
Pagi-pagi sekali Tata sudah bangun dan sholat subuh. Kali ini ia tidur sendirian karena Dave menjaga Abeth di rumah sakit menggantikan Henry yang di suruh pulang untuk beristirahat.
Ia memutuskan pergi ke rumah sakit membawakan sarapan untuk suaminya.
"Mbok... ! Sarapan nya taruh di rantang ya? Tata mau ke rumah sakit, mau sarapan bareng sama Mas di sana! " pinta Tata begitu ia sampai di dapur.
"Siap Den Ayu! " jawab Mbok Nah dengan memberikan jempol nya.
Drrrtttttt.... Drrrrrrttttt... Suara getar ponselnya yang sudah beberapa hari ini tidak ia nyalakan.
Sebuah pesan masuk dari Sandra yang bertanya ia dimana dan sedang apa.
"Aku lagi di rumah! Sebentar lagi mau ke rumah sakit xxx! Kita ketemuan di sana aja, Tot! "
Begitu bunyi balasan pesan yang ia kirim pada Sandra.
"Makanannya sudah siap Den Ayu! " ucap Mbok Nah dengan meletakkan rantang empat susun di atas meja.
"Hmmmm... Wangi banget! Makasih ya Mbok! Sampai kan pada semua orang kalau Tata ke rumah sakit! " ucap Tata dengan meraih tangan Mbok Nah dan menyalami pamit.
"Iya Den Ayu... ! Hati-hati di jalan! " jawab Mbok Nah sudah tidak sungkan lagi.
Waktu pertama kali Tata menyalaminya setiap akan pergi seperti pamit pada Mami Sita, Mbok Nah tidak mau dan menolak. Ia merasa tidak pantas Tata menyalami seorang pembantu walaupun ia sudah tua. Tapi Tata keukeh melakukan semua itu karena didikan orang tua nya yang selalu mengajarkan nya untuk menghormati orang yang lebih tua dari kita.
Semenjak saat itu ia dan yang lainnya menjadi terbiasa dengan perilaku Tata setiap mau pergi.
Sesampainya ia di rumah sakit, ia melihat suaminya sedang tertidur di sofa rumah sakit dengan posisi meringkuk. Meskipun ada bed tambahan untuk keluarga yang menunggu tapi tetap saja tidak nyaman tidur di rumah sakit.
Sepertinya ruangan ini agak dingin dan Tata meraih remot AC untuk menaikkan volume nya agar udara nya tidak terlalu dingin.
Tata mendekati Abeth yang masih betah dengan tidur panjang nya. Ia masih belum sadar semenjak selesai operasi dan itu sudah memakan waktu dua hari. Tata mengecup pipi Abeth yang putih pucat kiri kanan dan menggenggam erat tangan nya.
"Kak, kenapa kau belum juga bangun? Apa kau marah padaku hingga kau masih betah tidur! Bangun lah Kak, aku benar-benar mengkhawatirkan mu! Semua orang juga mengkhawatirkan mu Kak! Kakak jangan khawatir, bajingan yang memukul kakak sudah di bereskan suamiku, adik kakak! Bangunlah Kak, kamu semua menunggumu! " ucap Tata pelan dengan tangan kiri mengusap pipi Abeth.
Ia mendengar suara melenguh dan ternyata itu suara suaminya yang sedang berpindah posisi. Tampaknya ia tidak begitu nyaman tidur di bed tambahan tersebut walaupun pas di tubuh besar dan tingginya.
Tata berjalan mendekati bed suaminya tidur. Ia mengusap lembut rambut Dave dan membangunkan suaminya dengan memberikan banyak kecupan di wajah suaminya.
"Sayang... Jangan memancing Mas sepagi ini?? " ucap Dave dengan suara serak.
"Aku gak mancing loh Mas.. Aku mau bangunin kamu aja! Yuk bangun, cuci muka! Aku bawa sarapan dari rumah! Kita sarapan sama-sama ya.. ! " jawab Tata dengan memberikan kecupan singkat di bibir suaminya.
Saat Tata hendak menjauhkan bibirnya, Dave menahan tengkuk Tata dan menariknya kembali dengan ******* bibir istrinya dengan sangat lama. Mereka melakukan french kiss dengan begitu lama hingga Tata ngos-ngosan kekurangan oksigen.
"Morning kiss baby.. ! " ucap Dave begitu melihat wajah cemberut Tata.
"Mas ih... Bau jigong tau! Aku kan udah mandi dan udah sikat gigi! " sahut Tata dengan bibir mengerucut ke depan.
"Ha... Ha... Ha... Mas gak peduli! Tapi kamu suka kan pagi-pagi di kasih morning Kiss! " jawab Dave dengan tertawa ngakak.
"Mau gimana lagi kalau leher aku di tahan! Dah ah, cuci muka sana! Aku mau nyiapin sarapan kita dulu! " sahut Tata gengsi mengakuinya.
