Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Harus Melupakan!


__ADS_3

Bagi Viona, sosok Frans adalah segalanya. Selain Aness, Frans adalah sahabat terbaik yang selalu ada dan mengerti di saat kapan pun. Frans sudah menjaga dan menemani hidupnya sejak mereka masih bayi dan tumbuh hingga saat ini. Tentu banyak hal yang sudah mereka lewati bersama. Baik suka maupun duka. Seperti sekarang ini, Frans selalu menemani dan menghiburnya yang sedang patah hati.


"Benaran boleh?" tanya Viona, memasang wajah seimut mungkin pada Frans. "Gak bakal rugi?"


"Tenang aja, duit gue banyak. Mau beli apa emang? Khusus untuk Viona putri bungsu tuan Heru, apapun gue lakukan. Benaran!" Frans tersenyum lebar, mengacak rambut Viona dengan gemas.


Putri kesayangan Heru Pratama berseru senang, Frans akan membawanya masuk ke dalam Mall dan berbelanja banyak apapun yang dia inginkan. Tentu saja Viona tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Nanti kalau ketemu pacar kamu gimana?" Hanya itu yang selalu Viona cemaskan jika jalan bersama Frans. Si playboy tingkat dewa itu punya segudang kekasih yang tersebar di seluruh penjuru kota. Ke mana pun dia pergi, pasti selalu berpapasan, entah itu sudah menjadi mantan atau masih menjadi kekasihnya.


"Santai aja! Saat ini, lo jadi pacar nomor satu. Kalo ketemu yang lain, tinggal putusin. Gampang, kan? Udah, gak usah khawatir! Kita obatin aja tuh luka hati, biar gak inget Sendi mulu," ledeknya membuat Viona mendengus dan menepuk lengannya sebal. Dia malah terkekeh, menggandeng tangan Viona untuk mulai mencuci mata. "Aneh gue, lo udah nikah sama tuan Marshal yang tajirnya gak ketulungan, tapi masih mau aja diajak ke tempat begini padahal udah petang."


"Malas pulang." Dia harus pulang ke rumah Marshal. Tadi suaminya mengirim pesan supaya kembali ke rumahnya, karena Rahma sudah membaik. Marshal sudah bilang pada Rahma akan hal itu, dan ibunya mengizinkan. Di rumah Marshal tidak ada hal yang menarik dan bisa mengalihkan kebosanan, Viona malas berada di rumah itu, lagi. Dia lebih nyaman di rumah mertuanya, karena ada Rahma yang selalu bisa diajak ngobrol dan juga Michelle yang bisa diajak main-main olehnya.


Mereka berjalan menyusuri Mall sepuasnya. Bergandengan tangan dengan ceria seperti sepasang kekasih yang sangat romantis. Memilih barang yang Viona suka, dengan dibayar oleh Frans tentunya. Frans tidak pernah perhitungan. Dia selalu bilang, "Malu kalo ngajak jalan cewek tapi gak dibelanjain. Sebagai lelaki sejati, gue harus bayarin, kan?" Pantas jika banyak wanita tergila-gila padanya.


Puas berkeliling, Viona diantar pulang oleh Frans. Banyak hal yang sudah mereka lalui hari ini. Terasa sangat melelahkan, tanpa sadar jika hari sudah menjelang malam.


"Gak mampir dulu?"


Mobil Frans sudah terparkir di depan gerbang rumah Marshal.


"Gak dulu, deh. Sampai sini saja, ya. Gue ada janji, soalnya."


Pasti koleksi wanitanya. Viona sudah hafal kelakuannya. "Gak capai, udah nemenin aku seharian, Frans?"


"Resiko orang ganteng gini, Vi." Frans terkekeh saat Viona mencubit pipinya dengan gemas. "Cowok kayak gini, gak bakal pernah punya waktu luang. Lo harusnya bangga gue jadiin pacar utama. Cuma Viona yang gak ada batasnya buat gue utamakan, yang lain mah gak ada apa-apanya."


