
Harisman membawa Anika pergi dengan mengendarai mobil nya sendiri. Ia tidak ingin pihak Tata dan suami anaknya mengejar mereka dan menghalangi niatnya membawa pergi Anika.
Harisman sudah berkendara selama satu jam lebih, tetapi Anika masih tetap tidak bergerak dengan tubuh terbungkus kain jarik dari pinggang hingga ke kepala. Harisman yang heran melihat Anika yang duduk di bangku sebelahnya tidak bergerak sama sekali, hanya hembusan nafas nya lah yang teratur menandakan ia tertidur lelap.
"Anika sayang! Berapa lama lagi kau harus tertidur? Apa kau tidak lapar nak? Kasihan bayi mu jika kau menahan lapar! Ayo bangun Anika! Papa akan menghentikan mobil di rest area agar kita bisa mencari makanan yang kau mau! Ayo bangun Nak! " Harisman menepuk-nepuk pelan bahu Anika dengan tangan kirinya.
Anika hanya terdiam dan tetap tertidur dengan nafas teratur, Harisman segera melajukan mobilnya agar cepat sampai di rest area yang di tuju. Akhirnya dari kejauhan tampak rest area yang akan menjadi tempat persinggahan Harisman untuk melepas lelah dan lapar setelah membawa mobil selama hampir dua jam-an.
Harisman memarkirkan mobilnya di parkiran area tersebut. Ia mematikan mesin mobil lalu membangunkan Anika dengan lembut.
"Anika sayang, bangun Nak! Kita istirahat dulu disini sambil makan siang yang sudah terlewat. Ayo bangun, Papa tidak mau nanti bayi mu kenapa-napa karena kau kelaparan ! " ucap Harisman sambil menepuk lembut bahu Anika.
"Eeeuuuggghhh.... "Suara lenguhan yang membuat tubuh yang tertutup kain jarik itu bergerak menggeliat dan perlahan tapi pasti kain jarik penutup tubuh bagian kepala pun tersibak dan...
"Kau!.... Siapa Kau? Kenapa kau ada di sini! Dimana anakku Anika? " ucap Harisman dengan wajah terkejut melihat perempuan yang ada di balik kain jarik tersebut.
"Aku Anika Papa! Anakmu! Bukan kah Papa menginginkan Anika pergi bersama Papa? " jawab perempuan tersebut dengan wajah di bikin polos.
"Kau bohong! Katakan, siapa kau! Bagaimana bisa kau ada di sini! Cepat katakan! " teriak Harisman dengan wajah marah sambil mengguncang bahu perempuan itu dengan kasar.
Tidak ingin tubuh berharganya di sakiti laki-laki yang ada di hadapan nya, perempuan itu langsung melawan dengan menangkap tangan Harisman dan memelintir nya dengan sekuat tenaga sehingga membuat Harisman memekik kesakitan.
"Brengsek ! Siapa kau! Katakan dimana anakku sialan! " maki Harisman sambil menahan sakit pada lengannya.
"Sakit Huh! Jangan karena kau penyumbang ******, kau seenaknya mengakui Anika sebagai anakmu! Apa andil mu dalam membesarkan Anika hingga saat ini! Apakah kau ada memberikan serupiah pun uang mu untuk kebutuhan Anika? Atau adakah kau memberikan seujung kuku kasih sayangmu untuk Anika? Tidak kan? Jadi jangan berlagak seolah kau seorang ayah yang berhak pada Anika! " ejek Suster Sumi dengan ucapan yang menohok hati Harisman.
"Kau seharusnya beruntung Nona kami tidak menyuruh kami menghabisi mu saat ini juga! Apa kau pikir Nona kami itu orang bodoh yang tidak tahu jika ada orang yang mengawasi rumah nya diam-diam? Dasar bodoh! " ucap Suster Sumi lagi dengan sangat muak.
