
"Katanya, kalau suka benci sampai mual-mual lihat suami, nanti anaknya bakalan mirip, lho, Viona. Dan rata-rata, yang tante tahu nih, ya. Emang pada begitu, sih. Kamu bilang, suka benci sama Marshal, kan? Itu berarti, nanti anaknya bakal mirip sama dia."
Viona dan Marshal merespon dengan raut wajah yang berbeda. Marshal menyunggingkan senyuman lebar, penuh harap dan sudah pasti melirik Viona disertai ledekan. Ucapan bibi Elli berpengaruh buruk untuk Viona. Dia sampai muram akibatnya dan segera naik ke kamar Marshal, setelah bibi Elli dan kerabat lainnya pulang. Karena acara empat bulanannya sudah selesai.
Viona dongkol dan merasa diinjak-injak oleh ucapan orang-orang yang mengatakan hal serupa seperti yang bibi Elli katakan tadi. Viona yang mengandung dan melahirkan, anaknya tidak boleh mirip dengan Marshal, harus mirip dengannya. Tapi, semua ucapan para kerabat malah merujuk ke sana, membuat Viona ingin berteriak keras. Dia kadang memang muak melihat suaminya, tapi belum tentu hal itu benar adanya akan terjadi.
Hanya mitos semata. Ya, hanya mitos yang dipercayai oleh sebagian orang di sekitarnya. Viona mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.
"Sayang ...."
Dia segera membuang muka ke arah lain, ketika Marshal masuk ke dalam kamar. Pasti semua orang sudah selesai dan tinggal istirahat karena hari sudah sore menjelang petang. Semua orang pasti sudah membubarkan diri. Viona malah pergi sebelum semuanya benar-benar selesai. Dia sudah dongkol duluan.
"Kamu belum makan sejak siang."
Viona tidak menggubrisnya, lebih memilih untuk tetap diam, duduk di tepi ranjang. Marshal duduk di sebelahnya, menggapai tangan Viona, mungkin merasa ada yang berbeda. Viona benci dengan hormon kehamilan yang membuat perasaannya lebih sensitif akhir-akhir ini. Dia juga sering kesal tidak jelas dan muak untuk berdekatan dengan Marshal. Semua perubahan tidak jelas itu terjadi setelah dia mengandung anak Marshal. Sangat menyusahkan sekali sebenarnya.
"Makan dulu, ya? Mama nanyain kamu di bawah. Aku bilang kamu istirahat."
Masih tidak mau membuka suara, Viona justru menarik tangannya dari genggaman sang suami. Dia melirik sejenak pada Marshal, datar. Suaminya sampai menaikkan alis nampak bingung dengan sikapnya yang kali ini sudah berubah lagi.
"Apa aku buat kesalahan lagi? Oh, atau ...." Marshal mengusap wajahnya sendiri, takut karena dia terlihat tampan, maka Viona akan muak padanya. Pantas saja jika Marshal kali ini sangat tampan, dia baru saja menggelar acara penting dan bertemu dengan banyak orang. Mungkin istrinya terlihat tidak enak dipandang karena kesal dengan hal itu. Sepertinya Marshal harus membeli topeng buruk rupa untuk menyamarkan ketampanannya supaya Viona tidak lagi benci padanya.
"Jijik aku sama kamu!"
Marshal tercengang dengan mata membulat tajam, sangat terkejut mendengar ucapan istrinya barusan. Tapi, Viona tidak peduli dan malah berdiri, menghindari Marshal yang masih menatapnya dengan tidak berkedip.
"Sayang, aku tampan sudah menjadi anugerah dari Tuhan. Jangan salahkan aku jikaļ¼"
"Aku gak mau anak aku mirip sama kamu!"
__ADS_1
Tingkat keterkejutan Marshal semakin meningkat. Dia segera berdiri, berhadapan dengan Viona yang terlihat sangat kesal. Viona mundur beberapa langkah, ketika Marshal akan meraihnya. Dia tidak ingin disentuh dan hanya mau Marshal enyah dari hadapannya sekarang juga.
Dengan mengusap perut yang mulai mencuat, Viona merasakan kulit bagian tersebut sedikit menegang. Mungkin karena dia membentak Marshal dengan tekanan yang lumayan keras, sehingga tubuhnya sendiri merasa terkejut.
"Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini, Sayang? Apa karena tadi bibi Elli ...."
Viona diam saja menatap suaminya. Dia merasa mual sekarang. Terlebih Viona belum makan sejak siang tadi dan sekarang sudah akan malam. Perutnya terasa tidak nyaman. Viona mengusapnya perlahan dan segera membalik badan, hendak pergi ke kamar mandi. Namun, Marshal menahan tangannya tampak tidak terima Viona menghindar begitu saja.
"Mereka hanya asal bicara, Sayang. Meskipun aku memang mau hal itu terjadi, tapi aku juga tidak bisa mengetahui dengan pasti. Jangan diambil hati, ya. Dia anak kita. Mau mirip kamu atau mirip aku, sama saja. Dia tetap anak kita bersama."
Viona merapatkan bibir, menahan desakan yang ingin keluar dari perutnya. Marshal terus mencoba membujuk supaya tidak kesal lagi dan mengatakan, jika apa yang bibi Elli katakan bukanlah hal serius yang harus dipermasalahkan. Tapi, Viona sudah terlanjur tersinggung dan merasa hal itu menyakiti hatinya. Dia ibu dari anaknya, tidak mau kalau anaknya nanti hanya mirip dengan Marshal. Viona pun ikut andil ketika mereka memproduksinya.
