
"Sayang ...." Marshal mengusap pipi istrinya dengan lembut. Viona sedang tertidur setelah mengarungi pergumulan yang panas bersamanya. Dia tidak tega untuk membangunkan istrinya, tapi Marshal masih punya hati. Dia tidak mungkin meninggalkan Viona begitu saja setelah dia menikmati tubuhnya. "Sayang, bangun dulu!"
Viona menggeliat pelan sambil bergumam. Marshal menarik membenarkan selimut, menutupi tubuh polos istrinya sampai ke leher. "Sayang ...." Dia mencoba membangunkan lagi istrinya, tapi Viona tidak mau membuka mata.
Selain merasakan sakit, Viona juga pasti merasa pegal terhadap tubuhnya. Marshal paham, karena itu baru pertama kali mereka lakukan, sehingga kantuk menyerang keduanya. Apalagi sekarang sudah subuh. Viona pasti sangat tidak mau diganggu. Tapi, Marshal harus pergi sekarang juga. Barusan dia mendapat telepon darurat dari orang yang mengelola resort-nya di Bali. Orang itu mengatakan, jika resort-nya mengalami kebakaran yang cukup luas saat ini.
"Sayang!" Marshal membangunkan lagi istrinya. Tangannya menyusup ke dalam selimut, mengusap lengan istrinya yang masih belum sempat berpakaian.
"Apa, sih? Aku capek. Jangan minta lagi! Aku mau tidur, ngantuk," sahut Viona dengan kesal tanpa mau membuka matanya.
Marshal mendesah gusar. "Bukan itu. Aku harus pergi ke Bali sekarang. Sayang! Sayang, denger dulu!" Viona malah bergumam tidak jelas, kembali terlelap. Marshal terus mengganggunya untuk bangun. Dia harus mendapat izin dari Viona, karena Marshal tidak mau nantinya Viona malah salah paham dan marah padanya.
Habis manis, sepah dibuang. Marshal tidak mau Viona menganggapnya seperti itu. Bagaimanapun juga dia meraih haknya penuh cinta. Marshal tidak mau meninggalkan istrinya, setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Viona istrinya, bukan pemuas nafsu belaka. Marshal tidak ingin Viona beranggapan, bahwa Marshal pergi setelah mendapat kepuasan.
"Sayang, bangun! Dengar aku dulu!"
"Hmm ...." Viona malah memeluk selimut dan kembali terlelap dengan nyaman. Dia pasti sangat lelah saat ini, makanya terlihat nyenyak sekali.
"Sayang, aku harus pergi ke Bali. Aku harus pergi sekarang. Boleh, kan? Sayang!"
Viona tidak kunjung membuka mata. Marshal mencubit hidungnya, membuat Viona menggeliat merasa terganggu dan kesusahan bernapas. "Bangun! Aku boleh pergi, kan? Sayang?"
"Apa? Aku capek, Chal. Udah, deh. Kamu gak ada puas-puasnya. Aku ngantuk."
Marshal menganga mendengar penuturan Viona. Ada apa dengan pendengaran Viona sampai dia berkata seperti itu. Marshal bukan memintanya lagi. "Sayang, aku harus pergi ke Bali. Aku barusan ditelepon, resort di sana kebakaran. Aku harus ke sana, Sayang. Ck! Sayang, kamu dengar aku gak, sih? Sayang?"
"Hm, Chal ... yaudah, pergi aja sana! Udah, jangan ganggu aku! Aku ngantuk." Viona malah berbalik badan, memunggungi suaminya yang terlihat serba salah.
Marshal melihat punggung Viona dengan bimbang. Viona menyuruhnya pergi dengan nada yang tidak mengenakan. Jika dia tidak pergi sekarang, mungkin pikirannya semakin kalut. Meskipun dia sudah menyuruh banyak petugas untuk mengurusnya, tetap saja dia harus pergi ke sana mengeceknya sendiri. Tapi, dia tidak bisa meninggalkan Viona, jika istrinya tidak benar-benar mengizinkannya untuk pergi.
