
"Yuli... "
"Mbak Yuli... "
Kadir dan Nana berucap berbarengan melihat Yuli berdiri di hadapan mereka dengan berkacak pinggang dan wajah merah padam menahan amarah.
"Kenapa? Kaget aku memergoki kalian punya hubungan selain saudara? " sindir Yuli dengan wajah sinis.
"Gila kamu, Yuli! Sepertinya otakmu itu perlu di cuci dulu dengan rinso agar bersih dan tidak berpikiran kotor seperti itu! " jawab Kadir dengan wajah geram.
"Halah, gak usah ngeles kamu, Bang! Bilang aja kamu malu di pergoki punya hubungan gila dengan perempuan yang kamu bilang adik ini! " tunjuk Yuli dengan kasarnya.
"Jangan kurang ajar kamu, Mbak! Kalau tidak tahu apa-apa jangan berkomentar! Urus saja urusan mu, jangan mengurusi yang bukan urusan mu! Apa Mbak gak malu marah-marah dengan laki-laki yang bukan suami Mbak! " sindir Nana lagi dengan sinis yang mana membuat Yuli tampak bungkam seribu bahasa.
"Ayo Bang, kita ke kantin! Biarkan saja dia teriak-teriak di lingkungan rumah sakit ini! Palingan nanti di tegur atau paling ekstrim di seret sama satpam rumah sakit! " ucap Nana sambil berdiri dan mengajak Kadir pergi dari taman tersebut.
"Bang Kadir jangan pergi! Katakan diman anak-anak, Bang! Aku mau ketemu anak-anak! " teriak Yuli dengan kencang.
Kadir cepat berjalan dan tidak menghiraukan ocehan Yuli tentang anak-anak mereka. Ia benar-benar kesal melihat tingkah mantan istrinya tersebut. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Yuli berkoar-koar di lingkungan rumah sakit tanpa memikirkan pandangan orang terhadap dirinya.
Nana hanya diam saja melihat Kadir yang masih berperang melawan akal nalarnya dan egonya sebagai seorang laki-laki. Ia sangat kasihan dengan Kayla dan Kana jika melihat apa yang di lakukan Mama kandung mereka. Ia menyayangkan sikap Yuli yang tidak mencerminkan sikap seorang Ibu, jika ia benar-benar merindukan anak-anak nya, ia bisa datang kepada Kadir dengan baik-baik, bukan dengan mempermalukan Kadir di depan banyak mata yang memandang.
"Kenapa Bang Kadir, Na? "bisik Tata pelan ketika mereka sudah berada di kantin bergabung dengan Tata dan anak-anak.
"Tadi ketemu Mbak Yuli di taman rumah sakit, marah-marah nuduh aku sama Bang Kadir selingkuh! " jawab Nana juga dengan agak pelan.
"Apa?? Kok bisa? " tanya Tata lagi dengan heran.
"Ntahlah Kak, Kami sedang duduk di bangku taman, berbicara tentang masa lalu ayah dan Mamanya Bang Kadir, juga tentang Mama kandung aku, eh tiba-tiba Mbak Yuli datang sambil marah-marah dan menuduh Bang Kadir selingkuh sama aku! " jawab Nana dengan malas sambil mengangkat bahunya.
"Wah, gendeng rupanya tuh orang! " omel Tata dengan wajah kesal.
"Emang gila! " timpal Nana lagi dengan terkikik geli.
"Pada ngomongin siapa sih, sayang? " tanya Dave penasaran.
"Dih, Kepo banget! " jawab Tata malas.
"Tentu saja, aku tidak mau kamu membicarakan laki-laki lain selain aku! " jawab Dave dengan tegas.
"Dasar posesif! Belum juga apa-apa, udah posesif banget! Apalagi kalau udah jadi, beuh bisa jadi mati berdiri aku di kekang terus! " omel Tata dengan wajah merengut.
