
Langkah kaki Viona terhenti saat melewati ruang keluarga. Dia mendengar suara tangisan yang tidak asing lagi didengar telinga. Viona yang baru saja mengambil minuman dari dapur, lantas berniat untuk mendekat ke arah asal suara.
Lina dan Heru sedang duduk berdua di depan televisi yang menyala. Ibunya menangis? Viona tertegun melihat itu. Lina dipeluk oleh Heru dari samping, seperti mencoba menenangkannya.
"Kenapa jadi begini, Pa? Mama merasa bersalah sama Viona. Tidak seharusnya kita menikahkan dia dengan Marshal. Mama gak rela dia harus berpisah dari suaminya, padahal mereka menikah baru sebentar."
Viona yang tadinya akan mendekat, mengurungkan niatnya. Tangisan Lina semakin terdengar keras. Ucapannya bahkan membuat hati Viona terenyuh. Semenjak pulang dari rumah Wisnu, kedua orangtuanya tidak banyak bicara. Viona tidak tahu mereka kenapa dan sekarang dia tahu jawabannya. Apa mereka bersedih atas keputusan yang Viona pilih? Kenapa Lina sampai menangis pilu seperti itu?
Viona menempelkan tubuhnya di tembok dekat ruangan kedua orangtuanya berada. Dia meremas botol minuman dingin di tangannya. Suara tangisan Lina tidak juga mereda, Viona jadi cemas. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Apa yang orangtuanya rasakan setelah mendengar keputusan Viona? Mereka bersedih? Sudah pasti iya. Tapi, kenapa? Bukankah Lina mendukung keputusan Viona juga?
"Kita gagal jadi orangtua, Pa. Hidup Viona jadi kayak gini karena kita. Mama gak mau dia jadi janda secepat ini. Dia masih muda ...." Lina semakin kencang menangis, menyurukan wajah basah pada suaminya.
Viona mengintip lagi sedikit. Dengan penuh kelembutan Heru mengusap kepala Lina, mencium puncaknya sesekali. Dan Viona tercengang melihat ayahnya juga mengusap matanya sendiri. Viona terkejut melihat Heru yang juga ikut menangis. Kedua orangtuanya larut dalam tangisan penyesalan. Perasaan Viona semakin tidak karuan.
Apa kedua orangtuanya kecewa dengan keputusannya? Atau hanya merasa bersalah, karena sudah menikahkan Viona dengan Marshal yang malah berakhir dengan perpisahan?
Viona hanya diam menyaksikan kedua orangtuanya dalam diam. Mereka tidak tahu jika Viona mengintip di balik tembok. Orangtuanya terlalu larut dalam kesedihan, sehingga tidak menyadari kehadirannya di sana.
"Sudah, Ma, papa yang salah. Seharusnya papa tidak mengizinkan Marshal menikahinya. Papa yang salah, Viona seperti saat ini karena kesalahan papa."
Perasaan yang tidak menentu membuat hati Viona merasa tercubit. Orangtuanya jadi merasa bersalah karena sudah menikahkannya dengan Marshal. Viona tidak tega melihat mereka menangis setelah mendengar keputusannya untuk mengakhiri hubungan pernikahan. Apa mereka tidak rela Viona berpisah dari Marshal?
Viona tidak bisa menjabarkan perasaannya saat ini. Dia segera beranjak dari ruangan tersebut dan pergi menuju kamarnya.
Kenapa semuanya jadi seperti ini? Perasaan senang yang seharusnya Viona rasakan, kini malah menjadi rasa sesak yang tidak karuan.
Setelah melihat orangtuanya menangis penuh penyesalan, Viona juga ikut merasa bersalah karena telah membuat air mata mereka mengalir begitu saja.
Harusnya dia bahagia sudah bisa terlepas dari Marshal. Namun, kenapa sekarang perasaan tidak enak yang malah hinggap padanya. Dia jadi tidak bisa tenang dan terus memikirkan kedua orangtuanya.
Sejak awal Viona tidak pernah memberitahukan segala sesuatu tentang pernikahannya pada siapa pun. Apalagi pada orangtuanya. Dia tidak mau mereka merasa bersalah pada Viona, jika mereka tahu pernikahan Viona tidak bahagia. Namun, sekarang dia malah membuat rasa bersalah mereka muncul ke permukaan.
Apa Viona sudah salah mengambil langkah? Dia tidak bisa melihat orangtuanya seperti itu. Kenapa perasaannya jadi berkecamuk seperti ini?
***
"Mama kenapa?" tanya Viona heran karena Lina terus saja memandanginya yang sedang sarapan.
Di ruang makan mereka hanya berdua. Viona bangun kesiangan karena susah tidur semalam. Jadi, dia sarapan hampir menjelang siang hari dan Lina dengan penuh perhatian mau menemani.
