
"Rio!" panggil Viona.
Orang yang dipanggil hanya tersenyum, kemudian menundukkan kepala. Viona mendekatinya yang sedang berdiri di samping mobil yang terparkir di garasi. Laki-laki itu biasanya ramah dan bisa diajak ngobrol. Tapi, untuk akhir-akhir ini dia merasakan ada yang berbeda dari Rio.
"Kamu kenapa, aku panggilin menghindar terus?"
"Tidak kenapa-napa, Nyonya. Memangnya kenapa?"
Viona berdecak kesal melihat Rio yang bicara tanpa melirik padanya. "Apa aku punya salah sama kamu?"
Rio menggeleng. Membuka pintu mobil dan mengambil suatu barang dari dalam sana. Setelah itu, dia menghadap pada Viona dan menyerahkan dua paper bag berwarna biru dan hitam dengan tulisan merek berwarna gold. "Untuk Nyonya, dari tuan."
Viona mengernyit, menerima pemberian dari Rio. Dia mengintip isinya, Viona terbelalak kaget. Satu paket alat make up dan juga ada sebuah kotak lagi. Viona bisa menebak itu isinya adalah satu set perhiasan berlian.
"Kamu yakin ini untuk aku?"
Rio mengangguk dan menunduk kembali. Melihatnya, Viona mendelik jengah. Sikap Rio memang mulai berbeda. Didekati dia menghindar, diajak bicara dia jadi pendiam. Viona tidak suka. Dia lebih suka Rio yang seperti biasanya. Viona suka Rio yang bisa diajak gila bersama, karena hanya dia yang bisa jadi teman recehnya.
***
Viona masuk ke dalam ruangan kerja suaminya. Dia mendekat pada Marshal yang tengah fokus pada sebuah tab di tangannya.
"Chal, ini dari kamu?" Viona menunjukkan paper bag yang tadi Rio berikan padanya.
Marshal melihat padanya dan mengangguk. "Ah, iya. Aku lupa memberikannya. Tadi ketinggalan di mobil."
Viona tersenyum senang dan duduk di ujung meja kerja Marshal. Dia membuka paper bag itu dengan bahagia. "Serius buat aku?"
Marshal mengangguk lagi. Dia tersenyum, menyimpan tab di atas meja dan beralih mengusap wajah istrinya dengan lembut. "Kamu suka?"
Dengan antusias Viona membuka salah satu kotak dari dalam sana. Isinya satu set perhiasan berlian yang sangat mengkilat. Bahkan wajah cantik Viona bisa terpantul di mata berlian yang ada di dalamnya. "Tapi, ini terlalu berlebihan. Pasti sangat mahal. Belum lagi ini, alat make up untuk apa?"
__ADS_1
"Aku sengaja beli untuk kamu. Dan make up ini juga untuk kamu. Siapa tahu kamu suka. Ini brand keluaran terbaru. Dan perhiasan ini, aku pesan khusus untuk kamu."
Disimpannya paper bag itu di atas meja. Viona memangdangi suaminya dengan masih menampakkan raut bahagia. "Ini sangat mahal, Chal. Harusnya gak perlu sampai sebanyak ini."
Alis Marshal terangkat. "Memangnya kenapa? Apa kamu tidak senang aku berikan hadiah?"
"Bukan tidak senang, hanya saja ini terlalu mahal. Aku tahu, tidak sedikit yang kamu keluarkan untuk membeli semua ini. Iya, kan?"
Marshal malah terkekeh pelan. Dia mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Hanya sampai empat, gak banyak, Sayang. Untuk kamu apapun akan aku berikan. Atau kamu mau yang lebih banyak lagi? Itu kurang?"
Mulut Viona menganga lebar. "Coba ulangi! Maksud kamu empat... apa empat...?" Rahang Viona hampir saja jatuh sangking kagetnya saat Marshal mengangguk. Empat miliar? Yang benar saja? Satu paper bag itu bernominal empat miliar dan suaminya bilang 'hanya'.
"Biasa saja, Sayang. Ekspresimu sangat lucu sekali." Marshal malah tertawa dengan renyah. Padahal istrinya begitu terkejut dengan hadiah yang dia berikan untuknya.
"Uang sebangak itu kamu buang begitu saja. Chal, kamu berlebihan." Ya, meskipun Viona merasa senang, tapi tetap saja dia terkejut mendapat hadiah semahal itu.
"Hanya sampai empat, Sayang. Kalo kamu mau yang lebih, nanti aku kasih lagi."
"Kenapa kamu memberikannya buat aku?"
"Karena kamu istriku. Tidak ada yang tidak bisa untuk diberikan pada istriku. Kamu mau atau tidak mau, apapun pasti aku berikan."
"Kenapa harus hadiah itu?"
