
Perasaan bahagia singgah dalam diri Marshal. Betapa senangnya, dia bisa kembali tidur dengan istrinya setelah hampir seminggu mereka tidak tidur bersama. Dan selama itu pula, Marshal tidak pernah tidur sama sekali karena dia terus teringat dengan istrinya dan banyak hal yang harus dia pikirkan.
Berbagai masalah yang hinggap bersamaan membuatnya kelimpungan dan benar-benar stress. Tapi, sekarang pikirannya mulai sedikit tenang, karena Viona sudah kembali padanya. Yang perlu dia pikirkan hanya bagaimana menyelesaikan masalah perusahaan yang sedikit menurun popularitasnya karena berita perselingkuhannya dengan Amanda. Marshal juga harus mencari cara untuk bisa memutuskan kekasihnya.
Setelah kejadian di pesta waktu itu, Marshal tidak pernah bertemu dengan kekasihnya lagi. Amanda sering menghubunginya, namun tidak pernah Marshal terima panggilan darinya. Seringkali Amanda juga datang ke kantornya, namun Marshal lagi-lagi menghindarinya. Menyuruh para penjaga untuk tidak membiarkan Amanda masuk dan bertemu dengannya.
Entah perasaan apa yang Marshal rasakan. Pikirannya terlalu fokus pada Viona, sehingga dia lupa dengan hal lainnya. Dia memang mencintai Amanda, namun dia benar-benar tidak mau kehilangan istrinya. Dan dia sudah menyiapkan diri untuk menjauhi Amanda. Memang masih berat untuk Marshal melepaskan Amanda, namun dia tidak mau pernikahannya dengan Viona berakhir begitu saja. Jadi, mau tidak mau, dia harus rela melepaskan Amanda dan melupakan rasa cintanya, meskipun sampai saat ini Marshal belum yakin dia bisa melakukannya.
"Selama kamu tidak ada, aku tidak pernah bisa tidur, Ra." Marshal menyurukan wajahnya di leher Viona. Istrinya masih diam dan menerima diperlakukan seperti apapun. "Sekarang aku mau tidur, temani aku! Jangan tinggalkan aku sendiri!"
Viona tersenyum manis. Tangannya mengusap tangan Marshal yang masih memeluknya. "Tidurlah yang nyenyak! Saya akan menemani Tuan sampai terlelap."
Marshal semakin bahagia mendengar perkataan istrinya. Dia mengecup leher Viona dengan lembut. "Terima kasih sudah mau kembali padaku."
Dianggukkannya kepala dengan pelan. Viona kembali tersenyum. Satu tangannya meranyap ke atas untuk menggapai kepala Marshal. Menyisir rambut tebal suaminya dengan jemari tangan. Marshal semakin terbuai. Rasa kantuknya mulai menyerang. Kenyamanan yang Viona berikan sepertinya akan membuat Marshal bisa tidur kembali, setelah seminggu dia susah menyelami alam mimpi.
"Cepat tidurlah!" Viona mengusap, sesekali menyisir rambut suaminya penuh kelembutan. "Tidurlah yang nyenyak! Peluklah sesuka hati Tuan, karena setelah ini saya akan pamit untuk pergi ke pengadilan."
Marshal yang baru saja akan terlelap, kembali membuka mata. "Untuk apa?"
"Mengajukan gugatan cerai."
Marshal langsung bangun dan terduduk. Memandang Viona tidak mengerti. Dengan santai Viona malah tersenyum dan mengusap lengan suaminya. "Kenapa malah bangun, katanya mau tidur. Ayo, saya peluk kalau perlu. Ini akan menjadi pelukan terakhir dari saya."
"Apa maksud ucapanmu barusan?"
Viona menyeringai. "Jika Tuan lupa, maka akan saya ingatkan kembali." Viona ikut duduk menghadap suaminya yang sudah kembali terlihat emosi. Tatapan tajam penuh introgasi Marshal pancarkan pada istrinya. Viona hanya tersenyum miring melihatnya. "Kita sudah sepakat, saya yang berkuasa sekarang. Dan barusan Tuan merenggut kebebasan saya dan memaksa supaya saya menemani Tuan untuk tidur. Saya rasa, kesepakatan kita sudah tidak berlaku, bukan? Saya bebas memutuskan. Tuan sudah membuat saya tidak nyaman."
"Mana bisa seperti itu ... Aku hanya meminta ditemani tidur, kenapa jadi membahas hal tadi?"
__ADS_1
Viona membuang napasnya dengan kasar. Dia harus meningkatkan rasa percaya diri yang tinggi untuk menghadapi suaminya. "Tuan lupa, jika sekarang saya yang memegang kendali?"
Mulut Marshal terbuka lebar. Viona sungguh akan memegang kendali atas dirinya? Bagaimana mungkin? "Tapi, sudah kewajibanmu menuruti keinginanku, bukan?"
Viona berdecak. Mengalihkan pandangan ke samping sejenak dan kembali memandangi suaminya dengan jengah. "Jangan membawa kewajiban, yang saya bahas sekarang tentang kebebasan. Saya bebas berpendapat, bebas melakukan apapun, bebas berbuat apapun dan juga bebas untuk mengandalikan semuanya. Tuan sudah berjanji tidak akan mengganggu kebebasan saya lagi, tapi- "
"Baiklah, sudah! Aku kalah." Marshal memilih menyerah. Berdebat dengan istrinya hanya akan memperburuk keadaan. Untuk saat ini dia harus menahan segala macam perasaan. Viona baru saja kembali padanya, dia tidak mau Viona berniat pergi lagi. "Oke, aku yang salah. Maaf, sudah merebut kebebasanmu."
