Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Benar-benar pergi


__ADS_3

Mungkin beberapa dari kalian sudah bisa menebak bagaimana akhirnya. Dan inilah keputusan dari Viona. Semoga kalian suka, ya. Happy reading, and stay healthy😊


________________________________________


Dengan senang Marshal beranjak untuk menghampiri Viona. Memeluk istrinya dengan cepat. "Terima kasih sudah mau mempertahankan pernikahan kita," ucapnya penuh rasa bahagia.


Viona mendorong pelan dadanya. "Iya, mempertahankan keputusan yang sebelumnya."


"Apa?"


Marshal terjengit kaget. Melepaskan pelukan dan menjauh. Tatapannya sulit diartikan. "Maksudmu?"


Viona terdiam memandangi Marshal. Semua orang juga membisu melihat mereka yang saling membalas tatapan. Hening lama terasa di ruangan itu. Dua manusia yang sedang beradu pandang tersebut sama-sama diam tanpa mau bergerak salah satunya.


Viona terlebih dulu melerai keheningan. Dia membenarkan posisi duduknya dengan lebih nyaman. Menggenggam tangan Lina yang sedari tadi duduk di sampingnya. Dia butuh penyemangat untuk mengatakan semuanya. Dan Lina, mamanya tersebut mengusap telapak tangan Viona dengan penuh perhatian.


"Seperti yang sudah saya katakan, perceraian bisa menjadi yang terbaik."


Dunia bagai runtuh seketika. Marshal ambruk ke lantai. Bertumpu dengan lutut untuk tetap tegak, Marshal menatap Viona tidak percaya. Apa yang Viona katakan barusan? Istrinya itu selalu saja seperti ini. Memberikan dulu harapan hingga Marshal senang, lalu menghempaskan harapan begitu saja.


Sakit. Marshal tidak bisa menjabarkan semua yang dia rasakan saat ini. Semuanya begitu berkecamuk. Kenapa Viona tetap memilih perpisahan sebagai penyelesaian? Apa sudah tidak ada kesempatan bagi Marshal untuk memulai kembali semuanya?


"Kamu yakin, Viona?" tanya Rahma tidak percaya. Dia tahu Marshal memang sudah melakukan kesalahan besar, tapi dia tidak pernah mengharapkan pernikahan anaknya berantakan.


Beberapa hari melihat Viona yang masih bisa sabar dan terlihat tenang, Rahma kira menantunya itu tidak akan meminta cerai. Pikirnya, Viona tetap akan memberikan Marshal kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Tapi, ternyata menantunya itu memilih berpisah. Rahma ikut terluka mendengarnya. Dia tidak tega kehilangan menantu sebaik Viona.


Anggukkan kepala dari Viona membuat suasana kembali hening. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Viona sudah memutuskan dan itu yang dia inginkan. Bukan mempertahankan, melainkan perpisahan.


Marshal masih diam memandangi Viona. Masih tidak percaya dengan apa yang Viona katakan. Viona memang sudah mengatakan hal itu padanya dari siang hari. Tapi, mendengarnya di depan para keluarga, membuat Marshal semakin terluka. Tadinya dia berpikir, jika Viona tidak serius ingin berpisah. Tapi, jika dikatakan di depan semua orang dengan wajah yang serius, Marshal jadi semakin kacau. Karena tahu ucapan Viona bukan sekadar candaan.


"Saya sudah bilang, perpisahan menjadi jalan terbaik."


"Tidak," bantah Marshal dengan cepat. "Untukku itu bukan yang terbaik. Kamu tidak bis-"


"Bisa, karena saya yang menginginkannya."


Mereka berdua kembali beradu pandang dengan sengit. Tidak peduli dengan orangtua mereka yang masih menyimak dalam diam. Suasana semakin mencekam.

__ADS_1


Marshal bergerak dengan masih bertumpu pada lututnya. Mendekat pada Viona dengan sedikit merangkak. Dia bersimpuh di depan istrinya yang masih terlihat tenang. Namun, auranya begitu menakutkan bagi Marshal. Sifat Viona sama seperti Heru. Diam dan tenang, namun mengerikan. Apalagi ucapannya yang selalu lembut, namun menusuk.


"Ra, apa aku tidak bisa memperbaiki semuanya?" Marshal meraih tangan istrinya yang sedang bergenggaman dengan Lina. Ibu Viona tersebut melepaskan tangan Viona. Membiarkannya dipegang oleh Marshal. "Aku tidak mau kita berpisah."


Viona menggelengkan kepala. Mengalihkan pandangan ke arah lain. "Tidak bisa. Kita tetap akan mengakhirinya," ucapnya pelan, namun penuh penekanan.


