Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Ada Apa Ini?


__ADS_3

"Chal, jangan ...!" Viona berlari cepat ke arah suaminya. "Kamu ini apa-apa, sih?!" Dia menepis tangan Marshal yang sudah kembali menodongkan pisau ke leher Rio.


"Sshh ...."


Prak!


Marshal langsung melepaskan pisau itu dari tangannya saat melihat darah keluar dari leher Rio.


Viona panik dan langsung memeriksa luka yang ada di leher Rio. Dia mengusap darahnya. Untung saja hanya tergores sedikit di bagian sampingnya, tidak sampai mengenai uratnya. "Kita ke dokter sekarang!"


Rio juga terlihat panik dan sangat kaget. Dia melihat tangan Viona yang berdarah setelah mengusap lehernya. Rio pun ikut mengusap lehernya, ternyata masih berdarah. "Apa ini luka besar, Nyonya?"


"Sedikit, tapi berdarah. Sudah, ayo ke rumah sakit!"


Rio menelan ludah melihat tangan Marshal yang mengepal di samping paha. Tatapan majikannya tajam menghunus padanya. Sangat terlihat jika napasnya juga menggebu-gebu menahan amarah. "Ti-tidak perlu, Nyonya." Rio tidak mau kemarahan Marshal semakin menjadi. Dia memilih mengusap lehernya menghilangkan darah yang merembes akibat goresan pisau barusan.


"Kamu terluka, Yo! Kita harus ke rumah sakit sekarang!"


Rio malah menggeleng cepat. Dia tetap melihat majikannya dengan takut. Marshal sungguh ingin membunuhnya. Melihat hal itu, Viona berbalik badan pada Marshal. Dia memandang marah pada suaminya yang juga terlihat lebih marah darinya.


"Kamu sungguh mau membunuh Rio? Aku tidak menyangka kamu bisa sekejam itu."


"Siapa yang kejam?! Kau lebih dulu menyalakan api, Viona Azzahra Pratama! Kau mempermainkanku! Di mana otakmu sampai berani mengkhianatiku seperti ini?!" Marshal memandang istrinya penuh kebencian. Viona benar-benar membuatnya gelap mata. Seharusnya dia membunuh dua manusia itu sekarang juga. Dia sakit hati. Perasaannya hancur saat tahu, dua orang yang sangat dekat dengannya malah berkhianat.


Viona menelan ludah kasar melihat tatapan membunuh yang dipancarkan oleh suaminya. Dia berbalik melihat Rio. Matanya memanas melihat darah di leher Rio yang kembali merembes. Dia ingin menangis. Kasihan pada Rio. Tapi, laki-laki itu terus saja menolak untuk dibawa ke rumah sakit.


"Ayo, aku obati biar darahnya gak keluar lagi!" Viona menarik tangan Rio keluar dari dapur. Langkah mereka terhenti karena Marshal menarik tangan Viona dan langsung mendorong tubuh Rio sampai tersungkur ke lantai. "Apa? Kamu belum puas udah nyakitin Rio? Kamu mau bunuh aku juga? Sini, bunuh aku! Ayo!" Dengan berani, Viona menyodorkan lehernya pada Marshal yang tidak mau melepaskan tangannya.


Marshal menatap Viona tidak terbaca. Pikirannya berkecamuk saat ini. "Seharusnya dari dulu kita emang berpisah, bukan? Aku rasa sekarang aku menyesal telah mengenalmu. Aku terlalu bodoh sampai mau menikahi wanita kotor sepertimu. Kau berkhianat, Zahra. Kau munafik! Sialan!"


Tanpa bisa ditahan, air mata Viona mengalir begitu saja. Entah kenapa dia merasa sakit hati saat Marshal mengatakannya. Marshal menyesal menikahinya? Ingin mereka berpisah? Air mata mengalir tanpa bisa dicegah. "Kamu talak aku?" Viona menangis miris mengatakannya. Melihat Marshal yang hanya diam, tangisannya malah terdengar keras.


Rio segera berdiri ke hadapan mereka. Dia sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Tuan ...." Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang.

__ADS_1


Marshal beralih melirik padanya. Tatapan yang masih penuh amarah tetap melekat di matanya. "Kau tidak perlu mengajukan surat pengunduran diri. Aku sendiri yang memberhentikanmu. Sekarang enyahlah dari hadapanku!"


"Chal ...." Viona sangat terkejut, begitu juga Rio. Kemarahan Marshal sudah sampai pada batasnya.


"Dan kamu,"-Marshal menunjuk tajam wajah istrinya-"kita sudahi semua ini sampai di sini! Aku muak melihatmu! Kau pengkhianat! Aku benci punya istri sepertimu! Benci, munafik!"


"Chal!" Viona memeluk tubuh suaminya dengan erat. Tangisnya pecah semakin keras.


Marshal terdiam justru heran melihat tanggapan istrinya dan Rio. Dia mencoba melepaskan Viona dari tubuhnya, tapi Viona malah semakin erat memeluknya.


