Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Itu ... Sendi?


__ADS_3

Sungguh sangat menyedihkan!


Hari minggu yang biasanya dia lalui dengan tawa, kini berubah jadi sengsara.


Marshal ada di rumah hari libur. Mau tidak mau Viona harus menemaninya yang tanpa sedetik pun Marshal membiarkan Viona terlepas dari pandangannya.


Dia di kurung di kamar oleh Marshal dengan alasan tidak mau Viona berperilaku seperti semalam saat Viona yang mencoba menjauh darinya.


Viona menjauh juga bukan tanpa alasan, dia hanya mengingat ucapan Amanda. Bukan Viona takut pada peringatan Amanda, hanya saja dia tidak mau merusak hubungan Marshal dengan kekasihnya. Dia tidak mau ikut campur urusan mereka. Jika Amanda tahu, Viona dan Marshal tidur seranjang, maka sudah dipastikan jika Amanda akan marah dan mungkin membenci bahkan memakinya.


Viona tidak mau itu semua terjadi. Dia harus menjaga hubungan orang lain dan menepati ucapannya pada Amanda bahwa Viona tidak boleh membiarkan Marshal menyentuhnya.


Jadilah semalam Viona memaksa untuk tidur di kamarnya. Tapi Marshal yang berkuasa, tetap tidak membiarkan Viona. Dia tetap mengharuskan Viona tidur  bersamanya dengan berbagai ancaman yang membuat Viona ketakutan.


Kapan dia mati? Aku ingin keluar. Jika dia terus berada di sini, kapan aku bisa bernapas? batin Viona.


Mengalihkan kekesalan dengan melihat ponsel. Viona duduk menyamping, menghindari tatapan Marshal yang dari tadi tidak lepas memandangi wajah cantiknya.


Dari pagi, Viona tidak di izinkan keluar dari kamar Marshal. Dia hanya bisa keluar saat sarapan saja, itupun bersama dengan Marshal. Viona mendengus pelan, kenapa hidupnya jadi seperti ini? Tidak ada kebebasan sama sekali. Dia sungguh merasa ... terpenjara.


****


Dua laki-laki berbeda usia namun terdaftar dalam satu kartu keluarga yang sama itu berdiri di depan pintu besar bergagangkan marmer putih dengan kilatan yang mewah, berukuran besar.


  Sudah beberapa kali bel dibunyikan, namun pintu tak kunjung dibukakan. Mereka menunggu dalam diam. Namun mengumbar senyum berbarengan sedetik kemudian.


Ada wajah wanita yang mengenakan seragam. Tersenyum ramah saat membukakakan pintu. "Maaf, ingin menemui siapa?" tanya wanita yang sepertinya penghuni rumah yang berseragam. Dalam artian kasar, pelayan.


"Saya ingin menemui tuan Marshal," ujar laki-laki paruh baya menyahuti.


Pelayan itu mengangguk dan tersenyum. "Baik. Silahkan masuk, Tuan!"


Dua laki-laki yang berstatus ayah dan anak itu masuk ke dalam setelah dipersilahkan.


"Silahkan duduk dulu! Saya akan menyampaikan pada tuan terlebih dahulu."


Arga dan puteranya duduk di sofa sedangkan wanita tadi berlalu dari ruang tamu. Menemui Marshal yang sedang berada di kamarnya bersama sang nyonya muda.


Marshal membuka pintu kamarnya saat suara ketukan terdengar. "Ada apa?"


Wanita itu menunduk. "Ada tamu ingin menemui Anda, Tuan."


Marshal mengernyit. Dia tidak ingat jika punya janji siang ini. Siapa yang menemuinya? "Aku akan segera turun. Berikan tamunya suguhan!"


"Baik, Tuan." Wanita pekerja itu membungkuk dan berlalu.


Marshal kembali lagi ke kamarnya. Viona masih asyik dengan ponsel di tangan hingga tidak menghiraukan keberadaan suaminya.


"Aku ke bawah dulu. Ada tamu, katanya."


"Hmm..." Viona hanya bergumam dan mengangguk tanpa menoleh. Marshal yang kesal dengan sikap istrinya, langsung duduk di samping Viona dan merebut ponselnya secara paksa.


Viona memandang Marshal nyalang. Dia kaget tapi juga kesal. Sedang asyik-asyik bertukar kabar dengan sahabatnya, malah diganggu oleh Marshal.

__ADS_1


"Kenapa? Mau marah? Aku yang harusnya marah," ucap Marshal memasukan ponsel Viona ke saku celana chino-nya. "Aku bicara tapi kamu tidak mengindahkannya dan malah asyik dengan handphonemu."


Viona menunduk. Memainkan jemari dipangkuan. "Maaf, Tuan," ucapnya dengan lirih. Terlihat sekali jika dia menyesali perbuatannya dan merasa bersalah pada Marshal. Namun, dalam hatinya,


Apa dia tuli? Bukankah tadi aku mendengarkan bahkan menanggapi ucapannya? Kenapa dia bilang aku tidak mengindahkannya? Lalu aku harus apa? Aku harus merekam suaranya lalu disimpan di dalam saku celana? Biar dia tau jika aku mengindahkannya? Menyebalkan! batin Viona.


