasak, Viona mencuci semua peralatan masak. Kemudian menghampiri Amanda yang masih tetap duduk di depan meja bar. "Diminum, Nona!" Viona menaruh segelas jus jeruk di hadapan Amanda.


"Duduklah!"


Viona mendudukan dirinya di samping kursi yang diduduki Amanda.


"Aku ke sini ingin berkenalan denganmu secara baik-baik. Dan ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan juga." Amanda melirik sekeliling memastikan kalau di sana tidak ada siapa-siapa lagi yang akan menguping.


"Marshal pasti sudah mengatakan semuanya padamu, kan? Kamu tahu aku ini pacarnya?" Viona hanya mengangguk. Diam dan hanya mendengarkan. "Marshal bilang, kamu tidak keberatan dengan hubungan kami, apa benar?" Viona tetap masih diam.


  Apa dia datang ke sini untuk memastikan ini? Apa tujuan sebenarnya dia mendatangiku? batin Viona.


"Kamu beneran gak keberatan dengan hubungan kami?" Viona menggeleng cepat serta tersenyum. "Tidak. Saya sama sekali tidak keberatan dengan hubungan kalian. Dan saya rasa itu bukan urusan saya. Jadi saya tidak berhak untuk merasa keberatan."


"Bagus kalo gitu. Dan aku harap kamu tidak akan mengatakan pada siapa pun tentang hubunganku dengan Marshal yang masih terjalin. Dan jangan sampai orangtua Marshal tahu jika aku dan Marshal masih menjalin hubungan."


Viona diam, paham dengan ucapan Amanda karena kemarin, Marshal juga mengatakaan hal yang sama.


  Dan kalau untuk orangtua Marshal yang tidak boleh tahu, Viona paham bahwa jika orangtua Marshal tahu tentang hal ini, sudah pasti Marshal akan dicercar oleh keluarganya. Bagaimana tidak, dia sudah menikah dengan Viona namun masih menjalin hubungan dengan wanita lain. Dimana pikirannya? Jika pria bermoral pasti tidak akan melakukan hal seperti itu, bukan?


"Dan juga," Amanda memandang Viona dengan lekat. "aku tidak ingin jika Marshal menyentuhmu. Jadi aku ke sini juga ingin memastikan, jika kamu dan Marshal tidak tinggal satu kamar."


"Kami memang tinggal berbeda kamar, Nona," sahut Viona cepat.


"Aku ingin memastikannya." Sepertinya Amanda tidak percaya dengan ucapan Viona. "Aku ingin melihat kamarmu."


"Jika Nona ingin melihatnya, saya akan menunjukkannya pada Nona. Kami memang berbeda kamar." Viona mengajak Amanda naik ke lantai atas. Untuk menunjukkan bahwa Viona dan Marshal memang benar-benar tidak tinggal satu kamar.


"Aku ingin melihat kamar Marshal. Apakah ada barangmu atau tidak." Amanda memegang gagang pintu kamar Marshal membuat Viona jadi cemas. Dia tidak berani masuk ke kamar Marshal jika tidak ada keperluan penting seperti, karena diperintah Marshal, atau karena membereskannya. Selain hal itu Viona tidak berani masuk ke kamar Marshal. Terlebih saat Marshal tidak ada.


Setelah beberapa saat, "Dimana kamarmu?" Amanda keluar dari kamar Marshal.


"Disana Nona." Viona membawa Amanda menuju ke kamarnya.


Amanda melihat-lihat sekelilingnya. Dan kemudian dia tersenyum senang. "Aku hanya ingin mengingatkanmu agar tidak pernah tidur dengan Marshal! Aku tidak mau kalian kontak fisik. Bagaimana pun juga dia itu pacarku, dia hanya mencintaiku. Aku tidak mau dia menyentuhmu. Dan jangan pernah kamu menggodanya!"


  Viona hanya mendengarkan apa yang Amanda katakan. Dia bingung harus bagaimana sekarang. Kenyataannya, meskipun Marshal dan Viona beda kamar, tapi Marshal selalu saja meminta Viona untuk tidur di kamarnya. Amanda tidak membolehkan Marshal menyentuh Viona, tapi kenyataannya Marshal bahkan...


"Dia tidak pernah menyentuhmu, kan?" Viona diam. Dia harus menjawab apa? Marshal memang tidak pernah menyentuhnya dalam artian lebih jauh. Seperti berhubungan intim. Tapi, Marshal sudah sering menciumnya bahkan memeluknya. Itu termasuk menyentuh, bukan?


Amanda menerawang jauh raut wajah Viona dengan tajam. "Jangan bilang Marshal pernah menyentuhmu?" Viona menggeleng dengan cepat. "Ti-tidak, Nona. Tuan tidak pernah menyentuh saya," sahutnya cepat membuat Amanda menghela napas lega serta mengangguk-anggukan kepalanya. "Baguslah jika dia tidak pernah menyentuhmu."


Sorotan Amanda berubah menjadi tajam bagaikan mata kucing saat melihat tikus berkeliaran. "Aku harap dia tidak akan pernah menyentuhmu. Dan," Amanda melirik Viona dari atas kepala hingga ujung kaki. "kamu jangan pernah menggoda Marshal untuk menyentuhmu!"


"Jika aku tahu kalian tidur berdua ataupun saling bersentuhan, aku akan menghancurkanmu!" tegasnya dengan nada penuh ancaman.


  Viona hanya mampu menunduk dalam diam. Sikap Amanda jadi menakutkan. Padahal sebelumnya Amanda sangat ramah. Apalagi pada saat di dapur, sikap Amanda sangatlah baik pada Viona. Tapi kini, ancaman Amanda sangat menusuk dalam kepala.


Ternyata dia bermuka dua, batin Viona.


"Kamu paham 'kan apa yang aku katakan?" Viona mengangguk pelan. "Jadi, jangan pernah kamu mendekati pacarku! Dan juga, jangan pernah kamu bertingkah lebih untuk bisa mengambil hati Marshal. Karena Marshal hanya untukku! Milikku!"

__ADS_1


Tapi dia suamiku, batin Viona melanjutkan.


__ADS_2