Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
Menuju Ending..


__ADS_3

Tata yang selesai membayar barang belanjaan keponakan nya segera keluar dari mini market tersebut menghampiri mereka yang menunggunya di luar dengan membawa beberapa kantong belanjaan di kedua tangan nya kiri dan kanan.


"Halo everybody... ! Kenapa muka kalian semua tegang begitu?? " sapa Tata saat keluar dengan menautkan kedua alisnya.


"Itu Aunty... Aqila merasa ada yang memperhatikan kami dari tadi, tapi gak tau siapa karena gak kelihatan orang nya! " jawab Amirah jujur.


"Oh sayang... ! Itu hanya perasaan Aqila aja! Yuk kita pulang sekarang?? Atau Qila masih mau beli sesuatu di tempat lain?? " sahut Tata santai sambil mengajak pulang.


"Qila gak mau beli yang lain Aunty! Ayo kita pulang! " jawab Aqila dengan menggelengkan kepalanya.


Tata memberikan kode pada Dave dengan di jawab Dave anggukan kepalanya. Mereka pun berjalan menuju mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari orang yang memperhatikan anak-anak tersebut dalam diam dari dalam mobilnya.


Aqila dan Amirah barengan melihat di sekitar mereka sebelum memasukkan kepala meraka ke dalam mobil.


"Sudah siap belum?? " tanya Tata sembari melihat ke bangku belakang.


"Sudah Aunty... " jawab Amirah.


"Oke.. ! Kita pulang sekarang! Let's Go... " sahut Tata dengan Dave langsung menancapkan gas nya.


Begitu mobil Tata pergi meninggalkan lokasi mini market tersebut, mobil yang di kendarai anak buah Tiger juga ikut jalan kembali ke markas utama. Sandi sangat berat hati untuk menjauh dari anak-anak nya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia di jaga dengan begitu ketat oleh orang-orang adiknya. Di tambah lagi saat ini Tiger selalu siaga berada di samping nya di bangku belakang.


Sesampainya di rumah, Amirah dan Aqila bersemangat sekali mengeluarkan jajanan yang di beli Aqila untuk di bawa selama perjalanan ke Amerika.


"Mirah gak beli apa-apa?? " tanya Abeth dengan memicingkan matanya.


"Beli Mom.. Nih punya Mirah! " jawab Amirah dengan menunjukkan dua buah jajanan milik nya.


"Kok dikit banget?? " tanya Ibuk juga.


"Ngapain banyak-banyak Nek! Nanti kan Mirah bisa beli lagi di sini! Lagian toko nya dekat juga! Ya kan Aunty.. " jawab Amirah sembari meminta pendapat Tata.


Tata mengangguk pelan menjawab nya soalnya ia sedang memangku Elea yang ia ambil dari gendongan Abeth.


"Pinter.. ! Nanti kalau Mirah kepengen apa-apa ngomong langsung sama Mommy, atau Daddy! " ucap Abeth bangga sambil mengusap kepala Amirah.


Amirah mengangguk paham dan ia pun memakan jajanan yang ia beli tadi sembari membaginya kepada Aqila.


"Grandpa cariin di kamar gak ada, eh taunya ada di sini! " ucap Grandpa yang datang dari arah kamar kembar.


"Grandpa tuh gak asyik! Setiap hari kerjaan nya makan, tidur, main sama Elea! Itu aja berulang kali sampai Marcel bosan! Marcel kan juga pengen main sama Elea! " sungut Marcel yang juga ikut gabung dengan wajah di tekuk.


"Iya, Grandpa kamu memang gak asyik! Dia seenaknya menguasai Elea sendirian! Papi aja gak di kasih! " sahut Papi Dayton ikutan merajuk dan gabung bersama mereka.


"Gendong Tira aja Pi, anaknya enteng loh! " jawab Giselle yang sedang menggendong Yudistira.


"Emoh.. ! Anteng sih iya, tapi kerjaannya molor mulu! Papi malas gak bisa di ajak bercanda! " tolak Papi Dayton malas.


"Jiah si Papi! Emangnya anak umur satu bulan kayak Elea juga bisa di ajak bercanda! Aneh-aneh aja sih Papi! " ejek Abeth dengan tertawa geli.