"Siapa bilang kalau aku akan mengekang kamu, sayang! Justru aku tidak akan mematahkan sayap mu jika kamu ingin terbang! Hanya saja aku tidak akan membiarkan mu pergi sendiri atau membicarakan laki-laki lain selain aku! " jawab Dave membantah.
"Bodo, sama aja kalee! " ucap Tata tambah keki.
Nana tambah cekikikan mendengar perdebatan Tata dengan Dave yang terang-terangan merayu dan menggombali Tata dengan keposesifan nya sebagai seorang laki-laki.
Sedangkan Kadir masih dalam dunianya, ia bahkan tidak menyahut ketika Kayla memintanya untuk makan. Ia hanya diam sambil bengong seperti ayam tetangga yang sakit tanpa memperdulikan orang-orang di sekeliling nya.
πΏπΏπΏ
Riko dan Anika sampai di Villa Tata dengan selamat. Mereka di sambut Tegar yang berdiri di depan pintu gerbang dengan menggunakan sepeda motor. Karena jarak dari gerbang ke kediaman lumayan jauh jika berjalan kaki.
Tegar mengikuti mobil yang membawa Anika dan Riko dari belakang menuju kediaman. Ketika mobil berhenti, Anika menangis melihat ayah Jamal dari dalam mobil yang sudah menunggunya di depan pintu masuk dengan di temani seorang suster yang berdiri di belakang nya.
Tanpa banyak bicara, Anika membuka pintu mobil dan berlari mendekati ayah Jamal.
"Sayang, jangan lari-lari! Kasihan nanti bayinya! " teriak Riko kencang dengan khawatir.
Mendengar teriakan suaminya, Anika berhenti berlari. Ia berjalan dengan cepat menuju ayahnya dengan linangan air mata.
"Ayah.... " teriak Anika sambil menangis di pelukan ayah Jamal.
"Pu-putri ke-kecil ayah!! " ucap Ayah Jamal dengan terbata-bata.
Suara ayah Jamal semakin membuat Anika menangis tersedu-sedu. Ia mengeratkan pelukannya dan menumpahkan semua sesak yang ada di hatinya. Riko membiarkan saja istrinya menumpahkan segala tangisannya. Ia maklum, karena bagaimana pun juga semua ini berat untuk istrinya. Sedangkan ayah Jamal mengelus lembut punggung Anika penuh kasih sayang.
Ia bersyukur Anika berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi tanpa bayang-bayang istrinya.
"Pu-putri a-ayah jangan me-menangis! Na-nanti Hi-hilang cantiknya! " ucap ayah Jamal sedikit bercanda.
"Biarin hilang cantiknya! Anika gak peduli! " jawab Anika masih memeluk ayahnya.
__ADS_1
"Ta-tapi ayah perduli! A-ayah ma-malu kalau putri ca-cantik a-ayah hilang ca-cantik nya! " ucap ayah Jamal dengan terbata-bata.
"Ayah rese!! " gerutu Anika sebel sambil melepaskan pelukannya.
Ayah Jamal terkekeh pelan melihat wajah manyun dan cemberut Anika. Ia mengusap pelan air mata yang masih menempel di pipi Anika.
"A-ayah ingin pu-putri ca-cantik ayah ku-kuat! Ja-jangan menangis karena hal ke-kecil! A-apalagi ka-kata Tata, ayah ma-mau jadi se-seorang kakek! A-ayah gak mau cu-cucu ayah sedih karena Ma-mamanya sedih! " ucap ayah Jamal dengan lembut.
"Anika sayang ayah! Maaf jika selama ini Anika banyak berbuat salah sama ayah! " sahut Anika kembali menangis.
"Ja-jangan menangis lagi, Nak! A-ayah maafkan! A-ayah senang Anika su-sudah berubah me-menjadi lebih ba-baik lagi! A-ayah juga sayang de-dengan anak-anak a-ayah! " jawab ayah Jamal lagi dengan penuh kasih sayang.
