
Sekilas info....
Terimakasih untuk semua pembaca online otor yang masih setia dengan kisah Tata dan Dave. Mohon maaf sebesar-besarnya jika dari bulan Februari hingga April otor belum aktif menulis dikarenakan banyaknya kesibukan otor menjadi orang tua tunggal di dunia nyata.
Sehingga rencana otor untuk menamatkan kisah Tata dan Dave menjadi terhambat sampai saat ini. In Syaa Allah jika tidak ada halangan otor akan aktif menulis kembali awal Mei, hingga kisah Tata dan Dave end secara alami bukan karena di paksakan.
Mohon maaf jika ada kekurangan yang membuat para pembaca menjadi jenuh atau bosan akan kisah ini karena kisah ini murni kehaluan otor semata. Jika ada yang kurang berkenan silahkan skip saja membaca nya karena tidak ada paksaan dalam membaca.
Selamat membaca semua pembaca setia kisah Tata dan Dave. Selamat hari Raya idul fitri 1 Syawal 1444 H Mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca setia otor di seluruh Indonesia.
🌿🌿🌿
Nada langsung berdiri saat melihat Martin keluar dari ruangan pemeriksaan anak nya bersama sang anak yang duduk di kursi roda.
"Apa Aqila baik-baik saja dok? " tanya Nada dengan wajah was-was pada Martin.
"Akan aku jelaskan nanti semuanya pada Anda! Sekarang ayo aku antar kalian pulang ke apartemen! Oh ya, adik ipar anda sudah melahirkan anak kembar nya beberapa saat yang lalu di rumah sakit ini juga! " jawab Martin dengan melirik ke arah Aqila.
Nada menghela napas kasar dan mengerti akan kode yang di berikan Martin padanya. Ia paham kalau Martin tidak mau pembicaraan ini di dengar oleh Aqila langsung.
"Maksud anda adik suami saya Thalita? " tanya Nada sembari berjalan di samping Martin.
"Tentu saja! Siapa lagi kalau bukan dia, karena suami mu hanya punya satu saudara yaitu Nona Tata! " jawab Martin santai.
"Sejujurnya aku tidak terlalu mengenal mereka, termasuk ibu mertua ku. Bang Sandi hanya mempertemukan kami sekali, itu pun hanya sesaat tanpa bisa bicara banyak. Ia selalu beralasan sibuk dengan pekerjaan nya hingga tidak punya banyak waktu untuk bertemu lama-lama dengan ibu dan adiknya. Bahkan untuk bicara dan bertanya kabar melalui HP saja ia selalu beralasan dan marah-marah jika aku merongrong nya melakukan semua itu. Ia bahkan pernah menghancurkan ponsel ku hanya karena aku diam-diam mengambil nomor telepon ibunya dan kepergok melakukan panggilan pada nomor tersebut. Sejak saat itu ia selalu membatasi ku menggunakan ponsel dan bahkan aku tidak diperbolehkan lagi untuk memegang nya. " ucap Nada mengeluarkan unek-unek nya dengan nada sendu.
"Kasihan sekali nasib mu punya suami yang modelan begitu! " celutuk Martin asal.
"Hahahaha... Mau gimana lagi dok! Seperti inilah takdir ku! " sahut Nada dengan tertawa hambar.
Nada sedikit nyaman dan santai saat berbincang dengan Martin. Ia sedikit-sedikit mulai membuka diri untuk berteman dengan orang baru. Ia sudah bertekad untuk berubah dan mulai bergaul dengan banyak orang agar trauma nya pada orang yang baru bertemu hilang sepenuhnya dari dirinya.
"Eum...dok! " ucap Nada saat mereka hendak masuk ke dalam mobil.
"Ada apa? Apa ada yang Anda inginkan? " tanya Martin seraya menolehkan wajahnya.
"Bisakah dokter tidak memanggil ku anda? Rasanya aku sedikit tidak nyaman dengan panggilan tersebut, seakan-akan aku mempunyai kasta yang jauh berbeda dengan dokter. Aku ingin punya teman bicara yang nyaman, dan aku nyaman saat bicara dengan dokter. Aku tidak ingin ada jarak saat kita bicara. Kita sama-sama orang biasa dan aku ingin dokter panggil nama ku saja layaknya seorang teman. " jawab Nada sambil menundukkan wajahnya.
"Kasta kita memang berbeda Nada! Kau adalah kakak ipar Bos ku dan hal itu menjadi jurang pemisah yang besar jika kita ingin berteman! Aku hanya seorang bawahan dan aku akan selalu menjadi bawahan sampai kapanpun! " batin Martin dalam hatinya.