"Dih... Malu-malu gitu! bikin gemes aja! " ucap Dave gemes dengan mencubit pipi istrinya.
Ia pun turun dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka sekalian buang air kecil.
Tata duduk di sofa dengan membuka rantang yang ia bawa dari rumah dan menata nya di atas meja.
Dave keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di samping istrinya. Tata meraih tisu dan mengelap wajah suaminya yang basah karena tidak ada handuk.
Mereka pun sarapan berdua dengan Tata menyuapi Dave makan sambil bercanda berdua.
Jari Abeth tampak bergerak sebelah kanan dan terdengar suara lirih yang masih belum terdengar oleh pasangan suami istri tersebut.
"Ha... Haus... "
__ADS_1
"Haus... "
"Mas diam! Seperti dengar suara orang! " ucap Tata dengan menempelkan telunjuknya di bibir Dave.
Dave mengecup telunjuk Tata membuat Tata mendelik kesal dan kembali menajamkan telinganya.
"Ha.. Haus... "
Mereka berdua saling berpandangan dan kompak berteriak.
"Kakak..... ! "
"Mas kakak Mas... ! Kakak udah sadar! "pekik Tata kegirangan dengan langsung berlari menuju ranjang Abeth.
"Iya sayang Mas dengar! " sahut Dave tersenyum bahagia.
"Kak, ini Tata! Kakak haus ya! Tunggu sebentar ya Kak, Tata ambilkan minum nya! " ucap Tata dengan mengusap lembut pipi Abeth.
Perlahan tapi pasti Abeth membuka mata nya, karena silau ia menyipitkan matanya hingga Dave menutup cahaya lampu dengan tubuhnya.
Tata datang dengan sebotol kecil Le Minerale dan sebuah pipet mendekati mereka. Ia menyodorkan pangkal pipet pada mulut Abeth sambil memegang botol tersebut. Abeth menyedot air tersebut secara perlahan.
"Mas, kenapa bengong aja? Ayo panggil dokter! " ucap Tata pada suaminya.
"Eh iya, aku panggil dulu! " sahut Dave berjalan keluar.
Melihat Dave berjalan menjauh Tata memanggilnya dengan wajah heran.
"Mas mau kemana?? " tanya Tata dengan kening berkerut.
"Lah, kan katanya suruh panggil dokter! " jawab Dave cuek
"Yassalam Mas, Mas... ! Kenapa repot-repot keluar panggil dokter? Tuh, pencet aja tombol merah dekat kepala kakak! Mereka bakalan datang ke sini tanpa kita susah payah turun ke bawah panggil mereka! " ucap Tata tepok jidat.
"Kenapa kamu gak bilang sayang??? " ujar Dave dengan menekankan kata sayang.
Terlihat Abeth tersenyum tipis mendengar ejekan Tata pada ketidaktahuan Dave kegunaan tombol di atas kepalanya.
"Apa kamu bilang, ndeso?? Iya... Rasakan ini! " ucap Dave geram dan tanpa ampun menggelitik pinggang istrinya.
"Ha... Ha... Ha.... Ampun Mas, geli.. ! Ha... Ha... Ha... geli.. !! " pekik Tata tertawa sambil berusaha menjauhkan jemari Dave di pinggang nya.
Mereka berlarian mengitari ranjang Abeth saling menggelitik satu sama lain hingga terhenti karena suara ketukan pintu ruang rawat.
Tata merapikan pakaian nya yang kusut sebelum membuka pintu. Seorang dokter pria yang tampan dan beberapa perawat masuk untuk melihat keadaan Abeth.
Dokter pria tersebut terpaku melihat wajah cantik dan ayu Tata yang menyambutnya dengan tersenyum manis.
"Ekhemm.... ! " ucap Dave keras dan langsung pasang badan di depan Tata membuat tubuh mungil Tata tertutup di belakang nya.
"Kakak saya sudah sadar! Silahkan periksa keadaan nya! " ucap nya dingin dengan merentang kan sebelah tangan mempersilakan dokter tersebut bekerja.
Dokter itu mendengus saat Dave menghalangi ia memandang Tata dan mulai mendekati Abeth untuk memeriksa keadaan nya.
"Dasar mata keranjang, gak bisa lihat bening dikit langsung melotot! Rasanya pengen aku colok matanya biar gak bisa lihat lagi! " gerutu Dave kesal dengan suara pelan.
"Mana keranjang nya Mas, kok aku gak lihat dokternya bawa keranjang di matanya! Cuma stetoskop aja tuh yang ia bawa di leher! " bisik Tata celingak celinguk.
"Gak lucu... ! Jaga mata, di larang lihat laki-laki lain selain Mas! " ucap Dave langsung membawa muka Tata ke dalam dadanya.
"Dasar posesif! Masa iya setiap laki-laki lewat aku harus tutup mata gitu?? " omel Tata menggerutu.
"Ide bagus itu... ! " sahut Dave santai.