Marshal menghela napas. Menatap Viona dengan lekat. Diraihnya wajah sang istri hingga mendongak. "Jika aku bicara, tatap aku! Jangan acuhkan aku begitu!" Viona hanya mengangguk saja seperti bocah yang diperingatkan untuk tidak membeli ek krim, namun besoknya dia melanggar.


Ya, itulah Viona. Besok dia juga pasti begitu. Mengangguk lagi, dimarahi lagi. Terus saja begitu. Lama-lama kepala Viona akan seperti boneka yang ditempel di dashboard mobil. Menganggukan kepala sembari melambai.


"Ada tamu di bawah. Aku harus menemuinya. Kamu jangan keluar kamar sebelum aku kembali!"


Yasudah. Sana pergi! Kenapa malah diam di sini? celetuk batin Viona.


Marshal berlalu keluar dari kamar. Viona mengumpat dalam gumaman. Sikap Marshal selalu saja menyebalkan. Sekarang apa yang bisa dia lakukan? Ponselnya disita oleh Marshal dan kemungkinan akan lama dikembalikan.


"Menyebalkan!"


Marshal mematung saat memasuki ruang tamu. Dari jarak yang agak jauh, dia terpaku melihat kehadiran Arga dan ... Sendi.


Dia tidak masalah dengan kedatangan Arga, karena sebelumnya juga Arga sudah mengabari jika akan berkunjung ke rumahnya untuk sedikit berbincang santai mengenai proyek baru mereka. Namun, Arga berjanji akan datang malam, bukan siang hari.


Kenapa juga ada Sendi di sana? Kenapa Arga mengajak Sendi untuk datang? Jika Viona melihatnya, Marshal tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya.


Bisa saja Viona malah kembali teringat dengan Sendi dan meninggalkan Marshal begitu saja. Dia tidak mau itu terjadi. Pokoknya, Jangan sampai Viona mengetahui kedatangan Sendi.


Tapi Marshal sedikit bernapas lega. Dia sudah mengurung Viona dan memperingatkannya supaya tidak keluar dari kamar. Jadi sedikit kemungkinan jika Viona bertemu dengan Sendi.


"Assalamu'alikum, Tuan Arga yang terhormat! Saya kira akan datang nanti malam," ucap Marshal dengan ramah. Mengulurkan tangan kepada Arga.


"Waalaikumsalam. Mohon maaf, saya tidak mengabari kembali," ujar Arga dengan sungkan.


Marshal beralih menatap Sendi. Mengulurkan tangannya serta tidak lupa mengumbar senyuman ramah guna memperlihatkan formalitasnya.


Pandangan keduanya terkunci dalam diam. Sendi langsung memperlihatkan sorotan permusuhannya pada tatapan pertama. Jabatan tangan antara mereka semakin menguat tanpa berniat melepaskan dari salah satunya.


Arga merasa tidak enak hati saat melihat mereka berhadapan saling diam. Dia memang salah sudah menuruti keinginan Sendi untuk ikut. Arga tahu, keadaannya pasti jadi seperti ini saat Sendi dan Marshal dipertemukan. Makanya sejak awal dia menolak Sendi untuk ikut.


Namun, dengan segala bujuk rayu Sendi, akhirnya Arga mengizinkan karena Sendi mengancam akan tinggal di luar negeri bersama neneknya jika tidak diizinkan ikut.


Arga berdehem pelan guna menghilangkan ketegangan dan perlahan mereka melepaskan jabatan tangan.


"Silahkan duduk!" ucap Marshal dengan tersenyum. Dia harus bisa menahan diri. Bagaimanapun juga Arga adalah rekan bisnisnya. Dia harus menghormati Arga, meskipun rasa permusuhan yang dipancarkan Sendi sudah diterimanya.


Selama berbincang dengan Arga, Marshal sesekali melirik pada Sendi yang celingukan melihat setiap sudut ruangan. Sepertinya Sendi mencari keberadaan Viona.


Marshal tersenyum dengan samar. Sendi tidak akan bisa bertemu dengan Viona karena Marshal sudah mengurungnya di dalam kamar dan Viona tidak mungkin berani membantah ucapan Marshal untuk keluar.


"Tapi sepertinya dana yang dikeluarkan juga sudah maksimal. Kemungkinan besar, proyek kita akan cepat selesai," ucap Arga mendapat anggukan senang dari Marshal.


"Em, Tuan," ucap Sendi, "Viona-nya kemana, ya?"


Marshal terdiam menatap Sendi dengan tajam. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Terkejut sekaligus geram. Begitu pun dengan Arga yang langsung memelototkan matanya pada Sendi.

__ADS_1


Bisa-bisanya Sendi bertanya seperti itu pada Marshal. Padahal Arga sudah mewanti-wanti sebelum berangkat, supaya Sendi tidak membahas Viona di depan Marshal. Sekarang Sendi malah melakukan hal bodoh yang  sudah diperingatkan berkali-kali, tapi tetap saja masih dia tanyakan.


Arga melirik pada Marshal yang malah tersenyum kepadanya. Dia menjadi malu atas apa yang sudah Sendi tanyakan. Tapi Marshal malah tersenyum seolah Sendi tidak melakukan kesalahan.


"Viona ada di kamar. Dia sedang istirahat," ucap Marshal dengan menahan suara supaya terdengar seramah mungkin di depan Arga. Padahal hatinya sudah mengumpat dengan kasar. Berani sekali Sendi menanyakan Viona padanya.


Sendi terlihat kecewa mendengar ucapan Marshal. Dia sangat ingin bertemu dengan Viona.


Arga menyentuh tangan Sendi saat dia akan berucap lagi. Tatapan tajam Arga memperingatkan supaya Sendi terdiam dan berhenti bicara pada Marshal. Tapi Sendi yang sudah panas menahan rindu, dia pun bertanya, "Bisakah saya bertemu dengan Viona?"


Marshal terbelalak. Anak ini semakin berani saja. Rasanya Marshal ingin menyumpal mulutnya dengan bogeman jika saja tidak ada Arga di sana.


Arga yang sudah kepalang geram, mencengkram tangan Sendi dengan kuat hingga puteranya meringis. Mereka bertatapan. Tentu saja tatapan Arga sangat tajam saat memperingatkan. Sendi jadi menunduk menuruti keinginan ayahnya.


Marshal bisa sedikit tenang saat Sendi sudah terdiam. Dengan rasa canggung, Arga dan Marshal kembali membahas perusahaan dan mengabaikan hal yang barusan terasa mencekam.


"Mba! Mba Erni!"


Deg, tubuh Marshal langsung menegang saat mendengar suara istrinya berteriak. Begitu pun dengan Arga. Namun Sendi, dia langsung berdiri untuk segera menemui sang pujaan hati.


Dengan sigap Arga menahan tangan Sendi yang akan beranjak. "Duduk!" ucapnya lirih pada Sendi dengan penuh penekanan.


Sendi menatap sekitar, dia ingin menemui Viona. Peringatan Arga tidak dia hiraukan. Hanya fokus untuk mencari keberadaan Viona. Dia ingin melangkah lagi, namun Arga semakin kuat menahannya hingga terduduk kembali. "Diam di sini!" ujar Arga dengan lirih namun tetap memberikan sorotan tajamnya.


Napas Marshal tidak beraturan. Debar jantungnya pun sama, tidak karuan. Jangan sampai Viona dan Sendi bertemu. Dia juga geram, kenapa Viona malah turun bukannya diam saja di dalam kamar sesuai perintahnya.


  Sendi tidak bisa tenang. Tetap celingukan. Rindu ingin bertemu dengan Viona sangatlah kuat dia rasakan. Dia harus segera mencari keberadaan Viona bagaimanapun caranya.


Suasana ruang tamu berubah tegang. Keadaan hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara di antara mereka. Hingga tubuh mereka kembali tegang saat suara Viona kembali terdengar.


"Mba, dimana?" teriak Viona lagi.


Marshal tidak mau ambil resiko. Dia segera berdiri untuk menghampiri Viona sebelum istrinya sampai di ruang tamu dan melihat Sendi. Namun dia kalah cepat. Viona sudah berjalan mendekat ke arah ruang tamu. Dia tersenyum pada Marshal. Ternyata, Viona belum menyadari kehadiran Sendi.


"Tuan, Mba Erni kema-" Viona menghentikan langkahnya saat Marshal dengan sigap memeluknya dari depan. Mencegah Viona untuk melihat ke arah ruang tamu. Tapi Viona yang tidak nyaman, segera berontak dan melepaskan diri.


"Saya mencari Mba Erni, Tuan. Apa Tuan melihatnya?" Viona mendongak menatap Marshal yang sudah berkeringat di pelipis. "Saya-"


"Viona!"


Deg. Viona langsung terdiam mendengar suara panggilan yang tidak asing ditelinganya. Suara itu? Suara yang dia hindari belakangan ini. Kenapa kembali terdengar?


"Viona, ini aku, Vi!"


Panggilannya terdengar lagi. Viona belum berani bergerak. Napasnya tercekat. Apa dia salah mendengar? Kenapa suaranya sama dengan ...


"Vi, aku rindu padamu."


Viona mendorong tubuh Marshal yang menghalanginya. Dia mematung di tempat melihat orang yang sudah berdiri di sana, sedang menatapnya.


Orang yang menempati hatinya. Orang yang dicintainya. Ada di sini. Dihadapannya.


Apa aku bermimpi? Itu ... Sendi? Kenapa dia ada di sini?

__ADS_1


__ADS_2