
Usia kandungan Tata sudah memasuki minggu ke 30, dan sudah 3 minggu juga pencarian Angel akan keberadaan kakak ipar Tata dan keponakan nya belum menuaikan hasil yang bagus.
Sudah beberapa hari ini Tata gelisah dalam tidur nya, alam bawah sadar nya membuat nya selalu merasa cemas dan kepikiran akan anak-anak nya Bang Sandi. Ia bahkan pernah bermimpi melihat anak kecil perempuan berlumuran darah di seret paksa Bang Sandi
Hal itulah yang membuat Tata semakin kepikiran takut terjadi hal-hal yang buruk pada keponakannya.
"Rileks sayang, kamu harus tidur yang cukup demi diri kamu sendiri? Lihat mata kamu udah kayak panda gitu? Ntar malah kamu nanti yang sakit karena kurang tidur sayang? " ucap Dave lembut seraya mengecup bahu Tata yang terbuka karena ia hanya memakai tank top tali spaghetti.
"Aku gak bisa tidur Mas? Tidur nya juga gak nyenyak karena kebangun terus! " jawab Tata dengan nada pelan.
"Apa Mas harus turun tangan dulu bikin kamu bisa tidur nyenyak sayang? " tanya Dave dengan seringai nya.
"Maksud Mas apa? Mas mau bikin aku agar bisa tidur gitu? " tanya Tata balik karena tidak mengerti maksud suaminya.
Melihat istrinya tidak bisa tidur dan selalu gelisah saat tidur membuat Dave nekat dan melanggar prinsip nya untuk tidak menggauli Tata saat ia hamil besar seperti ini.
"Iya, Mas akan bikin kamu tertidur dengan pulas sayang? " jawab Dave dengan menyeringai devil.
"Dengan cara apa?? " ucap Tata dengan memicingkan matanya.
"Dengan cara ini sayang.... " sahut Dave dengan melu mat langsung bibir Tata dengan penuh nafsu.
Tata yang mendapat serangan tiba-tiba dari sang suami langsung memegang erat lengan suaminya agar tidak terdorong ke belakang.
Dave terus memberikan serangan pada sang istri hingga men desah kencang. Dave yang sudah berpuasa selama tiga bulan tidak lupa memperlakukan istrinya dengan lembut, apalagi ada perut buncit yang menghalangi nya agar tidak bertindak kasar dan brutal seperti dulu.
Perlahan tapi pasti, suasana kamar pagi itu terasa panas dengan peluh keringat keduanya dalam memberikan kepuasan kepada pasangan nya masing-masing.
Tata entah berapa kali di buat Dave melayang mencapai puncaknya hingga perut nya yang buncit tidak menghalangi ia dalam mereguk kenikmatan.
Dave tumbang di samping tubuh sang istri setelah akhirnya si piton mengeluarkan bisa nya di luar. Tata yang lemas setelah melepas hormon nya langsung ketiduran begitu saja tanpa bersih-bersih.
Setelah memastikan napasnya kembali normal, Dave duduk dan memakai kembali bokser nya. Ia turun dari tempat tidur dengan berjalan ke kamar mandi. Dave membawa handuk basah yang sudah ia peras air nya dan dengan telaten membersihkan muntahan lahar putih si piton di area sensitif sang istri dengan hati-hati.
Dave menutup tubuh polos sang istri dengan selimut tebal hingga sebatas leher karena Tata tidur dengan posisi miring.
"Selamat tidur sayang! Maaf jika Mas sengaja melakukan ini agar kamu bisa tidur dengan nyenyak! I love you My Ruby... " ucap Dave lirih sembari mengecup lembut kening Tata.
Ia lalu ke kamar mandi untuk mandi besar dan bersiap-siap akan ke kantor karena ada meeting penting pagi ini.
