Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Keuntungan Berinvestasi


__ADS_3

Dengan bahagia, Viona melingkarkan tangannya di lengan Marshal. Dia  menunjuk apa saja yang menurutnya menarik. Selesai menonton, Marshal membawanya berkeliling di Mall tersebut. Suaminya menawari Viona berbelanja apapun yang dia mau, tapi Viona tidak kunjung memilih barang. Hanya menunjuk dan berkata jika barang itu bagus. Saat Marshal menyarankan untuk membelinya, Viona justru tidak mau.


"Aku hanya suka melihatnya," tolak Viona lagi.


"Jika suka, kamu beli saja. Itu bisa diletakkan di kamar nanti." Marshal ingin menghampiri pelayan toko untuk membayar boneka yang dikatakan oleh istrinya jika itu bagus. Tapi, lagi-lagi Viona menahannya. "Kita beli saja. Kamu suka itu, kan?"


"Tidak perlu, Chal. Untuk apa? Aku hanya suka melihatnya saja, tidak ingin membelinya. Sudah, ayo, cari yang lain saja! Jangan membuang uang untuk hal yang tidak bermanfaat!" Viona kembali menarik tangan Marshal untuk melihat hal lain.


Suaminya hanya bisa menghela napas dan mengikuti langkah Viona ke mana pun dia mau. "Jika kamu mau membeli sama tokonya, aku juga tidak akan melarangnya, Sayang."


"Tapi, aku tidak mau."


Viona mengajak Marshal masuk ke dalam restoran. Saat Marshal melihatnya penuh tanya, Viona hanya tersenyum sambil mengusap perutnya. Marshal menggelengkan kepala melihat tingkah lucu istrinya. Dia suka jika Viona seperti saat ini. Terlihat lucu dan menggemaskan.


"Rio makan malam sendirian di rumah, kasihan," ucap Viona pada suaminya yang fokus melihat ponsel sembari menunggu pesanan datang.


"Rio tidak makan sendiri, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir sama dia," sahut Marshal, menyimpan ponsel di atas meja.


Viona memandangnya tidak mengerti. "Memangnya dia ditemani siapa? Kita makan malam di sini, loh." Viona semakin bingung saat Marshal memegang tangannya hingga terangkat. Viona mengernyit tidak paham saat suaminya memisahkan telunjuk tangan Viona untuk terarah pada meja lain.


"Lihat, kan, dia tidak makan sendirian?"


Mata Viona langsung membulat sempurna. Dia menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Rio duduk bersama seorang wanita yang dengan panjang rambut sebahu. Mereka berhadapan dan ... ow, Viona berseru gereget melihat tangan mereka bergenggaman di atas meja.


"Rio berkencan?" Viona terkekeh geli menanyakannya pada Marshal. Dia melihal lagi ke arah meja yang terdapat asisten suaminya di sana. Memang sedikit jauh, terhalang beberapa meja. Rio berada di pojokan sehingga Viona tidak menyadari kehadirannya. "Apa kamu tahu dia di sini?"


Marshal hanya menggeleng, mengucapkan terima kasih pada pelayan yang mengantarkan makanan mereka. "Dia hanya aku suruh pulang duluan. Aku tidak tahu, jika Rio memanfaatkan waktu dengan baik."


Viona masih melihat mereka dengan geli. Asisten suaminya itu terlihat sangat romantis sampai sesekali mengusap bibir pasangannya yang terkena noda makanan. "Apakah itu yang namanya Lena? Uh, ternyata dia sangat cantik. Pantas saja Rio sangat mencintainya." Viona tersentak kaget saat Marshal memalingkan wajahnya. Dia melihat Marshal kesal karena kesenangannya terganggu. Padahal dia masih ingin melihat Rio.


"Sudah, jangan melihat mereka terus! Cepat makan, tadi katanya sudah lapar."


Dengan terpaksa Viona membuka mulut, menerima suapan dari suaminya. "Pacar Rio cantik, ya. Apa itu yang namanya Lena?" ucap Viona dengan mulut penuh makanan.


"Tidak ada yang lebih cantik dari istriku. Jangan mengatakan wanita lain seperti itu! Di mataku, hanya kamu yang paling, paling, paling cantik, Sayang." Marshal menyodorkan suapan lagi saat istrinya akan kembali bicara, sehingga membuat Viona diam karena kesusahan mengunyah. "Makan yang banyak, supaya si cantik ini sehat!" Dicubitnya hidung Viona, Marshal terkekeh melihat istrinya mencebik dengan pipi yang mengembung.


"Nanti aku gendut, bagaimana?"


"Seberapa banyak pun lemak di tubuhmu, kamu tetap akan terlihat cantik, Sayang."


Setelah berhasil menelannya, Viona mengambil air minum dan meneguknya. "Sekarang saja berkata seperti itu. Nanti jika aku benaran gendut, pasti beda lagi, bukan?" Dia mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. "semua laki-laki juga seperti itu. Kamu juga sama seperti mereka," lanjutnya setelah menelan.

