Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kecelakaan


__ADS_3

"Rio?"


Viona menghampiri Rio yang sedang duduk di teras rumah Atma sendirian. Asisten suaminya tersebut sedang asyik dengan ponselnya sambil sesekali meneguk minuman dari kaleng.


Rio menoleh dengan mata membulat. Dia terkejut melihat Viona ada di rumah orangtuanya Marshal. "Nyonya? Bukannya ...?"


Viona bergumam. Duduk di kursi, samping Rio yang masih tidak percaya jika Viona ada di rumah itu. "Lama tidak bertemu, ya."


"Kenapa Nyonya di sini?" Rio heran. Setahunya, Viona sudah pulang ke rumah orangtuanya karena telah mengatakan untuk berpisah dari Marshal. Namun, apa yang dilihatnya saat ini tidak terduga. Dia yang dari tadi hanya diam di luar, tidak ikut Marshal masuk ke dalam. Dia tidak tahu jika di rumah itu ada Viona. Pantas saja majikannya tidak cepat kembali untuk segera berangkat ke kantor. Rio kira Marshal menemani ibunya yang dikabarkan sedang sakit, tapi ternyata ada istrinya.


Dengan malas Viona menjelaskan dulu semuanya pada Rio. Asisten suaminya tersebut manggut-manggut mengerti dan diakhiri senyuman manis penuh kabahagiaan.


"Berarti Nyonya tidak jadi bercerai dengan tuan?"


Viona membuang napasnya dengan kasar. Memandang ke arah taman yang tersaji di samping teras utama, tempat mereka kini duduk berdua. "Sebenarnya aku gak mau. Tapi, lihat orangtuaku nangis sambil terus minta maaf, aku jadi gak tega, Yo. Belum lagi mama Rahma sekarang sakit, udah ... pikiranku kacau."


Rio menganggukan kepala paham. Jadi karena orangtua, Viona mau kembali pada suaminya. Rio kira Viona memang tidak benar-benar mau mengakhiri rumah tangga, makanya mau kembali. "Tuan tahu alasan ini ...?"


Viona mengedikkan bahu. Kembali memandangi Rio dengan tatapan serius. "Hanya perlu waktu satu bulan, Yo. Setelah itu aku akan serius menggugat cerai."


"Maksudnya gimana? Nyonya tetap akan meminta cerai?" Viona mengangguk yakin membuat Rio membelalakan mata. Dia kira keinginan Viona untuk mengugat cerai telah sirna, tapi ternyata masih ada. "Tuan gimana?"


"Itu dia yang mau, bukan aku."


"Maksudnya gimana? Saya tidak paham." Rio menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Ucapan Viona sulit sekali dimengerti. Ternyata benar apa kata Marshal, kalimat yang Viona lontarkan selalu membuat orang lain ambigu untuk mencernanya.


Viona mendengus memandangi Rio. Mengibaskan tangan kanan di udara. "Ah, sudahlah, lupakan saja!"


Rio akhirnya diam. Antara bingung dan penasaran dia rasakan, tapi dia tidak mau bertanya lebih lanjut. Mungkin nanti, jika keadaan memungkinkan dan Viona sedang dalam keadaan baik, dia akan bertanya lebih detailnya lagi. Untuk sekarang ini, dia hanya merasa bahagia untuk kembalinya Viona pada Marshal. Dengan begitu, majikannya pasti tidak akan seperti mayat bernapas lagi.

__ADS_1


"Yo, apa yang terjadi selama aku tidak ada? Aku rasa tuan mulai aneh."


Rio memandang Viona dengan alis terangkat. Setelah dia paham, dia menyimpan dulu ponsel ke dalam saku, kemudian meneguk minumannya sejenak. "Tuan stress parah. Selama Nyonya tidak ada, tuan tidak pernah tidur sama sekali. Makan tidak mau dan bekerja juga datang hanya untuk menjadi patung hidup. Sama sekali tidak mempunyai gairah untuk menjalani kehidupan. Kayak orang mati, tapi masih bernapas."