Marshal terdiam memandangi Viona yang memilih berpaling pandangan. Genggaman tangannya semakin erat seolah berat untuk melepaskan. Dia tidak mau. Viona tidak boleh pergi darinya! Dia tidak mau kehilangan Viona. Namun, semuanya sudah mencapai final. Semua orang juga memaksakan diri untuk setuju dengan keputusan Viona. Karena mereka hanya tahu, jika Marshal telah mengkhianatinya. Tidak tahu alasan Viona meminta berpisah yang sebenarnya.


"Sayang?"


Viona menoleh dengan cepat. Apa ini? Apa Marshal mengajaknya bersandiwara? Kenapa dia memanggilnya 'sayang' di saat dalam keadaan serius?


Viona menunduk untuk melihat Marshal yang masih bersimpuh di depannya. Tangan Viona yang ada di pangkuan masih digenggamnya erat. Tatapan Marshal sangat muram. Tapi, Viona tidak akan pernah goyah. Dia tetap akan memilih berpisah. Kesempatan emas tidak akan dia sia-siakan. Viona juga tidak menyangka, jika Marshal akan tunduk padanya di saat Viona memilih mundur. Entah apa yang Marshal pikirkan, tapi Viona merasa Marshal memang tidak mau dia pergi.


Marshal yang suka mengekang dengan berbagai larangan keluar dari mulutnya, kini memohon pada Viona yang merasa bukan siapa-siapanya. Untuk apa Marshal memohon seperti itu? Viona bukan orang yang berarti baginya, bukan juga orang yang dicintainya. Tapi, kenapa reaksi Marshal sedalam ini saat Viona memilih untuk mengakhiri pernikahannya?


Viona menggerakan tangannya supaya bisa terlepas dari genggaman Marshal. Tapi, suaminya itu tidak membiarkan dan malah semakin mengeratkan genggaman.


"Tarik kembali ucapanmu! Kita tidak akan berpisah!"


Viona hanya menatapnya datar. Ucapan Marshal tidak akan berpengaruh lagi padanya. Di sana banyak orang. Apalagi Wisnu ada di sana. Viona bebas berpendapat dan berbuat banyak hal. Marshal tidak mungkin berani mengancamnya dengan alasan keluarga, jika di depan orangtuanya. Karena jika Marshal mengatakan ancaman tersebut, masalah baru akan muncul. Wisnu pasti semakin murka, jika tahu anaknya telah membeli Viona untuk dinikahinya.


Marshal membulatkan matanya tajam. Viona sudah sampai membahas ruang persidangan. Dia semakin ketakutan. Menggeleng keras, memandangi Viona yang malas memandanginya. "Aku mohon, jangan! Aku mau tetap bersamamu, Zahra. Jangan minta cerai dariku!"


Habis sudah kesabaran Viona. Dia menarik tangannya dengan cepat sampai Marshal tersentak. Memandang Marshal dengan tajam. Suaminya itu tidak bergeming, mungkin karena kaget dengan tarikan tangan Viona yang seperti sekelebat hantu, melepaskan diri.


Mengalihkan pandangan pada mertuanya. Viona menyiratkan permohonan lewat tatapannya pada Wisnu. Ayah Marshal tersebut memandanginya juga. Dia paham maksud dari tatapan Viona. Wisnu pun melirik pada Heru. "Kamu boleh membawa Viona pulang. Urusan perceraian, nanti akan kubantu untuk menyelesaikan."


Marshal berbalik cepat pada ayahnya. Suara Wisnu begitu menggema hingga dia tidak bisa percaya, jika Wisnu malah mendukung kaputusan Viona. "Apa maksud Papa?"


Wisnu tidak menjawabnya. Dia malah melirik Viona kembali dan menganggukan kepala. Viona berdiri diikuti Heru dan Lina. Pergi dari sana dan mengakhiri semuanya. Itulah yang Viona inginkan. Dia sudah mematangkan keputusannya dan Wisnu yang memang sedari awal menyetujui, dia selalu mendukung apapun yang menjadi pilihan menantunya. Meskipun Wisnu juga tidak rela harus kehilangan menantunya, tapi dia cukup sadar dengan keadaan. Dia tidak mau Viona tersakiti lagi karena anaknya. Jika Viona ingin perpisahan, Wisnu hanya bisa mendukungnya. Karena itu jalan terbaik supaya Marshal juga bisa terdidik dan sadar diri betapa dia sangat bodoh telah menyia-nyiakan wanita sebaik Viona.


"Tidak, Viona. Mama mohon, maafkan Marshal, Sayang. Mama gak mau kamu pergi. Siapa yang menemani mama jika kamu berpisah dari Marshal?" Rahma memeluk Viona dengan erat saat menantunya itu akan beranjak. Rahma terisak, tidak mau Viona pergi. Dia sudah menyayangi Viona seperti anaknya sendiri. Tidak mau berpisah juga darinya.


