
"Kasihan nyonya, Tuan. Saya ikut prihatin mendengarnya," ucap Rio, setelah mendengar semua cerita yang Marshal bagi terhadapnya.
Marshal hanya tersenyum manis. Setidaknya dengan mengetahui kondisi Viona saat ini, dia jadi tahu, Viona memang sudah menyayanginya dan memang tidak ingin kehilangan. Marshal harus bersyukur atas hal itu. Tapi, dia juga kasihan. Apalagi mendengar Viona menangis, dia malah tidak tega.
Sebentar lagi, Sayang. Bertahanlah, sebelum aku akan memberikan kejutan manis untukmu. Semoga kamu menyukainya.
Marshal melihat layar ponsel yang menampilkan gambar Viona. Nampak senyuman manis tersunging di wajahnya, tapi tidak terlihat begitu tulus. Hari wisuda kemarin Viona sangat cantik dengan riasan sederhananya. Marshal menyayangkan waktu yang tidak bisa dia sisihkan untuk menemani. Dia hanya bisa mendengar dan mendengar.
Pagi ini Marshal juga mendapat kabar dari ayahnya, jika semalam Viona tidak makan sama sekali dan memilih beristirahat di kamar. Marshal merasa sangat bersalah, karena dengan sengaja dia mengirimkan potrait dirinya saat bersama dengan Garmita, guna memanasi hati sang istri.
Akankah Viona mengampuninya kali ini? Marshal memang sengaja melakukannya untuk menjahili Viona, meskipun dia sebenarnya tidak tega dan tidak kuat menahan semua yang dia perbuat sendiri. Bahkan sepanjang malam dia harus menahan diri untuk tidak mendekap tubuh lembut tersebut.
Apa dia sudah terlalu berlebihan? Padahal kejutan yang dia berikan tidak akan sebanding dengan keusilannya kali ini.
***
Tidak ada Marshal, Viona bebas melakukan apa pun yang dia inginkan, termasuk berjalan-jalan sebentar di taman kota. Menghirup udara segar yang terasa menyesakkan hati. Dia sendiri.
Tadinya, Viona berpamitan kepada orangtuanya untuk pulang ke rumah Marshal. Tapi, di perjalanan pulang, Viona merasa jenuh dan memilih untuk menyegarkan diri sejenak.
Sebenarnya dia belum mau pulang, karena dia rasa hal itu juga untuk apa. Marshal tidak ada di rumah. Viona hanya melakukannya untuk menghindari kecurigaan Heru dan Lina yang sepertinya tengah menyelidiki perihal masalah rumah tangganya saat ini. Viona tidak ingin mengatakan apa pun pada mereka. Ini masalahnya dan tidak terlalu besar. Dia bisa menanganinya sendiri.
Terdapat dua orang anak kecil-perempuan dan laki-laki yang tengah bermain gelembung menarik perhatian Viona. Mereka tertawa bersama, mengejar gelembung yang terbang di udara, lalu meletus dengan sendirinya. Viona tersenyum, menggiring langkah untuk mendekati mereka.
Senang sekali rasanya melihat dua anak itu bermain. Viona melirik sekitar, mereka masih kecil, tapi tidak ada orang dewasa di sekitaran sana. Viona pun duduk di kursi panjang yang dekat dengan dua anak tersebut. Senyuman masih menghiasi wajahnya saat ini. Mereka membawa sensasi tersendiri ketika Viona memperhatikannya.
"Di mana orangtua kalian?"
Mereka memperhatikan Viona sejenak, masih terlihat sisa tawa di wajahnya. Lalu anak perempuan menunjuk arah utara. Viona mengikuti tunjukan tangannya dan mengangangguk paham sambil tersenyum. Seorang wanita yang nampak dewasa tengah berbincang dengan satu wanita lainnya yang terlihat seumuran. Mereka berbincang sambil memilah paper bag yang entah apa isinya, tapi sesekali memperhatikan dua anak yang kini melanjutkan bermainnya.
Viona memperhatikan lagi dua anak itu. Anak laki-laki meniupkan gelembung dan anak perempuannya melompat kegirangan, ingin menangkap gelembung yang terbang di udara. Mereka nampak bahagia sekali.
__ADS_1
Bugh!
Viona menoleh ke belakang, mendengar suara benda besar terjatuh di dekatnya. Dia melirik kanan kiri tidak ada apa-apa. Melihat ke depan lagi, dua anak kecil tadi sudah tidak ada. Ke mana mereka?
"Mmmph!" Viona melotot tajam, terkejut saat sebuah kain dari tangan seseorang membekap mulutnya dari belakang.