Viona tercengang mendengar penjelasan Rio. Separah itukah hari-hari Marshal tanpa sepengetahuannya? Viona kira ucapan Marshal tentang tidak tidur selama seminggu, itu hanya sebuah candaan. Tapi ternyata benar adanya. Pantas saja otaknya juga korslet, mungkin pengaruh dari kurang istirahat, pikir Viona.


Terdengar embusan napas kasar dari mulut Rio, Viona yang sedang memandangi taman sampai menoleh padanya. Wajah Rio tidak kalah lelah dari wajah Marshal. Mungkin karena mereka bersama, jadi suka maupun duka mereka rasakan berdua.


"Saya rasa tuan hancur setelah Nyonya minta bercerai. Beberapa kali bilang ingin bunuh diri dan saya juga sangat kaget, tuan bahkan menangis karena wanita." Rio terkekeh pelan.


Viona memandanginya dengan tatapan geli. "Omong kosong, doang, buktinya dia masih hidup. Dan soal menangis, dia juga begitu di depanku, Yo. Kamu pasti tidak tahu, kan? Dia bahkan memohon padaku sambil netesin air mata." Viona mengakhiri ucapannya dengan tertawa.


Rio terkejut mendengarnya. Apa Marshal separah itu? Dia yang sudah lama dekat dengannya, bahkan tidak tahu jika Marshal punya sisi lain yang seperti itu. Melihat Marshal yang mengeluarkan air mata saja, Rio sudah sangat terkejut. Apalagi jika melihat majikannya memohon sambil menangis dengan wajah memelas, pasti sangat menggemaskan.


Mereka meneruskan obrolan berdua tanpa ada siapa pun yang mengganggu. Rio bercerita banyak pada Viona tentang bagaimana aktivitas Marshal tanpa istrinya. Viona mendengarnya merasa sangat iba. Marshal sampai segitunya hidup tanpa ada sosok dirinya. Viona jadi penasaran, seberat apakah yang Marshal rasakan saat Viona ingin bercerai sampai Marshal kacau seperti itu? Dan sebenarnya, seberarti apa Viona bagi suaminya?


"Sejak kapan kamar mama pindah ke teras, Sayang?"


Viona dan Rio menoleh ke arah pintu. Marshal berdiri di sana dengan tatapan tidak suka. Viona hanya meliriknya sejenak dan kembali membuang muka.


"Tadi bilangnya mau ke kamar mama. Kenapa malah duduk berduaan sama Rio, di sini?" Marshal mendekat, berdiri di samping istrinya.


"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Viona menengadah untuk melihat wajah Marshal yang berdiri di sampingnya. "Saya merindukan Rio, makanya kita duduk berdua di sini."


Marshal melotot tajam. Memandang Viona dan Rio bergantian. Istrinya bilang merindukan Rio, tapi dia tidak pernah bilang merindukan suaminya. Marshal marah, dia tidak suka dibandingkan dengan asistennya. "Rio?"


"Eh?" Rio gelagapan. Menggaruk tengkuk dengan bingung. Dia tahu, Marshal pasti marah jika karena ucapan istrinya. "Kami hanya mengobrol, Tuan." Marshal tetap memandangnya dengan tajam, bahkan tidak mau mengalihkan pandangan ke arah lain. Rio akhirnya menunduk dengan takut.


"Jangan terlalu dekat dengan Rio, Sayang! Kamu jadi melantur sekarang gara-gara dekat dengan dia." Marshal mengusap kepala Viona penuh kelembutan. Istrinya mencibir pelan dan segera menepis tangan Marshal.

__ADS_1


Dalam hati, Rio bersungut-sungut. Kenapa jadi dia yang disalahkan, padahal yang bicara sembarangan adalah Viona. Rio sama sekali tidak melakukan apapun, tapi Marshal seolah menuduhnya sudah mencuci pikiran Viona.


Daripada jengkel dengan tingkah suaminya yang akan semakin memburuk, Viona lebih memilih untuk beranjak dan pergi dari sana sesegera mungkin.


