Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Mau Punya Anak Seperti Zean?


__ADS_3

Semudah itu membuat senyum Viona melebar. Marshal ikut tersenyum melihatnya. "Berangkat sekarang?"


"Ayo!" Viona terlihat semangat, merangkul lengan Marshal, menariknya untuk segera pergi.


Tadi pagi, Miranda menghubungi, memintanya untuk berkunjung ke rumah. Marshal menyampaikan hal itu pada Viona dan istrinya terlihat sangat antusias. Apalagi dia akan bertemu dengan si bocah tampan, Zean. Viona sangat menyukai anak kecil yang keren tersebut.


"Mana Rio?" Viona melihat heran pada Marshal. Tidak ada Rio di sekitar sampai mereka di depan mobil pun, orang tersebut tidak terlihat.


"Dia minta izin untuk libur. Katanya, ada janji temu bersama kekasihnya."


Viona mengangguk-anggukan kepala, memahami. Untung saja Marshal seorang majikan yang baik hati. Jadi, Rio tidak melulu harus bekerja tanpa mengenal waktu dan melupakan kehidupan pribadinya.


"Kenapa? Ayo, masuk!"


Viona malah melihatnya bingung. Marshal membukakan pintu depan untuknya, yang berarti mereka pergi tanpa sopir? Terasa aneh, karena dia jarang melihat Marshal pergi sendiri.


Setelah Viona masuk, Marshal menutup pintunya. Memutari mobil dan ikut masuk, duduk di belakang kemudi. "Anggap saja kita akan pergi berkencan."


Viona meliriknya tersenyum geli. Jika diingat kembali, mereka memang tidak pernah berkencan. Jarang sekali pergi keluar kalau bukan ada acara yang penting. Dan Marshal tidak pernah mengajaknya untuk sekadar nge-date.


Mobil melaju. Marshal terlihat santai mengendalikan kendaraannya. Viona sesekali melirik, merasa terpana melihat suaminya menyetir. Selama menikah, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, dia tidak sering melihat Marshal menyetir. Hanya beberapa kali. Dan kali ini ... Marshal terlihat sedikit menggoda. Sayang jika dianggurkan begitu saja.


"Aku tampan. Aku tahu itu. Tidak perlu berlebihan sampai menganga seperti itu, Sayang."


Viona mendengus, pura-pura ingin muntah melirik ke arah jendela. Susah memang jika mengagumi ketampanan seseorang yang mengakuinya. Tidak bisa dielakkan. Memang benar adanya.


"Nanti, pulangnya mungkin akan malam. Apa mau berkencan sungguhan?" Marshal melirik sejenak pada Viona, kemudian fokus kembali pada jalanan. "Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Tidak pernah membawa Nyonya untuk bersenang-senang. Jadi, nanti malam, mau?"


Bukannya terlihat senang, Viona malah mencebik. "Pulang malam dari rumah kak Miranda, terus nge-date? Paling-paling kita mengantuk di tempat kencan."

__ADS_1


Marshal terkekeh. Benar juga. Waktunya terlalu singkat. "Jika begitu, hari besok aku akan mengosongkan jadwal dan membawamu jalan-jalan. Bagaimana?"


Senyum Viona terbit, mengangguk antusias. Mungkin besok akan menjadi hari spesial untuk mereka. Pertama kalinya Marshal mengajak untuk jalan-jalan. Hanya berdua. Tanpa paksaan dan Viona merasa senang.


Biarkan saja dia dibilang bucin. Kenyataannya memang begitu. Dia tidak akan munafik, jika dia senang berada di samping Marshal untuk sekarang. Dia bahagia menikah dengan suaminya dan sekarang, Viona selalu ingin bersama dengan Marshal, berbagi bahagia, walau hanya sedikit. Karena keterpaksaan itu perlahan hilang, karena rasa yang tumbuh tanpa bisa dicegah. Dimuat dengan keikhlasan dan kepasrahan seorang Viona terhadap nasibnya.


***


Sambutan riang Miranda berikan saat Marshal dan Viona datang. Dia terlihat sangat bahagia, mempersilakan mereka untuk masuk. Kebetulan hari ini suami Miranda sedang tidak ada di rumah, jadi terlihat sedikit sepi. Hanya ada Miranda,anaknya dan beberapa pekerja.


"Hei, Zean!" Viona berseru girang, menggendong bocah tampan yang juga langsung menyongsong tubuhnya. "Aunty rindu!"


Zean tertawa-tawa dalam gendongan. Viona memberikan ciuman bertubi-tubi sampai kepala Zean menggeleng-geleng untuk menghindarinya. Anak cowok itu semakin terlihat lucu dan menggemaskan. Jarang bertemu membuat Viona dan Zean sama-sama menahan rindu. Mereka terlihat bahagia bisa bertemu kembali.