"Loh, kenapa tangis tangisan di luar?Ayo masuk! Sudah lewat siang ini, kalian pasti belum makan siang! " ucap Ibunya Tata yang berjalan dengan Mak ijah mendekati Anika, ayah Jamal dan Riko.
Anika langsung bangkit dan menyalami Ibuk Tata dan Mak Ijah dengan di ikuti Riko.
"Ayo masuk, Nak! Kita makan siang dulu! Lihatlah, sudah hampir jam tiga sore! Pasti kalian kelaparan! " ucap nya lagi dengan lembut.
Anika dan Riko mengikuti langkah Ibunya Tata yang membawa mereka masuk ke dalam rumah yang sangat besar. Mereka mendekati meja makan yang sudah terhidang berbagai macam makanan yang mana langsung membuat Anika menelan ludah karena begitu menggoda lidah nya.
"Ayo, Nak! Jangan malu-malu! Anggap saja ini rumah mu sendiri, dan anggap Ibuk sebagai ibumu seperti Tata dan yang lainnya! Ayo dimakan! " ucap Ibuk dengan penuh kasih sayang.
Anika menatap Ibuk dengan penuh harus, ia menganggukkan kepalanya dan mulai mengambil piring yang di sodorkan Mak Ijah dan mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk yang membuat lidah nya tergugah.
Riko melakukan hal yang sama seperti istrinya, mereka makan dengan lahap. Terlebih lagi dengan Anika yang makan dengan kalap sampai menambah berkali-kali. Anika bersendawa agak keras dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena malu kelepasan.
"Maaf, Anika kelepasan! " ucap nya dengan wajah bersemu merah karena malu.
Semua yang ada di meja makan tertawa pelan mendengar ucapan Anika yang malu karena bersendawa keras.
"Kenapa mesti malu! Ibuk senang, itu tandanya masakan Mak Ijah enak dan di sukai sampai Anika kenyang! Lagi pula kalau kenyang memang pasti bersendawa, kenapa mesti malu! " jawab Ibuk dengan terkekeh pelan.
"He... He... He... Anika malu Buk! Jadi ketahuan kalau Anika itu rakus seperti gak makan berhari-hari. Tapi tadi di perjalanan Anika gak berselera makan ketika di tawari Pak sopir berhenti makan. Tapi ketika melihat hidangan ini, tiba-tiba saja Anika begitu ingin memakan semuanya hingga kalap begini! " ucap Anika cengengesan.
"Memang seperti itu jika seorang perempuan yang sedang hamil! Itu namanya ngidam, tidak berselera makan, tetapi ketika melihat sesuatu yang lain tiba-tiba jadi kepengen makan semuanya yang dilihat. Kadang malah kepengen makan sesuatu yang diluar nalar, tapi ketika makanan tersebut sudah ada di hadapan nya malah tiba-tiba tidak ingin memakannya, hanya ingin melihatnya saja! Seperti itu lah ngidam perempuan hamil yang selalu tidak bisa di tebak! " jawab Ibuk dengan panjang lebar.
"Jadi, kalau Anika kepengen sesuatu yang di inginkan, jangan sungkan-sungkan untuk mengatakan nya. Karena itu hal yang sangat wajar, dan tidak merepotkan. Masa hamil itu masa yang menyenangkan karena masa ini tidak akan terulang kembali karena bawaan setiap hamil itu berbeda-beda. Jangan takut untuk mengatakan apapun kepada Ibuk, Mak Ijah, ayah Jamal dan siapapun yang ada di sini! " ucap Ibuk lagi dengan nasihat bijak nya.
Anika mengangguk kepalanya dengan tersenyum bahagia, Riko juga tersenyum bahagia melihat senyuman yang tersungging di bibir istrinya.
"Eng... Ayah tinggal di sini juga? " tanya Anika dengan hati-hati.
