Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Tidak Berarti Apapun


__ADS_3

"Makasih, Chelle. Aku pinjam sebentar aja, kok." Dengan cepat Viona menuju kamar Marshal, setelah dia meminjam ponsel adik iparnya untuk dia gunakan menghubungi temannya.


Sesampainya di kamar, Viona langsung mencari sosial media sahabatnya. Jika menghubungi Aness di jam seperti saat ini, tidak mungkin mendapat respon, maka dia memutuskan untuk menghubungi sahabat yang satunya lagi. Si playboy tingkat dewa. Frans pasti belum tidur, meskipun waktu sudah menjukkan pukul sebelas malam.


Untung saja Michelle baik mau meminjamkan ponsel padanya. Sudah malam, Michelle mau tidur jadi tidak membutuhkan ponsel lagi, katanya. Hal tersebut memudahkan Viona untuk mencari tahu kabar terbaru tentang Sendi. Dia terpaksa meminjam ponsel Michelle karena miliknya tidak ada. Boro-boro membawa ponsel, tadi pagi, Viona bahkan tidak sempat mengganti baju karena Michelle yang memaksanya untuk ikut.


Sosial media Frans berhasil dia temukan, Viona segera menghubunginya lewat akun Michelle tentu saja. Kemudian, mengalihkannya ke sambungan panggilan setelah Frans memberikan nomornya lewat chat room sosial media. Dia sudah mencemaskan Sendi dan ingin segera mengetahui kabar kelanjutannya. Betapa kesalnya Viona saat Frans malah bilang jika dia ternyata sudah tahu mengenai kabar Sendi sejak tiga hari yang lalu.


"Kenapa gak ngasih tahu aku, dongo?!" bentak Viona dengan kesal, duduk di lantai pojokan kamar dengan kaki tertekuk. Ponsel dia tempelkan ke telinga kanan, mendengarkan penjelasan dari sahabatnya lewat sambungan telepon. "Harusnya kamu kasih tahu aku, Frans. Aku baru tahu dari papa Wisnu barusan." Nada bicara Viona mulai berubah.


Terdengar helaan napas dari seberang sana. "Gue udah neleponin lo, tapi gak diangkat-angkat. Yaudah, gue pikir lo udah tahu."


Viona memaki Frans sekali lagi. Dia marah pada sahabatnya, dia juga marah pada dirinya sendiri. Kabar sepenting ini saja sampai tidak tahu. Tidak ada yang mengabarinya lagi selain Frans, yang katanya menelepon namun tidak Viona angkat. Tiga hari yang lalu, sabahatnya sudah tahu namun kenapa berita ini tidak juga sampai ketelinganya.


"Kemarin, gue ke sana sama anak-anak. Kondisinya masih sama, belum sadar juga."


Menyandarkan punggung pada tembok. Viona masih duduk di lantai dengan kaki ditekuk ke depan. Dia memejamkan mata dengan ponsel masih di depan telinga, dipegang dengan tangan kanan. Perasaannya mulai tidak karuan saat Frans menjelaskan lebih detail tentang kondisi Sendi. Dia menunduk, memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya di sana.


Sendi.


Nama itu berputar-putar dalam benaknya. Orang yang dicintainya kini sedang dalam keadaan koma. Kenapa harus ada kabar yang menyakitkan seperti ini? Viona tidak bisa membayangkan bagaimana lemahnya tubuh Sendi saat ini. Dia hanya berharap, semoga Sendi bisa cepat sadar dan sembuh kembali.


***


Perlahan dibukanya pintu kamar, Marshal menengok ke dalam. Suasana hening begitu terasa menyeruak ke dalam tubuhnya. Dia bisa menyusul Viona setelah selesai dengan Wisnu yang ternyata memberikannya petuah dan peringatan supaya tidak berbuat yang aneh-aneh lagi. Wisnu juga mengatakan, jika Marshal tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Viona beri untuknya.