"Om Chal tak dianggap?" Marshal pura-pura ngambek, mengalihkan pandang ke arah lain.


"Saat tahu kalian akan datang, Zean langsung bersorak. Dia senang sekali," ucap Miranda menghampiri. Dia hanya tersenyum melihat putranya bisa akrab dan terlihat bahagia bersama adik-adiknya.


Hari itu mereka habiskan di rumah Miranda. Pertama kali berkunjung bagi Viona. Dia suka suasana rumah kakak iparnya. Terasa hangat, meski hanya tinggal dengan beberapa orang. Terasa hidup, karena Miranda termasuk orang yang suka tanaman juga seperti Lina. Banyak sekali koleksi tanaman hias mahal yang menambah kesan segar dalam tempat tinggalnya.


***


"Viona memang cocok dengan Zean. Anak itu tidak bisa berbaur dengan semua orang, tapi dengan Viona dia sepertinya sangat nyaman."


"Aku juga heran."


Miranda dan Marshal duduk di sofa memperhatikan Viona yang tengah bermain bersama Zean di atas karpet bulu ruangan tengah. Mereka tertawa riang dan terlihat seperti orang yang sering bertemu setiap hari. Sangat akrab dan tidak malu-malu. Terlebih Zean terlihat ceria dari biasanya. Bocah itu menyukai Viona. Jarang sekali dia bisa seakrab itu dengan orang lain, bahkan dengan keluarga sekalipun. Tapi, dengan Viona nampaknya berbeda.


"Eits, mana boleh begitu," Viona mengangkat satu mainan ke atas. Zean tertawa lebar, meloncat-loncat ingin menggapai mainannya dari tangan Viona. "itu curang namanya. Sekarang giliran aunty, okay?"

__ADS_1


Anak tampan itu menggeleng lucu, kembali melompat-lompat, tidak bisa meraih mainannya. "Gak apa-apa, Onty. Zean aja!"


"No, no, no. Sekarang giliran Aunty."


Dengan sengaja Viona mempermainkan bocah itu. Hingga Zean terlihat kesal dan mencebik. Tangan mungilnya mencoba mengambil mainan dari tangan Viona, tapi bibinya malah semakin senang mempermainkan.


"Argh, Onty!" Anak itu menggeram kesal, meremas kedua tangannya sendiri. "Zean aja!" Nada suaranya mulai gemetar.


Viona tertawa, senang telah mengerjai ponakannya. Melihat mata Zean yang mulai berkaca-kaca menahan kesal, Viona menyerahkan mainan itu padanya.  Zean langsung menariknya dan berlari menjauh dari Viona. Anak itu tertawa lagi dan seolah menyuruh Viona untuk mengejarnya.


"Hei, Zean!" Viona ikutan berlari kecil, menyusul.


Zean merapatkan mainan ke perut supaya Viona tidak bisa mengambilnya. Dia tertawa-tawa sambil berlari, menjulurkan lidah mengejek Viona yang tidak bisa mengambil mainan tersebut darinya. Anak kecil itu terlihat sangat bahagia bermain dengan Viona. Hingga senyuman Marshal tidak henti untuk keluar.


Memperhatikan adiknya yang tampak bahagia, Miranda pun ikut tersenyum juga. Dia menyikut Marshal, menyerongkan tubuh ke arah adiknya. "Bayangkan hal ini akan terulang beberapa saat ke depan. Bedanya, nanti anak kalian yang akan berlari-lari seperti itu."


Marshal meliriknya, terdiam. Pikirannya mulai melanglangbuana untuk membayangkan hal itu. Betapa bahagianya, jika dia mempunyai anak laki-laki yang lucu seperti Zean. Viona akan mengasuhnya setiap hari, menjadi tontonan pelipur lelah untuk suaminya. Pemandangan seperti itu akan terjadi, jika mereka mempunyai anak.


"Sayang!"


Viona menghentikan tawanya bersama Zean. Dia melirik ke belakang, Marshal memanggilnya. Tatapan Viona menyiratkan kebingungan dan Marshal hanya tersenyum. Menggeser pandangan pada Miranda, kakak iparnya itu juga hanya mengukir senyum. Viona semakin bingung.


"Apa kamu mau punya anak seperti Zean?"


Mulanya Viona mengernyit, tapi kemudian senyuman terbit, dia mengangguk cepat. "Zean lucu dan tampan. Sangat menggemaskan." Viona meraih tubuh Zean, mencubit pipinya gemas membuat Zean melihatnya dengan tatapan tidak terima. Viona hanya tertawa, menundukkan kepala dan memberikan kecupan di pipi bekas cubitannya.


"Nanti bikin sepuluh. Kata Marshal." Miranda ikut menimpali, tersenyum geli melihat mata Viona melotot tajam.


"Kebanyakan," lirih Viona, menelan ludah pelan.

__ADS_1


__ADS_2