"Kalau saja bukan karena Nona, sudah ku habisi kau dari tadi! " sahut Suster Sumi lagi dengan seringai yang menyeramkan.
Harisman langsung bergidik ngeri melihat ekspresi perempuan yang di hadapannya dengan tubuh bergetar menahan takut. Selama hidupnya ia tidak pernah takut pada siapapun, bahkan ia tergolong orang yang kejam ketika berhadapan dengan orang yang ia anggap penghalang nya. Ia bahkan tidak segan-segan melukai fisik orang tersebut tanpa pandang bulu asalkan semua keinginan nya tercapai.
Tetapi sekarang ini nyalinya menciut karena perempuan di hadapan nya bagaikan sesosok iblis yang menyamar sebagai perempuan cantik tetapi begitu mematikan.
"Di-dimana anakku! Kalian apakan anakku? " tanya Harisman dengan terbata-bata sambil berpura-pura kuat.
"Cuih... Kau seharusnya bersyukur anak biologis mu di perlakukan istimewa oleh Nona ku! Kau pikir Nona kami bisa di kelabui begitu saja? Saat ini Anika di tempatkan di tempat yang paling aman dari orang-orang serakah seperti mu! " jawab Suster Sumi dengan sinis.
__ADS_1
"Kalian pikir kalian itu siapa? Kalian tidak berhak mengatur Anika mau bersama siapa! Aku berhak bersama Anika dan aku akan memberikan kasih sayang yang besar untuk putriku yang dulu tidak pernah ia dapatkan! " teriak Harisman dengan berang meluapkan kemarahannya.
"Hei, kecilkan suaramu! Telingaku sakit mendengar nya! " sahut Suster Sumi dengan cuek mengorek kupingnya seolah-olah amarah Harisman hanya tiupan angin lewat.
Melihat reaksi perempuan yang ada di hadapan nya yang tidak merasa takut sedikitpun membuat Harisman lumayan agak gentar.
"Ya Tuhan, perempuan seperti apa yang ada di hadapanku ini! Anak buahnya saja sangat mengerikan begini, tidak ada takut nya sedikitpun. Apalagi yang di sebut nya Nona tadi, mungkin lebih mengerikan dari perempuan ini! " batin Harisman dengan wajah mengeluarkan keringat dingin.
"Hah... Membosankan sekali! Tuan, lebih kau pergi jauh saja dari sekitar Anika, karena jika kau sampai terlihat berkeliaran di sekeliling Anika kau bisa membuat Nona ku naik pitam. " ucap Suster Sumi memberikan saran kepada Harisman.
"Kau dan Nona mu itu tidak berhak menghalangiku untuk menemui anakku sendiri! " bentak Harisman dengan kasar.
"Terserah kau saja Tuan, yang penting aku sudah berbaik hati memperingatkan mu! Kalau begitu selamat berjuang! Aku pergi dulu! " jawab Suster Sumi dengan cuek keluar dari dalam mobil dengan perut palsunya itu.
"Arrrggghhh.... " teriak Harisman sambil memukul stir mobil nya dengan keras.
"Sial.... Sial... Bagaimana rencana ku bisa gagal begini? Setahuku detektif yang aku sewa tidak pernah melihat orang mereka bertindak mencurigakan! Kenapa semua nya berantakan seperti ini! Arrrggghhh.... " teriaknya lagi dengan menjambak rambutnya sendiri.
*Flashback on
Tata yang hendak menjawab omongan Mak Ijah ketika wanita tua yang penuh kasih itu memasukkan bekal yang begitu banyak ke dalam mobil seketika membatalkan niatnya karena ponsel rahasia nya bergetar di dalam saku celana jeans nya.
Tata naik ke lantai atas kamar nya dan langsung mengunci pintu kamar. Ia merogoh ponsel yang ada di dalam kantong celana nya dan membaca pesan singkat yang membuat keningnya berkerut.
