Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Amanda?


__ADS_3

"Nona, tuan sudah ada didepan. Tuan sudah pulang" lapor Erni pada Viona yang sedang menyiram tanaman dihalaman belakang.


  Viona memang meminta Erni untuk selalu memberitahunya saat Marshal sudah pulang. Viona ingin menyambut kedatangan Marshal. Ya, walaupun Marshal tak pernah memerintahkannya, tapi Viona ingin saja  mencoba melakukannya.


"Tuan sudah pulang?.." Erni mengangguk. "Bukannya tuan selalu pulang kerja sore atau malam, kenapa jam segini sudah pulang?"


  Marshal memang biasanya akan pulang paling cepat sore bahkan dia sering pulang malam karena pekerjaannya yang sangat menyibukan. Namun untuk hari ini, dia pulang siang karena dia hanya menghadiri meeting dengan Purwaka Group saja, tidak mengerjakan pekerjaan lain lagi. Dan entah kenapa, dia juga ingin cepat pulang. Entah apa yang membuatnya ingin segera tiba dirumah. Entah karena Viona kah, atau karena hal lain? Entah karena dia lelah kah? Entahlah, author tak tahu.


  Viona segera menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan Marshal. Dia merapihkan dulu penampilannya sebentar. Kemudian menarik bibirnya lebar. Menyunggingkan senyuman manis. Berdiri diambang pintu.


  Ternyata Marshal memang sudah pulang. Dia baru saja turun dari mobil.


Mata Marshal memincing menatap sosok Viona diambang pintu, yang tengah tersenyum manis padanya. Namun pikiran Marshal terheran melihatnya.


  Untuk apa dia berdiri disitu?.. Apa dia menyambutku pulang?


Marshal tak menanggapi senyuman Viona. Dia hanya berjalan masuk kedalam rumah dengan pikiran yang masih sama. Masih terheran dengan Viona.


"Tuan" Viona kembali melempar senyum pada Marshal, namun Marshal lagi-lagi tak menanggapinya. Dia hanya berlalu melewati Viona yang sudah memasang wajah masam.


Viona jadi kesal. Karena Marshal tak menanggapinya. Namun, tak apa. Dia juga tak mengaharapkan tanggapan dari Marshal, karena Viona juga melakukan semua itu terpaksa bukan karena keinginannya juga.


"RIO!!" teriak Marshal yang masih sedang berdiri di tangga.


"Iya, tuan?" Rio segera menghampirinya dengan langkah setengah berlari.


Marshal melirik Viona, "Suruh dia ke kamarku!" Rio mengikuti arah pandang Marshal. "Baik, tuan" sahut Rio cepat dengan nada sopan padahal hatinya sedang mengomel.


  Bukankah tuan dan Nona saling berdekatan, kenapa Tuan memintaku untuk menyuruh Nona? Tuan kan juga bisa menyuruhnya sendiri. Nona masih terlihat dari sini. Tuan tinggal memanggilnya, Nona akan mendengarkan. Menyusahkan saja.


Marshal menaiki tangga kembali sedangkan Rio menghampiri Viona. "Nona" Viona melirik Rio bingung. "Tuan meminta Nona untuk segera ke kamarnya" Viona hanya mengangguk kemudian menyusul Marshal ke kamarnya.


  Ada apa lagi sih tuan memanggilku? Apa dia akan membuatku repot lagi?..


"Maaf, tuan butuh saya?" Tanya Viona pada Marshal yang sedang memegang handle pintu hendak membuka kamarnya.


  Marshal membalik badan menghadap Viona, dan langsung memberikan tatapan tajamnya. "Kenapa kamu tidak mengikutiku tadi? Kenapa hanya diam saja?" Bentaknya tegas.


  Lha, dia kan tidak meminta aku mengikutinya. Kenapa juga aku harus mengikutinya.


"Cepat masuk! Aku ingin mandi" Marshal menarik tangan Viona untun masuk ke kamarnya.

__ADS_1


  Dia yang ingin mandi, kenapa harus aku yang ditarik-tarik?