"Iya, deh." Viona membuka sabuk pengaman. "Makasih untuk hari ini. Makasih juga untuk traktirannya, Frans."


"Santai aja, Vi. Lagian, uang yang lo pake, itu dari tuan Heru."


Viona baru saja akan membuka pintu, berbalik terkejut melihat Frans. "Maksudnya?"


Frans malah tertawa, memukul bundaran setir pelan. "Lo kira selama ini gue jagain lo, gak dibayar gitu? Om Heru sering bangat ngasih hadiah sama gue. Katanya, sebagai tanda terima kasih karena jagain lo."


Viona mendengus, menggetok kepala Frans dengan sebal. "Pantas, belanjainnya gak pelit. Udah, ah. Aku harus masuk. Beneran gak mau mampir?" Frans hanya tersenyum dan menggeleng. Viona mengedikkan bahu, turun dari mobil membawa banyak paper bag belanjaannya.


"Yakin, gak mau mampir?" tanya Viona lagi setelah turun, melihat Frans sambil membungkuk di depan pintu mobil. "Makan malam di sini. Mampir dulu, Frans."

__ADS_1


"Gak usah. Nanya mulu." Frans sudah menyalakan mesin mobilnya, melirik pada Viona yang masih nampak di jendela pintu. "Inget, jangan berlarut-larut sedihnya. Ini yang terbaik. Lupakan Sendi, oke!" Melihat Viona yang malah mencebik, Frans menyemburkan napasnya melalui mulut. "Dengan kejadian tadi, Tuhan udah membuktikan kalo kalian gak bakal bisa bersama. Lo udah nikah, Sendi juga bentar lagi gitu, kan? Jadi buat apa masih diharapkan? Udah, fokus sama hubungan yang sekarang aja. Siapa tahu gue cepat dapat ponakan, ye, kan?"


Viona mendengus kesal. Pikiran Frans terlalu jauh menurutnya. "Udah sana, ah!"


Frans tertawa puas telah menggoda Viona. "Tadi nyuruh mampir, sekarang malah ngusir. Oke, deh. Bye, Honey!"


Viona melambaikan tangannya dan mobil Frans pun meninggalkannya sendiri. Berjalan menuju gerbang besar rumah suaminya, Viona menyapa penjaga gerbang seadanya.


"Tuan sudah pulang?" ucapnya setelah menyapa.


Dua laki-laki yang membukakan gerbang untuknya itu membungkuk hormat. "Sudah, Nyonya. Sudah lumayan lama," sahut salah satu dari mereka.


Viona mengembuskan napasnya kasar. Buru-buru masuk rumah setelah mengucapkan terima kasih karena sudah dibukakan gerbang untuknya. Jarak gerbang sampai pintu utama lumayan membuatnya kesal, karena tidak bisa dilewati dengan sepulung atau dua puluh langkah. Dia lelah, ingin segera beristirahat. Namun, langkahnya terhenti di depan tangga rumah. Marshal duduk di sana dengan gelisah, masih mengenakan pakaian formal kerja dan segera berdiri saat melihatnya.


"Sayang," Marshal turun dari tangga tempatnya duduk tadi dan mendekat pada Viona. "Dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali? Kamu tidak apa-apa, kan?"


Viona menggeleng, mengukir senyum semanis mungkin, meskipun tidak terlihat tulus karena hanya lelah yang bisa nampak di wajahnya.


"Ini apa?" tanya Marshal melihat paper bag yang di bawa istrinya. Ada sekitar enam kantong, semuanya bermerek bagus. "Kamu belanja?"


"Dibelanjain sama Frans."


Viona justru mengernyit melihat sikapnya yang langsung berubah. "Memangnya kenapa?"


"Lain kali, jika mau belanja, bilang padaku! Jangan minta sama orang lain!"


