
"Benarkah, Tuan?" Viona sangat berbinar menatap Marshal yang mengangguk serta tersenyum mengiyakan.
"Lagian aku aneh sama kamu, kenapa juga harus menjadi orang lain?"
"Bukan begitu, Tuan. Tapi saya segan kalo dekat Tuan," jelas Viona jujur.
Marshal hanya tersenyum. Mengulurkan tangan untuk mengelus kepala Viona. "Mulai sekarang, jadilah dirimu sendiri! Jangan canggung lagi jika di dekatku! Aku gak bakal gigit kamu." Marshal terkekeh sendiri dengan ucapannya.
Viona mengangguk. Dia akan kembali lagi menjadi dirinya sendiri. Selama ini Viona banyak berubah setelah menikah. Dan ternyata Marshal juga menyadari perubahannya itu.
Karena hari ini Marshal sedang bahagia, Viona dibolehkan untuk meminta apa saja padanya. Bukan barang atau apapun yang berharga, Viona justru meminta untuk diizinkan menjadi dirinya sendiri.
Aneh memang, tapi Marshal juga mengerti dengan maksud istrinya dan meminta Viona supaya bersikap biasa saja di depan Marshal supaya interaksi di antara keduanya juga tidak terlalu canggung.
"Lalu kamu mau meminta apa padaku?"
Viona mengernyit, menatap Marshal dengan bingung. "Minta apa?" Dia malah balik bertanya. "bukannya saya sudah mengatakan keinginan saya?"
Marshal tertawa, menyentuh pipi istrinya dengan gemas. "Lah, hanya itu keinginanmu? Itu bukan meminta namanya, tapi hanya mengatakan. Kamu mengatakan ingin kembali menjadi dirimu sendiri, itu bukan permintaan, istriku." Viona hanya diam melihat Marshal. "Kamu mau apa? Mau dibelikan apa?"
Viona malah membelalak. Mengepalkan tangan di udara hendak memukul Marshal. Tapi niatnya dia urungkan karena tidak punya cukup keberanian. "Tuan pikir saya matre?"
"Huh?" Marshal malah kaget mendengarnya. Kenapa Viona berpikir seperti itu? Padahal dia hanya ingin menuruti semua kemauan istrinya. Marshal bertanya seperti itu karena mungkin Viona ingin suatu barang atau apapun yang berharga, tapi Viona malah mengartikan hal lain. "Aku hanya bertanya, bukan mengatai kamu. Kamu ingin aku belikan sesuatu? Ingin tas? Baju? Perhiasan? Atau sepatu? Katakan! Apapun akan aku belikan."
"Tuan, saya tidak ingin dibelikan apapun," ucap Viona mengalihkan pandangan ke arah kolam yang tadi siang dia pandangi terus saat duduk bersama Sendi.
"Kenapa tidak mau? Aku akan membelikan semua keinginanmu." Marshal heran pada istrinya yang malah menolak tawaran. Padahal jika Amanda yang ditawari seperti itu, pasti sudah sangat antusias dan bahkan memborong semuanya. Tapi, Viona nampaknya berbeda.
Dia menggeleng lagi. "Tidak usah, Tuan. Saya tidak mau apapun," ucapnya sembari melihat air kolam yang memantulkan cahaya senja. Ikan-ikan berenang dengan damai di bawah air terjun buatan yang ada diujung kolam.
Sendi sudah pulang beberapa jam yang lalu disusul dengan Arga. Dan Viona yang tadinya ingin ke dapur, malah ditarik oleh Marshal untuk duduk di ruangan depan kolam, tempat dia dan Sendi berbincang tadi siang.
"Aku mengizinkanmu menjadi dirimu sendiri. Jadi kamu harus berperilaku natural juga padaku. Tidak boleh ada kecanggungan lagi. Kita harus terbuka dan jika ada sesuatu, katakan! Tapi ingat," Marshal menatap Viona dengan lekat, walaupun istrinya tidak melihat padanya. "aku mengizinkanmu bebas berpendapat, terbuka, bukan berarti kamu boleh membantahku. Kamu harus menuruti perkataanku jika itu kewajibanmu."