__ADS_1


Setelah mencuri satu ciuman kilat di bibir istrinya, Marshal menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Sambil mengunyah, dia menatap Viona dengan lekat. Senyuman terukir melihat pipi istrinya mengembung lagi karena mulutnya penuh makanan kembali. "Penggal kepalaku, jika aku meninggalkanmu!"


***


"Apakah istriku senang, hm?" Dia merangkul pinggang istrinya masuk ke dalam rumah.


"Aku senang, tapi sekarang lelah, ingin berbaring." Viona menyandarkan kepala di bahu suaminya. Sambil berjalan, mereka mengobrol ringan hingga sampai di depan pintu kamar Marshal.


Hari yang cukup melelahkan bagi mereka berdua. Hubungan mereka semakin hangat dan terasa begitu nyaman dengan sikap Viona yang sekarang mulai membalas perlakuan manis dari suaminya. Marshal bahagia mendapati sikap istrinya yang sekarang. Viona bahkan tidak menolak saat Marshal menciumnya sembarangan, bahkan Viona pun sudah mulai berani mencium pipi suaminya.


"Aku mau mandi di kamarku," tolak Viona saat Marshal menyuruh untuk masuk ke kamarnya. "Nanti aku ke sini lagi, deh, selesai mandi. Aku tidur di ka-ah, Chal!" Viona terkejut saat Marshal mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar. "Aku mau mandi dulu."


"Iya, mandi di sini saja!"


"Tidak mau! Bajuku di kamar itu."


"Diam, Sayang!"


Viona langsung berbaring di ranjang saat Marshal menurunkan tubuhnya. Dia melirik ke samping melihat suaminya yang ikut menghempaskan tubuh lelah di ranjang yang empuk dengan kaki yang menggantung. Mereka sama-sama diam. Viona mengikuti arah pandang suaminya melihat ke langit-langit kamar.


"Tidak terasa, kita sudah tiga bulan menikah, Sayang."


"Jika suatu saat ada badai menimpa rumah tangga kita, apa yang akan kamu lakukan?"


Viona mengubah posisi tubuh menyamping. Mereka berpandangan karena Marshal juga sedang melirik padanya. "Jika suatu saat aku menjadi wanita lemah, apa yang akan kamu lakukan?"


Alis Marshal terangkat dengan bingung. Dia tidak mengerti kenapa Viona malah balik bertanya padanya.


"Jika badai menghantam rumah tangga kita, aku pasti akan menghadapinya, jika aku punya tenaga yang cukup kuat sampai badai berlalu dan mentari terbit menemani hari kita." Viona terdiam sesaat. Dia melihat wajah Marshal yang masih tidak mengerti dengan maksud dari ucapannya. "tapi, jika aku lemah? Aku mungkin butuh bantuan untuk menghadapi badai tersebut. Jadi, jika aku lemah, apa yang akan kamu lakukan?"


"Hm ...," Marshal mulai pahan maksud istrinya. "jika kamu lemah, sepertinya aku akan ... mungkin aku akan semakin melemahkanmu sampai kamu tidak lagi bisa berdiri untuk menghadapi badai."


Viona membola tidak percaya. Tidak mungkin Marshal sampai setega itu padanya. "Kenapa seperti itu? Berarti kamu malah mau membunuhku?"


"Tidak, bukan seperti itu!" Marshal bergerak untuk bangun. Viona mengikutinya dan mereka duduk berhadapan. Digapainya lengan Viona, Marshal menggengamnya erat. "Aku tidak mungkin tega meliihatmu menghadapi badai seorang diri dengan tubuh yang lemah. Jadi, aku akan semakin melemahkanmu sampai tidak bisa lagi berdiri melawan badai. Aku tahu, kamu wanita yang keras kepala. Aku tidak mau kamu terluka untuk menghadapinya. Biar aku saja yang menghadapinya seorang diri. Cukup aku yang berusaha. Aku kepala keluarga, sudah jadi tanggung jawabku melindungimu, Zahra. Jika badai datang, aku tidak akan pernah membiarkannya menghancurkan rumah tangga kita."


Viona tersenyum mendengar penuturan Marshal. Ternyata suaminya punya rasa tanggung jawab yang cukup besar. "Jika badai tetap berhasil menghancurkannya, apa yang akan lakukan?"


"Aku akan memperbaiki kerusakan akibat badai dengan membangun investasi yang baru. Sebuah gedung yang rusak bisa diperbaiki dengan cara membangunnya kembali, begitupun rumah tangga kita. Sehancur apapun kerusakannya, aku pasti akan memperbaikinya kembali dengan kokoh. Aku akan belajar dari kerusakan sebelumnya supaya badai tidak lagi bisa menghantam rumah tangga kita."