"Jangan talak aku!"


Marshal tidak mengerti dengan ucapan istrinya. Bukankah tadi Viona yang bilang ingin mereka berpisah? Dia ingin bersama Rio karena mencintainya, kan? Tapi, sekarang ...


Prok ... prok ... prok!


Suara tepuk tangan menggema di ambang dapur. Semua mata tertuju ke asal suara.


"Aduh, sampai berdarah-darah?" Wisnu memisahkan diri dari kerumunan orang. Dia mendekat ke arah Rio. Melihat luka yang masih mengeluarkan darah dari sana. "Siapa yang mulai bersenjata?" Wisnu terkekeh pelan melihat Marshal yang masih dipeluk erat oleh Viona.


"Apa ini, Pa?" Marshal langsung blank. Dia tidak bisa mengira apa yang terjadi. Dia kebingungan mencerna semuanya. "Sayang?" Marshal mencoba melepaskan pelukan istrinya. Tapi, tidak bisa. Viona menggelengkan kepala di dadanya, tidak mau melepaskan diri, masih menangis sejadi-jadinya.


Marshal sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Keluarga Atma dan Pratama berkumpul di sana. Tersenyum melirik ke arahnya yang masih kebingungan dengan keadaan.


"Pa?"


Wisnu tertawa keras. Tawanya menggema seraya berjalan mendekat ke arah Marshal. Dia menepuk pundak putranya yang masih terlihat seperti orang linglung. "Kenapa istrimu menangis? Kamu apakan dia?"


Alis Marshal terangkat semakin tidak mengerti. Dia melihat lagi istrinya. "Ra?" Marshal tidak tahu apa yang terjadi, ada apa saat ini. Dia mengusap punggung istrinya yang bergetar karena tangisannya tidak kunjung mereda. "Sayang?" Marshal malah lupa dengan amarahnya. Yang dia rasakan saat ini hanya rasa bingung dengan keadaan.


"Ha-happy ... hiks ... b-birth-birthday, Sa-sayang ... hiks!" ucap Viona tidak jelas karena dia masih tersedu-sedu. Perlahan Viona mengangkat kepalanya. Dia mendongak menatap mata suaminya yang juga sedang menunduk bingung melihatnya. Viona memaksakan bibirnya untuk tersenyum, walaupun air matanya kembali mengucur. "S-selamat ... hiks-hiks ... ulang t-tahun."


Marshal tertegun memandangi istrinya di saat semua orang yang ada di sana memberikan sorakan girang dan mengucapkan, "Selamat ulang tahun!" berbarengan.

__ADS_1


Butuh beberapa kali kerjapan mata untuk Marshal kembali sadar pada keadaan. Dia langsung tersentak saat mendapat ciuman di pipi secara tiba-tiba. Marshal terkejut mendapat ciuman mendadak dari istrinya. "Sayang?"


Viona mengangguk-anggukan kepalanya cepat. Memberikan senyuman dengan wajah yang sudah berantakan dibanjiri air mata. Marshal ikut menangis melihatnya. Dia memeluk istrinya dengan erat serta mengucapkan kata, "Maaf."


"Jangan talak aku!" Viona justru menangis lagi masih mengingat ucapan suaminya yang tadi. Hatinya mencelos mendengar semua penuturan Marshal. "Aku minta maaf!"


"Sst ... aku yang minta maaf! Aku udah marahin kamu." Marshal melerai pelukan, mengusap wajah istrinya yang sudah terlihat begitu berantakan. "Jadi ... kamu sama Rio?"


Wisnu tertawa kencang sambil menepuk kembali pundak Marshal. "Salahkan papa untuk semuanya!"


"Papa!" Marshal menggeram kesal melihat ayahnya. Tega sekali Wisnu melakukan semua ini. Jadi apa yang Viona lakukan karena ayahnya. Wisnu sungguh keterlaluan!


"Chal, jangan talak aku!" Viona memandang suaminya, memohon.


Marshal jadi merasa bersalah sekarang. Dia mengusap wajah Viona perlahan. Bibirnya membentuk senyuman yang dipaksakan, karena masih belum sadar sepenuhnya dengan apa yang telah terjadi. Kepalanya menggeleng pelan. "Tidak. Aku minta maaf! Aku gak akan talak kamu, Sayang." Dia kembali memeluk Viona dengan erat membuat semua orang kembali bersorak.


Namun, Viona bergerak untuk memandang wajah suaminya. "Selamat ulang tahun, Chal!" Dia tersenyum hangat memandang mata Marshal dalam-dalam. Kedua tangannya dia kalungkan di leher suaminya. "Aku sayang kamu."


Cup!


Marshal terbelalak kaget saat Viona mencium bibirnya dengan mesra.


_


Aku sayang kamu


Aku sayang kamu


Aku ... ah, sudahlah!


Seperti tebakan kalian. Itulah yang terjadi.😂😂


Tamatin jangan?

__ADS_1


__ADS_2