__ADS_1


"Laki-laki tidak tahu diri seperti kamu seharusnya tidak diberi kesempatan lagi. Masih bagus Viona mau memaafkan, kalau tidak ... sudah pasti kamu akan hidup sendirian. Papa juga tidak sudi mempunyai anak seperti kamu, tidak tahu diri."


Kalimat yang Wisnu katakan, membuat Marshal merasa jika dia memang beruntung bisa kembali bersama Viona lagi. Wisnu benar, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Sebisa mungkin, Marshal harus bisa meluluhkan Viona secepatnya. Dia tidak mau kata perpisahan itu kembali terucap dari mulut istrinya. Karena alasan untuk mereka berpisah masih banyak faktor yang bisa mendorong. Terlebih, sampai saat ini Marshal belum tahu apakah Viona sudah mencintainya atau belum. Jika Viona masih saja belum mencintainya, maka jika kata perpisahan itu kembali terucap, besar kemungkinan akan benar-benar terjadi. Karena mereka tidak punya alasan yang kuat untuk mempertahankaan rumah tangganya, lagi.


Dilihatnya tubuh sang istri yang menunduk di pojokan kamar sambil memeluk lututnya. Marshal mendekat ke arah Viona. Dia ingin tahu reaksi Viona sejauh apa setelah mendengar kabar mengejutkan tadi.


Marshal tertegun saat sudah dekat dengan tubuh istrinya, Viona menaikkan wajahnya. Melihat padanya dengan penuh air mata membasahi mata dan pipi mulusnya. Hidungnya memerah. Viona mengusap wajahnya dengan tangan kiri, di tangan kanan terdapat ponsel yang di genggamnya erat.


"Kenapa nangis?" Marshal berjongkok di hadapan istrinya. Viona melihat padanya sejenak sebelum dia kembali mengusap wajah dan berdiri. Berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Marshal yang sudah panik melihat keadaannya seperti itu.


Marshal menyusul istrinya, namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi. Viona tidak mengizinkannya mengikuti dan malah mengunci pintunya. Terpaksa dia menunggu di depan pintu dengan perasaan panik campur khawatir.


Apa Viona menangis karena sedih mendengar Sendi kecelakaan? Pemikiran itu muncul di benak Marshal. Besar kemungkinan, jawabannya benar. Setelah mendengar kabar dari Wisnu tadi, Viona langsung berubah, bahkan langsung pamit untuk pergi. Istrinya pasti syok berat mengetahui hal itu. Tapi, apa harus sampai terpukul seperti itu? Rasanya Marshal tidak rela jika Viona menangisi laki-laki, selain dirinya.


Disandarkannya punggung pada tembok di samping pintu kamar mandi. Kedua tangan dia masukan ke dalam saku celana. Marshal semakin cemas karena Viona tidak kunjung keluar. Tidak tahu apa yang Viona lakukan di dalam, tapi Marshal berharap Viona tidak menangis lagi.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Dengan sigap, Marshal menyambut istrinya. Wajah Viona terlihat basah, mungkin baru dibasuh. Hidungnya masih memerah dan matanya terlihat sedikit sembab. Marshal merasa iba melihatnya, namun mengingat siapa yang Viona tangisi, emosinya kembali naik. Dia tidak suka air mata Viona keluar hanya karena Sendi.


Marshal ingin bicara lagi menanyakan keadaan istrinya, namun Viona menghindarinya dan berjalan melewati Marshal begitu saja. Tidak bicara sepatah kata pun. Viona masuk ke dalam ruang ganti, Marshal mengikutinya di belakang dalam diam.


Dahi Marshal berkerut heran saat Viona mengambil jaket miliknya. Dia terus mengawasi gerak-gerik istrinya yang masih tidak mau mengeluarkan suara. Mereka hanya saling diam dan Marshal terus memperhatikan istrinya dengan bingung.