Viona hanya diam. Jika pun dia mau belanja, dia tidak mungkin mengatakannya pada Marshal. Suaminya itu tidak pernah memberikannya uang selama mereka menikah. Mau minta, Viona juga tidak berani. Makanya dia senang saat Frans mengajaknya berbelanja, karena Viona tidak cukup banyak uang saat ini. Memang ada uang tabungannya sendiri dan uang di kartu yang pernah Heru berikan untuknya. Viona selalu merasa tidak enak jika harus menggunakan uang tersebut. Karena dia sudah menikah, merasa tidak pantas memakai uang dari ayahnya lagi.


"Kamu tadi ke mana saja?" Marshal mengikuti langkah istrinya menaiki tangga. Tidak lupa, dia juga mengambil alih paper bag dari tangan  Viona. "Gak terjadi apa-apa, kan, sama kamu? Kamu baik-baik saja?"


Viona hanya diam, terus berjalan. Rasanya, sangat malas menanggapi ucapan Marshal yang terlihat cemas itu. Dia sedang lelah hati dan pikiran, tidak mau berbasa-basi mengenai hal seperti itu. Harusnya Marshal tahu jika dia baik-baik saja, kan? Untuk apa bertanya lagi, Marshal sudah melihat langsung keadaannya.


"Sayang?"


Viona berbalik badan pada suaminya sebelum dia membuka pintu kamarnya. Mereka sudah berdiri di depan kamar Viona. "Aku ingin sendiri, bisa?" Direbutnya secara sopan barang bawaan dari tangan Marshal. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah, ingin istirahat." Dia berbalik badan dan membuka pintu kamarnya secara perlahan.


Marshal mengikutinya masuk, tidak peduli jika sebenarnya Viona sedang tidak mau berada dekat dengannya. "Masih mau istirahat di sini? Gak pindah ke kamar kita?"


Viona hanya menghela napas, menyimpan barang bawaannya di dekat ranjang. Dia segera menghempaskan tubuhnya telungkup di ranjang dan memejamkan mata.

__ADS_1


Melihat istrinya yang seperti itu, Marshal semakin khawatir. Dia takut jika Amanda berbuat sesuatu terhadap istrinya. "Sayang," Dia duduk di ranjang samping Viona berbaring. "kamu kenapa? Ada masalah?"


"Hanya capai," sahut Viona lirih. Wajahnya terbenam di sprai ranjang. "Aku mau istirahat sendiri dulu, Chal. Bisa, kan?" Dia berbalik badan, bangun dan duduk menghadap suaminya yang terlihat sangat cemas padanya. "Aku baik-baik saja, sungguh!"


Marshal menarik napas dalam, membuangnya gusar. Disentuhnya wajah Viona dengan lembut. "Yakin tidak apa-apa? Aku khawatir, Sayang."


Viona menggeleng dan memasang senyuman tipis. Melepaskan tangan Marshal dari wajahnya. "Kamu juga lelah, kan? Mending segera mandi dan makan malam! Maaf, aku gak bisa layanin. Aku lel-"


"Tidak apa." Marshal tersenyum. Mencium pipi istrinya sekilas dan berdiri. "Aku bisa sendiri. Kamu istirahatlah! Nanti aku ke sini lagi, jika mau makan malam."


"Gak usah! Aku malas makan malam. Kamu makan sama Rio aja, ya."


Marshal memandang istrinya heran. Sikap Viona terasa asing untuknya. Hatinya semakin cemas dan bertanya-tanya. Untuk saat ini, melihat istrinya, Marshal merasa tidak tega untuk bertanya. Dia ragu. Mungkin lebih baik, dia membiarkan Viona beristirahat sejenak.


"Gak mau pindah?" Viona menggeleng. "Padahal aku berharap kita sudah satu kamar saja, Sayang." Marshal membuang napasnya kasar. "Baiklah, mungkin besok aku suruh Erni mindahin barang kamu ke kamar kita. Aku gak mau pisah kamar."