Viona baru mengalihkan pandangannya. Melihat Marshal yang duduk di sampingnya.
"Kamu paham maksudku?"
Meskipun agak kesal karena Marshal tetap tidak bisa dibantah, Viona tetap mengangguk. Setidaknya dia bisa menjadi dirinya sendiri. Menjadi Viona yang sebenarnya. Bukan berpura-pura seperti ini saat berhadapan dengan Marshal.
"O ya, tadi kamu sama Sendi ...?"
"Kenapa, Tu-apa Tuan menguping pembicaraan saya dengan Sendi?" tanya Viona dengan tajam. Malu jika benar Marshal mendengar pembicaraan mereka. Apalagi tadi dia membahas Marshal juga. Takutnya Marshal malah besar kepala mendengar ucapan Viona pada Sendi.
Marshal malah tersenyum. "Sedikit. Saat lewat saja, sungguh!"
Meskipun tidak percaya, Viona tetap bernapas lega. Sepertinya Marshal tidak akan jadi besar kepala karena perkataannya tidak terlalu aneh.
Marshal terdiam sejenak, ragu untuk mengatakan. Takut Viona tidak suka dengan apa yang akan dia tanyakan. "Kamu sudah memutuskan hubungan dengannya?"
Viona terdiam memandangi Marshal. Sedetik kemudian dia kembali mengalihkan pandangan ke arah kolam. "Hubungan apa, Tuan? Saya sama Sendi tidak punya hubungan apapun."
"Tapi kalian ...," Marshal jadi bingung sendiri memikirkannya. "Kalian tidak pacaran?"
Viona menggeleng tanpa mengalihkan pandangan. Dia mulai menjelaskan semuanya pada Marshal.
__ADS_1
Sendi sering mengajak Viona untuk jadian, meresmikan hubungan mereka supaya lebih jelas dan bisa diakui. Namun, Viona selalu menolak. Dia tidak mau kebablasan jika sudah mempunyai hubungan. Makanya dia selalu disebut tidak pernah berpacaran karena memang dia tidak pernah punya pacar.
Viona hanya menyarankan berkomitmen dan Sendi juga setuju akan hal itu. Mereka berkomitmen untuk saling menjaga dan mengasihi satu sama lain, tapi tidak ada hubungan maupun ikatan. Tidak ada status yang bisa dijelaskan maupun diakui oleh keduanya.
"Sendi kelihatannya sangat mencintaimu. Setelah ini, apa kalian akan tetap bertemu?" tanya Marshal setelah Viona selesai menjelaskan dengan tenang.
Viona menggeleng. "Saya tidak tahu, Tuan. Tapi saya inginnya tidak bertemu dengan dia lagi dan mencoba melupakan Sendi. Tapi sulit."
Marshal mengernyit. Apanya yang sulit? Bukankah Viona tadi sudah mengatakannya pada Sendi jika dia tidak mau bertemu dengannya lagi?
Jika teringat kejadian tadi, Marshal bahagia sekali. Karena dari perkataan Viona, mengartikan jika dia lebih memilih Marshal daripada Sendi. Tapi, kenapa sekarang Viona malah bilang sulit? Apa dia sedih telah melepaskan Sendi? Atau masih berharap bisa bersama Sendi lagi?
"Kenapa memangnya?" tanya Marshal dengan penasaran. Dia sebenarnya tidak ingin mengorek lanjutan cerita Viona dengan Sendi, tapi karena dia teramat penasaran, terpaksa mengatakan hal itu dan mungkin tidak ada salahnya jika dia mengetahuinya. Dia suami Viona dan berhak tahu tentang apa saja yang ada dalam hidup istrinya.
"Kalian tidak punya hubungan, kamu juga tadi bilang tidak mau bertemu lagi dengannya dan sudah melupakannya. Apanya yang membuatmu sulit?"
"Saya mencintainya, Tuan."
Deg.
Marshal langsung terdiam. Jadi Viona mencintai Sendi? Padahal tadinya Marshal kira Viona tidak mencintai Sendi karena diajak pacaran saja dia tidak mau. Tapi nyatanya, Viona mencintai Sendi?