__ADS_1
Ibu dua anak tersebut menggelengkan kepalanya pelan serta tersenyum. Viona menaikkan alisnya dengan heran. "Ma?"
Lina tidak menyahuti dan malah menunduk. Menutup wajah dengan kedua tangan. Viona kaget mendengar ibunya malah menangis. Viona menyimpan makanannya dan langsung beralih pada Lina yang duduk di sampingnya. Dia jadi panik karena tangisan Lina semakin lama semakin terdengar keras.
"Mama kenapa?" Viona memeluknya erat. Lina tidak juga menghentikkan tangisannya dan malah membalas memeluk dengan tak kalah erat. Viona jadi cemas serta bingung. Mengusap punggung Lina perlahan untuk menenangkan, namun tangisan ibunya malah semakin tidak karuan.
"Maafin mama, Dek! Maaf!" ucap Lina lirih dalam pelukan Viona. "Mama minta maaf ...!"
"Ma?" Viona mengurai pelukan untuk melihat wajah ibunya. Air mata Lina mengalir dengan deras di mata sembabnya. Semalam dia menangis dan sekarang menangis lagi. Bahkan wajah ibunya itu terlihat berbeda, seperti banyak pikiran. Viona mengusap air mata yang membasahi pipi ibunya dengan lembut. "Mama kenapa nangis?"
Kepala Lina menggeleng-geleng pelan. Tangisan tidak kunjung mereda dan malah terdengar pilu. Viona tidak bisa melihatnya seperti itu. Dia kembali memeluk Lina dengan erat. Menangkan ibunya yang tidak tahu kenapa malah menangis dengan sendirinya. Viona tidak mengerti, apa yang membuat ibunya menangis sepilu ini?
"Gara-gara mama kamu jadi kayak gini, Sayang. Maafin mama sama papa! Tidak seharusnya kita menikahkan kamu dengan Marshal. Mama menyesal. Mama minta maaf!"
"Sst, Ma ... udah! Ini bukan salah mama."
"Tapi semua ini terjadi karena mama dan papa, Sayang. Salah kita."
Viona hanya bisa menghela napas. Ini bukan salah kedua orangtuanya. Semua terjadi begitu saja dan ini terjadi karena pilihannya. Dia yang mengambil keputusan untuk berpisah, bukan salah kedua orangtuanya yang sudah menikahkan dia.
Seharian itu Viona habiskan untuk merenung. Dia jadi bingung dan tidak bisa tenang. Kenapa semuanya jadi seperti ini, seakan keputusannya adalah sebuah kesalahan besar. Keputusannya malah membuat orangtuanya bersedih dengan penuh rasa bersalah. Viona tidak mau orangtuanya terus saja merasa bersalah padanya. Semua ini pilihan, bukan kesalahan. Tapi, kenapa kedua orangtuanya selalu mengatakan, jika apa yang terjadi padanya karena kesalahan mereka.
***
"Tuan, rapat setengah jam lagi dimulai."
"Batalkan saja semuanya! Kalo perlu, kosongkan jadwalku sampai satu tahun ke depan!"
Rio menganga lebar. "Apa? Tidak bisa, Tuan."
Marshal tidak peduli dengan ocehan Rio yang sedari pagi terus saja membujuknya banyak hal. Marshal tidak mau ke mana pun. Dari pagi hingga siang menjelang, dia hanya diam di dalam kamar. Mengurung diri di bawah selimut tebal. Pikirannya sedang kacau, sama sekali tidak bisa memikirkan pekerjaan. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Viona, Viona, dan pernikahannya.
Dia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Ingin sekali dia menemui Viona, tapi entah mengapa, dia tidak berani. Dia terlalu malu setelah menyadari kesalahannya yang terlalu banyak dan tidak pantas mendapatkan maaf. Marshal terlalu bercamuk setelah Viona yang malah ingin mereka bercerai.
"Tuan, temui saja nyonya! Minta maaf padanya dan bilang, jika Tuan ingin memperbaiki semuanya!" Rio berdiri di samping ranjang Marshal. Melihat majikannya yang sama sekali tidak mau menampakkan dirinya dari balik selimut.
"Kamu pikir aku tidak mengatakan hal itu, apa? Aku sudah mengatakan semua padanya, Yo. Aku sudah minta maaf dan bilang ingin memulai kembali semuanya dari awal dan berjanji akan membuat dia bahagia. Tapi dia tetap tidak mau dan malah minta cerai. Kamu pikir aku kurang apa? Apa yang salah lagi denganku sampai dia tidak mau kembali? Apa, Yo?"
Rio terdiam memandangi selimut putih yang menutup seluruh tubuh lemah seorang yang frustasi. Dia tidak tega melihat Marshal seperti ini. Sebejat-bejatnya Marshal, Rio tetap menyayanginya karena Marshal selalu baik padanya. Marshal tidak pernah meremehkan Rio dan bahkan selalu membantunya di saat apapun. Di sisi yang berbeda, mereka bukanlah hanya sekadar majikan dan asisten saja, melainkan teman. Selalu ada dalam keadaan yang saling membutuhkan satu sama lain.