__ADS_1
"Sayang, boleh, tidak?" Marshal memiringkan tubuhnya, sedikit menunduk untuk melihat wajah Viona. Istrinya tetap memunggungi dan tidak lagi bersuara sedikit pun. Dia sangat nyenyak dengan tubuh yang hanya tertutup oleh selimut. "Sayang?"
Viona membalik badan cepat, menatap suaminya dengan nanar. Dia melotot tajam, sebelum matanya kembali berat dan tertutup. "Boleh. Pergi aja! Udah, ya, jangan ganggu! Aku ngantuk."
Marshal tidak yakin dengan ucapan istrinya. Viona mengusap rahang suaminya lembut dan kembali menarik selimut untuk melanjutkan tidurnya.
"Benaran boleh? Sayang?"
"Hmm ... pergi aja! Tapi, jangan lama! Kalo urusannya udah selesai, segera pulang!" Viona berujar tanpa membuka mata lagi.
Marshal masih saja ragu untuk beranjak. "Tapi, kamu tidak apa-apa aku tinggal?" Marshal terkejut saat istrinya malah mengeluarkan tangan dari balik selimut dan langsung mendarat di rahangnya.
Plak!
"Berisik! Aku mau tidur. Kalo mau pergi, pergi aja! Aku izinin."
Marshal terdiam cukup lama melihat memandangi istrinya. Besar keraguan untuk dia pergi. Tapi, dering ponsel menyadarkannya untuk seger berangkat. Kali ini panggilan dari Rio. Dia pasti baru tahu kabarnya.
"Sayang, aku pergi." Sebelum berangkat, dia sempatkan untuk mencium kening istrinya. Viona hanya bergumam dan kembali tertidur.
_
Entah sudah semerah apa wajah Viona. Jika dibandingkan dengan tomat, mungkin lebih merah wajah istrinya. Marshal mengulum senyum melihat Viona yang merona malu sambil menunduk. Tangannya meremas pelan bagian depan baju Marshal. Setelah Marshal memancingnya untuk mengingat permintaan izinnya sebelum berangkat tadi, mungkin Viona sedikit mengingatnya sekarang.
"Apa aku salah, hm?" Marshal mengusap pipi istrinya dengan gemas. Terasa panas. Ya, ampun, Viona sungguh merasa malu saat ini. Marshal jadi tidak tega melihatnya. "Aku sudah minta izin. Kamu yang lupa. Jadi, jangan marah lagi, ya!"
Viona hanya mampu menunduk, masih meremas-remas baju bagian depan suaminya. Dia sangat malu di saat ingatannya sedikit terbayang.
"Uh, kenapa kamu menggemaskan sekali?" Marshal tidak kuat menahan gemas melihat wajah merona istrinya ditambah bibirnya yang mencebik lucu seperti anak kecil. "Kamu lebih menggemaskan dari Zean, malam ini."
__ADS_1
Viona memandangi Marshal, jadi terbayang wajah tampan yang imut khas anak laki-laki kakaknya Marshal. Viona sangat suka ekspresi lucu Zean. Dia jadi ingin melihatnya lagi. Sudah lama dia tidak bertemu dengan pemuda kecil itu.
"Masih mau marah?" Marshal tersenyum manis, memeluk pinggang istrinya supaya tidak beranjak dari pangkuannya. Marshal menggerakkan kakinya untuk bersila, sehingga Viona duduk semakin nyaman, mengangkanginya. "Sayang?"
Viona hanya diam saja, tidak bicara sedikit pun. Mungkin dia masih merasa malu dengan kesalahpahamannya seharian ini. Bukan salah Marshal yang meninggalkannya, tapi Viona hanya lupa ingatan, sehingga dia marah tanpa sebab menurut Marshal.