"Tapi setidaknya kan Elea selalu membuka matanya, ngeliat sana sini, senyum-senyum kecil, kadang angkatin tangannya sendiri! Gak kayak Tira yang kerjaan nya molor mulu! " sungut Papi tetap membela Elea.


"Papi kamu itu emang gak mau ngalah sama orang tua! Bayi umur sebulan emang kerjaan nya molor, masa iya di suruh kerja kantoran! " jawab Mami Sita jengah dengan sikap kekanak-kanakan suaminya.

__ADS_1


"Kalian ini berisik aja dari tadi! Ayo sweetie kita pergi! Kita cari tempat yang gak polusi suara! " ucap Grandpa bicara pada Elea yang dalam dekapan nya.


Tanpa memperdulikan semuanya Grandpa pergi dengan membawa Elea mencari tempat sepi agar bisa leluasa bersama cicit nya itu.


Papi Dayton mendengus kesal dengan ulah Daddy nya yang mau menang sendiri menguasai cucu perempuan satu-satunya. Para anggota keluarga yang lain tidak peduli pada kekesalan Papi Dayton, mereka asyik dengan kegiatan mereka masing-masing termasuk bermain dengan anak-anak kembar tersebut.


Malam harinya selesai sholat maghrib, semua orang bersiap-siap untuk mengantar kepergian Ibuk, Nada dan Aqila pergi ke Amerika. Martin sudah menunggu di bandara dengan membawa surat-surat penting mereka semua. Semuanya pergi ke bandara kecuali para sesepuh termasuk Mak Ijah, dan keluarga Aunty Ela tetap di rumah menjaga si kembar bersama di kediaman itu.


"Eyang, Grandma, kalau mereka lapar susu nya sudah ada dalam kulkas mereka! Eyang sama Grandma tinggal masukkan aja botolnya ke tempat pemanas dengan menekan tombol no 2 karena itu panasnya sesuai dengan suhu si kembar! " ucap Tata memberikan pesan pada kedua sesepuh itu.


"Iya Buk, Mom.. ! Kalau ada apa-apa langsung telpon Ayu! " tambah Mami Sita pada Ibu dan mertuanya.


"Kalian tenang aja! Si kembar pasti masih terlelap saat kalian semua pulang nanti! " jawab Eyang Uti santai.


"Iya, kan ada aku juga di rumah Sis! Giselle juga bisa di andalkan, jadi kalian tenang aja semuanya! " sahut Aunty Ela ikut bicara.


Kedua orang tua Henry ikut pulang malam itu juga bersama Ibuk dan Nada. Mereka terpaksa pulang karena ada urusan pekerjaan yang mendesak dan mereka akan transit di Jepang untuk menurunkan sepasang suami-istri paruh baya tersebut di Jepang.


Setelah selesai memberikan pesannya yang sebenarnya sudah di ketahui Aunty Ela, mereka semua masuk ke dalam mobil dengan di antar semua sopir di kediaman Ryder kecuali Samson dan Jaka.


Mereka di bagi menjadi tiga mobil, Ibuk dan Nada di sopiri Tohir, Tata, Aqila dan Dave di sopiri Joko, Mami Sita dan Papi Dayton di sopiri Udin. Sandra ikut mengantar mereka dan sudah menunggu di bandara bersama kedua orang tuanya, suami dan anak-anak nya juga ikut. Susan tidak bisa ikut karena lagi di rumah sakit menemani kakak nya menjalani kemoterapi.


Nada yang masih takut di tempat keramaian menjadi lega begitu keluar dari mobil saat sampai di bandara.


"Kenapa kakak menghela napas kayak gitu? " tanya Tata yang kebetulan melihat raut wajah Nada.


"Sepanjang perjalanan tadi kakak takut bertemu orang-orang baru yang gak di kenal karena bandara kan tempat umum yang ramai. Kakak lega Dek karena yang kakak lihat sekarang tidak seperti yang kakak bayangkan tadi dan sangat sepi! " jawab Nada jujur.


"Hehehehe... Jelas aja sepi dan hanya kita-kita saja di sini Kak! Karena kalian naik pesawat pribadi, bukan pesawat komersil atau pesawat umum! Kalian juga tidak perlu cek in atau semacamnya karena ini pesawat keluarga Mas Dave dan hanya kita aja di jalur tunggu ini! " sahut Tata dengan terkekeh geli memberitahu Nada.


