Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Rujuk Uhuy!


__ADS_3

"Sayang."


Viona menoleh sebentar pada Marshal, lalu kembali melihat layar ponselnya. Mereka masih berada di kamar rawat Rahma, sementara Wisnu tengah keluar sebentar untuk pemeriksaan kondisinya dengan dokter yang sudah ada janji temu, setelah dia melihat keadaan Rahma.


"Lihat aku dulu!" Marshal meraih tangan Viona ragu-ragu. Saat istrinya menoleh, dia terlihat sangat serius.


Viona hanya memperhatikannya masih terdiam, menunggu hal apa yang akan Marshal katakan padanya.


"Kita rujuk, kan?" Seharusnya Marshal tidak bertanya seperti itu lagi, karena Viona sedang hamil, mereka tidak mungkin bisa bercerai. Tapi, melihat Viona yang banyak terdiam, Marshal hanya ingin memastikan saja, jika Viona masih mau hidup dengannya. "Perceraian kita batal, kan? Kamu tidak mungkin mau melanjutkan pengajuan perceraian kita 'kan, Sayang?"


Viona tetap saja diam.


"Sayang?"


Viona hanya memberikan respon berupa gelengan kepala. Entah apa maksudnya itu.


"Katakan sesuatu! Kamu tidak berniat meneruskan perceraian kita, kan?" Marshal sudah tidak sabar, tapi Viona hanya membisu. Menghela napas, dia menyerah. Viona sepertinya tidak berniat untuk bicara saat ini. Marshal akhirnya diam. Dia berniat untuk beranjak, mengira Viona memang tidak mau berdekatan lagi dengannya. Dia akan menjauh.


Tapi, tangan Viona malah menahan pergelangan tangannya. Marshal terdiam, tidak jadi melangkah. Dia malah melihat Viona dengan bingung. Istrinya mendongak melihat kepadanya dengan serius.


"Apa aku boleh minta tolong?"


Alis Marshal terangkat, lalu dia mengangguk.


"Temui papa di kantornya! Kamu bisa, kan?"


Marshal hanya mengangguk lagi, masih tidak mengerti dengan permintaan istrinya. Dia menunggu kalimat yang akan terlontar dari mulut Viona, tapi kalimat itu malah lama tertahan. Viona terlihat ragu untuk berucap dan malah menatap matanya dengan lekat.


"Bilang sama papa, cabut gugatan yang pernah aku ajukan di pengadilan."


Butuh waktu beberapa saat untuk Marshal memastikan telinganya tidak salah mendengar suara. Itu suara Viona, bukan suara batinnya? Sulit dipercaya. Itu yang dia inginkan. Ketika kesadarannya seratus prosen dan telinganya sudah dipastikan tidak bermasalah, Marshal langsung memeluk tubuh Viona dengan erat, memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya sampai Viona menggeliat tidak mau.


Marshal sangat bahagia sekali mendengarnya. Dia mencubit gemas hidung Viona dan mencium pipi istrinya sekali lagi dengan bibir yang tersenyum lebar. "Aku akan segera pergi!" Dia sangat bersemangat sekali mengucapkannya. "Tunggu dan jangan ke mana-mana! Aku akan kembali membawa surat cabutan gugatan, Sayang!" Dia berlari keluar dari kamar tersebut dengan gembira, bahkan malah terlihat seperti orang gila yang baru saja mendapatkan hadiah giveaway.


"Tuan mau ke mana?" Rio melihatnya bertanya-tanya dan sedikit heran, saat Marshal meminta kunci mobil padanya di parkiran dan buru-buru pergi dengan senyuman lebar masih menghiasi wajahnya.


"Tolong temani nyonya dulu! Aku akan kembali membawa tiket keluarga bahagia!" teriak Marshal, sebelum dia berlari menuju mobil dan masuk ke dalam sana, mengemudikan mobil dengan kecepatan yang meningkat tinggi, keluar dari parkiran rumah sakit.

__ADS_1


Rio melongo melihat kepergian majikannya. Apa maksud dari ucapan Marshal barusan? Majikannya akan ke mana sampai terlihat sebahagia itu?


***


Dua hari berlalu, kondisi Rahma terlihat semakin baik, bahkan alat-alat medis telah dilepaskan dari tubuhnya. Tinggal selang infus yang masih menghiasi tangan, wajah Rahma sudah mulai terlihat cerai kembali.


Senyuman Rahma terlihat, ketika Viona berusaha keras untuk menjauhkan Marshal yang terus menempel dan menjahilinya yang sedang menyuapi sang ibu mertua. Marshal yang sangat usil, dengan senyuman lebarnya malah terus menganggu Viona. Istrinya sampai menggeram rendah dan melotot tajam. Dia kesal. Beberapa kali Viona menyuruh Marshal untuk pergi, tapi suaminya tetap saja tidak mau.


Pertikaian mereka terhenti saat mendengar suara kekehan dari Rahma. Mereka melirik sang ibu berbarengan, bingung dengan ekspresi geli yang Rahma tunjukkan saat ini. Padahal dia masih mengunyah, tapi malah tertawa geli seperti itu.


"Terakhir mama tahu, kalian pergi bulan madu. Tidak disangka, ternyata hubungan kalian malah semakin romantis," ucapnya dengan lemah, masih terlihat sisa senyuman dan kembali menguyah makanan di dalam mulutnya.


Viona dan Marshal saling pandang. Rahma bilang mereka semakin romantis? Itu salah besar. Jika saja Rahma tahu kalau mereka pernah hampir bercerai selama beliau koma, apakah reaksinya akan sama seperti saat ini?


Mereka tidak memberitahu Rahma perihal masalah yang menimpa sebelumnya. Kondisi Rahma belum stabil, mereka tidak ingin membuatnya banyak berpikir. Semua orang sepakat tidak akan memberitahu apa pun, sebelum Rahma benar-benar pulih dan sudah bisa beraktivitas seperti biasanya lagi.


Kabar kehamilan Viona juga belum diketahui oleh Rahma. Mereka masih merahasiakannya, karena berpikir ingin membuat kejutan kecil ketika Rahma telah bisa mengekspresikan kebahagiaan. Dan hari ini kondisinya semakin membaik, mungkin sudah saatnya. Rahma pasti sangat bahagia mendengarnya.


"Habiskan makannya, Ma! Setelah ini minum obat, ya," bujuk Marshal, di saat Rahma menggelengkan kepala, menolak suapan dari Viona. "Aku punya kabar bahagia. Kalau Mama sembuh, Mama pasti akan sangat bahagia mendengarnya. Bahkan aku yakin, Mama pasti langsung berjingkrak ria mengetahui hal itu."


"Kabar bahagia apa? Dan kenapa Mama harus berjingkrak, setelah mengetahuinya?" Rahma mau kembali menerima suapan dari Viona. Dia penasaran dengan hal apa yang membuat Marshal dan Viona tersenyum lebar padanya.


"Kalau mama tidur, lalu kabar bahagianya kapan disampaikan?" Rahma memandang Marshal dengan sebal. Sejak tadi putranya senang sekali usil, padahal hal itu bukan sifatnya. Marshal juga selalu terlihat berseri-seri ketikan memandangi Viona. Rahma semakin penasaran, sebenarnya hal apa yang ingin mereka sampaikan?


"Makan saja dulu, Ma. Nanti aku katakan."


Rahma semakin tidak sabar. Apalagi melihat senyuman Marshal yang sangat lebar dan penuh makna. Tidak pernah ada hal yang membahagiakan bagi Marshal, yang membuatnya sampai terlihat sebahagia itu. Sekalipun Marshal berhasil mendapatkan tender, dia bahkan tidak akan berani merahasiakannya dan membuat kejahilan terhadap ibunya sendiri, dengan membuat rasa penasaran Rahma meningkat secara bertingkat-tingkat.


Rahma telah selesai dengan makanannya dan telah meminum obat dengan baik dan benar. Dia menangih janji Marshal dan mendesaknya untuk mengatakan kejutan kecil yang Marshal ucapkan. Tapi, Marshal malah mempermainkannya dengan menyuruh Rahma lebih baik beristirahat dan segera tidur supaya dia cepat pulih.


Jelas Rahma tidak mau menurut. Marshal sudah membuatnya mengunyah dengan cepat, karena sangat ingin tahu dengan kabar bahagia yang Viona dan Marshal sembunyikan.


"Mama harus banyak istirahat. Kata dokter, jangan dulu banyak pergerakan." Marshal terkekeh geli saat tangan Rahma memukul tangannya dengan masih lemas. "Sayang, aku tidak bohong, kan? Dokter yang mengatakan itu padaku. Iya, kan?" Mencari teman untuk berbuat usil, Marshal melirik Viona sambil mengedipkan mata.