Viona tertawa girang dalam hati. Dia menang. Wajah Marshal terlihat merah menahan amarah. Viona tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dia pasti bisa keluar dari kurungan Marshal.
Karena Viona hanya diam, Marshal menyentuh tangannya, sehingga istrinya melirik dengan sinis. Bukan membalas sinis, Marshal justru melembutkan raut wajahnya. Dia tersenyum sangat hangat pada Viona.
Putri Heru Pratma tersebut memicingkan mata melihat tingkah suaminya. Dia tahu, otak Marshal pasti sedang mengolah keuntungan, Viona harus waspada. Biarpun Marshal sudah bilang kalah, tapi tetap saja, Marshal adalah Marshal. Egois selalu dinomor satukan dan tidak mungkin menyerah begitu saja.
"Temani aku tidur, ya." Viona mendengus. Dugaannya benar. Dia menolak keras dan berniat untuk segera turun dari ranjang. Namun, Marshal menahannya. "Aku mohon, temani aku tidur. Apa kamu mau aku sakit? Aku sudah seminggu tidak bisa tidur."
Viona hanya diam memandangi wajah memelas suaminya. Dia tidak mau menuruti keinginan Marshal. "Tuan tinggal tidur sendiri 'kan bisa. Saya ke luar dulu."
"Ke kamar mama." Viona turun dari ranjang. Marshal kembali menahannya sampai Viona tersentak dan jatuh ke atas ranjang. "Mau apa lagi? Saya harus ke kamar mama."
Marshal menahan bahu Viona, mendorongnya kasar sampai Viona terlentang. Dia memandangi wajah istrinya dengan sorotan sulit diartikan. Viona sudah mengaktifkan sinyal waspada. Dia tidak mau Marshal berbuat yang tidak-tidak padanya.
"Tuan!" Viona mendorong Marshal yang akan menindih tubuhnya. Dengan tenaga penuh, Viona berhasil mendorong suaminya hingga Marshal menggeser ke samping seraya menggeram kesal. "Jangan seenaknya!"
"Kamu istriku. Apa salahnya jika aku-"
"Salah, karena saya tidak mau." Viona segera bangkit. Dia harus menghindari Marshal secepatnya sebelum suaminya menggila. Viona takut kejadian awal-awal pernikahan kembali terulang. Tidak mau Marshal berbuat seenaknya lagi padanya.
Marshal meraup wajahnya dengan kasar. Sampai kapan Viona membatasinya untuk menjelajah. "Aku hanya ingin menciummu, apa itu juga tidak boleh?"
__ADS_1
"Tidak!" Dengan tegas Viona membentak di depan wajah suaminya. Marshal sampai memundurkan wajahnya karena kaget.
"Hanya sekali, Sayang."
"Tidak."
Marshal memberengut lucu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Viona sampai menahan tawa melihat tingkah konyol suaminya. Sepertinya otak Marshal memang mengalami gangguan. Perilakunya tidak Viona kenali sama sekali. Di mana Marshal yang berkuasa dan suka mengekangnya itu? Viona sama sekali tidak melihat wibawa lagi pada sosok suaminya.
"Sayang ...," Marshal kembali merayu dengan wajah memohonnya. "aku rindu, ingin menciummu. Sekali saja!"
Marshal merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia jadi memohon seperti ini pada istrinya? Bukankah Viona adalah miliknya, tapi kenapa sekarang dia harus meminta izin dengan susah payah hanya untuk menciumnya saja. Konyol. Ada apa dengan dirinya? Marshal sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan.
Tapi, sedikit menye-menye tidak masalah. Siapa tahu bisa meluluhkan hati Viona.
Marshal kembali mendekati Viona. Memegang tangan istrinya dengan lembut. "Sekali saja. Jika tidak mau, maka temani aku tidur. Aku ingin tidur sambil memelukmu, Sayang."
Viona mendengus. Menampar pelan rahang suaminya sampai wajah Marshal berpaling ke samping. "Jangan memanggil saya seperti itu!" ucapnya tidak suka.
Marshal malah semakin menggila. Dia ingin mengetahui seberapa kuat Viona mengendalikannya. Marshal laki-laki hebat, tidak mungkin takluk di tangan istrinya sendiri. Dia pasti bisa meluluhkan Viona dalam waktu dekat. Istrinya pasti tidak akan bertahan lama dengan kepercayandiriannya tersebut.
"Sayang, ak-"
"Apa? Awas, ah! Saya harus ke kamar mama." Viona turun dari ranjang, berjalan menuju pintu dengan cepat. Dia tidak mau menanggapi sikap aneh suaminya lagi. Marshal sedang dalam kondisi gila. Dia harus memastikan keadaan suaminya dulu sebelum dia mendekatinya. "Ingat, saya yang berkuasa sekarang!"
Brak!
Marshal terperanjat saat Viona menutup pintu kamar dengan keras. Dia terbengong di atas ranjang memandangi kepergian istrinya. Butuh beberapa kali kerjapan mata untuk dia mengembalikan kesadarannya.
"Argh, sial! Dia memegang kendali dan aku kalah lagi." Marshal mengacak rambutnya frustasi. Menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Menghela napas dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Dia harus tenang, Viona baru kembali. Marshal harus menahan diri lebih kuat lagi. Tapi,
__ADS_1
"Ya, Tuhan ... kenapa aku jadi suami takut istri?"