"Ayah tinggal di paviliun yang di sebelah kanan sana, Nak! Kenapa kamu bertanya seperti itu? " jawab ayah Jamal dengan heran.
"Emmm.... Boleh gak, Buk kalau Anika tinggal dengan ayah saja! " tanya Anika dengan sangat hati-hati takut Ibuk tersinggung.
"Loh, mau tinggal dengan ayah Jamal? Ya boleh! Kenapa tidak? " jawab Ibuk tidak keberatan.
"Benarkah? "tanya Anika dengan wajah sumringah.
"Tentu saja, mau Anika tinggal di kediaman utama, ataupun paviliun kanan, semuanya terserah Anika. Yang penting setiap makan selalu di sini! Dan jangan sungkan untuk mengatakan apapun kepada Ibuk dan Mak Ijah! " jawab Ibuk lagi dengan tersenyum teduh.
"Terimakasih, Buk! "pekik Anika kegirangan sambil reflek memeluk Ibuk dengan erat.
Ibuk membalas pelukan Anika dengan mengusap pelan punggungnya dengan penuh kasih sayang. Ia sedikit kasihan dengan apa yang terjadi dengan Anika karena Tata sudah menceritakan semua nya tentang apa yang terjadi dengan Anika di Jakarta.
"Maaf, Buk! Anika tadi reflek! " ucap Anika sambil melepas pelukannya.
"Kenapa minta maaf? Ibuk senang jika Anika juga menganggap Ibuk sebagai Ibu nya Anika! Mulai sekarang anggap Ibuk sebagai Ibu Anika sendiri ya? " sahut Ibuk dengan wajah yang tidak mau di bantah.
Anika mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia lalu mengikuti langkah Suster Sumi yang mendorong kursi roda ayah Jamal keluar dari kediaman utama menuju paviliun kanan tempat ayahnya tinggal selama di sini.
Riko membawa barang-barang mereka dengan di bantu asisten rumah tangga yang di suruh ibuk untuk membantunya sampai ke paviliun kanan.
Anika dan Riko menempati kamar yang bersebelahan dengan kamar ayah Jamal, sedangkan Suster Sumi menempati paviliun kiri bersama para asisten rumah tangga yang lainnya. Ayah Jamal di paviliun kanan tinggal bersama Tegar yang menempati kamar di samping ruang santai di dekat pintu arah paviliun kiri.
"Ayo sayang, mandi dulu! Mumpung belum terlalu sore, karena nanti airnya dingin banget jika terlalu sore mandinya! Gak bagus buat kamu sayang mandi air dingin-dingin. Apalagi di sini suasananya memang dingin. " ucap Riki lembut ketika mereka sudah di kamar.
"Iya, Mas! " jawab Anika dengan patuh.
Anika pun mandi dengan air hangat yang sudah di siapkan Riko, dan Riko menyiapkan semua keperluan istrinya dengan senang hati.
Ia bahkan menyusun pakaian nya dan Anika ke dalam lemari yang sudah dipersiapkan untuk menyimpan pakaian mereka. Ia juga menyusun perlengkapan make up Anika di meja rias yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
"Ya ampun, Mas! Kenapa kamu lakukan itu? Itukan tugas aku membereskan semua nya! " ucap Anika sedikit keras ketika keluar dari kamar mandi melihat suaminya membereskan semua peralatan make up nya.
"Gak papa sayang! Ini hal kecil, kamu mulai sekarang tidak usah melakukan apapun! Tugas kamu hanya satu, yaitu bahagia! " jawab Riko dengan santainya.
"Sebisa mungkin, aku akan lakukan apapun buat kamu dan anak kita nanti! Aku ingin kamu bahagia menikah dengan ku! Dan aku juga ingin anak kita bahagia memiliki aku sebagai ayahnya! " ucap Riko lagi dengan wajah bahagia.
Anika langsung memeluk suaminya dengan penuh syukur dan terharu.
