Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Mulai Tercekat


__ADS_3

"Selangkah kamu berani pergi tanpa izinku, maka perusahaan ayahmu akan musnah."


Langkah Viona terhenti seketika di saat peringatan Marshal menggema. Dia berbalik badan menghadap Marshal dengan tajam. "Kenapa Tuan melarang saya pergi? Apa hak Tuan mengatur hidup saya?"


Sudah kepalang kesal karena sedang terburu-buru, namun dia harus menghadapi Marshal yang menurutnya mulai berlebihan. Padahal sebelumnya Marshal tidak pernah bersikap berlebihan seperti itu pada Viona. Jangankan melarang, memberikan nada keras saja tidak pernah. Laki-laki itu selalu bersikap baik padanya. Tapi, kenapa hari ini Marshal berbeda bahkan berani mengancamnya?


"Apa? Kembali duduk! Aku tidak mengizinkanmu pergi."


Tangan Viona mengepal menghadapi sifat angkuh Marshal. Dia tidak menyangka jika Marshal akan bertindak semenyebalkan itu. "Saya harus pergi, Tuan. Saya-"


"Yasudah, sana pergi!" Marshal mengibaskan tangannya dengan wajah yang terlihat sangat angkuh.


Mari kita lihat, apa Viona akan menurutinyaatau malah tetap melangkah pergi tanpa menghiraukan peringatannya?


Viona kembali membalikkan badan dan melangkahkan kakinya setelah Marshal menyuruhnya untuk pergi. Namun, baru dia memegang gagang pintu, langkahnya kembali terhenti saat suara Marshal kembali terdengar,


"Pergilah! Maka perusahaan ayahmu juga akan ikut pergi." Marshal tidak percaya jika Viona ternyata tetap melangkah pergi tidak mengindahkannya.


Tangan Viona mengepal di udara. Giginya mengerat dengan geram. Dia segera kembali berbalik badan. "Tuan mengancam saya?"


Dengan santainya Marshal hanya tersenyum miring. "Ancaman atau pemberitahuan, ucapanku wajib kamu pahami." Viona terdiam dengan geram. Menatap Marshal dengan tajam. "Aku sudah bilang tadi, perusahaan ayahmu akan baik-baik saja jika kamu menurut padaku."


"Apa hak Tuan melarang saya? Urusan penawaran itu tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan hidup saya, Tuan. Jadi, Tuan tidak berhak mengatur hidup saya seperti itu." Habislah sudah kesabaran Viona. Dia semakin kesal pada Marshal karena pikirannya sudah tertuju pada teman-temannya yang sudah menunggu.

__ADS_1


"Jelas hidupmu sekarang sudah menjadi urusanku. Aku bebas mengatur hidupmu karena kau calon istriku. Jadi, menurutlah padaku!"


Viona berjalan mendekat kembali pada Marshal. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua sehingga salah satu bersuara maka frekuansinya akan terdengar menggema.


"Tuan bilang, Tuan bisa mengatur hidup saya karena saya calon istri, Tuan?" Viona tersenyum smirk.


"BA-RU-CA-LON!" ucapnya tepat di depan Marshal. "dan, Tuan sudah mengatur hidup saya seperti itu? Seharusnya Tuan tidak melakukan semua itu pada saya. Hidup-hidup saya, kenapa Tuan yang melarang? Siapa Anda sa-"


"Jangan membantahku!" bentak Marshal. Emosinya sudah memuncak melihat sikap Viona yang ternyata jauh dari ekspektasinya. Dia tidak menyangka jika Viona akan berani membantah ucapan Marshal dengan begitu lantangnya.


Viona berkacak pinggang. Membalas tatapan tajam dari Marshal dengan sorotan yang tidak kalah tajamnya. "Kenapa? Kenapa saya tidak boleh membantah ucapan Anda? Apa karena saya calon istri Anda?" Sebisa mungkin Marshal terdiam. Walaupun emosinya sudah sampai ubun-ubun. "BARU CALON, TUAN! Jadi, Tuan tidak berhak mengatur hidup saya sejauh itu. Maaf, jika saya tidak sopan. Tapi, saya harus pergi."