"Sus, saya ada meeting penting pagi ini! Istri saya sedang tidur karena semalam tidak bisa tidur! Jika dia bangun, bilang saja saya akan pulang sebelum waktu makan siang! Tolong jaga istri saya! " ucap Dave saat keluar dari kamar nya pada kedua suster yang baru saja naik ke lantai atas.
"Baik Mr... " jawab mereka patuh.
πΏπΏπΏ
Hari ini Nada dan Amirah sedang bersiap-siap hendak membawa Aqila ke puskesmas terdekat. Nada menggendong sendiri putri bungsunya karena mereka tidak mempunyai kursi roda untuk Aqila.
Nada seminggu yang lalu baru saja mendapat bantuan dari anak-anak muda yang mengajar Amirah dan anak jalanan lainnya berupa uang tunai 300ribu. Ia berniat menggunakan uang tersebut untuk memeriksa kaki Aqila ke puskesmas terdekat karena jaraknya tidak terlalu jauh jika berjalan kaki.
"Mah, kalau capek kita istirahat aja dulu! " ucap Amirah dengan penuh pengertian.
"Gak, Mamah gak capek! Kelamaan kalau kita istirahat, nanti sampai di puskesmas aja istirahat nya! " tolak Nada dengan napas ngos-ngosan menggendong Aqila.
"Ya udah terserah Mamah aja! " sahut Amirah dengan pasrah.
Nada sebentar-sebentar menaikkan gendongan Aqila yang terkadang merosot turun sambil terus berjalan.
Dengan keringat bercucuran di pelipis nya, akhirnya mereka sampai di depan puskesmas yang di tuju.
__ADS_1
Di tempat yang sama pula, salah satu orang Tiger juga datang ke puskesmas itu dengan sengaja. Ia sengaja datang ke pusat keramaian umum agar memudahkan ia mencari target sesuai perintah atasan nya.
Ia datang bersama Steven yang selalu memegang alat deteksi wajah seseorang di tangan kanan nya yang menyerupai sebuah tablet ukuran 7 inci.
Nada menurunkan Aqila di kursi tunggu dan memastikan jika dudukan nya itu aman.
"Kak, tolong jaga Aqila ya... Mamah mau daftar periksa dulu! " ucap Nada pada Amirah.
Amirah mengangguk paham, Nada pun beranjak untuk mendaftarkan Aqila untuk di periksa kaki nya oleh petugas kesehatan di puskesmas tersebut.
Amirah menemani Aqila duduk di kursi tunggu menunggu Mamah mereka sambil melihat orang-orang yang datang. Steven masuk ke dalam puskesmas, ke tempat orang yang antri mendaftarkan keluarga mereka.
Saat ia hendak mengeluarkan tablet dari saku jaket nya, seorang Ibu-ibu yang sedang menggendong bayi menyenggol bahunya hingga ia menunduk dengan reflek guna melindungi tablet yang hampir ia keluarkan.
Saat mengangkat mukanya, matanya tanpa sengaja berpapasan dengan mata jernih Aqila yang juga menatap nya dengan pandangan kasihan.
Sepertinya Aqila kasihan lihat Steven yang hampir terjatuh karena di senggol Ibu-ibu tadi, ia tapi masih bisa menahannya dengan menunduk, seperti itu lah kira-kira telaah versi Aqila.
Steven langsung pergi keluar untuk mengabari temannya yang menunggu di depan pintu masuk puskesmas karena malas berdesakan dengan pasien yang ingin berobat.
"Bro, aku tadi gak sengaja lihat anak yang matanya mirip sama dengan yang di dalam foto yang akan kita cari ini! " lapor Steven dengan merasa was-was.
"Serius lo Stev... Atau elo ngarang kali? " jawab temannya tidak percaya.
"Suer Bro, gue gak bohong! Kalau gitu gue cocok kan dulu deh di aplikasi biar semuanya jelas! " ucap Steven dengan wajah serius.
"Buruan kalau gitu! Mudah-mudahan aja cocok, jadi pencarian kita bisa berakhir! Capek gue jadi detektif-detektif kayak gini, mendingan latihan di ruang latihan sama Big Bos Cantik! " sahut temannya dengan nada mulai bosan.
