
Pagi yang buruk. Viona terlihat selayaknya mayat hidup, semalaman tidak bisa tidur dan tidak mau makan apa pun sejak siang kemarin. Penyebabnya adalah Marshal.
"Sarapan dulu, Dek!" Lina mengetuk pintu kamarnya.
"Iya, Ma, sebentar."
Sudah menikah pun orangtuanya tetap memperlakukan Viona seperti gadis kecil mereka. Selalu diingatkan untuk bangun pagi dan juga sarapan setiap hari. Padahal seharusnya tidak perlu, karena Viona juga sudah dewasa. Tapi, Lina tetaplah menganggap Viona anak kecil yang masih butuh banyak perhatian dan peringatan, sehingga selalu saja diperhatikan berlebihan.
Memilih mandi untuk menyegarkan diri, Viona nampak tidak semangat seperti hari-hari sebelumnya. Tubuhnya terasa lemas dan sedikit pusing. Mungkin efek begadang semalam, pikirnya.
Selesai dengan ritual pagi, Viona sudah terlihat lebih baik. Nampak segar, cantik dan tentu saja wangi.
"Pagi, Papa!" Viona mengecup pipi Heru, melingkarkan tangan pada pundak ayahnya, setelah sekian lama dia tidak pernah melakukan hal itu lagi. Viona enggan untuk berhenti, dia malah menopangkan dagu di pundak ayahnya yang tengah menikmati secangkir teh hijau, sebelum memulai sarapan.
"Ingat, kamu sudah menikah, Viona."
Anak bungsu Pratama merengut. "Jika diingatkan seperti itu, aku merasa bukan anak papa lagi."
Heru malah terkekeh, masih saja duduk, tidak keberatan dengan perilaku anaknya yang memang dia rindukan. Dia suka Viona yang bermanja seperti sekarang. Rasanya sudah sangat lama Viona tidak berprilaku seperti anak kecil lagi. Dia sudah tumbuh dewasa dan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, Insya Allah, jika Tuhan mengizinkannya.
"Kapan Marshal pulang?"
"Entah, Pa. Dia sibuk, katanya."
Heru meraih tangan Viona yang melingkar di leher dan pundaknya. Dia menarik Viona untuk duduk di sebelahnya. Jika diperhatikan, raut wajah Viona nampak berubah saat mengatakan tentang Marshal. "Apa kalian ada masalah? Kenapa?"
Viona menggeleng, memposisikan duduk untuk sedikit berpaling dari pandangan Heru yang menelisik. Lebih baik melirik ke arah dapur, di mana Lina kini tengah menyiapkan masakan bersama pekerja rumah lain. "Kak Vino pulang?"
Senyuman tipis muncul, menyadari upaya Viona untuk mengalihkan pembicaraan. "Jika Marshal memperlakukan kamu tidak baik, bilang sama papa. Itu sudah jadi kewajiban papa untuk memastikan kamu baik-baik saja. Kamu tetap anak papa, bukan orang lain. Jangan sungkan!"
Viona mengangguk dengan pelan. Perasaan orangtua tidak pernah bisa dibohongi atau memang rasa kesalnya terhadap Marshal begitu kentara, saat ini? Dia tak pandai berakting, pantas jika Heru melihat perubahan mood-nya.
"Vino semalam ingin berpamitan sama kamu, sebelum pulang. Tapi, kamu lagi marah-marah, katanya."
__ADS_1
Viona terkejut mendengar penuturan Heru. Tidak mungkin kakaknya mendengar semua makian yang keluar dari mulutnya, kan? Viona semalam marah besar dan memaki kasar yang tertuju untuk Marshal. Jangan sampai orang lain tahu di melakukan itu!
Yang bisa Viona lakukan sekarang hanya mendunduk, saat Heru menelisik pandangannya. Tidak, ini masalahnya dengan Marshal, dia tidak bisa mengatakan apa pun terhadap Heru saat ini. Lebih baik diam dan segera mengalihkan kegiatan. Mungkin membantu Lina menyiapkan makanan akan mempermudah dirinya untuk menghindar.
Dan itu yang dia lakukan.
Heru hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya. Viona mencoba untuk terlihat baik-baik saja saat ini. Sangat berbeda dengan Viona yang dia kenal sejak masih bayi. Jika dulu Viona akan mengatakan semua yang terjadi dalam hidupnya kepada Heru, berbeda dengan sekarang, gadis kecil itu sudah dewasa, sudah bisa menyimpan semuanya sendiri.
Namun, hal itu justru membuat Heru tidak tenang. Dia takut ada masalah yang memang tidak bisa Viona tahan sendiri. Dia tahu anaknya tidak akan tetap bertahan kuat. Dia manusia biasa yang punya sisi lemah. Heru akan menangguhkan menantunya, jika saja berani menyakiti anaknya.
***
Terima? Tidak ... Terima, tidak. Terima tidak.
Viona menatap nanar layar ponsel yang masih saja menampilkan panggilan masuk dari nomor Marshal. Sudah dua kali panggilan itu dia abaikan dan masih saja mencoba menghubunginya.
Jika diabaikan, apa yang akan terjadi dengan Marshal? Viona rasa tidak akan apa-apa, jika dia tidak menerimanya lagi. Marshal sudah tidak peduli terhadapnya, bukan? Lalu, untuk apa sekarang dia menghubungi Viona? Masih ingat jika dia punya istri?
Layar sudah tidak lagi menampilkan sebuah panggilan masuk. Viona menghela kecewa, Marshal sudah berhenti untuk menghubunginya. Sudah seharusnya dia senang, tapi bukan itu yang dia inginkan.
Ponsel berdenting, lalu pesan masuk dari nomor Marshal menyita perhatian Viona. Cepat dia membukanya dan menbaca pesan tersebut.
Jika diabaikan tidak bisa membuatmu tenang, jangan abaikan orang lain juga.
Apa maksudnya itu? Viona tidak mengerti dengan apa yang suaminya inginkan. Apa Marshal mengira Viona tidak bisa tenang karena ulahnya?
Cih!
Memang benar!
Viona bahkan ingin menangis karena hal itu.
Panggilan masuk kembali terlihat. Kali ini Viona menerimanya. Ponsel tertempel di depan telinga, dia tidak berkata apa pun, sebelum suaminya memulai pembicaraan. Dia tidak mau langsung memaki, ingin mendengar dulu apa yang akan suaminya jelaskan kali ini.
__ADS_1
Tapi, lama mereka saling membisu di balik sambungan telepon yang hanya mendengarkan suara embusan napas satu sama lain.
"Bicaralah sedikit!" bisik Marshal, menembus indera pendengaran Viona hingga menusuk sampai membuat dadanya sesak.
"Masih ingat punya istri di sini?" Viona memaki dirinya sendiri karena pandangannya mulai memanas. Tidak. Seharusnya dia tidak akan menangis dan harusnya dia memaki suaminya yang beberapa hari belakangan sudah bersikap acuh dan bahkan membuatnya menjadi tidak tenang.
Mereka terdiam kembali. Viona beranjak dari kasur, berjalan menuju pintu kaca besar yang mengantarkannya sampai ke balkon. Viona berdiri di sana, menyaksikan teriknya matahari siang yang seolah mengeringkan harapan yang sia-sia.
Harusnya dia memaki, marah dan menuduh suaminya dengan kasar. Tapi, kenapa dia tidak bisa mengatakan semua umpatan itu sekarang. Semua umpatan dan cacian seolah tertahan dan mulutnya sangat enggan untuk terbuka. Lidahnya kelu.
"Ra ...." panggilnya, masih setia menelisik ke dalam pendengaran Viona.
Panggilan yang sudah lama tidak ia dengar lagi. Panggilan itu sudah tidak pernah Marshal ucapkan dalam nada lirih, dalam dan penuh makna. Viona merindukan panggilan itu.
"Aku benci sama kamu," lirih Viona, memandang ke luar balkon dengan sendu.
Dari seberang sana tidak ada suara apa pun. Viona semakin tidak sabar menantikan penjelasan dari suaminya, tapi Marshal tak kunjung buka suara. Dia ingat dengan apa yang diinginkannya, dia memaki dan membentak Marshal lewat sambungan telepon. Viona mengeluarkan semua yang dia tahan selama semalaman. Dia benci Marshal, dia kesal dan marah terhadap suaminya. Dan semua yang dia tahan sudah keluar semua, tapi Marshal tidak mengatakan sepatah kata pun dari seberang sana.
"Jangan temui aku lagi, kalau masih mau bersikap seperti itu! Aku lelah menghadapinya, Chal! Kamu di sana bersama wanita lain, aku akan terima. Asal jangan sampai kamu tidur dengannya! Aku akan mengutuk siapa pun yang berani tidur denganmu! Jadi, jangan macam-macam!" Viona mengatakan kalimat akhirnya dengan geram, tetapi rasa rindu dan sayangnya tidak bisa terelakan. Tampak jelas dari nada bicaranya yang mulai bergetar menahan tangis frustasi.
"Kamu tidak boleh melupakan aku, Marshal! Aku istrimu!" Dia mulai terisak, menyusut ingus yang mulai mengucur keluar. "Apa kelebihan Garmita yang tidak aku miliki sampai kamu pergi demi pekerjaan dan melupakan aku di sini?! Apa aku kurang sempurna? Kamu tega meninggalkan aku hanya demi pekerjaan remeh yang sebenarnya bisa kamu tinggalkan. Aku tidak terima!" suaranya mulai lirih, Viona menjauhkan ponsel sejenak dari telinga, karena Marshal tidak kunjung bersuara. Itu malah menambah rasa sakit di hatinya.
"Tidak tahukah jika akuļ¼"
"Berhentilah berbicara yang tidak perlu. Aku ada urusan setelah ini. Maaf, aku tutup teleponnya."
"Marshal!" Viona melemparkan ponsel asal, mengenai lantai sampai terdengar suara ketukan yang keras. Tidak peduli mau ponselnya rusak atau pun terbelah.
Bisa-bisanya Marshal masih bersikap dingin seperti itu, setelah semua rentetan keluh kesah hati Viona keluarkan. Dia kira Marshal mulai memikirkannya lagi sampai dia menelepon duluan. Tapi, nyatanya hanya mempermalukan Viona yang sudah diperdaya oleh cinta dan sekarang dia merasakan kecewa akibat cemburu buta pada suami, yang bahkan sama sekali tidak peduli dengan perasaannya.
Apakah Marshal masih mencintainya? Rasanya Viona ingin mati saja, jika tahu Marshal memang sudah tidak peduli lagi terhadapnya.
Hayoooloooo ....
__ADS_1