"Ah, istriku jika sedang marah, kenapa sangat lucu, ya?" Marshal bertopang siku ke pinggiran ranjang, karena posisi mereka saat ini duduk di lantai, di samping ranjang setelah tadi Marshal terguling yang kemudian di tindih dan disiksa oleh istrinya. "Aku sayang kamu. Tidak mungkin aku meninggalkan kamu begitu saja. Kamu istriku, bagaikan ratu seantero jagat. Aku tidak mungkin tega mengacuhkanmu."
Viona terdiam memandangi Marshal. Sudah tidak ada ekspresi kesal lagi. Terlihat lebih relaks. Tangan halusnya malah bermain di dada suaminya. Marshal merasa nyaman dengan sentuhan-sentuhan kecilnya itu.
"Kenapa kamu sangat cantik, hm? Baru sekarang aku merasa minder. Aku baru berpikir, apa aku pantas bersanding bersama bidadari secantik dirimu?" Marshal berucap sangat lembut sambil mengusap wajah istrinya. Dia kembali mengulum senyum mendapat pukulan kecil di dada, dan lihat! Wajah Viona kembali merona. Apa dia seperti itu karena pujian Marshal? Uh, dia jadi ingin terus menggoda istrinya, jika respon Viona seperti ini.
"Aku tadinya mau memberikan momen romantis. Aku sudah beli bunga, beli semua barang itu buat kamu." Refleks Marshal dan Viona melirik dulu barang-barang bawaan Marshal dan mereka kembali berpandangan. "Tapi, bunganya sudah kamu hancurkan."
Viona melirik sekilas buket bunga yang sudah hancur, teronggok di lantai dengan mengenaskan. Beberapa bunganya sudah terlepas dan berhambur begitu saja. Dia yang merusaknya untuk memukul Marshal dan kemudian melemparnya tadi.
"Apa mau aku belikan lagi? Aku bisa mendatangkan satu toko bunga untukmu. Kamu suka bunga, kan? Apa perlu aku membawanya sebanyak mungkin sampai memenuhi kamar, terus aku bilang, will you marry me?" Marshal tertawa sendiri melihat ekspresi lucu istrinya. "Ah, aku lupa, kita sudah menikah. Jadi, ungkapan apa yang harus aku katakan? Apa ... maukah kamu jadi kekasihku?" Alisnya naik turun menggoda.
Viona memukul pelan dadanya. "Mana ada hal seperti itu," ucapnya bernada kesal, tapi malu-malu.
Marshal tertawa renyah. Jika mengingat awal mula pernikahan mereka, dia jadi merasa bersalah.
"Sayang, aku tidak pernah mengatakan untuk mengajakmu menikah secara romantis. Apa kamu mengharapkannya? Aku minta maaf, jika lamaranku tidak manis seperti apa yang kamu harapkan."
Viona menghirup udara memenuhi rongga dada. Dia menggeleng samar. Entah bisa diartikan sebagai apa. Tapi, Marshal cukup tertegun saat dia bersuara, "Kita sudah menikah. Sudah tidak perlu memikirkan masalah itu lagi. Aku cuma mau kita serius menjalani pernikahan. Meraih kebahagiaan bersama. Untuk alasan kita menikah dan cara kamu mengajak aku menikah ... aku sudah tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting kita sekarang bersama, bagaimana caranya kita terus bersama, selamanya."
Haruskah Marshal berjingkrak kegirangan saat ini? Hatinya terbang ke awang-awang mendengar penuturan Viona. Dari ucapannya, apakah itu mengartikan, jika Viona sudah punya harapan besar terhadap pernikahan mereka? Marshal sangat bahagia mendengarnya. Dia memeluk tubuh Viona cepat sampai istrinya tersentak kaget. Marshal senang, terharu dan sangat-sangat bahagia.
"Aku makin sayang sama kamu, Ra."
__ADS_1
Viona tersenyum tipis, membalas pelukan suaminya tak kalah erat. "Aku juga," ucapnya pelan sebelum menyembunyikan wajah di leher Marshal. Dia malu telah mengatakn hal itu.
Aku juga ... makin sayang sama kalian, Readers!😘