Ia begitu mengagumi karakter Bos besar mereka yaitu Tata.
Steven kembali lagi ke dalam puskesmas dan dengan sengaja mengambil foto Aqila di tempat yang tidak di sadari oleh Aqila apalagi oleh Amirah kakaknya.
"Ya Tuhan... Mudah-mudahan cocok dan matching.. " gumam nya sembari menutup kedua telapak tangan nya di dada.
Ting.. Proses success... and Matching.
Kata-kata di layar depan alat deteksi miliknya itu membuat Steven dan temannya memekik kegirangan karena mereka berhasil menemukan keponakan Big Bos cantik.
"Permisi Mas... Ini puskesmas, tolong diam karena mengganggu kenyamanan pusat pelayanan ini! " tegur salah satu petugas puskesmas kepada mereka berdua.
"Maaf Bu, kami akan keluar kok! " jawab Steven dengan wajah malu.
Mereka berdua langsung kabur keluar dari puskesmas karena tidak ingin di amuk petugas di sana.
"Kita tunggu di mobil, pasti anak itu tidak sendiri! Gue mau nelpon Bos Tiger dulu, dan pastikan mata elo mengamati baik-baik kalau anak itu keluar dari puskesmas ini! " ucap teman nya dengan penuh peringatan pada Steven.
"Iya, ya... Bawel banget sih lo! " jawab Steven dengan ketus di peringatkan kayak anak kecil gitu.
Sementara itu Nada datang bersama petugas puskesmas dengan mendorong kursi roda. Dengan sigap petugas tersebut mengangkat Aqila dan menaruhnya di atas kursi roda. Ia mendorong kursi roda menuju sebuah ruangan pemeriksaan dengan Nada yang berjalan mengikuti dari belakang. Amirah menunggu dengan duduk di bangku tunggu bersama pasien yang lainnya.
"Jadi, apa keluhan anak Ibu? " tanya Dokter yang di temui Nada saat ia dan Aqila sudah berada di depan Dokter tersebut.
"Kecelakaan sudah setahun yang lalu Dok! Saya seorang single parent yang ekonomi nya sulit, jadi hanya berobat dengan membeli obat warung dan kaki anak saya di urut oleh dukun urut kampung! " jawab Nada jujur.
"Apa kakinya terasa sakit Nak? Atau tidak terasa apa-apa seperti kebas atau mati rasa? "tanya Dokter itu pada Aqila.
"Sakit Dok dulu... Tapi sekarang tidak lagi, hanya kadang-kadang sedikit sakit kalau di angkat kaki nya sama kakak! " jawab Aqila dengan lancar.
"Jadi selama ini kalian tidak pernah memeriksa ke dokter sekali pun? " tanya Dokter itu lagi dengan menatap Nada.
__ADS_1
"Tidak pernah Dok... " jawab Nada dengan menggeleng kan kepalanya.
Dokter tersebut menghembuskan napasnya dengan kasar dengan menatap Aqila dengan wajah prihatin.
"Saya akan buat surat rujukan ke rumah sakit besar, dan akan di tangani oleh Dokter tulang atau Ortopedi yang berpengalaman di bidang ini! Nanti silahkan Ibu isi formulir nya dengan data diri dan identitas yang sesungguhnya alias sesuai KTP. Setahun tidak di obati takutnya berakibat fatal untuk anak nya Bu, makanya saya akan rekomendasi kan Ibu untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah! " Ucap Dokter itu lagi dengan sungguh-sungguh.
"Terimakasih banyak Dokter atas bantuannya! " sahut Nada dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama Bu...Kalau begitu Ibu silahkan menunggu dulu di luar, nanti akan ada orang yang mengantarkan surat rekomendasi nya kepada Ibu! " ucap Dokter tersebut dengan ramah.