"Aku ingin mandi" ujarnya lagi namun Viona malah diam menatapnya. Tak melakukan apapun membuat Marshal mulai kesal.


"Apa kamu tidak dengar!" Bentaknya. "Aku ingin mandi? Cepat siapkan airnya untukku!" Viona memberengut. Menggerakkan tangannya yang masih ada dalam genggaman Marshal. "Maaf, tuan. Bagaimana saya bisa menyiapkan air, jika tangan saya tidak tuan lepaskan." Marshal menatap tangannya yang memegang tangan Viona. Dia langsung menghempaskan tangan Viona hingga terlepas dari genggamannya. "Cepat siapkan! Aku ingin mandi"


  Tanpa bersuara lagi, Viona langsung masuk ke kamar mandi. Menyiapkan semuanya. air. Menuangkan beberapa aroma terapi. Menyiapkan handuk.


Saat berbalik badan hendak keluar, tubuh Viona terkesiap. "Astagfirullah!" Dia kaget. Sangat kaget. Benar-benar kaget, Mendapati Marshal yang sudah ada dibelakangnya. Sama seperti pagi tadi. Jantung Viona berdebar hebat karena kaget. Viona mengusap-usap dadanya.


  Dia sudah ada disini? Kapan dia masuk?


  Kenapa dia masuk tidak bersuara? Apa langkah kakinya itu tidak menapak, sampai aku tak mendengar langkahnya saat masuk.


Viona melirik kaki Marshal.


Menapak. Gumamnya.


  Marshal melirik Viona dengan pandangan aneh. Karena Viona menghela napas beberapa kali, dan tangannya yang mengusap-usap dada terus menerus. "Kamu kenapa?"


Viona masih mengusap dadanya. Jantungnya masih berdebar tak karuan. Dia masih merasa kaget. "Tidak tuan. Saya tidak apa-apa" sahutnya. Kemudian keluar dari kamar mandi.


Viona ingin menyiapkan pakaian untuk Marshal. Tapi, Viona bingung. Pakaian seperti apa yang harus Marshal kenakan sekarang? Apakah pakaian rumahan? Apa Marshal akan pergi lagi setelah ini? Ah, Viona sangat bingung. Dia tidak tahu Marshal akan melakukan apa setelah mandi. Apakah dia akan pergi lagi atau bagaimana? Pakaian apa yang ingin dia kenakan?


  Viona menoleh. "Tuan. Apa tuan akan pergi lagi?" Marshal menautkan alis bingung dengan pertanyaan Viona.


"Em.. Maksudnya pakaian apa yang ingin tuan kenakan sekarang? Saya takut salah memilihkan baju. Jika saya pilih baju rumahan, takutnya tuan akan pergi keluar lagi. Jadi saya bertanya, supaya saya tepat mengambil baju" ujarnya lembut disertai senyuman yang mengembang.


"Oh" Marshal hanya ber'oh' ria. Dia menggosok rambutnya dengan handuk kecil didepan Viona. "Aku gak akan pergi lagi. Ingin dirumah saja" Viona mengangguk dan berbalik badan. Memilih pakaian rumahan yang tetap terlihat stylish untuk Marshal. Sehingga ketampanan Marshal tetap pada porsinya. Walaupun ketampanan terlihat melampaui batas. Sungguh overdosis. Marshal sangat tampan. Viona mengakui itu. Tapi dia tak akan mengatakannya. Cukup mengakuinya saja. Jangan memujinya. Batin Viona.


"Gosok rambutku!" Marshal menyerahkan handuk kecilnya pada Viona.


  Dia kini sedang duduk dikursi yang ada diruangan wardrobe. Mengenakan pakaian yang Viona pilihkan.


  Viona menggosok perlahan rambut Marshal. Dan Marshal sangat menikmatinya dalam diam.


"Sudah!"


Viona mengangguk dan menghentikan tangannya.


  Marshal menarik tangan Viona keluar dari ruangan wardrobe.

__ADS_1


Viona terkejut. Dia menatap Marshal. Namun Marshal malah terus menariknya hingga kedekat ranjang.


"Aku ingin tidur" Dia menarik Viona supaya berbaring diranjang.