"Nona, ada orang yang mengawasi kawasan Villa sore hari ketika tamu Nona keluar dari Villa! " begitu lah kira-kira maksud pesan tersebut yang meminta Tata untuk waspada.
Tata langsung kepikiran Anika dan kandungannya. Ia langsung meminta Suster Sumi untuk menemuinya di kamarnya lantai atas melalui panggilan telepon. Tidak lama kemudian, Suster Sumi datang dan tanpa bicara Tata memperlihatkan pesan yang ada di ponselnya itu.
"Apakah ada orang yang Nona curigai? " tanya Suster Sumi dengan wajah serius.
"Ayah biologis Anika! Satu-satunya yang aku curigai! " jawab Tata dengan dingin.
"Kalau Nona yakin dengan kecurigaan Nona, apa yang akan Nona lakukan? " tanya Suster Sumi lagi.
"Aku punya rencana bagus, dan kau harus membantuku meyakinkan semua orang yang ada di sini tidak terkecuali para orang tua! " jawab Tata dengan seringainya.
Tata pun membisikkan rencananya di telinga Suster Sumi yang kemudian di angguki Suster Sumi dengan memberikan jempolnya kepada Tata.
__ADS_1
Mereka berdua turun dari lantai atas bersama-sama. Suster Sumi pun dengan cepat melakukan tugasnya dengan berbicara dengan para orang tua, sedangkan Tata menemui Anika yang sedang duduk santai sambil bermain ponsel.
"Kamu mau ikut kakak gak ke Jakarta? Katanya Ibuk kamu kangen dengan Bang Kadir dan anak-anak? " ucap Tata menghampiri Anika.
"Emang boleh Kak? " tanya Anika dengan sangat antusias.
"Ya boleh lah, masa ketemu sama keponakan sendiri di larang! " jawab Tata menganggukkan kepalanya.
"Tapi, Anika takut Mas Riko marah dan melarang Anika pergi! " ucap Anika yang langsung berwajah mendung.
"Gak kok sayang, Mas gak marah, Mas malah seneng kalau kamu perginya dengan Kak Tata! Soalnya ada yang bisa Mas andalkan untuk menjaga kamu! " jawab Riko yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Anika melonjak kegirangan mendengar ucapan suaminya, ia pun memeluk Riko dengan wajah bahagia.
Anika langsung menggandeng Riko berjalan ke luar rumah menghampiri semua orang dengan wajah bahagia.
"Ayo Anika kamu bawa ini biar rebahan, Ibu hamil itu gampang lelah jika kebanyakan duduk! " ucap Suster Sumi memberikan bantalan khusus Ibu hamil yang di taruh di bangku belakang.
"Wah, ide bagus! Ayo Kak kita pergi, Anika mau coba rebahan pakai beginian di jok belakang! " jawab Anika dengan antusias tanpa curiga sedikitpun.
"Dek, Hati-hati bawa Anika! Masa kalian jalan-jalan sebentar pakai bawa beginian segala! " ucap Ibuk dengan heran.
"Gak papa Buk, kan cuma bentar doang! Nanti pasti bosan sendiri! "Jawab Tata santai.
Ia lalu menyalami semua orang termasuk Mak Ijah, ayah Jamal dan tak ketinggalan Ibuk tercinta nya. Sedangkan Tegar berdiri di dekat Riko tanpa bicara sedikitpun, ia menatap tajam di sekeliling rumah.
Tata pun langsung masuk ke dalam mobil dan karena Anika berbaring di jok belakang, jadi Tata seperti pergi seorang diri.
Orang suruhan Harisman tersenyum senang ketika melihat mobil keluar dari Villa yang banyak penjaga itu dengan seorang perempuan yang mengendarai nya.
Dari dalam mobil, Tata tersenyum miring ketika keluar dari gerbang Villa nya. Ia pun melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang sambil menikmati alam sekitar.
Flashback off*.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semua nya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...