Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
54. Anika di usir dari rumah


__ADS_3

Riko berteriak kaget mendengar tuduhan Mama nya, tangannya terkepal kuat menahan emosi di dadanya. Ia tidak habis pikir dengan perempuan yang baru ia nikahi dua hari yang lalu, bisa-bisanya perempuan itu mengadu jika ia di usir dari rumah ini, padahal kenyataan nya ia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu.


"Apa maksud Mama berkata seperti itu? " tanya Riko dengan suara yang berat.


"Jangan lembek jadi seorang suami! Gara-gara perempuan tidak tahu diri itu, kamu mengusir Delia dari rumah ini? Apa kamu lupa jika Delia itu istrimu juga Riko! Kamu harus adil padanya, jangan selalu condong dengan istri pertama mu itu! " bentak Ibu Ratih dengan suara keras.


"Kurang ajar perempuan itu! Awas saja kau! Lihat saja nanti apa yang aku lakukan padamu Delia! Kau sudah bermain api dengan orang yang salah! Tidak aku sangka kau ternyata licik dan culas juga. Kalau menfitnah ku dan kau akan membayar semuanya ini nanti dengan tunai! " Batin Riko dengan wajah merah padam dan tangan terkepal erat.


Anika hanya diam saja melihat mertuanya memarahi suaminya. Ia segera masuk ke dalam rumah dan lebih tepatnya ke dalam kamar nya untuk menghindari pertengkaran dengan mertuanya itu.


Sedang kan Riko mengikuti langkah Anika tanpa menghiraukan teriakan dan cemooh Mama nya terhadap Anika.


Ibu Ratih menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras lantaran kesal karena putra tidak menghiraukan ucapannya. Ia pun segera ke kamar menantu barunya Delia untuk membujuknya supaya tetap di rumah ini.


"Sayang, apakah kau masih marah padaku? Aku harus bagaimana lagi agar kau tahu jika aku sedikit pun tidak menginginkan pernikahan itu! " ucap Riko pelan sambil berbaring di belakang Anika.


Anika masih tetap di posisinya membelakangi suaminya itu dan berpura-pura tidur. Sedang kan Riko menatap punggung istrinya dengan wajah yang sendu, ia tidak lagi merasakan hangatnya pelukan Anika ketika mau tidur dan rengekan manja Anika jika ia mulai menjahili istrinya itu.


Anika menutup mulutnya dengan tangan agar suara tangisannya tidak terdengar suaminya. Ia menangis diam-diam mendengar ucapan sedih suaminya tadi. Ia ingin sekali berdamai dengan suaminya, tapi rasa sakit nya membuat egonya tertahan dan memilih mengabaikan suaminya. Padahal sesungguhnya ia begitu merindukan saat-saat bermanja dan bersenda gurau bersama suaminya.


Riko yang belum tidur merasakan punggung istrinya bergetar, yang menandakan jika istrinya itu sedang menangis. Ia hanya diam saja membiarkan istrinya meluapkan tangisannya. Ia merasa begitu bodoh sebagai suami yang hanya bisa membuat istrinya bersedih.

__ADS_1


Lama menangis membuat Anika tertidur dengan sendirinya. Riko turun dari kasur dan berjalan memutari tempat tidur berjongkok di depan istrinya yang sudah tertidur lelap. Ia mengusap air mata yang masih menempel di pipi istrinya kemudian mengecup pelan kepala istinya dengan air mata yang mengalir. Cepat-cepat ia menghapus air matanya agar tidak jatuh mengenai wajah istrinya dan membuat istrinya bangun.


"Maafkan Mas sayang? Yang sudah menyakiti hatimu hingga sedalam ini! Mas tidak tegas dan lembek terhadap Mama, orang tua kandung Mas sendiri yang menjerumuskan rumah tangga kita penuh dengan duri seperti ini. Jika saja Mama tidak mengancam akan bunuh diri dan mengecap Mas anak durhaka, mungkin Mas bisa membantah dan menolak pernikahan itu. Maafkan Mas! Mas sangat mencintai mu sayang! " ucap Riko dengan lirih sambil mengecup pelan kening Anika.


Riko menghapus air matanya sebelum berbaring kembali di atas tempat tidur. Sedangkan Anika tetap tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu sedikitpun. Riko hanya diam dan merenung di atas tempat tidur tanpa bisa tidur karena tidak mengantuk.