Viona kembali terkejut. Dia dibaringkan diranjang oleh Marshal. Jantungnya berdegup kencang. Dia takut. Takut Marshal akan melakukan hal yang tak terduga lagi. Viona sungguh takut. Dia mencoba bangun lagi. Namun Marshal cepat menindih tubuhnya. Dia mencium bibir Viona, membuat Viona kaget. Matanya terbuka lebar. Dia mendorong tubuh Marshal hingga ciumannya terlepas.


  Marshal tak marah. Dia hanya menyunggingkan senyuman manis menatap Viona yang sudah gemetar ketakutan.


Marshal turun dari tubuh Viona. Dia berbaring di samping Viona.


  Viona tak menyia-nyiakan kesempatan. Begitu Marshal turun dari tubuhnya, dengan segera Viona bangkit dari ranjang. Dia ingin menjauhkan diri dari Marshal. Dia takut Marshal akan melakukan hal yang lebih. Takut Marshal ingin menuntut haknya sekarang. Karena semalam Viona menolaknya. Bukan menolak juga, Viona hanya bilang 'tidak siap' dan Marshal tak lagi berulah.


"Mau kemana?" Marshal menarik Viona hingga dia kembali terbaring diranjang.


Viona benar-benar gemetaran. Jantungnya sudah berdebar hebat. Dia ingin menjauh dari Marshal. Tapi Marshal malah memeluknya erat. "Temani aku tidur!" bisiknya ditelinga Viona.


  Viona merinding mendengarnya. Meskipun ucapan Marshal lembut, tapi tetap dia takut Marshal akan melakukan hal lebih.


"Tap-tapi tuan. Saya banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dibawah" tolaknya malah membuat pelukan Marshal semakin erat.


"Pekerjaanmu hanya menemani aku tidur saja" bisiknya kembali. Marshal membenahkan wajahnya pada ceruk leher Viona. Kemudian memberikan satu kecupan disana.


  Viona semakin merinding. Debar jantungnya tak kunjung normal. Tetap saja berdebar tak karuan. Dia akhirnya pasrah. Diam dipeluk Marshal. Walaupun perasaannya was-was.


Jika Marshal bukan suaminya, Viona pasti sudah menamparnya. Bahkan dia bisa membuatnya babak belur, karena sudah berani melakukan hal yang menurut Viona terlalu berlebihan. Mencium bibir, mengecup leher, bahkan memeluknya erat. Selama ini Viona tak suka jika ada yang berani mengambil kesempatan itu padanya. Jika ada yang pria memeluknya saja, Viona akan sangat murka. Dia sungguh tak suka. Untung Marshal suaminya. Kalau bukan, dia pasti sudah Viona tendang hingga terkapar.


  Tak berapa lama kemudian, terdengar deru napas teratur dari Marshal. Viona menunduk sedikit. Melihat wajah Marshal. Dan ternyata Marshal sudah terlelap.


Viona mengusap tangan Marshal yang melingkar pada tubuhnya. Entah kenapa, pelukan Marshal terasa nyaman bagi Viona. Sekali lagi Viona melirik wajah damai Marshal saat terlelap. Tak lama kemudian, Viona ikut Marshal ke alam mimpi. Dia juga jadi merasa ngantuk dan terlelap dengan Marshal yang masih memeluknya erat.


Kringg.. Kringggg...


"Enghh..."


Marshal menggeliat mendengar suara dering ponselnya. Dia melepaskan pelukannya pada Viona. Hingga Viona pun terbangun karena pergerakannya.


Viona mengerjapkan matanya. Menatap Marshal dengan heran. Namun Marshal malah mengusap-usap kepala Viona lembut seolah mengantar Viona kealam tidur kembali. "Tidurlah lagi! Aku mengangkat telpon dulu" Ucapnya lembut.


Kemudiam dia menggeser tubuhnya kedekat nakas. Dimana ponselnya berada. Marshal mengambil ponselnya yang masih berdering.


"Amanda" gumamnya saat melihat layar ponsel. Ternyata yang menelpon adalah kekasihnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2