"Karena aku tidak tahu kamu suka apa. Yang aku tahu, wanita itu suka hal yang seperti itu, jadi aku belikan saja untukmu."
Viona terdiam memandangi paper bag pemberian dari suaminya. Dia sangat menyayangkan apa yang Marshal berikan untuknya. Satu peket alat make up ternama dengan merek yang terkenal mahal dan sangat berkelas. Viona tidak yakin akan memakainya. Dia tidak suka terlalu banyak memakai alat make up. Dan, satu set perhiasan itu juga entah kapan bisa ia pakai. Viona tidak pernah terlalu banyak memakai perhiasan, jika bukan ke acara-acara tertentu.
Melihat Viona yang hanya diam, memegangi paper bag, Marshal terheran melihatnya. Dia menggapai tangan Viona dan menariknya pelan supaya Viona turun dari meja. Istrinya menurut. Marshal mendudukan Viona di pangkuannya, tetapi Viona tidak mau. Marshal memaksa, dan akhirnya Viona mau dan tetap diam saja melihat kantong tersebut.
"Kenapa, hm? Apa kamu tidak suka dengan hadiahnya?" Marshal mencuri satu kecupan di pipi istrinya.
__ADS_1
Viona melirik ke samping. Jantungnya lagi-lagi berdebar tidak karuan saat jarak wajahnya dengan Marshal begitu dekat. Dia mulai sedikit gugup melihat wajah suaminya yang tersenyum dan memandanginya dengan hangat. "Aku suka. Tapi, ini ... ini sangat berlebihan, Chal. Aku tidak terlalu suka hal seperti ini. Seperti alat make up ini, aku tidak yakin bisa memakainya. Bagaimana jika produknya tidak cocok dengan kulitku?"
Marshal terdiam sesaat melihat isi paper bag. Dia melihat lagi pada istrinya. "Kamu tenang saja! Aku sudah memilih produk yang sangat bagus. Tidak akan ada kata tidak cocok. Jika kamu tidak suka, nanti aku kasih yang lain, bagaimana?"
Viona malah menggeleng dengan bibir yang mengerucut. Marshal tidak tahan untuk tidak menyentuh bibir istrinya. "Sayang, aku memberikan ini untuk kamu. Jika tidak suka, kamu bilang saja! Nanti aku kasih yang lain. Apapun yang kamu mau, pasti aku berikan. Kamu mau apa, hm?"
Viona menggeleng lagi dan terdiam. Marshal melihatnya heran. Wanita lain pasti senang jika dibelikan hadiah seperti itu. Tapi, Viona nampak berbeda. Dia memang awalnya terlihat senang, tapi tidak seantusias wanita lain. Jika wanita lain malah mereka yang meminta tanpa Marshal tawari.
"Sayang?"
Viona melirik lagi pada Marshal. Dia memberikan senyuman melihat wajah suaminya yang nampak murung. Mungkin mengira Viona tidak suka dengan pemberiannya. Dengan lembut Viona mengusap rahang suaminya. "Terima kasih untuk hadiahnya. Aku suka. Tapi, lain kali jangan berlebihan seperti ini, ya!"
Marshal malah tertawa ringan. Dia senang jika Viona menyukainya. "Aku tidak pernah memberikan hadiah sama kamu. Jadi, aku ingin kamu memintanya sekarang. Apa yang kamu inginkan?"
"Ini 'kan sudah."
"Kamu sepertinya tidak terlalu suka dengan make up-nya. Nanti aku ganti dengan barang lain. Mau apa, hm?"
"Sepertinya tidak ada. Saat ini aku sedang ingin makan, aku lapar." Viona mengusap perutnya dengan wajah memelas.
Marshal tertawa lagi. Dia mencium pipi istrinya kembali dan menggigitnya pelan sampai Viona meringis dan memukul lengannya dengan kesal. "Kenapa aku selalu bahagia jika bersama istriku, ya?"
Dengan penuh percaya diri, Viona mengangkat dagunya. "Itu karena istrimu ini sangat menyenangkan, tidak seperti kamu yang menyebalkan."
Marshal mencebik. Dia memasang wajah yang nampak tidak suka. "Jadi, aku menyebalkan?"
"Iya, kadang-kadang. Eh, sepertinya setiap hari menyebalkan."
"Oh, jadi aku menyebalkan, ya." Marshal menggelitik perut istrinya sampai Viona menggeliat geli dan tertawa. "Aku menyebalkan, hm?"
Viona tidak kuasa menahan rasa geli. Dia tidak bisa diam di atas pangkuan suaminya. Dan seketika dia terperanjat saat Marshal berbisik dan sesuatu terasa aneh dia duduki.
__ADS_1
"Pergerakanmu membangunkannya, Sayang." Wajah Viona langsung memerah dan menggigil takut.