Ada setitik sakit yang dia rasakan. Kesal juga muncul ke permukaan.
Marshal mengepalkan kedua tangan dalam diam. Sebisa mungkin dia harus bisa menahan emosinya yang akan meluap sekarang juga. Dia marah karena merasa dipermainkan. Viona sudah melambungkannya tinggi menuju harapan langit ke tujuh namun dengan dua kalimat 'saya mencintanya' harapan Marshal langsung nyuksruk hingga lapisan bumi terdalam. Mencapai keraknya, bersentuhan dengan inner core panas yang membuat dia merasa kebakaran.
Kenapa rasanya sekesal ini saat tahu bahwa Viona mencintai Sendi? Kenapa dia selalu merasa ingin memenjarakan Viona hanya untuknya saja? Egois memang. Tapi Marshal tidak bisa berbohong jika dia tidak suka saat Viona bersama pria lain.
Marshal kira Viona sudah mencintainya atau setidaknya sudah mencoba mencintainya, mengingat ucapan Viona pada Sendi tadi siang. Tapi, nyatanya ...
Bukan sekali Marshal terjebak dengan ucapan istrinya saat bersandiwara. Yang akibatnya, selalu rasa sakit bercampur kecewa yang menyiksa. Kenapa Viona selalu seolah memberikan harapan disetiap ucapannya jika membohongi orang? Dan Marshal selalu menjadi korbannya.
Di depan suaminya.
Di depan Marshal yang sedang bahagia setelah mengetahui jika Viona lebih memilihnya daripada Sendi dan berharap Viona sudah mulai mencintainya.
Pupus sudah kebahagiaan Marshal yang sekarang hanya bisa menghela napas dalam. Viona terlalu lihai dalam melambungkan perasaannya. Kenapa juga Marshal harus terjebak dalam bualan Viona yang belum jelas kebenarannya?
Dan kenapa juga Viona selalu mengatakan kalimat penuh harapan kepada orang lain yang melibatkan dirinya disaat hatinya sudah mendamba?
Kecewa itu ada. Sakit sudah jelas terasa. Dia hanya bisa menunduk. Mencintai sendirian lebih menyakitkan disaat harapan bisa dicintai kembali telah dipatahkan.
Kenapa Viona harus berkata jujur padanya? Jika tahu jawaban Viona akan sangat menyakitkan, Marshal akan urungkan niatnya untuk bertanya. Tapi sudah terlambat. Hatinya sudah sakit duluan dan apa yang bisa dia lakukan?
Tapi, jika dipikir kembali? Seberapa kejamnya Viona tidak sebanding dengan apa yang sudah Marshal lakukan. Dia bahkan harus melakukan kebohongan besar untuk menikahi Viona dan sekarang, setelah dia menikahinya, Marshal bahkan masih berpacaran dengan Amanda.
Tapi Marshal memang mencintainya. Dari rasa sakit yang dia rasakan, sudah pasti, tidak perlu dijelaskan lagi jika dari dulu dia masih mencintai Viona, bahkan sampai sekarang. Dan rasa cinta itu ternyata memang tidak pernah hilang meskipun Marshal sudah bisa mengalihkannya pada orang lain.
****
"Tuan?"
"Hm?"
Rio mengernyit sambil menyetir. Dari tadi Marshal banyak terdiam. Bahkan saat membahas pembangunan proyek pun dia terlihat tidak terlalu antusias. Ada apa dengannya? Tidak seperti biasanya Marshal tidak fokus pada pekerjaan.
__ADS_1
"Tuan kenapa?"
"Ngantuk," jawab Marshal dengan cuek. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi penumpang sembari memejamkan matanya.
Rio hanya melirik Marshal dari spion, sekilas. Dia kembali fokus menyetir dan bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Tuan, bangun! Sudah sampai." Rio menepuk pundak Marshal dengan pelan saat mobil sudah diparkirkan dihalaman rumah.
Perlahan matanya terbuka. Mengerjap dua kali. Dia memijit keningnya. "Cepat sekali, sudah sampai rumah saja," ucap Marshal yang kemudian turun dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Rio.