Dihelanya napas dalam dan membalas pelukan Rahma. Viona tidak tega melihat ibu mertuanya seperti ini. Dia juga sudah menyayangi Rahma sepeti ibunya sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini yang dia pilih. "Hubungan kita akan tetap sama, Ma. Aku hanya memutus hubungan dengan putra Mama. Tapi, tidak dengan Mama. Kita tetap bisa bertemu."


Tangis Rahma semakin pilu. Pelukannya pun semakin erat. Dia tidak mau Viona pergi darinya. Viona wanita baik dan sangat perhatian juga sopan padanya. Dia suka terhadap sikap menantunya. Tidak rela jika Viona memilih pergi.

__ADS_1


Perasaan Viona mencelos. Dia tidak tega melihat Rahma yang semakin terisak. Dielusnya punggung Rahma penuh sayang. Viona tidak bisa membuatnya kembali seperti semula. Namun, dia berjanji akan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Sebuah pernikahan terputus, bukan berarti silaturahmi juga ikut tergerus. Dia tetap akan mengingat mereka yang sudah pernah menjadi keluarganya.


"Ma, sudah! Biarkan Viona pergi!" Wisnu ikut berdiri dan mendekat pada mereka. Merengkuh Rahma supaya melepaskan diri dari Viona. "Sudah! Kita harus menghargai keputusan Viona!"


Dengan berat hati Rahma melepaskan diri dari Viona. Tangisan pilu masih menghiasi wajahnya dan malah semakin keras terisak. Rahma tidak rela. Dia tidak mau Viona jauh darinya.


"Sudah! Nanti kalian juga masih bisa bertemu." Wisnu merengkuh istrinya yang terus saja memandangi Viona. Rahma pasti merasa kehilangan sama halnya dengan Wisnu dan Marshal. Mereka semua sudah menyayangi Viona dan menjadikan Viona sebagai bagian dari hidup mereka. Tidak mungkin bisa menerima Viona pergi begitu saja.


Viona memandangi Rahma dengan penuh rasa bersalah. Ibu mertuanya itu dipeluk oleh Wisnu yang mencoba menangkannya, tapi tetap saja. Rahma malah menangis kencang dan memukul-mukul dada Wisnu.


"Kenapa Papa membiarkan Viona pergi? Mama tidak punya menantu wanita lagi, jika dia tidak ada."


"Ma, yang salah anak kita. Hargailah keputusan Viona!"


Rahma melepaskan diri dari rengkuhan Wisnu dan kembali menyongsong Viona, sehingga menantunya tersebut tersentak kaget. Namun, Viona membalas pelukan Rahma dengan tak kalah erat. Mengusap-usap punggung mertuanya penuh perhatian, seolah mengatakan jika dia akan tetap bersama dengannya. Mereka masih baik-baik saja dan akan tetap bisa bertemu.


"Maafkan Marshal, Sayang! Mama mohon! Mama tahu dia salah, tapi tolong ... maafkan dia. Mama tidak mau kalian berpisah."


Viona gundah. Melirik semua orang bergantian. Tatapannya terhenti pada Marshal yang masih terdiam di atas lantai di dekatnya. Tatapan suaminya itu terlihat kosong. Tidak ada kehidupan di matanya, bahkan untuk sekadar berucap pun dia tidak melakukannya.


Apa keputusan Viona membuat semua orang terluka? Kenapa begitu sulit untuk dia pergi? Banyak yang menahannya untuk bertahan, tapi sayang, dia sudah tidak bisa menahan keinginannya lagi.


"Maafkan aku, Ma." Viona melerai pelukannya terhadap Rahma. Memandangi Rahma dengan sayang. Viona menggeleng disertai senyuman pahit. Dia melepaskan Rahma dan kembali memandangi ayah mertuanya. "Aku minta maaf, jika selama ini aku punya salah. Aku harap hubungan kita tetap baik-baik saja, meskipun tanpa ikatan." Dia beranjak diikuti Heru dan Lina yang berpamitan pada Wisnu dan Rahma. Mereka keluar dari kediaman Atmadinata dengan perasaan yang tidak karuan.


Rahma berlari menyusul langkah menantunya. Menangis histeris memanggil nama Viona untuk tidak pergi. Wisnu dengan cepat menahannya, namun Rahma berontak. Dia memanggil-manggil Viona, berteriak. Tidak mau Viona pergi, tetapi menatunya sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya.


"Viona ...!" Rahma histeris di dalam dekapan Wisnu. Memandangi kepergian menantunya yang tidak sedikit pun menoleh lagi ke belakang. Viona pergi. Benar-benar pergi dengan akhir yang sangat menyakitkan.


Tamat ....


_


_


_


Eh, eh, eh ... becanda. Serius amat bacanya. Tadinya emang mau dibikin ending, tapi masih inget yang lain. Konflik masih banyak yang belum selesai. Jadi masih berlanjut, dong. Masa endingnya tragis kayak gini😂😂😂

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, dan Comment, ya, Kakak!😊


__ADS_2