"Kamu marah masalah seperti ini. Tidak apa, Sayang. Ucapan orang lain belum tentu sesuai dengan kenyataan, jika kamu tidak mau anak kita mirip aku nantinya."
Viona menunduk melihat raut sedih dan kecewa di mata Marshal. Suaminya pasti sangat berharap anak mereka bisa mirip dengannya, terlihat jelas dia terluka karena Viona tidak ingin hal itu terjadi, seolah Marshal adalah orang lain yang tidak ada hubungan apa pun dengan anak yang sedang dikandungnya saat ini.
"Aku bilang juga kamu harus makan, Sayang. Apa sekarang masih mual?"
Viona menganggukkan kepala lemah. "Sedikit." Dia pasrah ketika Marshal menggendong tubuhnya, dibaringkan di atas ranjang.
"Diam di sini! Aku akan bawa makanan ke bawah."
Viona diam saja membiarkan Marshal keluar dari kamar dengan tergesa. Dia dapat mendengar langkah suaminya yang mulai menjauh, sedikit berlari dan berteriak memanggil mamanya.
Selama menunggu suaminya kembali, Viona hanya bisa berbaring lemah di atas kasur sambil merasakan sisa mual dan lelah yang luar biasa. Sudah jarang sekali dia mual-mual seperti tadi. Dia hanya merasa kesal dan mungkin hal itu sedikit mempengaruhinya, karena dokter pernah mengatakan padanya untuk tidak banyak stress yang membuat kondisinya tidak nyaman.
"Sayang ...." Marshal masuk membawa nampan berisi makanan. Di belakangnya terdapat Rahma yang terlihat sangat khawatir, langsung mendekat, mengusap tangan dan perut menantu kesayangannya.
"Mana yang sakit, Viona? Apa masih mual? Sekarang pusing? Perut kamu gimana, Sayang?"
__ADS_1
Viona memaksakan bibirnya untuk memberikan senyuman. Dia bersyukur punya mertua yang sangat perhatian padanya. Meskipun keluarga Pratama sudah pulang, Viona tetap masih punya keluarga Atma yang sangat menyayanginya juga.
"Ma, Viona mau makan dulu. Biar aku yang suapi."
Rahma tersenyum, tidak mau beranjak dari dekat menantunya. Raut wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat cemas, tidak henti-hentinya bertanya tentang kondisi Viona saat ini. Bahkan Marshal harus naik ke atas ranjang dan duduk di samping istrinya dengan makanan di tangan. Karena Rahma tidak mau bergeser sedikit pun, malah menghalanginya yang ingin menyuapi sang istri.
Viona agak canggung ketika makan terus diperhatikan oleh Rahma. Dia bisa makan sendiri, tapi Marshal bersikeras ingin menyuapinya sampai makanan Viona tidak tersisa lagi. Rahma terus saja peduli padanya dan tidak akan pergi sampai Viona terlihat lebih baik dengan makanan yang ludes sempurna.
"Kalau nanti perutnya gak nyaman, kamu harus bilang, ya. Biar Chal cepat tanganin kamu. Biar mama juga gak terlalu kalut seperti tadi."
"Iya, Ma. Maaf, ya, aku ngerepotin."
Rahma justru tersenyum keibuan, mengusap tangan Viona yang berada di atas perutnya sedang memberikan usapan halus. "Jaga dia baik-baik! Cucu harus sehat dan kalau ada sesuatu, jangan sampai terlambat ditangani. Kamu juga jangan telat makan lagi. Biar Dedek bayinya aman di dalam sana."
Viona tersenyum hangat, menganggukan kepala dan membiarkan ibu mertuanya keluar dari kamar mereka. Kini Marshal meliriknya tidak terbaca. Viona baru saja selesai dengan makanannya, tapi Marshal hanya terdiam membuat Viona merasa heran sekaligus bingung.
"Kamu benci sama aku atau hanya muak saat dekat, Sayang? Kenapa bisa mual-mual lagi?"
Viona juga tidak tahu alasan pastinya. Dia malah merasa iba melihat Marshal yang hanya diam saja, setelah melihatnya yang muntah lagi hari ini. Mereka pikir mual Viona hanya bertahan selama trimester pertama saja, tapi ternyata masih juga berlanjut, meskipun intensitasnya sudah jarang terjadi.
"Chal."
"Hm? Kenapa, Sayang? Kamu tidak mau anak kita mirip papanya, kan? Apa itu juga jadi alasan sampai kamu muntah lagi? Sebegitu bencinya kamu sama aku, Sayang." Wajah Marshal muram, tidak tahu kenapa. Sekarang malah suaminya yang prasa, Viona tidak mengerti lagi. "Padahal, aku juga tidak terlalu berharap anak kita akan mirip papanya. Malah memang lebih baik mirip kamu, Sayang. Jika dia perempuan, pasti cantik seperti mamanya. Tapi, aku juga mau punya anak yang mirip dengan papanya."
Katakanlah Marshal seperti anak kecil sekarang. Dia merajuk, setelah tadi Viona duluan yang melakukan hal itu.
"Jika kamu tidak mau dia mirip papanya," Marshal mengusap perut Viona. "nanti aku bisa buatkan lagi, yang mirip sama kamu. Mau, kan? Kita buat lagi yang lain, kalau perlu secepatnya setelah si Dedek lahir."
Viona melotot tajam. Yang sekarang dikandungnya saja belum genap sembilan bulan dan Marshal sudah merencakan anak kedua? Apa itu tidak akan membunuh Viona nantinya?
__ADS_1