Ia memutuskan untuk bermain games di ponselnya agar jenuh dan suntuknya hilang. Ia mendengar suara kendaraan dari luar rumahnya yang menandakan jika Mamanya sudah pulang. Dan ia tidak peduli bagaimana dengan Delia, apakah pulang ke rumah orang tuanya atau pun masih tetap di rumah ini.


Riko keluar dari kamarnya ketika hari sudah sore dan ia juga sudah selesai mandi. Ia pergi ke dapur dan tidak sengaja berpapasan dengan Delia yang membawa gelas berisi air putih. Riko tidak menyapa ataupun melihatnya, ia hanya melewati perempuan tersebut seperti tidak terlihat.


"Bi Sur! Masak makanan kesukaan Anika ya untuk makan malam! " pinta Riko kepada Bi Sur.


"Oke Tuan! " jawab Bi Sur dengan ramah.


"Tuan mau ngapain? Biar saya saja yang mengupas buahnya! " tegur Bi Sur ketika melihat Riko mengambil pisau dan duduk di kursi untuk mengupas buah.


"Udah, Bibi masak saja untuk makan malam! Ini urusan saya! Biar saya yang mengupas nya! Lagian saya mengupas nya agar Anika bisa langsung memakannya tanpa perlu repot-repot mengupas nya lagi. " jawab Riko dengan santai sambil terus mengupas buah tersebut.


Delia yang mengintip meremas tangannya yang sedang memegang gelas karena cemburu dan sakit hati melihat Riko lebih menyayangi dan mementingkan istri pertama nya itu. Ia berbalik dan memandang kamar Anika dengan penuh dendam dan amarah. Ia bahkan memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan membantingnya sehingga mengeluarkan suara yang sangat keras.


Malam harinya, Riko sedikit lega karena selama makan malam Anika merespon jika ia bertanya dan mau menjawab dengan kata-kata yang banyak dan tidak dingin lagi. Sedangkan Delia masih menampakkan wajah polosnya di hadapan semua orang yang ada di meja makan termasuk Bi Sur, yang mana semakin membuat Riko enek dan muak.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Anika sudah bangun dan meminta izin Riko untuk ikut ke pasar bersama Bi Sur. Entah kenapa pagi ini ia merasakan firasat yang tidak enak di hatinya.


"Uang sudah, Dompet juga sudah, mendingan perhiasan ini aku bawa saja ah, daripada nanti ada yang masuk ke kamarku dan mencurinya. Mendingan aku bawa saja. " gumam Anika pelan dan memasukkan dua kotak sedang perhiasan miliknya ke dalam tas yang akan ia bawa ke pasar.


Tak lupa pula ia memasukkan ponselnya ke dalam tas tersebut biar tidak ketinggalan.


Anika dan Bi Sur berangkat ke pasar bersama Riko yang ngotot ingin mengantar mereka dulu sebelum pergi bekerja di toko Papa nya.


Anika senang sekali menemani Bi Sur berbelanja walaupun ia hanya menyimak saja. Setelah selesai membeli keperluan dapur, mereka pulang dengan menaiki angkot.


Ketika sampai di rumah, Anika dan Bi Sur kaget melihat sebuah koper tergeletak di depan pintu rumah dan Anika bertambah kaget ketika mengenali pemilik koper tersebut.


"Ini kan koper aku? Kenapa ada di luar sini? " ucapnya dengan bingung.


Pintu rumah pun terbuka, dan terlihat Mama mertuanya dan Delia berkacak pinggang berdiri di depan pintu.


"Akhirnya kamu pulang juga perempuan tidak berguna! Aku sudah berbaik hati mengemas pakaian jelek mu itu dan silahkan kau pergi dari rumah ini! Aku tidak sudi mempunyai menantu tidak tahu diri seperti mu! Dan aku pastikan kalau Riko akan mau mengabulkan permintaan ku untuk menceraikan perempuan seperti mu! Dasar pembawa sial! Hidup kami selalu ada masalah semenjak Riko memperistri diri mu! Pergi kau dari sini! Pergi!! " teriak Ibu Ratih dengan mendorong Anika yang jongkok di dekat kopernya hingga terduduk di lantai.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan...


__ADS_2