"Saya pinjam jaketnya sebentar, ya, Tuan," ucap Viona menunjukkan jaket pada suaminya. Marshal mengangguk seperti orang bodoh. Dia tidak mengerti, kenapa Viona meminjam jaket miliknya?


"Saya keluar sebentar, jika sudah ngantuk, Tuan tidur duluan!" Viona memakai jaket dan berjalan menuju pojokan ruangan tempat terakhir kali dia murung seorang diri. Mengambil ponsel adik iparnya dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Mau ke mana?" Marshal menahan Viona yang sudah menyentuh gagang pintu, hendak membukanya.


"Keluar sebentar, Tuan," sahut Viona dengan lemah. Suaranya terdengar agak serak menurut Marshal. Mungkin karena tangisan tadi. "Hanya sebentar."


Marshal mencekal tangan Viona dengan erat. Dia memandangi istrinya tidak terbaca. "Jangan bilang kamu mau ke rumah sakit?"


Viona menunduk memandangi lantai. Marshal sampai membuang napasnya kasar dan segera menarik tangan Viona menjauh dari pintu. Istrinya tersentak kaget karena Marshal yang tiba-tiba menarik tangannya.


"Aku tidak mengizinkanmu pergi."


Viona memandang Marshal dengan tatapan penuh kesedihan. Melepaskan cekalan Marshal dari tangan, namun Marshal tidak membiarkannya terlepas dan malah semakin erat memegangnya. "Saya tidak perlu izin Tuan untuk pergi sekarang," ucapnya masih tenang.


Marshal menajamkan mata melihat Viona. "Seorang istri pergi tanpa izin suami, itu tidak dibolehkan. Kamu tidak boleh pergi!"


Dihelanya napas dalam. Viona memandang Marshal penuh. "Saya mengubah keputusan dengan syarat, bukan? Apa Tuan lupa?" Nada bicara Viona penuh penekanan.


Marshal menggeram. "Masa bodoh dengan syaratmu itu. Pokoknya, kamu tidak boleh pergi!"


Cukup sudah kesabaran Viona tertahan. Dia menghempaskan tangannya kuat hingga terlepas dari cekalan Marshal. "Tuan tidak bisa mengatur hidup saya lagi. Apa yang akan saya lakukan, itu hak saya!"


Marshal terkesiap saat Viona membentak di depan wajahnya. Dia ikut emosi karena Viona semakin berani padanya, namun Marshal tidak bisa terlalu keras di hadapan istrinya saat ini. "Sudah malam, aku tidak mau kamu kenapa-napa. Menurutlah, Zahra! Jangan membantah suami!"


Viona tidak peduli dengan suaminya. Dia berjalan dengan cepat menuju pintu. Pikirannya hanya dipenuhi dengan Sendi. Dia sangat mencemaskannya dan ingin segera melihat keadaannya. Namun, lagi-lagi Marshal menahannya, menarik Viona sampai ke dekat ranjang.


"Mau apa kamu menemui dia lagi, huh? Siapa dia sampai kamu melawan suami hanya demi menjenguknya? Aku bilang tidak boleh pergi, ya, tidak boleh. Jangan membantahku hanya demi dia yang bahkan bukan siapa-siapa!"

__ADS_1


Pandangan Viona kian nyalang. Kesedihan sirna tergantikan dengan rasa marah pada suaminya. Marshal sudah kembali seperti semula dan dia tidak mungkin bisa mengalah untuk saat ini. Perasaannya sedang tidak karuan karena mengkhwatirkan kondisi Sendi, namun Marshal malah membuatnya emosi tak tertahankan. Dengan berani di berdiri tepat di hadapan suaminya. Terpaksa mendongak demi membalas tatapan Marshal yang juga diselimuti amarah.


"Sendi memang bukan siapa-siapa, tapi dia sangat berarti bagi saya. Berbeda dengan Tuan yang sama sekali tidak berarti apapun, meskipun Tuan suami saya," ucap Viona pelan penuh penekanan. Menekan-nekan dada Marshal dengan ujung telunjuknya.


__ADS_2