Melangkah dengan lunglai, Marshal menaiki tangga. Beginilah malasnya jika ada pertemuan jam makan malam. Selalu pulang larut dan sampai di rumah tubuh terasa lelah sekali.
Setelah membersihan diri dan berganti pakaian, Marshal keluar dari kamar menuju kamar Viona. Dia harus memperbaiki keadaan. Melupakan apa yang terjadi dan mencoba untuk tetap terlihat tenang.
Marshal tidak mau emosinya tersulut lagi hanya karena memikirkan hal tadi. Lupakan sejenak tentang Viona dan Sendi karena Marshal juga masih punya Amanda yang harus dia urusi.
Pintu kamar Viona mudah sekali terbuka karena gadis itu tidak menguncinya. Marshal terkejut saat melihat Viona yang sedang duduk di atas ranjang sembari memainkan tangan.
Viona menoleh ke arah pintu yang terbuka. Dia heran melihat Marshal datang ke kamarnya. "Ada apa, Tuan?" tanya Viona dengan tenang.
Marshal mendekat dan tersenyum pada Viona. Duduk di tepi ranjang, menatap lekat istrinya. "Kamu kenapa belum tidur?"
"Tidak ngantuk, Tuan."
"Tidak ngantuk, hm? Tapi ini sudah larut malam." Marshal ikut naik ke atas ranjang. Duduk dan menyibakkan selimut menutupi kakinya, sama seperti yang Viona lakukan.
Viona ingin menggeser posisinya tapi tidak bisa dan hanya bisa diam saja menatap Marshal dengan heran. "Tadi saya tidur siang sampai Maghrib, kan, Tuan juga tahu. Jadi sekarang belum ngantuk lagi," jelas Viona.
Marshal merebahkan tubuhnya di samping Viona membuat istrinya semakin heran. "Aku tidur di sini, ya," ucap Marshal yang menarik selimut sampai ke dada.
Viona hanya terdiam saja. Membiarkan Marshal bertindak sesukanya.
"Sini, tidur!" Marshal menyentuh lengan Viona untuk berbaring. Viona mencibir dalam hati. Dia tidak mau tapi seperti biasa, Marshal tidak mungkin bisa dibantah jika sudah memberikan tatapan tajamnya.
Terpaksa Viona ikut berbaring. Dia juga sedang tidak ingin banyak bicara saat ini.
"Ingin dipeluk tidak?"
Viona melirik Marshal dengan aneh. Tumben bertanya? Biasanya langsung nempel aja. Sudah jelas jawaban Viona "tidak". Mana mau dia dipeluk sama Marshal.
Tapi Marshal tidak butuh jawaban. Dia langsung membawa kepala Viona disandarkan di dada untuk menjadikannya sebagai batalan dan Marshal memeluknya dengan tangan kanan yang dia lingkarkan di bawah pundak istrinya.
Viona hanya diam saja sampai Marshal mulai berbicara, "Aku akan mengajukan pertanyaan. Aku harap kamu bisa menjawabnya dengan ucapan bukan gerakan. Jawab dengan jujur dan cepat karena aku orangnya tidak sabaran."
Viona masih diam. Mendengarkan hal apa yang akan Marshal tanyakan.
"Apa kamu mencintaiku?"
"Tidak," jawab Viona dengan cepat.
Marshal terdiam sesaat. Baik. Sakit memang. Tapi lupakanlah dulu. "Apa kamu akan mencoba mencintaiku?"
"Tidak."
Marshal terdiam lagi. Semakin sakit saja rasanya. Apa dia tidak bisa merangkul hati Viona sama sekali? Marshal tahu, jika Viona menikah dengannya karena terpaksa. Tapi tidak begini juga ceritanya. Dia tetap mau Viona mencintainya yang memang sudah mencintai Viona duluan.
__ADS_1
Tapi Viona mencintai Sendi saat ini, apa bisa Marshal merebut hati Viona hingga tertuju sepenuhnya pada Marshal?
Tersenyum samar. Viona sudah menjadi istrinya, Marshal tidak akan melepaskan Viona begitu saja sampai Viona bisa mencintainya.