"Aunty.. ! Jadi Mamah, nenek dan Qila gak naik pesawat yang banyak orang itu?? " tanya Amirah dengan sangat penasaran.


"Iya sayang.. ! Nanti penumpang pesawatnya hanya nenek, Mamah, Aqila, Grandpa,Grandma dan Om Dokter! Gak ada orang lain lagi selain pramugari dan pilot nya. " jawab Tata.


"Terus pesawat nya besar gak Aunty?? " tanya Amirah lagi dengan sangat antusias.


"Besar dong.. ! Ada kamar nya lagi untuk istirahat! Bisa nonton TV, bisa mandi juga! " jawab Tata lagi yang membuat Amirah semakin bersemangat.


"Wah, keren banget pesawatnya! Amirah juga mau naik pesawat kayak Aqila! " ucap Amirah dengan penuh harap.


"Amirah sayang... ! Aunty janji akan ajak Amirah pergi berlibur kemanapun yang Amirah mau setelah Aqila sembuh dan berjalan kembali! Kita semua akan naik pesawat ini bersama-sama dengan keluarga kita! Jadi, sekarang Amirah harus banyak berdoa agar Aqila cepat sembuh hingga kita bisa pergi liburan bersama-sama! Sekarang biarkan Aqila duluan yang naik pesawat nya karena Aqila akan pergi berobat! Amirah gak marah dan kecewa kan kalau gak naik pesawat nya sekarang! " sahut Tata dengan hati-hati.


"Amirah gak marah kok Aunty! Amirah akan banyak berdoa agar Aqila cepat sembuh dan kita bisa pergi berlibur seperti kata Aunty tadi! " jawab Amirah dengan penuh pengertian.


"MasyaAllah... ! Pengertian banget keponakan Aunty ini! " ucap Tata dengan begitu takjub pada pemikiran anak usia 8 tahun itu.


"Sayang... ! Kenapa kalian masih di situ?? Ayo kita harus ke pesawat sekarang! " panggil Dave berseru lantang kepada mereka bertiga.


"Ayo sayang, udah di panggil Uncle ! " ucap Tata dengan berjalan sambil menggandeng tangan kecil Amirah.


Nada berjalan mengikuti dari belakang karena saat ini tinggal mereka bertiga yang tertinggal jauh di belakang semua orang.


Mereka semua masuk ke dalam bus yang akan mengantarkan mereka ke tangga pesawat. Ternyata Sandra dan keluarga besarnya sudah berada di dalam bus dan Amirah kegirangan bertemu dengan Kayla lagi. Sedangkan Kana langsung mendekati Aqila dengan membawa dia boneka Barbie nya.

__ADS_1


"Kak Qila.. ! Ini aku kasih Loly untuk Kak Qila sebagai ganti aku yang menemani Kak Qila di rumah sakit! Loly yang akan menggantikan Kana menemani Kak Qila di rumah sakit sampai Kak Qila sehat lagi! " ucap Kana dengan memberikan bonekanya kepada Aqila.


Aqila melihat ke arah neneknya yang duduk tepat di samping nya untuk meminta persetujuan. Ibuk mengangguk pelan memberitahu jika Aqila boleh menerima pemberian Kana.


"Terimakasih ya Kana.. ! Qila senang punya teman meskipun hanya Loly! Do'akan Qila cepat sembuh ya Kana, biar kita bisa bermain boneka sama-sama! " jawab Aqila dengan menerima boneka Loly dari tangan Kana.


Kana mengangguk pelan dan ia pun kembali ke tempat duduk nya di atas pangkuan Akong nya. Interaksi kedua bocil tersebut membuat semua orang tersenyum kecil tidak terkecuali Dave dan Tata.


Bus pun berhenti dan mereka pun keluar satu persatu, Para petugas langsung melakukan tugasnya mengambil barang-barang mereka dan di masukkan ke dalam pesawat dengan menaiki tangga pesawat.


"Wah, pesawatnya besar sekali!! " ucap Amirah penuh kekaguman.


"Iya besar sekali! Aku jadi mau naik pesawat sebesar ini! " sahut Kayla juga menatap penuh takjub.