Marshal menggebrak meja dengan keras hingga Viona yang hendak berbalik badan, terperanjat. "Berani pergi, kamu?" Marshal berdiri dari duduknya. "Sudah lupa dengan kesepakatan kita? Apa kamu lupa dengan persetujuanmu beberapa waktu lalu? Jika tidak ada aku, apa yang akan kalian lakukan dengan perusahaan itu? Mungkin sekarang kalian akan mengumumkan kebangkrutan, bukan?" Marshal tersenyum miring melihat tubuh Viona yang menegang.


Lama mereka saling memandang. Viona hanya mampu terdiam saat dia tersadar jika sikapnya sudah keterlaluan terhadap Marshal. Dia lupa jika perusahaan ayahnya sekarang tergantung dari tangan Marshal. Lalu apa yang harus dia lakukan? Teman-temannya pasti sudah menunggu. Tapi, Viona tidak mungkin pergi jika Marshal bersikap seperti ini. Nasib keluarganya dalam ganggaman Marshal. Viona tidak bebas dalam menentukan kehendaknya lagi.


Melihat Viona yang hanya terdiam dengan tatapan yang sedikit melunak, batin Marshal tertawa senang. Dia rasa Viona tidak akan bisa mengelak jika diingatkan terus dengan nasib keluarganya. Dan hal itu sangat menguntungkan bagi Marshal yang ingin Viona bisa menurut padanya.


"Kenapa hanya diam di situ? Tidak jadi pergi?" tanya Marshal terdengar seperti ledekan. Viona tetap diam. Tangannya mengepal di samping paha tapi dia tidak bisa bertindak.


"Jika tidak jadi pergi, maka kemarilah! Duduk kembali denganku!"


Viona tetap diam di tempatnya berdiri. Perasannya semakin bimbang di saat otaknya menyuruh untuk pergi menemui teman-temannya, tetapi hatinya berkata jangan pergi dan turuti ucapan Marshal demi keluarganya.

__ADS_1


Pikiran Viona berkecamuk sehingga dia hanya terdiam memandangi Marshal yang juga tidak mengalihkan pandangannya dari Viona. Mereka saling pandang membuat suasana ruangan terasa mencekam.


Di tengah keheningan antara dua manusia itu, dering ponsel begitu nyaring mengalihkan perhatian mereka.


Viona membuka tas dan mengambil ponselnya. Tertera nama temannya di sana. Dia bingung untuk mengangkatnya. Melirik Marshal sekilas, dia perhatikan lagi layar ponsel yang masih menampilkan pemanggil yang sama.


Seolah tahu dengan pikiran Viona, Marshal kembali duduk dengan tatapan tanpa henti beralih dari wajah calon istrinya yang terlihat bingung. "Kenapa tidak diangkat?" Dia tahu yang menelepon Viona pasti orang tadi yang mengabari jika mereka akan pergi mendaki.


Dengan ragu Viona menerima panggilan tersebut. Dia menjauhkan ponsel dari telinga saat temannya itu mengomel panjang karena dia yang tidak kunjung datang.


Setelah dikira temannya itu tidak akan mengomel lagi, Viona kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. "Maaf, aku gak jadi pergi, Na." Tidak menunggu sahutan, Viona langsung mengantongi ponselnya kembali.


Marshal menyeringai puas mendengar perkataan Viona. "Kemarilah! Kamu tidak jadi pergi, kan?"


Viona memutar bola mata, jengah. Baru kenal seperti ini saja kebebasannya sudah tercekat, apalagi jika sudah menikah. Untuk bernapas saja mungkin Viona harus punya aturan.


"Kenapa hanya diam? Kemari!"


Dengan terpaksa Viona kembali duduk bersama dengan Marshal. Meskipun tidak mau, tapi harus menurut, bukan? Mau tidak mau Viona harus mengikuti semua perkataan Marshal dan mengubur semua egonya untuk berontak. Tidak ada gunanya dia mengelak maupun membantah. Masa depan keluarganya sudah berada dalam genggaman Marshal.


Sehingga seharian itu dia harus rela mengorbankan waktunya untuk menemani Marshal. Mulai dari makan siang sampai bertemu dan berbincang dengan rekan bisnisnya yang sama sekali tidak Viona kenali.


Terpaksa. Ya, semuanya dia lakukan karena keterpaksaan. Jika bukan karena keluarganya, bukan karena nasib perusahaan ayahnya, dia tidak mungkin mau melakukan semua itu.

__ADS_1


__ADS_2