"Apa??? Ish... Mas nyebelin tau gak! " pekik pelan Tata dengan mencubit perut suaminya tapi tidak bisa karena keras banget.
__ADS_1
"Ini perut apa batu sih! Keras banget! Susah banget mau di cubit! Ih.... kesel! " ucap Tata kesal karena tidak berhasil mencubit nya.
Dave terkekeh pelan melihat istrinya kesal karena gagal mencubit nya.
"Bagaimana dokter keadaan kakak saya?? " tanya Tata dari jarak dua meter saat melihat dokter tersebut selesai memeriksa Abeth.
"Semuanya bagus! Tidak ada yang perlu di khawatirkan! Usahakan jahitan nya jangan sampai basah! Perawat akan mengganti perbannya setiap hari satu kali ! Pasien bisa belajar mengerakkan anggota tubuh nya sedikit demi sedikit! Dilarang untuk duduk dan berdiri dulu! Jika lelah berbaring, setel saja bed nya agar menyesuaikan dengan keinginan pasien! " jawab dokter tersebut dengan tersenyum ramah.
"Terimakasih dokter! " ucap Tata juga dengan ramah.
"Cih, gak usah berterimakasih! Toh, itu memang pekerjaan nya! " sahut Dave ketus.
Tata menyenggol perut suaminya agar bicara sopan dan jangan ketus.
Dokter tersebut memasang wajah tidak suka pada Dave dan tersenyum ramah pada Tata sesaat ia akan keluar ruangan Abeth.
"Mas.. ! Kasih tahu keluarga kakak sudah sadar! Henry juga, Mas! " ucap Tata begitu rombongan dokter keluar dari ruang rawat Abeth.
"Iya.... ! " jawab Dave masih dengan nada kesal.
Tata geleng-geleng kepala melihat suaminya masih belum hilang kesal nya. Ia mendekati ranjang Abeth, membelai rambut Abeth dengan tersenyum bahagia.
"Kakak senang kamu baik-baik saja Ta... ! " ucap Abeth dengan lirih.
"Kakak gak usah khawatir kan aku! Kakak harus cepat pulih, biar kita bisa jalan-jalan lagi! Kali ini gak akan ada lagi yang akan menculik kakak atau aku karena aku akan menyewa bodyguard yang akan menjaga kita kemanapun kita pergi! Kakak jangan takut ya?? " sahut Tata dengan lembut .
Abeth mengedipkan matanya pertanda setuju dan tersenyum tipis.
"Mereka lagi di perjalanan mau ke sini! " ucap Dave memberitahu Tata.
"Ya udah, kalau gitu Mas pulang aja dulu begitu mereka sampai! Mas kan belum mandi juga ! Aku ada janjian dengan Sandra di sini! " sahut Tata lagi sambil memberitahu jika ia akan bertemu Sandra.
Baru memberitahu suaminya ia akan bertemu Sandra, ponselnya berdering tertera nama Sandra di sana.
"Ya halo Tot.. ! Oh ya udah, aku samperin aja ke bawah! Tunggu aku di sana! " begitu bunyi percakapan Tata pada Sandra.
"Mas, aku menemui Sandra dulu ya! Kamu di sini aja sampai Mami Papi datang! Oh ya, kalau kamu mau samperin aku, aku di kantin rumah sakit! Cup.. ! " pamit Tata dengan mencium tangan suaminya dan memberikan kecupan singkat di bibir Dave.
"Aku keluar dulu ya Kak! " pamit Tata dengan mencium pipi Abeth.
"Hati-hati sayang... ! " ucap Dave sewaktu Tata mau menutup pintu.
Tata mengangguk sambil tersenyum manis dan ia pun menghilang dari pandangan suaminya.
Sandra menunggu sambil berdiri di depan meja resepsionis rumah sakit.
Tata melambaikan tangan nya begitu keluar dari lift pada Sandra.
"Sebulan dua minggu kita gak jumpa Tet.. ! Makin glowing aja kau ku tengok! Udah pecah telor kau rupanya nya! " cerca Sandra dengan memeluk Tata dan melihat sebuah jejak di leher belakang Tata yang mulai pudar tertutup oleh rambutnya.
"Jeli kali lah mata kau itu! Nampak aja yang aku tutupi! " ucap Tata sebel.
"Ha.. Ha.. Ha... Sandra gitu loh! Dah lah, dimana kita bisa cerita! Kau hutang banyak cerita padaku menghilang selama semingguan ini! " jawab nya dengan terkekeh bangga.
"Kantin aja! " sahut Tata.
"Kuy lah cusss.... ! " jawab Sandra sambil menggandeng lengan Tata.
Sepasang mata melihat Tata berbicara dengan Sandra tersenyum manis berjalan menjauh dari meja resepsionis dengan tatapan penuh arti.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas kembali di hari senin...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ..
__ADS_1
Lope-lope untuk kalian semuanya sekebun cabe πΆπΆπΆ