__ADS_1
"Kenapa jadi seperti ini, Yo?" Marshal membuka selimut.
Rio terkejut melihat mata Marshal yang penuh air mata. Sesakit apa perasaan Marshal sampai terlihat hancur seperti itu? Setahu Rio, Marshal tidak pernah cengeng. Dia laki-laki tegar yang selalu bisa menghadapi setiap masalah dengan mudah. Tapi, kenapa menghadapi kepergiaan istrinya ternyata membuat dia hancur seperti ini?
Marshal bangun dari tidurnya. Duduk dengan selimut masih menutupi kakinya. Dia menunduk dengan lemah. "Aku sudah rela melepaskan Amanda, tapi kenapa semuanya tetap menjauhiku? Kamu bilang, jika aku mengakhiri hubunganku dengan Amanda, maka semuanya akan kembali baik-baik saja." Dia mengangkat wajah, melihat Rio dengan nanar. "Tapi apa hasilnya? Aku malah dibenci semua orang, Rio!"
Rio memandangi Marshal perihatin. Kenapa Marshal jadi menyalahkannya? Bukankah itu semua pilihannya sendiri, ulahnya sendiri. Kenapa jadi Rio yang disalahkan? Dia hanya memberikan saran waktu itu. Hanya memberikan kemungkinan, bukan memprediksi semuanya akan terjadi.
Susah payah Rio menelan ludah melihat tatapan Marshap yang sangat sulit diartikan. Marshal sangat memperihatinkan. Semalaman dia tidak bisa tidur dan sampai saat ini tidak mau makan. Dia sangat tersiksa setelah mendengar kata perpisahan dari istrinya. Rio semakin tidak mengerti, sebesar apa cinta Marshal pada Viona sampai dia terlihat hancur seperti ini?
"Arghh ... Zahra, kembalilah!"
Marshal menyugar rambutnya dengan kasar. Penampilan yang berantakan dan jangan lupakan lingkaran hitam yang semakin terlihat timbul di matanya. Beberapa hari terakhir dia memang tidak bisa tidur memikirkan banyak hal. Marshal sudah seperti tidak punya tujuan hidup lagi. Setiap hari hanya pusing hingga frustasi yang menemani deru napasnya.
Rio mengotak atik ponselnya dalam diam. Menelepon seseorang dan tidak lama panggilan pun tersambung.
"Halo, Rio?"
Marshal menoleh dengan cepat pada asistennya yang masih berdiri di samping ranjang. Suara Viona terdengar dari speaker ponsel. Kilatan binar muncul di mata Marshal. Dia segera meraih ponsel Rio dengan cepat, namun Rio malah menjauhkan ponselnya dari Marshal.
"Nyonya, kembalilah! Tuan sudah hilang akal sepertinya akan bunuh diri," ucap Rio pada Viona yang masih tersambung dari seberang sana.
Bukannya menjawab, Viona malah mematikan panggilan. Marshal langsung meradang melihat ponsel Rio saat suara tut tut tut terdengar menggema.
"Lihatkan, dia malah seperti itu padaku?! Dia sudah tidak peduli padaku, Yo!"
Rio kembali diam memandangi Marshal yang sudah seperti orang gila. Betapa Viona berpengaruh bagi kehidupan Marshal. Majikannya itu terlihat sangat kacau, dia jadi tidak tega melihatnya.
***
Diam memang tidak akan membuahkan sebuah solusi. Sampai saat ini Viona masih belum bisa tenang. Setelah menerima panggilan dari Rio, perasaanya semakin tidak karuan. Bagaimana jika Marshal benar-benar nekat bunuh diri? Rasa bersalah pasti semakin besar dalam diri Viona.
Ternyata keputusan yang dia pilih sama sekali tidak membawa kesenangan seperti yang ia harapkan. Sekarang malah membuat semuanya berantakan. Banyak orang yang jadi kacau karena keputusannya. Orangtuanya merasa bersalah dengan penuh penyesalan dan sekarang Marshal ingin bunuh diri?
Kenapa semuanya jadi begini? Apa keputusan Viona salah? Apa dia harus kembali menemui Marshal dan mengatakan jika perpisahan mereka perlu dibicarakan lagi? Atau sudah final saja mengakhiri semuanya?
"Tapi, hanya kembali menata pernikahan yang akan jadi solusinya," lirih Viona menangkup wajah.
Helaan napas dalam dia lakukan, membuangnya secara perlahan. Viona sudah memantapkan diri. Mungkin kembali akan jadi solusi. Dia akan tenang jika semuanya kembali baik-baik saja.
__ADS_1