Viona hanya memandanginya dengan mata yang sudah sayu. Semakin lelah, tidak bertenaga untuk meladeni suaminya, sampai-sampai dia tidak sadar jika Marshal sudah keluar dari kamarnya.


"Hahhh ...." Di saat sendiri dalam sepi, rasa sakit dalam hati muncul kembali.


Beginikah rasanya patah hati? Seperti inikah rasanya, mengetahui orang yang kita cintai akan menikah dengan orang lain? Apa ini yang Sendi rasakan saat tahu jika Viona menikah dengan Marshal?


Ternyata sakit. Ada rasa tidak rela saat mengetahuinya. Dia memang masih mencintai Sendi, meskipun tidak punya ikatan dan seharusnya perasaan itu tidak ada. Tidak boleh ada. Viona sudah punya kehidupan baru dan Sendi juga sebentar lagi akan menikah. Seharusnya rasa itu sirna dan tidak dikenang lagi. Tapi, kenapa sangat sulit?


"Maaf, Viona. Bukan tante mengusir kamu, tapi tante harap kamu tidak menemui Sendi lagi. Kalian harus menjalani kehidupan masing-masing. Setelah pulih, Sendi akan bertunangan dengan wanita pilihan papanya. Dia akan segera menikah, tante harap kamu mengerti. Kami tidak ingin, Sendi maupun kamu terus seperti ini. Jalan kalian berbeda. Kamu bisa 'kan mengerti apa yang tante harapkan?" ucapan Fatma-ibu Sendi, masih terngiang di telinganya.


Viona belum sempat bertemu dengan Sendi, apalagi bicara dengannya. Semua niatnya sudah terputus oleh ucapan Fatma yang kebetulan saat itu berpapasan dengannya di depan lift rumah sakit.


Sendi akan menikah dengan wanita pilihan papanya. Dia dijodohkan. Nasib mereka dalam mengakhiri sebuah rasa ternyata sama. Harus menjalani pernikahan dengan terpaksa di saat hati mereka masih tepaut dengan orang lain.


Apa yang Sendi rasakan, kini Viona tahu. Dia merasakannya. Tidak rela dan sakit relung hatinya. Orang yang kita cintai akan menikah dengan orang lain. Terkejut dan sangat amat menusuk.


Tak terasa air mata meluruh membasahi pipi. Viona menarik bantal, membenamkan wajahnya di sana. Inikah yang namanya tidak berjodoh? Takdir? Kenapa dia harus merasakan sakit hati di saat seperti ini? Seharusnya tidak terjadi. Seharusnya tidak seperti ini. Dia sudah punya kehidupan baru bersama suaminya, seharusnya Viona sadar diri dan melupakan Sendi sejak jauh-jauh hari, maka sakitnya saat ini tidak akan pernah datang padanya. Dia sakit. Dia terluka dengan begitu dalam. Pupus harapan dan Tuhan sudah menjawab semua niatannya.


Dia dan Sendi tidak berjodoh dan memang seharusnya saling melupakan. Menjalani kehidupan masing-masing tanpa menghiraukan perasaan yang sudah lama terjalin.


Kadang kita memang tidak tahu, ke mana takdir akan membawa langkah kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena kita selalu buta dan terlarut dalam apa yang kita inginkan, bukan seharusnya kita lakukan.


Keraguan Viona untuk melupakan Sendi, kini harus dia perjelas lagi. Viona benar-benar harus melupakan Sendi. Bagaimanapun caranya, dan melupakan rasa cinta yang bisa dibilang pertama untuknya. Terjalin lama dan sangat sulit untuk dialihkan. Viona tidak yakin bisa melupakannya dengan cepat. Haruskah dia mengalihkannya pada Marshal? Laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu memang belum mendapatkan posisi di hatinya. Belum atau tidak ada. Viona tidak tahu akan bagaimana nantinya. Luka hati karena Sendi masih mendominasi untuknya merenungkan diri dan melupakan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2