Belum sempat Viona memastikan siapa yang berani membekapnya, tiba-tiba dia merasa pusing, pandangannya memburam dan matanya terasa berat. Setelah itu dia tidak tahu apa lagi yang terjadi. Semuanya gelap dan tubuhnya terasa melayang di udara. Hampa.
***
Di mana ini? pertanyaan itu terus saja berputar dalam benaknya, sejak dia pertama kali membuka mata.
Viona meringis pelan, memegang kepala yang terasa berat dan sedikit berdenyut. Matanya masih sayu, tidak bisa menyaring cahaya dengan baik. Dia baru sadarkan diri, di sebuah ruangan yang luas. Terbaring di atas kasur empuk bernuansa putih. Sepertinya sebuah kamar hotel. Wangi pengharum ruangan menusuk indera penciuman, terasa malah semakin membuat kepalanya pusing. Viona mual.
Apa yang terjadi padanya? Siapa yang membawa dia ke sini?
Viona ingin beranjak dari kasur, tapi kepalanya malah semakin pusing. Ah, obat bius tadi sepertinya masih bereaksi. Tapi, siapa yang berani membiusnya dan membawa tubuhnya? Apakah dia orang jahat?
Tubuhnya limbung. Baru berdiri sejenak, Viona sudah tidak kuat. Sambil menahan kepala yang terasa berdenyut nyeri, Viona kembali mendudukan tubuhnya di tepi ranjang. Melihat sekitar yang nampak sepi, Viona tidak tahu siapa pelaku di balik semua ini. Dia masih bingung dan menerka apa yang sebenarnya telah terjadi.
Melihat tasnya tergelak di atas nakas, Viona meraihnya dengan susah payah. Dia mengambil ponsel dan melihat jam digital yang tertera. Pukul 17.58.
Viona berpikir keras, siapa yang akan dia hubungi sekarang, sedangkan dia sendiri masih belum menyadari dengan apa yang telah terjadi terhadap dirinya. Dia masih kebingungan dan entah berada di mana sekarang.
Setelah berpikir lama, Viona membuka ponsel kembali dan mencari nomor Frans. Sahabatnya pasti bisa dimintai tolong untuk saat ini.
"Ada apa, Vi? Tumben."
Sekarang Viona malah terdiam dengan masih mendengarkan suara Frans dari seberang sana. Dia jadi bingung sendiri, apa yang harus dia katakan pada Frans? Apa dia harus mengatakan, jika ia diculik? Atau bagaimana? Viona sendiri belum tahu apa yang sudah terjadi.
"Frans, kamu lagi sibuk?"
__ADS_1
"Nggak. Kenapa emang? Ada apa? Tumben banget nelepon gue."
Viona menggigit bibir, tidak tahu harus mengatakan apa. Dia melihat lagi sekeliling, mengamati semua sudut dan barang yang ada di sana. Terasa sepi sekali.
"Vi? Lo masih denger gue?"
"Masih." Viona tidak bisa mengatakan apa pun. Bingung harus menjelaskannya dari mana. "Aku butuh bantuan kamu, Frans."
"O ... kay. Apa tuh?"
"Emm ... aku gak tahu." Viona meringis pelan mendengar Frans yang malah terkekeh. "Aku serius gak tahu, Frans. Aku bingung."
"Lo ada masalah?"
"Iya."
"Masalah apa? Coba cerita ke gue."
"Masalahnya ... bingung." Viona memegang kepala yang kembali terasa pusing. Kenapa efek dari obat biusnya sangat terasa mendera seperti ini? Dia bahkan sangat sulit untuk membuka mata dengan lebar. "Aku-" Viona menghentikan ucapannya mendengar suara di depan pintu kamar yang ditempatinya.
Menutup sambungan telepon, Viona memperhatikan pintu dalam diam, namun menunggu dan menelisik. Terdengar langkah yang semakin mendekat dan tidak lama, kemudian gagang pintu bergerak. Viona sudah was-was dan ketakutan. Dia harus waspada.
Sampai pintu terbuka menampilkan sosok perempuan dewasa yang terlihat sudah berumur, membawa nampan berisikan banyak makanan. Dahi Viona mengernyit melihat perempuam itu masuk dan tersenyum kepadanya.
"Vennay?"
Kenapa manager Amanda ada di sana? Apa dia ada hubungannya dengan keadaan Viona saat ini?
________________
Oooowww .... apa yang sebenarnya terjadi pada Viona, Guys?
__ADS_1
Stay healthy to you, Readers!😙