Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kondisi Sendi


__ADS_3

"Oh iya, kamu tinggal memberskan skripsi'kan? Berarti tidak perlu rutin pergi ke kampus?" Tanya Marshal pada Viona, sembari berjalan menuju pintu utama, mengantar Marshal pergi bekerja.


Viona yang mengekori dibelakang, menatap punggung Marshal, "Iya, tuan. Mungkin saya hanya akan pergi ke kampus sesekali jika ada urusan"


Marshal mengangguk, masih terus berjalan sampai berhenti tepat dipintu utama. Dia berbalik menghadap Viona "Hari ini kamu tidak ke kampus, kan?" Viona mengangguk, "Tidak, tuan"


"Bagus. Jika begitu, kamu dirumah saja! Jangan kemana-mana! Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, asalkan tidak keluar dari gerbang rumah. Kamu paham?" Dengan terpaksa Viona mengangguk. Benar dugaannya, dia akan terjerat seperti dipenjara saat dirumah Marshal.


Kebebasanku mulai tercekat, batinnya.


Marshal tersenyum tipis, dan mengatakan beberapa kalimat pada Viona, kemudian Marshal berlalu begitu saja. Masuk kedalam mobil yang pintunya telah dibuka oleh Rio.


Viona hanya diam saja diambang pintu, memperhatikan. Rio membungkuk dan tersenyum pada Viona sebelum dia juga masuk kedalam mobil. Viona membalasnya dengan hangat, dia tersenyum hingga mobil mulai melaju dan keluar dari gerbang utama.


Saat masuk kembali kedalam rumah, niatnya dia ingin membereskan meja makan, namun suara dering ponselnya menghentikan langkah Viona. Dia merogoh ponsel dari saku celananya, tertera nama Frans disana. Dengan senang hati, segera Viona menerima panggilan tersebut.


[Halo, Frans?] Viona menempelkan ponsel kedekat telinga dan tetap melanjutkan melangkah menuju ruang makan, disana sudah ada Erni dan satu pelayan lain sedang membereskan meja.


[Ya, Halo Vi. Gimana kabar lo? Apakah lo disana baik-baik aja?]


[Aku baik, Frans. Kamu sendiri bagaimana?] Viona mengapit ponselnya dengan bahu dan kepala, dia ingin membereskan meja makan, namun dicegah oleh Erni.


"Tidak usah, Nona. Biar kami saja" Viona dengan segera menggeleng. "Tidak apa, Mba. Biar aku aja yang beresin" tolaknya pada Erni namun dia masih bisa mendengar suara Frans dari ponsel yang diapit bahunya.


[Baik. Eh, Vi. Lo lagi sibuk ya? Gue ganggu?]


[Ah, nggak kok. Tenang aja]


Tangan Viona yang membereskan piring terhenti, Erni melarangnya, "Tidak, Nona. Ini biar saya saja. Nona sedang berteleponan, lebih baik Nona fokus pada telepon saja, tidak usah membereskan ini" Viona berpikir sejenak mendengar ucapan Erni, dan akhirnya dia memilih untuk mengikuti perkataan Erni. "Baiklah, aku selesaikan telepon ku dulu. Tolong kalian bereskan ini"


"Baik, Nona"


Viona keluar dari ruang makan, menuju ruangan lain. Mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol dengan Frans meskipun hanya ditelepon. Dia berdiri dipinggiran kolam renang, sembari melihat sekeliling dan tangan kanannya memegang ponsel didekatkan ketelinga kembali.

__ADS_1


[ Ya, halo Frans? Maaf, ada gangguan sedikit]


[Gak apa-apa. Lo kayaknya lagi ada kerjaan ya?] Ternyata Frans masih terhubung dari sebrang sana.


[Vi, lo gak kangen sama kita-kita? Lo udah tiga hari jadi Nyonya Marshal, gimana hidup Lo disana? Apa yang lo lakuin dirumah tuan Marshal?]


[Ya, gitu deh. Tapi aku disini biasa aja sih. Eh, aku juga kangen banget sama kalian. Pengen ketemu..]


[Vi..]


[Iya?]


[Gue mau ngasih tahu ke lo, kalo Sendi masuk rumah sakit]


[Hah, benaran? Kapan? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?]


[Sendi drop setelah dateng ke nikahan lo. Dia dirawat dirumah sakit karena katanya sampe gak sadarkan diri]


Viona diam. Pikirannya jadi tidak karuan. Dia melihat kearah kolam renang dengan tatapan kosong. Viona baru mengetahui kabar ini. Dia tidak menyangka Sendi akan jadi seperti itu. Apa sebegitu terpukulkah sampai Sendi tidak sadarkan diri dan dirawat dirumah sakit? Viona sungguh merasa bersalah sama Sendi. Apa yang harus dia lakukan untuk membuat Sendi mau memaafkannya? Apa dia harus menjelaskan semuanya sama Sendi?