Viona terkekeh pelan. Mengusap rambut Marshal saat suaminya menunduk untuk mencium tangan istrinya. "Terlalu ahli menjadi pengusaha property membuatmu seperti ini, Chal. Segalanya kamu kaitkan dengan investasi dan bangunan. Kamu menyamakan rumah tangga kita dengan pembangunan proyek?"

__ADS_1


Setelah menghentikan kecupannya terhadap tangan Viona, Marshal kembali menatap dalam istrinya. "Rumah tangga memang seperti proyek bagiku," ucapnya dengan lembut, "jika aku mengerjakan proyek itu dengan baik, menggunakan bahan yang bagus dalam membangunnya, maka hasilnya akan bagus dan terlihat kokoh. Setelah kokoh, kita tinggal mengelolanya dengan baik sampai bisa diinvestasi dan bisa menghasilkan keuntungan yang banyak. Dari keuntungan itu, bisa terbentuk kembali proyek baru yang lebih menguntungkan."


"Apa keuntungan dari rumah tangga yang bisa mendatangkan keuntungan baru itu? Aku rasa tidak ada."


"Ada, Sayang."


"Apa?"


"Anak. Anggap anak adalah keuntungan. Dari keuntungan itu bisa terbentuk proyek baru, jika anak kita menikah nanti dan menghasilkan keuntungan lagi. Begitu terus sampai kita punya cucu, cicit, dan seterusnya."


"Hm ...."  Viona mengangguk-anggukkan kepala dengan paham. Perumpamaan yang Marshal berikan memang sedikit aneh, tapi masuk akal. "Keuntungan hanya bisa didapat sesuai kerasnya usaha, kan?"


Marshal mengangguk mengiyakan. Dia mendorong tubuh Viona sampai berbaring dan segera menindihnya. "Bagaimana jika kita berusaha keras untuk mendapat keuntungan?"


Viona melotot tajam, mendorong dada suaminya saat Marshal sudah menyerang bibir dan lehernya. "Aku lelah, mau mandi!"


"Mandinya nanti saja, lebih baik kita berinvestasi supaya mendapat keuntungan."


Viona memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri menghindari serangan suaminya. "Mengerjakan proyek harus di siang hari. Jika malam pekerja beristirahat."


"Itu jika perusahaan, Sayang. Ini di rumah tangga kita. Siang ataupun malam sama saja. Yang penting proyek dikerjakan dan cepat selesai." Marshal membenamkan bibirnya di leher Viona. Mengecupnya sesaat sebelum terbenam cukup lama membuat Viona meringis menahan perih.


"Chal, ih!" Viona memukul lengan suaminya yang malah menyeringai puas, memberikan kecupan kembali di lehernya.


Marshal mengusap hasil karyanya dan tersenyum bangga. "Ini tanda jika proyek sudah mulai, Sayang."


Viona mendorong Marshal dengan kesal. Dia mengambil ponsel di tas miliknya yang tergeletak tidak jauh dari tubuhnya. Seketika Viona meringis dan menatap tajam pada Marshal. Dia kesal, namun wajahnya malah bersemu merah sambil melihat hasil karya Marshal di layar ponselnya.


"Menyebalkan!" Viona mengusap-usap bekas merah itu dengan kasar. Melihat Marshal yang malah tertawa senang, Viona semakin kesal. Dia tidak pernah mendapat hal seperti itu. Jika marah pun sudah terlambat karena tanda itu begitu jelas terlihat. "Kamu benar-benar menyebalkan! Bagaimana cara menghilangkannya?" Dia melihat lagi di layar ponselnya sambil mengusapnya kasar, berharap itu akan segera hilang.


Marshal menahan tangan Viona. "Jangan digosok seperti itu! Nanti malah jadi luka. Sudah, biarkan saja! Itu tanda dariku, jangan coba-coba menutupinya!"


"Nanti jika dilihat orang bagaimana? Aku malu."


Marshal terkekeh kembali, menggelengkan kepala. Dengan gemas dia mencium pipi istrinya. "Nanti juga hilang sendiri." Melihat istrinya yang semakin kesal dengan wajah meronanya, Marshal beranjak menuju kamar mandi. "Aku mandi duluan. Proyeknya ditunda dulu, aku lelah jika harus bekerja sekarang. Kata orang, menjalankan proyek untuk pertama kali, akan sulit dan membutuhkan waktu yang panjang."


"Mau apa lagi?" Viona langsung membentak saat Marshal yang sudah sampai di pintu kamar mandi, malah kembali mendekat padanya. Tubuh Viona mundur saat Marshal semakin mendekati wajahnya sambil menyeringai.


"Jika proyek dimulai sekarang, aku takut tidak bisa memuaskanmu, Sayang," bisiknya di telinga Viona, mencuri satu ciuman lagi di pipi istrinya sebelum dia berlari menuju kamar mandi.


"Marshal ...!" Wajah Viona bersemu merah menatap nanar ke arah pintu kamar mandi yang tertutup dengan cukup keras. Setelah menggodanya, Marshal malah melarikan diri. Sangat menyebalkan!

__ADS_1


__ADS_2