Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Embrio


__ADS_3

"Gak apa-apa, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja."


Viona hanya memandanginya dengan diam dan duduk di tempat pemeriksaan dokter kandungan. Marshal yang memaksanya untuk diperiksa, meskipun sebenarnya Viona tidak mau. Dia masih belum bisa mempercayai, jika di dalam rahimnya kini tumbuh seorang janin.


Setelah Viona berbaring, dokter wanita  menuangkan gel dingin di sana dan mulai.memeriksa perutnya. Marshal tidak pernah lepas untuk menggenggam tangan Viona. Mereka mendengarkan semua yang dokter jelaskan dari apa yang ada di monitor.


Haru kembali terasa. Bahagia sudah tentu menerpa. Marshal sampai tidak pernah bisa berhenti untuk mengucapkan syukur pada Sang Maha Pencipta, karena telah mengabulkan setiap doa yang dia panjatkan.


Makhluk itu terlihat di monitor. Terdapat sebuah bentuk bundar hitam yang tidak sempurna dan setitik noda kecil di dalamnya. Dokter bilang itu adalah embrio-nya. Masih berukuran 2 milimeter, karena usia kandungan Viona baru menginjak lima minggu. Apakah itu mengartikan, sel telur Viona dibuahi dan anak itu tercipta ketika mereka berbulan madu?


Marshal tersenyum pada Viona, menggenggam tangannya dengan erat dan membantu Viona untuk bangun, setelah pemeriksaan selesai. Mereka duduk di kursi yang ada di hadapan meja sang dokter. Mendengarkan kembali setiap penjelasan yang disampaikannya.


"Tapi, saya tidak pernah melewatkan pil itu, Dok. Bagaimana ini bisa terjadi?"


Marshal melirik sejenak pada istrinya, itu juga yang menjadi pertanyaan sejak awal, setelah mengetahui kabar gembira ini.


"Hal itu bisa saja terjadi, Nyonya," Dokter mulai menjelaskan, mereka menyimak dengan seksama. "bisa jadi karena beberapa faktor. Entah itu karena pil tidak dikonsumsi secara tepat waktu, penggunaan obat lain yang mempengaruhi kinerja pil tidak efektif dan juga beberapa faktor lainnya."


Marshal melirik pada Viona. "Apa mungkin karena masalah waktunya, Sayang? Bulan lalu kita pergi ke Tokyo, mungkin waktu kamu minum jamnya tidak selalu sama."


"Apa itu mungkin? Hanya berbeda tiga jam." Viona melirik sejenak pada Marshal, kembali bertanya pada sang dokter.


Dokter wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepala. "Bisa saja terjadi. Namun, apa pun yang menjadi penyebabnya, kita kembali lagi untuk mengingat Sang Pencipta. Tidak akan ada makhluk yang tercipta tanpa kehendaknya."


Marshal dan Viona memberikan anggukan, setuju akan hal itu. Mereka saling pandang, dalam sorot pandang yang penuh dengan makna.


"Apa bulan lalu Nyonya masih datang bulan?"


Viona mengangguk dan menjelaskan, jika dia masih kedatangan tamu, sedangkan bulan ini sudah terlewat satu minggu. Penjelasannya kembali membuat doktek itu tersenyum dan memberikan penjelasan secara ilmu biologi.

__ADS_1


Sampai mereka selesai dengan pemeriksaan kandungan, Viona terlihat tidak sekali pun tersenyum, selain pada dokter tadi. Marshal melihatnya sedikit bingung. Harusnya Viona bahagia seperti dirinya. Tapi, yang dia lihat tidak seperti itu. Viona bahkan banyak terdiam hingga mereka kembali ke kamar Rahma dan duduk di sofa.


Marshal membuka amplop cokelat berisi prosedur kehamilan dan juga gambar embrio mereka. Tidak sia-sia dia memohon setiap saat kepada Tuhan. Meskipun bertolak belakang dengan keinginan istrinya yang tetap kekeh untuk menunda, Tuhan lebih dari segalanya, dapat dengan mudah menciptakan satu makhluk kecil yang akan menjadi buah hati mereka.


Namun, kembali lagi melihat Viona yang hanya terdiam. Marshal memperhatikan wajahnya yang sedikit muram. Dia duduk mendekat dan memegang kembali tangan Viona, lalu mengusap punggung tangannya pelan. "Kamu tidak bahagia mengetahuinya? Dia anak kita, Sayang."


Viona hanya terdiam. Melamun, memandangi meja dengan pikiran yang entah berlabuh ke mana.


"Sayang?"


"Aku hamil, Chal?"


Marshal tertegun mendengar pertanyaan istrinya. Lantas dia mengangguk dengan cepat, bingung melihat respon Viona. "Dia ada di sini, Sayang." Marshal menyentuh perut Viona, mengusapnya lembut. "Dia sudah tumbuh. Dia anak kita."