"Aku bahagia Mas, menikah dengan kamu! Dan anak kita pasti bahagia mempunyai ayah yang hebat seperti kamu! "jawab Anika dengan tersenyum lembut.
"Ya sudah, ayo pakai bajunya! Nanti masuk angin lagi! Cuacanya sudah mulai dingin ini! "perintah Riko dengan lembut.
"He.. He... He... Lupa kalau masih pakai handuk! "jawab Anika cengengesan.
"Kebiasaan itu! " ucap Riko sambil menjawil hidung istrinya.
.
Ia tanpa sungkan membantu Anika memakai pakaian nya, setelah selesai ia pun masuk ke kamar mandi untuk mandi juga sebelum cuaca semakin dingin.
πΏπΏπΏ
Di rumah sakit.
Karena Papa nya tidak merespon ucapannya, Kayla memukul pelan lengan Papa nya hingga Papa nya melonjak kaget.
"A-ada apa sayang? " tanya Kadir dengan gugup ketika Kayla melotot ke arah nya.
"Ila sebel! Dari tadi Ila ngomong sama Papa, tapi Papa diam aja gak mau dengerin Ila ngomong! " rajuk Kayla dengan wajah cemberut.
"Maafin Papa sayang, Papa tadi gak dengar omongan Ila karena Papa sedikit tidak enak badan! " jawab Kadir tidak sepenuhnya berbohong.
"Papa sakit? " tanya Kayla dengan khawatir.
"Sedikit sayang! kepala Papa sedikit pusing! " jawab Kadir dengan jujur.
"Mama... " teriak Kana ke arah pintu masuk kantin.
Kadir reflek melihat ke arah Kana yang memanggil Mama dan ia menghela nafas lega ketika melihat orang yang dipanggil Mama oleh Kana bukan Yuli tetapi Sandra.
Kadir mengernyitkan keningnya heran dan bingung melihat Sandra ada di rumah sakit dan di kantin ini juga. Dan Sandra juga tidak kalah kaget melihat Kadir dan anak-anak juga ada di kantin bersama Tata.
Sandra menatap Tata dengan tajam, sedang kan Tata hanya acuh tak acuh dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Bang Kadir ada di sini juga dengan anak-anak? " tanya Sandra dengan heran.
"Iya, kamu kok ada di sini juga! " tanya Kadir balik.
"Iya, Bang! Tadi ada yang chat aku, di suruh kesini. Katanya ada hal darurat, gak tahu nya ketemu Abang dan anak-anak di sini! " sindir Sandra sambil menatap kearah Tata.
Tata pura-pura meminum minumannya dengan santai dan tidak memperdulikan sindiran Sandra padanya.
"Oh gitu! Oh ya kenalin ini adik aku, Nana! Dan itu mantan adik ipar aku, Tata! " ucap Kadir memperkenalkan Nana dan Tata.
"Udah kenal kali, Bang! Orang kita tinggal satu rumah! " celutuk Nana dengan santai.
"Jadi kalian sudah pada kenal? Jadi, kamu bilang teman kamu satu rumah itu, Sandra? " tanya Kadir lagi kepada Nana.
"Dan kalian juga tinggal bersama Tata? " tanya Kadir lagi meminta jawaban Nana.
"Benar, Bang! " jawab Nana dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya ampun... Ternyata dunia ini kecil sekali! Kita kenal dengan orang yang juga kenal dengan keluarga kita! " ucap Kadir dengan geleng-geleng kepala.
"Atu au cama Mama! " rengek Kana minta di gendong Sandra.
Sandra pun mengambil Kana yang duduk di kursi makan khusus dan menggendong nya. Baru saja lima menit Kana di gendongan Sandra, tiba-tiba datang seseorang yang merebut paksa Kana dalam pelukan Sandra yang mana langsung membuat Kana menangis histeris.
"Hei... Apa-apaan sih kamu main ambil Aja! " pekik Sandra dengan wajah marah terhadap orang tersebut.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semua nya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...