Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
72. Hinaan untuk Mami Sita


__ADS_3

Anika dan Kadir saling berpandangan, mereka bingung mau jawab apa tentang Riko.


"Sebenarnya....Aku su....


"Nana, ayo pulang! Teman-teman udah nungguin di parkiran! " ucap seseorang yang menepuk bahu Nana dari samping yang membuat omongan Anika terputus.


"Aduh, maaf ya kalau aku kelamaan! " jawab Nana dengan tidak enakan.


"Ya udah, ayo pulang! " ajak temannya lagi.


"Sebentar ya, aku pamit dulu dengan abang aku! Bang, Nana pulang dulu ya, gak enak udah di tungguin gini! Ini nomor ponsel Nana, kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu hubungi Nana ya, Bang! Assalamualaikum ! " pamit Nana dengan menyalami tangan Kadir dan cipika-cipiki dengan Anika.


Kadir menatap kepergian Nana dengan tatapan sendu yang tanpa sengaja menitikkan air mata. Sedangkan Anika menangis diam dengan menggigit bibirnya agar tidak di dengar Abang nya.


Namun semuanya terlambat, Kadir mendengar isakan Anika walaupun tidak besar. Kadir melangkah kan kaki nya di hadapan Anika dan jongkok di hadapannya dengan mengusap air mata yang mengalir di pipi adik bungsunya.


"Kenapa menangis hhmmm? " tanya Kadir pelan.


"Anika udah jahat Bang? Anika ikutan aja waktu Mama mengusir Kak Nana dan ayah dari rumah, padahal waktu itu sudah malam dan mau hujan. Anika jahat Bang? Hiks... Hiks... " ucap Anika dengan suara serak sambil memukul dadanya.


"Ssssssttttt... Jangan nangis ya? Anika gak jahat kok? Anika kan cuma ikut di ajak Mama, Abang yakin kok kalau Nana gak nyimpan dendam dengan kita. Buktinya tadi Nana yang manggil kita! InsyaAllah kalau ada kesempatan kita telpon Nana dan kita ke rumah nya untuk minta maaf! Jangan nangis lagi ya? Gak bagus nangis-nangis dalam keadaan hamil, nanti baby nya ikutan sedih! " bujuk Kadir dengan lembut sambil mengusap air mata di pipi adiknya.


Tidak lama kemudian, perawat memanggil nama Anika. Kadir pun mendorong kursi roda Anika untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter kandungan.


Lima belas menit berlalu, Kadir dan Anika keluar dari ruang pemeriksaan dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka.


"Ayo kita pulang! Kamu harus banyak-banyak istirahat! Kita jemput Kana dulu ya? " ajak Kadir sambil mendorong kembali kursi roda Anika.


🌿🌿🌿


Di lembaga Pemasyarakatan...

__ADS_1


Dika sedang mengikuti kelas pelatihan untuk berbagai keterampilan yang di selenggarakan pihak kepolisian dan lembaga Pemasyarakatan ini agar membantu para narapidana yang ada di sini mengembangkan bakat mereka agar berguna jika mereka bebas dari sini.


Sudah semingguan ini Dika mengikuti kelas binaan tersebut, Ia sudah bukan seperti Dika yang dulu, yang sombong, pongah, banyak omong. Ia menjadi pribadi yang lebih pendiam, tidak banyak omong, bahkan ia jarang mengeluarkan suaranya.


Entah hal apa yang membuatnya berubah 180Β° seperti ini. Bahkan teman yang satu sel pun sempat mengira jika ia bisu, tapi ia bicara ketika petugas sipir penjara bertanya kepada nya tentang keikutsertaan nya dalam kelas binaan.


Sedangkan Dian, ia baru saja keluar dari ruang isolasi karena berkelahi dengan salah satu narapidana yang senior ketika jam makan siang.


"Gimana Dian? Kamu baik-baik aja kan? " tanya teman satu selnya yang masuk penjara karena mencuri uang majikannya.


"Aku gak papa! Santai aja! " jawab Dian acuh tak acuh.


"Lain kali jangan di ladenin yang bernama Mela itu Dian, dia itu banyak yang dukung nya. Apa lagi dia berkuasa di sini karena ia sudah lama di dalam penjara ini! " nasihat teman satu selnya itu.


"Aku tidak peduli, jika dia menggangguku akan aku balas! Seenaknya saja memerintahkan aku, memangnya aku ini babu nya. " jawab Dian tidak perduli.


Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur lusuh yang ada di dalam sel tersebut dan tidur tanpa menghiraukan omongan teman satu selnya.