"Kana juga mau naik pesawat besar! " tambah Kana ikut bicara.


"Iya, pesawat nya besar sekali! Qila senang bisa naik pesawat sebesar ini! " ucap Aqila juga dengan mata berbinar bahagia.


"Jangan khawatir anak-anak! Setelah Aqila sembuh kita akan naik pesawat besar ini sama-sama untuk liburan! Kalian mau?? " ucap Tata yang langsung di sambut teriakan gembira Kayla, Amirah dan Kana.


"Hore, hore.. !!Kita akan naik pesawat juga nanti! Horeeee.. " pekik mereka meloncat kegirangan kecuali Kana yang hanya berdiri saja.


Dave masuk bersama Papi Dayton untuk mengecek semuanya sebelum pesawat take off guna tidak ada kesalahan sedikit pun. Ibuk sudah menangis di pelukan Mami Bertha yang meminta Ibuk agar yakin dan optimis Aqila bisa berjalan lagi.


Mereka semua berpamitan sebelum Ibuk, Nada, Aqila dan kedua mertua Abeth masuk ke dalam pesawat. Tata berbicara berdua dengan Martin di tempat terpisah.


"Tolong jaga kakak ku Martin karena hanya kau yang aku percaya untuk menjaga nya selama ia ikut menjalani terapi dan konseling di sana! Aku akan meminta Angel dan Stevan untuk menyusul mu dua minggu lagi setelah keberangkatan kalian guna membantu mu menjaga Aqila selama pengobatan nya! Laporkan semua nya kepada ku tanpa terkecuali meskipun hal sekecil pun! " ucap Tata dengan nada tegas dan tajam.


"Baik Nyonya! Saya akan menjaga mereka sekuat tenaga saya! " jawab Martin patuh.


"Oh ya, kalian akan tinggal di apartemen berbeda tapi bersebelahan agar kau gampang membantu mereka jika mereka butuh bantuan! " ucap Tata lagi memberitahu nya.


"Saya mengerti Nyonya! " sahutnya lagi.


Dave yang sudah turun berjalan mendekati istri dan orang nya itu dengan kedua tangan di masukkan ke dalam kantong celana.


"Sudah siap semau nya Mas?? " tanya Tata begitu Dave mendekat.


"Sudah sayang.. ! Oh ya, sampai di bandara John F Kennedy ada orang Papi ku yang menunggu kalian dan mengantarkan kalian ke apartemen yang telah di siapkan! Kunci apartemen juga ada pada orang tersebut! " jawab Dave sembari berbicara pada Martin.


"Iya Tuan! Saya akan mengingat nya! " jawab Martin dengan mengangguk paham.


"Baiklah.. Gunakan ini untuk semua kebutuhan mu dan kebutuhan sehari-hari Ibuk dan kakak ku! Aku mengandalkan mu untuk mengurus kebutuhan mereka di sana Martin! " ucap Tata dengan mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya di tangan Martin.


"Baik Nyonya! Saya akan mempergunakannya sebaik-baiknya! " jawab Martin dengan menggenggam sebuah kartu berwarna hitam di tangannya itu.


Percakapan mereka terhenti karena panggilan Co- pilot yang mengatakan jika pesawat akan take off beberapa menit lagi dan penumpang di minta untuk masuk ke badan pesawat.


Martin menggendong Aqila dan seorang pramugara membawa kursi roda Aqila menaiki tangga pesawat. Di belakang nya Ibuk bergandengan tangan dengan Nada menaiki pesawat sambil melambaikan tangan kepada mereka yang mengantar di bawah tangga. Sebelum pintu pesawat di tutup mereka kembali melambaikan tangan kepada mereka yang ada di bawah.


Begitu pintu pesawat di tutup, semua orang kembali masuk ke dalam bus untuk segera menyingkir dari kawasan tersebut.


Setelah berada di tempat yang aman, semua nya menunggu detik-detik keberangkatan pesawat milik keluarga Ryder dengan perasaan bercampur aduk.

__ADS_1


"Ya Allah.. ! Lindungi lah mereka semua hingga mereka semua selamat sampai tujuan dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun! " ucap Tata lirih dengan mata memandang lekat pada pesawat yang mulai berjalan.


Bersambung...


__ADS_2