Nada mengangguk sopan dan bangkit dari duduk nya dengan meraih pegangan kursi roda mendorong kursi roda tersebut keluar dari ruangan.
Nada tiba-tiba ingat jika ia penduduk ilegal yang masih mempunyai identitas sebagai warga negara Malaysia. Ia menjadi sangksi dengan surat rekomendasi dan surat rujukan tersebut. Pasalnya ia bukan warna negara Indonesia dan tidak terdaftar di catatan sipil warga negara indonesia.
Sampai saat ini ia masih di anggap penduduk ilegal yang datang secara diam-diam dengan bantuan orang baik hati yang mau menyelundupkan ia dan anaknya ke Indonesia.
Cukup lama Nada termenung di bangku tunggu sembari menuju petugas membawa surat yang di katakan Dokter tadi.
"Mah, kenapa Mamah diam aja? Apa kata Dokter Mah? " tanya Amirah yang heran melihat Ibu nya hanya melamun saja begitu keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Dokter tidak bisa menangani Aqila, ia harus di periksa oleh Dokter ahli tulang alias Ortopedi di rumah sakit besar! Mamah gak punya uang dan takut ketahuan jika kita tidak punya identitas resmi! " jawab Nada pelan dengan nada sendu.
"Terus gimana Mah? " tanya Amirah lagi ikutan sedih dan bingung.
Sementara itu, Tiger yang mendapat laporan dari salah satu anak buahnya langsung menghubungi Dave sesuai perintah Dave pada Angel.
"Kau pergilah ke sana bersama Angel dan beberapa anak buah mu untuk menjemput mereka semua! Bawa mereka ke apartemen ku di jalan Kertapati lantai 15 no 105! Usaha kan jangan ada kekerasan dalam membawa mereka! " perintah Dave dari sambungan telepon.
"Baik... " jawab Tiger patuh tanpa banyak bertanya lagi.
Dave langsung memutuskan untuk pulang ke rumah setelah mendengar kabar gembira dari Tiger.
Di samping itu, Tata meringis ngilu pada perut nya yang membuat nya terbangun dari tidur nyenyak nya.
"Ya Allah, sudah berapa lama aku tertidur? Mas Dave paling pintar kalau bikin aku tidur! " ucap Tata sembari menutup tubuh nya dengan selimut.
Ia langsung memanggil Suster Mila dan Suster Sari agar masuk ke dalam kamar nya karena ia mau mandi.
Suster Mila dan Suster Sari hanya tersenyum kecil saat masuk ke dalam kamar Tata dengan melihat tubuh Putih Tata hanya di bungkus selimut hingga dadanya.
Tata membuang rasa malu nya karena ketahuan tadi ***-*** hingga ketiduran.
"Pegangan selimut nya erat-erat ya Nona biar gak jatuh dan ke injak saat berjalan! " ucap Suster Sari dengan serius.
Tata mengangguk paham, kedua Suster memegang lengan nya kiri kanan dan menuntun nya memasuki kamar mandi dan mendudukkan Tata di kursi khusus agar bisa mandi sambil duduk. Suster Mila juga menaruh Handuk di tempat yang bisa di jangkau Tata saat sedang duduk.
"Hati-hati ya Nona, jika tidak bisa jangan sungkan untuk memanggil kami berdua! " ucap Suster Mila sebelum keluar dari kamar mandi.
"Terimakasih ya... Nanti saya panggil jika udah selesai! " sahut Tata dengan tersenyum kecil.
"Sama-sama Nona... " jawab mereka berdua barengan.
Dave yang masih di perjalanan pulang melajukan mobilnya dengan kecepatan agak kencang karena sudah tidak sabar lagi memberikan kabar gembira ini untuk sang istri.
Bersambung..
Kisah Dave dan Tata hampir mendekati garis finish...
Hanya tinggal beberapa bab lagi hingga cerita ini tamat.
__ADS_1
Selamat membaca reader ku semua nya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ..