
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Mereka melihat kearah pintu berbarengan, melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata.
Pintu terbuka. Seorang wanita yang masih memakai gaun kebaya dengan riasan make up yang menempel sempurna di wajahnya terlihat dibalik pintu yang sudah terbuka itu. Dia menyunggingkan senyumannya.
"Eh, ada besan disini" ucapnya ramah dengan masih berada di ambang pintu.
Wanita itu adalah Rahma-ibu Marshal, yang tak lain adalah ibu mertua Viona sekarang.
Heru dan Lina melempar senyum melihatnya.
"Saya mengganggu?"
"Tidak. Silahkan masuk, Nyonya!" Ujar Lina penuh ramah.
Dengan senyuman yang masih terukir, Rahma masuk dan duduk disofa yang bersebelahan dengan sofa yang diduduki keluarga Pratama.
Lina menatap Viona. Tersenyum lalu mengelus pipinya lembut. "Kita pulang dulu ya, Sayang"
Melihatnya, Rahma merasa tidak enak hati saat ini. Dia merasa sudah mengganggu waktu keluarga Pratama. Dia merasa datang diwaktu yang kurang tepat 'pikirnya.
"Kenapa buru-buru, Besan?"
"Ini sudah malam, Nyonya. Kami juga merasa sangat lelah. Lebih baik kami pulang saja. Lagian dirumah juga masih ada kerabat yang harus kami temui" sahut Heru ramah
Rahma tersenyum dan mengangguk memahami.
"Mama pulang, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik! Kalo ada sesuatu jangan lupa untuk mengabari kami! Jika ada keluhan katakan pada kami! Jika kamu terluka beritahu kami, jangan menutupinya dari kami! Kamu masih Viona anak kami. Anak yang selalu akan kami sayangi" Lina memeluk Viona.
"Mama, Mama ini kenapa? Mama bicara seperti aku akan pergi keluar benua saja. Aku akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Justru aku yang harusnya berkata seperti itu..."
Viona melepaskan pelukannya. Menatap kedua orang tuanya bergantian. "Kalian harus jaga diri kalian. Harus tetap sehat! Tetap bahagia! Aku hanya ingin melihat kalian tersenyum bahagia. Jika ada keluhan katakan padaku! Jika ada masalah bicarakan padaku, jangan menyembunyikannya sendiri! Jangan memendam peluh sendiri! Berbagilah padaku... kalian gak perlu khawatirkan aku. Aku akan selalu bahagia demi membuat kalian bahagia. Jadi tidak usah lebay terlalu mengkhawatirkanku seperti itu" ujar Viona membuat kedua orangtuanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Anaknya terlalu berlebihan saat mengingatkan orangtua.
"Kami bukan lebay, Sayang. Kami hanya mengkhawatirkanmu"
"Apa kalian lupa siapa puteri kalian ini?" Sambar Viona melihat kedua orang tuanya bergantian. "Aku adalah Viona, si 'Wanita kuat setegar karang'.. apa kalian lupa, huh? Sampai kalian mengkahawatirkanku seperti itu" ujar Viona yang langsung mendapat cubitan dipipi dari Heru yang melihatnya gemas. Sedangkan yang dicubit malah tertawa.
Lina dan Heru kembali memeluk Viona dengan sayang "Jadilah istri yang baik! Jangan pernah membantah suamimu! Lakukan semua tugasmu dengan baik! dan Berjanjilah!.. kamu akan selalu bahagia" Heru menepuk-nepuk punggung Viona dengan Sayang.
"Baik Tuan Pratama yang terhormat!" Sahutnya semangat membuat semua orang yang ada disana tertawa geleng-geleng kepala.
Ternyata Chal tidak salah pilih istri.
Rahma tersenyum melihat kehangatan keluarga besannya tersebut.
"Sudah, Sudah, ah! Malu diliatin sama mertua kamu" ujar Heru melepas pelukannya sembari melihat kearah Rahma yang dari tadi hanya melihat mereka dengan tak lepas mengukir senyuman.
Viona kini menunduk malu. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu disaat ada Rahma. Dia lupa jika Rahma ada disana.
"Keluarga kalian begitu hangat" ujar Rahma setelah kepergian Heru dan Lina dari ruangan itu.
Viona tersenyum canggung menimpali.
"Chal kemana?"
"Mungkin masih bersama para koleganya" sahut Viona ragu mendapat anggukan paham dari Rahma.
__ADS_1
"Ini, tolong berikan pada Chal. Mama tadi tidak sempat memberikannya langsung. Jadi Mama titipin aja ke kamu, ya?" Rahma menyerahkan sebuah paperbag pada Viona.
"Iya, Nyonya. Nanti saya sampaikan padanya" ujar Viona mendapat sorotan tajam dari Rahma.
Apa aku salah bicara? Tanya hatinya bingung mendapat tatapan seperti itu.
"Kenapa masih memanggilku Nyonya? Bahkan sekarang aku sudah menjadi Mama mertuamu. Jangan memanggilku Nyonya lagi! Panggil aku MAMA!" ujarnya kesal. Viona jadi kikuk sendiri.
Ternyata aku salah memanggil.
"Iya, Ma" Viona menerimanya lalu meletakannya di samping meja.
"Yaudah, kalo gitu Mama pulang dulu ya" Rahma beranjak dari duduknya diikuti Viona yang sontak ikut berdiri juga. "Dah, Sayang. Mama pergi dulu" Rahma melambaikan tangannya kemudian keluar dari ruangan itu.
.......
Saat Viona sedang membersihkan make upnya dan melepas gaun pengantinnya dibantu oleh petugas wardrobe, Marshal masuk keruangan itu dengan ekspresi wajah datar dan mengenakan setelan tuxedo yang terlihat mewah dengan warna merah senada dengan gaun Viona dan dikombinasi dengan warna hitam kain bludru yang membuatnya semakin terlihat gagah.
Dia melihat Viona sejenak lalu duduk di sofa sembari melihat kearah Viona kembali.
"Kalian keluar dulu! Aku ingin bicara dengannya" ucapnya mengintruksikan pada para petugas wardrobe.
Tanpa bersuara mereka berjalan pergi dari ruangan.
"Hei, Mba! Ini gaunnya gimana? Saya gak bisa buka sendiri" teriak Viona panik saat para petugas itu pergi dari ruangan.
Mereka tidak menghiraukannya, dan tetap pergi keluar ruangan sesuai dengan intruksi dari Marshal. Mereka menuruti saja, karena mereka juga segan terhadap Marshal.
Viona bingung karena gaun yang ia kenakan belum terlepas. Hanya baru bagian ritsleting yang ada dibagian punggungnya saja yang baru terbuka oleh petugas wardrobe tadi.
Dia meraih tubuh Viona supaya mendekat padanya hingga Viona begitu kaget dibuatnya karena tiba-tiba ditarik seperti itu.
Tubuh mereka sangat dekat saat ini. Marshal melirik Viona dari atas sampai bawah, membuat Viona semakin gugup dibuatnya menatap heran pada Marshal.
Marshal memegang bahu Viona yang sontak Viona jadi gemetaran dengan detak jantung yang mulai tak beraturan.
Marshal melorotkan baju bagian bahu kanan Viona yang membuat Viona semakin gemetaran.
Apa yang akan dia lakukan?.. perasaan Viona sudah harap-harap cemas.
Dengan segera Viona menepis tangan Marshal hingga terlepas dari bagian gaun yang bagian bahunya sudah melorot memperlihatkan bahu mulusnya.
"Kenapa? Aku hanya akan membantumu membuka gaun yang merepotkan ini"
Viona menggeleng cepat. "Ti-tidak usah, Tuan. Saya bisa sendiri" tolaknya halus dengan ritme jantung yang masih tak karuan.
"Terserah" ucap Marshal santai kemudian membalik tubuh Viona memunggunginya. Dia kemudian menaikan ritsleting gaun yang berada dipunggung Viona. Lalu kembali duduk ke sofa dengan santainya.
Viona yang masih kaget, lalu membalikkan badannya melihat kearah Marshal dengan kesal.
Dasar menyebalkan! Umpatnya dalam hati sembari melirik Marshal penuh kebencian.
Sedangkan yang dilihat hanya duduk dengan santai sembari memainkan ponselnya tanpa menghiraukan Viona yang terlihat begitu kesal karena Marshal malah menaikan ritsletingnya kembali. Padahal bagian itu lah yang paling sulit untuk dia raih. Apalagi dibagian punggung, sangat sulit untuk membukanya.
Bagaimana aku bisa melepaskan gaun ini? Kenapa dia malah menaikan ritsletingnya lagi. huh dasar menyebalkan! Sekarang aku harus bagaimana? Aku sulit membukanya.
Viona kembali membalikan badannya. Diam menatap cermin besar didepannya. Dia tak jadi melapaskan gaunnya karena dirasa gaunnya akan sulit untuk dilepas. Boro-boro melepas semua gaunnya, melepas ritsletingnya saja tidak bisa. Itukan kunci dari gaunnya. Kuncinya saja tidak dapat dilepas apalagi gaunnya.
__ADS_1
Marshal tersenyum melihat Viona yang diam menatap cermin penuh kekesalan.
Makanya, kalo dikasih bantuan itu jangan nolak. Jadi susah sendiri'kan.
"Heh! Kenapa malah diam?.. katanya mau buka gaunnya" Bentak Marshal yang mengagetkan Viona.
Viona langsung berbalik badan masih menampakkan kekesalannya, "Bagaimana saya bisa membuka gaun ini, Tuan malah menaikan ritsletingnya. Tangan saya susah untuk menjangkaunya"
"Tadi kamu bilang bisa sendiri. Coba lakukan!" Tantang Marshal dingin sembari tetap fokus kembali dengan ponselnya.
Viona tak menghiraukannya, dan mencoba meraih ritsleting dengan tangannya dari atas, bagian tengkuk. Dan ritsletingnya bisa turun sedikit. Hanya Sedikit tapi.
Kemudian dia mencoba meraih ritsletingnya dari bagian bawah, berharap bisa menurunkannya dari bagian bawah. Dengan susah payah, hasilnya nihil. Ritsletingnya tidak bisa dijangkau dari bawah. Tangannya sulit menjangkau kuncian ritsleting yang sudah berada di tengah punggungnya.
Viona mendengus kesal. Beberapa kali mencoba membuka semuanya tetap saja hasilnya tidak memuaskan. Ritsleting yang turun hanya sedikit bahkan tidak setengah dari panjang ritsletingnya. Itupun hanya di bagian atas, yang dia raih dari atas bagian tengkuknya.
Dan akhirnya dia memilih pasrah. Mendudukan diri di depan meja riasnya dengan wajah yang teramat cemberut juga mulai emosi sendiri.
Kenapa susah sekali sih? Kemana orang wardrobe tadi? Kenapa mereka belum kesini juga? Mereka lama sekali. Aku sudah tidak enak ini, ingin segera terlepas dari gaun yang merepotkan ini.
Viona melihat bayangan Marshal yang terlihat dari cermin didepannya. Marshal yang terlihat asyik dengan ponselnya membuat Viona semakin kesal.
Kenapa dia begitu menyebalkan? Ingin rasanya aku kabur sekarang juga. Kenapa aku bisa bertemu dengan orang yang begitu menyebalkan sepertinya? Aku ingin kabur bahkan tidak ingin melihatnya lagi.
Nyinyir Viona penuh kesal sembari terus melihat bayangan Marshal dari cermin dengan kata-kata menyebalkan.
Marshal yang sedari tadi hanya curi-curi pandang, dia merasa puas melihat Viona yang terlihat begitu geram dengannya.
Marshal menghampiri Viona kemudian memegang bahunya yang membuat Viona tersentak kaget. "Sini aku bantu bukain" tawarnya dingin.
Viona melihat Marshal yang berada dibelakangnya lewat cermin. Dia langsung berdiri. Berbalik badan. Kemudian menjauhkan tubuhnya dari Marshal. "Tidak usah" ketusnya membuat Marshal mendecak.
"Tadi katanya susah buka gaunnya, aku hanya ingin bantu" Marshal kembali meraih tubuh Viona, Namun Viona malah kembali menjauh darinya. "Tidak usah, Tuan. Nanti biar dibantu sama Mba-Mba wardrobe yang tadi"
"Mereka gak bakal kesini lagi. Apa kamu mau sampai pulang terus memakai gaun yang menjuntai seperti ini? Apa ini tidak merepotkan?. Aku saja yang melihatnya merasa ribet" bentak Marshal menyadarkan Viona dengan keadaannya.
Benar juga. Tapi aku gak mau dibantuin dia. Gimana dong nih? Aku gak mungkin pulang kaya gini. Ini sangat ribet. Masa aku harus mau aja dibantuin sama dia?..
Viona diam dalam bingungnya.
"Sini! Aku bantu bukain" Marshal mendekat pada Viona. Membalikkan tubuh Viona. Tidak ada penolakan lagi dari Viona, karena dia juga ingin segera melepas gaun yang sangat merepotkan ini dari tubuhnya.
Marshal kemudian menurunkan ritsletingnya. Saat ritsletingnya terbuka, punggung putih mulus Viona tentu saja tidak terlalu terekspos. Hanya dibagian atas sejajar bahu saja yang terlihat karena Viona memakai kemben tipis didalam gaunnya.
Saat Marshal sedikit demi sedikit menurunkan ritsletingnya, Viona yang sedari tadi merasa canggung juga gerogi nampak diam, berpikir keras.
Tunggu! Kalo gaunnya dilepas, terus aku pake apa nanti? Aku kan gak bawa baju ganti. Kenapa aku bisa lupa gini sih?..
Viona dengan segera meraih tangan Marshal. Dan segera menaikan kembali gaun bagian atas yang sudah hampir melorot hampir kesiku dan sudah turun melewati dadanya.
Marshal menatapnya heran, karena Viona malah kembali membenarkan gaunnya.
"Maaf, Tuan. Jika gaunnya dilepas, nanti saya pakai apa? Saya tidak bawa baju ganti" Tutur Viona menatap Marshal yang masih terlihat bingung.
"Telanjang"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1