"Aku akan jadi seorang ibu?" Viona kembali bertanya, memandang lekat pada Marshal, meminta keyakinan atas ketidakpercayaannya sendiri. Melihat Marshal yang memberikan anggukan, mata Viona mulai berubah, semakin sendu. Kenapa secepat itu? Viona bukan menolak karunia Tuhan, hanya ... sulit dijelaskan bagaimana perasaannya saat ini.


Viona menghela napas dalam, menggelengkan kepala. Dia memegang tangan Marshal, meremasnya kuat menunjukkan perasaan yang saat ini dia rasakan. Campur aduk. Viona bahkan tidak tahu apa yang dia alami saat ini. Entah itu bahagia, terharu, bersedih atau bahkan terkejut. Semuanya rumit dijelaskan.


"Dia anak kamu?"


Mata Marshal menajam mendengar pertanyaan istrinya. Viona berkata seperti itu, seolah dia ragu dengan pembuahannya sendiri.


"Bagaimana bisa? Aku benci sama kamu, Chal. Kamu itu pembohong. Kenapa dia bisa hadir? Kita akan-"


Marshal langsung meraih tengkuk Viona, membungkam mulutnya, tidak akan pernah membiarkan Viona mengatakan hal itu lagi. Dia tidak mau mereka berpisah. Apalagi sekarang mereka sudah mempunyai anak. Marshal tidak akan pernah bisa melepaskan istrinya.


"Berhenti untuk mengatakan itu! Kita akan rujuk."


"Tapi, aku ...."

__ADS_1


"Kamu boleh benci aku, tapi jangan sampai anak kita jadi korbannya, Sayang. Kamu mau dia jauh dari ayahnya? Jika itu mau kamu, secara tidak langsung kamu sudah membuat dua jiwa terpisah. Aku tidak mau."


Marshal memeluk erat tubuh Viona. Dia tidak akan pernah mau melepaskan istrinya, bagaimanapun keadaan yang menimpa mereka. Marshal bisa memahami emosi istrinya, tapi bukan berarti dia bisa dan rela membiarkan Viona berjuang sendiri demi anaknya. Dia seorang suami yang harus bertanggungjawab. Tidak akan membiarkan istrinya melakukan hal gila yang bisa membuat mereka berpisah lagi.


"Aku mau kita rujuk. Kita tidak akan bercerai."


Viona hanya terdiam dalam pelukan Marshal. Tiba-tiba gejolak mual kembali terasa, dengan kuat dia mendorong tubuh Marshal dan berlari menuju kamar mandi. Marshal mengikutinya ikut panik dan khawatir. Dia membantu ngurut tengkuk istrinya dan menemani hingga mual Viona sedikit berkurang. Hanya cairan yang keluar. Marshal semakin tidak tega melihatnya. Dia memeluk pinggang Viona, mengusap wajah istrinya yang mulai terlihat pucat.


"Apa setiap hari kamu seperti ini?"


Viona menganggukkan kepala pelan membuat Marshal menyesal dan memaki dirinya sendiri. Bodoh, karena membiarkan Viona seperti itu dan tidak tahu, jika istrinya tersiksa. Perpisahan mereka ternyata malah menyiksa tiga jiwa sekaligus. Bukan hanya Marshal dan Viona, tapi juga janin yang kini masih sebesar biji kacang hijau.


Marshal menggendong tubuh Viona untuk kembali dibaringkan di sofa. Khawatir melihat kondisi istrinya yang terlihat sangat lemah dan wajahnya yang pucat pasi. Dia memesan makanan lewat ponsel supaya tetap bisa menjaga Viona di sana. Melirik ke arah Rahma yang masih terbaring, Marshal tersenyum. Rahma sangat ingin Marshal punya anak. Sekarang, keinginannya telah terwujud dan semoga dengan kabar ini ibunya bisa cepat sadar. Rahma pasti sangat bahagia.


"Chal ...."


"Iya, Sayang?"


"Jangan dekati aku!"


Marshal menggeleng cepat, tidak bisa. Mana mungkin dia membiarkan Viona dalam keadaan seperti itu sendirian.


"Aku benci kamu chal! Aku gak mau lihat kamu!"


"Tapi, kamu sedang sakit, Sayang. Aku tidak bisa." Marshal tertegun saat istrinya terisak. Dia panik dan bingung harus bagaimana, sedangkan di dekati saja Viona malah semakin kencang menangis.


"Jauhin aku!" Viona mendorong lagi tubuh Marshal yang mencoba ingin memeluknya. Menepis tangan yang terulur ingin menggapai. "Aku benci kamu!" Viona malah semakin menangis, ketika Marshal mendekat.


Marshal pun berdiri dan mundur untuk sedikit menjauh darinya. Dia bingung dan tidak mau, tidak percaya jika Viona tiba-tiba seperti itu. Padahal sebelumnya Viona baik-baik saja, bahkan selama pemeriksaan mereka bergenggaman tangan. Lantas, kenapa sekarang Viona mengusirnya lagi?

__ADS_1


__ADS_2