"Dok.. ! Kenapa melamun? " sentak Nada membangunkan lamunan Martin.
"Eeh... Maaf! Aku hanya berpikir dengan permintaan anda! Rasanya aku berat melakukan nya karena bagaimana pun juga aku hanya orang yang bekerja dengan adik ipar anda! Tapi aku akan mempertimbangkan nya.. " jawab Martin tanpa ingin menyakiti perasaan Nada.
"Terimakasih sudah mau mempertimbangkan nya dok! " sahut Nada sedikit lega.
__ADS_1
"Sama-sama.. Ayo masuk! Kasihan Putri anda yang sendirian di apartemen! " ucap Martin mengangguk pelan seraya berjalan ke sisi kanan mobil.
Nada pun membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Martin yang menyetir mobilnya. Aqila duduk di bagian belakang dengan kursi roda nya di taruh Martin di bagian bagasi mobil.
🌿🌿🌿
Sebuah rumah kecil di kota Medan.
Seorang pria turun dari mobil sedan hitam dengan langkah kaki santai memasuki sebuah rumah yang di depannya di jaga oleh beberapa orang berwajah seram seperti preman.
"Selamat siang Tuan Arkan! " sapa para penjaga tersebut dengan hormat pada pria tersebut.
"Siang! Apa mereka masih di dalam? " jawab Arkan dengan wajah datar sambil bertanya.
"Masih Tuan! Mereka bahkan tidak mau pergi sebelum anda atau Tuan Dave datang! " sahut penjaga itu lagi.
"Hmm.. Berjaga lah dan jangan sampai lengah! Jika ada yang mencurigakan laporkan segera ! " ucap Arkan seraya berjalan ke arah pintu masuk.
Krieettt...
Terdengar suara pintu saat Arkan membukanya dari luar.
"Kenapa kalian masih betah di sini? Apa kalian tidak mau melihat para keponakan ku yang baru saja lahir? " tanya Arkan pada orang-orang yang sedang duduk santai di ruang tamu rumah tersebut.
"Aku hanya berjaga-jaga agar dia tidak kabur dari sini! " jawab Tiger datar.
"Siapa tau! Aku hanya berjaga-jaga saja! " sahut Tiger dengan wajah masa bodo.
"Kau... !! " ucap Arkan dengan suara tertahan karena geram.
"Sudah-sudah! Maafkan perkataan Oppa Tiger Tuan Arkan! Kami hanya mau membantu menjaga orang itu agar tidak ada yang bisa membebaskan nya dari sini! Kita tidak tau, bisa saja dia punya pendukung yang akan membebaskan nya tanpa kita ketahui! " sahut Angel melerai perdebatan mereka.
"Huh.. ! Terserah kalian saja! " ujar Arkan sambil berjalan meninggalkan mereka.
Ia mendekati sebuah kamar yang di jaga ketat oleh orang-orang nya Dave dan Tata.
"Bagaimana keadaan nya? Apakah ia sudah sadar dari pingsan nya? " tanya Arkan pada salah satu penjaga yang berjaga.
"Sudah Tuan! Dari ia bangun langsung berteriak-teriak minta di bebaskan! Bahkan ia terang-terangan melemparkan makanan yang kami berikan padanya! " jawab penjaga tersebut dengan wajah kesal.
"Biarkan saja kalau seperti itu! Jangan berikan makanan dan minuman hingga besok pagi! Aku ingin tau sebatas mana ia bertingkah pada kita! Jangan lakukan apapun sebelum ada intruksi dari Bos besar! " ucap Arkan lagi pada penjaga itu.
"Baik Tuan! " jawab penjaga tersebut mengangguk paham.
Baru saja Arkan melangkahkan kaki menjauh dari kamar tersebut, terdengar suara gedoran keras pintu kamar dengan teriakan yang memekikkan telinga yang dengar.
__ADS_1
"Brak..Brak...Brak...! Buka pintunya sialan! Bebaskan aku dari sini! Siapa kalian yang berani-beraninya mengurung ku di sini! Buka pintunya bajingan! Buka !!! " teriak penghuni kamar tersebut dengan suara gedoran yang memekak kan telinga.
Penghuni kamar yang berteriak-teriak itu adalah Sandi kakak tirinya Tata yang di amankan oleh orang-orang Dave dan Tata di rumah tersebut. Mereka berhasil menangkap Sandi yang waktu itu hendak membeli makanan di sebuah warung kecil.
Awalnya Sandi berhasil kabur, namun orang-orang Dave sudah memasang perangkap dengan bekerja sama pada preman yang menguasai daerah tersebut. Sehingga terjadi aksi kejar-kejaran antara Sandi dengan orang-orang Dave setelah para preman itu menunjukkan tempat persembunyian Sandi.