Marshal menahan tangannya. "Mau ke mana? Kenapa selalu menghindariku?" Marshal langsung melepaskan tangannya dengan cepat saat Viona malah memberikan tatapan tajamnya.


Viona masuk kembali ke dalam rumah, Marshal mengikutinya dari belakang. Langkahnya terhenti saat Viona membalik badan dengan cepat. Memandanginya marah dan Marshal langsung mundur dua langkah.


"Jangan mengikuti saya!" Viona berjalan cepat menjauhi suaminya.


Marshal akhirnya diam melihat punggung istrinya yang semakin jauh tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia sampai menelan ludah dengan kasar melihat sikap Viona. Dia harus berhati-hati dengan istrinya sendiri. Viona benar-benar sudah mengendalikannya sekarang.


***


Kejadian pahit yang dilihatnya saat menghadiri sebuah pesta telah membuatnya mengalami kecelakaan parah. Dia yang kala itu sedang menahan api cemburu, kalap dengan keadaan. Mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh, sehingga dia hilang kendali dan akhirnya oleng. Mobil yang dikemudikannya kekurangan keseimbangan, sehingga menyebabkannya terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam.


Karena tidak kunjung pulang, keluarga akhirinya mengerahkan tim polisi khusus untuk mencari keberadaannya. Dua hari mereka melakukan pencarian, korban akhirnya bisa ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan di dasar jurang. Untung saja mobil yang ditumpanginya tidak meledak, sehingga korban masih bisa dikenali meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tubuh penuh luka parah. Mobil yang korban kemudikan pun tak kalah mengenaskan karena mengalami kerusakan yang sangat signifikan.


Di sinilah korban sekarang. Terbaring lemah dengan tubuh penuh alat medis yang terus memantau perkembangannya. Aroma khas rumah sakit begitu menyengat. Pemuda berusia 22 tahun tersebut mengalami koma keduanya setelah koma pertama saat baru ditemukan, dokter melakukan operasi bedah pada punggungnya yang terluka parah saat dia sudah kembali sadar.


Selesai operasi di bagian punggung, korban sempat membaik, namun keadaannya kembali menurun setelah korban mengingat kembali kejadian sebelum dia mengalami kecelakaan. Korban histeris dan nekat turun dari ranjang tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang saat itu masih sangat lemah. Karena sifat keras kepala si korban akhirnya terjatuh ke lantai. Kadaan kepalanya yang belum benar-benar pulih akibat luka parah pun semakin memburuk.


Korban tidak sadarkan diri lagi sampai saat ini. Dia sudah lima hari di rawat di sana, namun belum menunjukkan tanda-tanda akan cepat pulih. Keadaannya malah semakin memburuk dan terus menurun seiring berjalannya waktu.


"Cepat bangun, Sen! Mama gak tega lihat kamu seperti ini." Seorang ibu terus menangis menemani di sisi putranya. Tidak pernah satu detik pun dia meninggalkan putranya sendirian dalam keadaan yang sangat memperihatinkan.


Semua keluarga sedih. Mereka awalnya tidak percaya jika anak laki-laki mereka mengalami kecelakaan. Pemuda tersebut hanya menghilang setelah izin pulang dari pesta pada ayahnya. Namun, orangtuanya mulai cemas saat sang anak tidak kunjung datang ke rumah. Mereka kira putranya menginap di rumah temannya, tetapi setelah menghubungi satu per satu temannya, mereka semakin khawatir. Putra mereka tidak ada di rumah temannya. Dan ternyata, mengalami kecelakaan yang disebabkan olehnya sendiri.


Tangisan sang ibu tidak kunjung surut. Suaminya sampai tidak tega dan terus mencoba untuk menenangkannya. "Sudah, Ma. Sendi pasti sadar. Kita hanya perlu berdoa, jangan menangisinya terus!" Diusapnya punggung sang istri dengan dengan penuh sayang. Dia juga sedih, tapi menangis tidak akan mempercepat anaknya untuk sadar.

__ADS_1


__ADS_2