[Ah, iya. Aku disini]


[Lo, gak apa-apa, kan?]


[Enggak.. terus Sendi gimana keadaannya sekarang?]


...............


🐹🐹🐹🐹🐹🐹🐹🐹


"Saya harap proyek kita yang baru ini berjalan dengan baik" ucap Arga, menyalami tangan Marshal.


"Ya, saya harap juga begitu, tuan" Marshal tersenyum pada Arga.

__ADS_1


Rapat baru saja selesai, mereka membahas tentang proyek baru yang akan mereka jalankan mulai bulan depan.


"Mari tuan, Kita makan siang bersama!" ajak Marshal ramah, mereka berjalan beriringan menuju restoran terdekat setelah Arga mengangguk, menyetujui tawaran Marshal.


Arga adalah pemilik perusahaan Purwaka Group. Sebuah perusahaan besar yang erat terjalin kerjasama dengan Mars Corporation-perusahaan Marshal. Mereka sudah melakukan kerja sama kurang lebih dua tahunan ini. Belum lama memang, tapi kedua perusahaan besar tersebut sudah membangun banyak proyek besar dan semuanya berjalan lancar hingga menghasilkan keuntungan besar bagi keduanya.


Mereka memilih duduk dimeja dekat jendela saat memasuki restoran yang jaraknya sangat dekat dengan kantor milik Marshal. Dan mereka duduk berhadapan.


"Tuan, apakah saya bisa menanyakan hal lain selain masalah pekerjaan?"


Marshal mengernyit mendengar ucapan Arga, namun dia tersenyum mempersilahkan. "Silahkan katakan, tuan. Ini jam istirahat, sedikit membahas kehidupan nyata tidak jadi masalah"


Arga tersenyum, bernapas lega mendengar keramahan Marshal, namun detik berikutnya dia terlihat ragu untuk berucap. Marshal yang melihat hal itu menaikkan satu alisnya keatas, "Hal apa yang akan Anda tanyakan, tuan?"


"Saya ingin menanyakan tentang..." Arga terdiam, memberi jeda, "Istri Anda" lanjutnya membuat Marshal mengernyit penuh tanya.


Dia menanyakan istriku? Untuk apa?


"Apakah keadaan istri Anda baik-baik saja?" Tanya Arga penuh kehati-hatian.


Dahi Marshal mengernyit semakin dalam. Dia heran, kenapa Arga menanyakan istrinya? Tapi dia tetap menjawab, "Ya, istri saya baik-baik saja. Memangnya kenapa Anda menanyakan istri saya? Apa kalian saling mengenal?"


Arga menghela napas, dia menatap Marshal dengan canggung. "Saya sangat mengenal istri Anda. Mungkin tuan masih ingat kejadian dihari pernikahan kalian, saat puteraku-Sendi,..."


Mendengar nama Sendi disebut, Marshal baru teringat jika Viona pernah berhubungan dengan anak dari Arga.


Kepala Marshal mengangguk-angguk, "Ya, saya masih ingat hal itu. Lalu?"


Arga terlihat menghela napas kembali, sepertinya dia agak berat untuk berucap. "Setelah dari acara itu, Sendi tidak sadarkan diri dan dirawat dirumah sakit sampai saat ini. Dia baru siuman hari kemarin. Dan maaf, mungkin saya lancang menanyakan hal privasi seperti ini. Saya hanya ingin membuat keadaan Sendi kembali pulih, makanya saya menanyakan keadaan Viona pada Anda" Marshal masih terdiam, mendengarkan.


"Selama dia dirawat, tidak hentinya dia mengingat Viona. Dia sangat kacau karena patah hati. Jadi mohon maaf, jika saya harus memastikan keadaan Viona pada Anda. Niat saya hanya ingin memastikannya untuk Sendi bahwa Viona baik-baik saja dan bahagia bersama Anda. Saya tidak ingin Sendi terus berlarut dalam kecewanya. Jadi saya ingin Sendi segera melupakan Viona"


"Saya paham, tuan. Dan memang sebaiknya juga seperti itu. Viona sekarang istri saya, jadi saya sih berharapnya mereka tidak memiliki hubungan lagi" ucap Marshal hati-hati, takut menyinggung.

__ADS_1


"Terima kasih karena tuan bisa memahaminya.."


BERSAMBUNG.............


__ADS_2