Sama halnya dengan Dian, Nyonya Retno juga baru saja berkelahi dengan narapidana yang berlagak menjadi bos di kubu lawan dan ia juga menjadi bos dengan kubu yang berbeda-beda. Ia baru saja mengobati memar di lengan kelompok nya yang sengaja di pukul pihak lawan sehingga Nyonya Retno membalas nya dengan menyiramnya dengan air kotor bekasan pel.


🌿🌿🌿


Kediamannya Mami Sita..


Pagi-pagi sekali Mami Sita sudah di buat emosi oleh Ajeng dan orang tuanya. Mereka tanpa tahu malu datang bersama rombongan nya dengan membawa berbagai macam seserahan layaknya sebuah lamaran.


"Apa tidak cukup omongan yang aku katakan sama sampean, Mas? Aku, Raden Ayu Pramusita Nata Kusuma tidak akan pernah mau menjodohkan anakku Davin dengan anak nya sampean, Mas! " ucap Mami Sita dengan tegas.


"Itu berlaku untuk selama-lama nya sampai aku mati sekali pun! " sambung Mami Sita lagi dengan menahan emosinya.


"Jangan sombong kami Ayu, Seharusnya kamu bersyukur putri cantikku mau menikahi duda impoten seperti anak mu itu! " jawab Papa nya Ajeng dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Tutup mulutmu Mas, kurang ajar sekali mulutmu itu! Putra ku tidak impoten, tapi walaupun impoten aku juga tidak akan pernah sudi menjadikan mu besan! " sahut Mami Sita dengan wajah merah padam


"Kamu itu memang tidak tahu bersyukur, Ayu! Anak mandul begitu masih juga di banggakan! Seharusnya kau malu, tidak ada dalam keturunan Kusuma yang mandul seperti anakmu itu! Apalagi putri mu yang perawan tua itu, sudah gak laku sombong nya selangit! " ucap Mama nya Ajeng mencaci maki Davin dan Abeth.


Mami Sita mengepal tangan nya dengan kuat menahan marah dan air mata atas hinaan orang tua Ajeng yang mana masih keluarga jauhnya. Darahnya mendidih mendengar satu persatu hinaan untuk anak-anak nya darah dagingnya keluar dari mulut busuk sepupunya itu.


"Byur... "


"Brengsek!! Air apa ini? Bau banget!! Siapa yang menyiram air busuk ini pada kami? " ucap Mama Ajeng dengan mata melotot.


"Iya Ma, Bau banget! Aduh Mama?? Gimana ini? Masa badan Ajeng basah dan bau kayak gini? Mana Ajeng ada pemotretan nanti siang? Lihat rambut Ajeng ikutan bau, Ma?? " rengek Ajeng seperti anak kecil.


"Hei, siapa yang beraninya menyiram anak dan istriku dengan air kotor ini? Tunjukkan wajah mu itu, biar aku tuntut kamu ke polisi! " teriak Papa Ajeng dengan wajah sangar.


Mama Ajeng dan Ajeng sampai muntah-muntah karena mencium bau busuk dari air yang membasahi pakaian mereka dan itu membuat suaminya makin berang dan marah-marah dengan teriak-teriak.


"Aku yang menyiram nya! " ucap Tata yang keluar dari rombongan orang-orang yang di bawa Ajeng dan orang tuanya dengan wajah santai.


"Kurang ajar kau gadis tengik! Apa kau tidak tahu siapa kami? " hardiknya dengan berjalan mendekati Tata.


"Aku tidak perduli siapa kamu dan apa jabatan mu! Mau menteri kek, gubernur kek, bahkan presiden sekalipun aku tidak perduli! Orang-orang busuk seperti kalian memang pantas untuk di siram air busuk! Kalau perlu di minum air busuk itu, biar semakin busuk mulut kalian! " jawab Tata dengan menatap tajam Papa Ajeng.


"Sialan kau!! " teriak nya dengan melayangkan pukulan ke arah Tata.


Tata dengan cepat menghindari diri dan menangkap tangan kasar Papa Ajeng dan memelintir nya kebelakang, kemudian Tata mendorong keras tubuh itu dari belakang hingga Papa Ajeng jatuh tersungkur di kaki istrinya dengan posisi wajahnya mendarat duluan ke konblok halaman rumah.


Para rombongan yang ada di belakang mereka cekikikan menahan tawa melihat Papa Ajeng tidak bisa berkutik karena malu di kalahkan seorang wanita yang terlihat lemah dan biasa-biasa saja.


"Ini peringatan untuk kalian bertiga! Jika kalian masih berada di sini dan menghina orang-orang yang ada di rumah ini, aku tidak akan segan-segan menghancurkan wajah mulus putri mu itu hingga cacat permanen selamanya! " ancam Tata dengan wajah menyeramkan.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜..


__ADS_2