Sandi yang tidak tau siapa yang menangkapnya mencoba berontak untuk melepaskan diri, namun karena banyak tingkah yang menjengkelkan, anak buah Arkan memukul titik sensitif nya hingga pingsan.
"Sialan! Siapa orang-orang ini! Mereka sepertinya bukan orang-orang nya Datuk Rajo Saleh. Jika mereka orang nya tua bangka itu, maka aku tidak akan di kamar ini tapi sudah di bawa pergi ke Johor! Benar-benar sial nasib ku! Pokoknya aku harus keluar dari tempat ini dan meloloskan diri dari neraka ini! " umpat Sandi sambil memukuli dinding hingga punggung tangan nya memerah.
Krucuk.... Krucuk...
Suara perut Sandi berbunyi dengan keras yang mana membuat nya meringis dan reflek memegang perut nya.
"Ah, perut ku lapar sekali! Semua makanan tadi sudah aku buang karena kebawa emosi! Aduh.. Mana pedih banget lagi! Lebih baik aku tunggu saja sebentar karena tampaknya hari juga sudah agak sore. Mana mungkin mereka tidak memberikan aku makanan lagi! " gumam Sandi dengan pedenya sembari mengelus perutnya yang keroncongan.
🌿🌿🌿
Di rumah sakit..
Dave yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan istrinya langsung mengambil kursi kosong dan duduk di sebelah kanan bed Tata.
"Buk.. Sampai kapan Tata tidur begini? Kenapa lama sekali bangun nya! Ini sudah setengah hari dari si kembar lahir! " tanya Dave pada Ibuk mertuanya tanpa mengalihkan tatapan matanya pada wajah sang istri.
Ia menggenggam erat tangan sang istri dan berkali-kali mencium punggung tangan tersebut dengan penuh cinta.
"Kata Dokter Aisyah tadi Tata tertidur karena kelelahan! Tenaga nya terkuras habis saat melahirkan tadi pagi dan itu lah yang membuatnya lama tertidur. Apa lagi tadi ia keukeh mau melahirkan secara normal. Padahal kan awal nya akan melakukan operasi mengingat bayinya tidak hanya satu. Jadi, nanti istrimu akan bangun dengan sendirinya, Dave! " jawab Ibuk yang duduk di sofa bersama Grandma nya Dave.
"Itu benar Son! Istri mu wanita yang kuat dan hebat! Karena kehamilan nya tidak ada masalah yang serius makanya ia memutuskan untuk melahirkan normal, apalagi dari cerita Dokter kandungan istrimu waktu saat di periksa istrimu sudah pembukaan banyak. Jadi sah-sah saja jika ia melahirkan secara normal walaupun bayi nya kembar. " sahut Grandma ikut menimpali perkataan mertua cucunya.
"Tapi kenapa Tata lama sekali bangunnya Grandma? Aku sudah mengambil video si kembar dan aku tidak sabar ingin memperlihatkan nya kepada Tata Grandma.. " sahut Dave dengan mengelus punggung tangan istrinya.
"Sabar lah Dave.. ! Biarkan istri mu istirahat dulu! Lebih baik kau istirahat juga, sambil menunggu Tata bangun. Kau juga belum istirahat dari Tata kontraksi hingga saat ini! Jangan buat istri mu nanti marah karena kau tidak istirahat kan tubuhmu! " tegur Grandfa ikutan bicara dengan nada tegas.
Dave menghembuskan napasnya perlahan mendengar perkataan Grandfa nya yang memang benar kenyataan nya.
"Iya Grandfa! " jawab Dave patuh dan mencium lembut kening Tata dengan penuh cinta.
Ia lalu bangkit dari kursi di samping ranjang Tata dan membaringkan diri di bed extra yang memang sengaja di siapkan untuk yang menjaga pasien.
"Tidur lah dulu Nak! Istirahat kan tubuhmu sejenak! Jika Tata nanti bangun, akan Ibuk bangunkan dirimu! " ucap Ibuk Tata dengan penuh kasih pada menantu nya.
"Iya Buk.. ! Grandma Grandfa, Dave mau istirahat dulu! Hoam.... !!! " ucap Dave dengan mata sayu dan mulut menguap.
Tak lama berselang, terdengar dengkuran halus yang menandakan jika Dave sudah terlelap ke alam mimpi.
__ADS_1
Ibuknya Tata kembali berbincang hangat dengan kakek nenek menantunya dengan bahasa Indonesia yang agak terbata-bata. Namun hal tersebut tidak membuat komunikasi mereka terganggu malah semakin nyambung.
Bersambung...