Viona hanya tersenyum menanngapinya membuatnya Rahma semakin mendesak ingin tahu. Namun, terhenti karena pintu kamar terbuka, terlihat Wisnu duduk di kursi roda yang didorong oleh Rio. Asisten Marshal pamit keluar kembali karena Marshal memintanya untuk membawakan buah segar yang baru untuk Rahma dan Wisnu.


Laki-laki setengah baya itu tersenyum hangat melihat pada Rahma yang terlihat begitu merindukannya. Wisnu sangat bahagia karena akhirnya sang istri bisa siuman setelah tiga minggu dia tidak sadarkan diri. Kecelakaan itu membuat dia dan istrinya terluka cukup parah. Wisnu bahkan masih saja merasa trauma dengan kecelakaan yang mereka alami saat akan mendatangi undangan ke luar kota tersebut.

__ADS_1


"Papa udah makan?" tanya Viona, setelah menyalami tangan mertua laki-lakinya.


"Sudah, Viona. Papa sudah makan dan sudah minum obat. Papa sudah minum, sudah tidur nyenyak dan sekarang papa sudah lebih baik."


Viona tersenyum kikuk melihat Wisnu yang tersenyum, seolah mengejeknya yang selalu mengingatkan untuk tetap menjaga makan tepat waktu dan jangan sampai lupa meminum obat, bertanya banyak hal dan menyarankan banyak hal pula demi kesehatannya.


"Kamu sendiri sudah makan?" Wisnu bertanya balik. Dia berdecak pelan, terlihat tidak suka melihat Viona menggeleng pelan. "Kenapa belum makan? Harusnya kamu udah makan jam segini. Apa Marshal tidak memberimu makan?"


Viona memberikan gelengan lagi. "Aku yang tidak mau, Pa."


"Iya, dia tidak mau makan, Pa. Aku sudah membujuknya, tapi tetap saja tidak mau," tambah Marshal, menatap Viona dengan lekat, memperingatkan.


Wisnu berdecak lagi, kemudian menghela napas. Dia melihat Viona dengan lekat. Menantunya hanya tersenyum seolah tahu apa yang akan dia sampaikan.


"Kamu harus makan, Viona. Kasihan cucu papa butuh makanan di dalam sana. Papa gak mau cucu papa kenapa-kenapa, lho."


Rahma melihatnya terdiam, matanya membuka lebar, masih mencerna pemandangan di depannya.


"Cepat makan! Nanti cucu papa kel-"


"Pa?" Rahma melihat pada Wisnu, bertanya. "Cucu ...."


Wisnu tertawa melihat wajah bingung istrinya. "Lha, Mama belum tahu?"


"Tahu apa?"


"Viona hamil, Ma. Kita akan punya cucu lagi. Temannya Zean, anak Chal."


Rahma nampak terkejut, melihat Viona dan berteriak histeris menanyakan kebenarannya.


Marshal lunglai seketika, menepuk jidat dengan keras. "Ya ampun, Papa!" Gagal sudah rencananya membuat Rahma semakin penasaran, karena Wisnu telah membongkarnya duluan. Sekarang dia melihat Rahma yang berusaha menggerakkan badan untuk memeluk menantunya. Rahma bahkan menangis sangking bahagianya mendengar kebar tersebut.


"Selamat, ya. Mama senang sekali, Viona. Mama akan punya cucu baru."


"Iya, Ma. Jangan nangis, dong! Nanti aku ikutan nangis." Viona mengusap air mata di wajah ibu mertuanya. Dia juga ikut-ikutan berkaca-kaca, bahagia.


Sedangkan Marshal memalingkan wajah dengan dongkol. Semua orang selalu memberikan selamat dan memeluk Viona atas kehamilannya. Tidak ada yang memberikanselamat padanya sejauh ini. Tidak bisakah mereka menyadari, jika kehamilan Viona disebabkan olehnya? Jika Marshal tidak menggempurnya habis-habisan, tidak mungkin anak itu terbuahi dan menjadi janin sekarang.

__ADS_1


Cih! Tapi, semua orang tidak menganggap itu, seolah Marshal memang tidak berkontribusi atas kehamilan Viona. Sudahlah, nasibnya memang selalu mengenaskan. Yang penting sekarang semua orang bahagia dan mendoakan yang terbaik untuk anaknya.


__ADS_2