
"Mau apa kalian datang kemari!! " ucap Bude Wati dengan nada tidak suka.
"Kamu hanya menantu di keluarga Kusuma tapi lagak mu seperti darah Kusuma saja! Sombong sekali! " cibir seorang wanita yang membuka pintu mobil lalu keluar dan berdiri di sebelah seseorang yang berteriak tadi.
"Kemuning.... Sepertinya mulut mu masih saja culas seperti dulu... ! Aku memang hanya menantu di keluarga Kusuma, tapi apa kau lupa kalau aku lah yang melahirkan garis keturunan keluarga Kusuma?? " jawab Bude Wati dengan wajah tegak membalas perkataan perempuan bernama Kemuning itu.
Perempuan itu tampak menahan geram mendengar jawaban Bude Wati yang tidak takut sama sekali padanya.
"Tidak usah basa basi, apa tujuan kalian datang ke sini! " tanya Mami Sita yang bertanya.
"Apa itu yang di lakukan tuan rumah pada tamu yang datang?? Bukannya di suruh masuk, tapi di interogasi seperti seorang penjahat? " ucap seseorang dari dalam mobil yang membuka pintu dan menjejakkan kakinya ke tanah.
"Pak lek Batari??? " ucap Mami Sita, Bude Ditha dan Bude Rini secara bersamaan.
"Iya saya... Kenapa kalian kaget begitu dengan kedatangan saya? Apakah Pak lek mu ini tidak dipersilakan masuk? " jawab nya lagi dengan menyindir.
Mami Sita mengambil napas panjang sebelum mempersilakan mereka masuk dengan hati terpaksa.
"Silakan masuk Pak lek... " jawab Mami Sita dengan berat hati.
"Entah kenapa perasaan Mbak, mereka datang akan membuat masalah! " bisik Bude Wati pada Mami Sita.
"Perasaan aku juga gitu Mbak.. " jawab Mami Sita dengan muka malas.
Saat Mami Sita dan kakak-kakaknya hendak masuk, tiba-tiba pintu belakang mobil yang satunya terbuka dan mereka semakin kaget dan malas saat melihat Sekar keluar bersama Galang suaminya serta Ajeng yang masih berwajah pucat seperti habis sakit.
"Kalian semua juga ikut?? Sekarang aku mengerti apa yang membawa kakak dan ayah mu datang ke rumah ku! " ucap Mami Sita dengan sinis.
Ia langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak menghiraukan Sekar dan keluarganya yang ikut masuk ke dalam rumahnya.
Ternyata tamu yang datang adalah keluarga Sekar antara lain ayahnya, kakak perempuan nya bernama Kemuning, Adik perempuan nya bernama Kinasih dan suaminya, Sekar, Galang dan Ajeng.
Mereka semua dengan santainya duduk di sofa ruang tamu seakan-akan mereka sudah terbiasa datang ke rumah ini. Bahkan Kinasih dan Kemuning langsung meminum air mineral yang memang selalu di sediakan untuk tamu yang datang begitu saja tanpa meminta izin dulu.
"Benar-benar tidak ada adab nya mereka ke rumah orang! Seenaknya minum tanpa di persilakan yang punya rumah! " Bude Ditha menggerutu kesal melihat sikap mereka.
"To the point saja Pak lek, apa tujuan kalian datang ke rumah ini? " ucap Mami Sita langsung duduk di hadapan mereka semua dan menatap mereka satu persatu.
__ADS_1
"Apa ini yang di ajarkan orang tua mu pada anak perempuan nya?? Bersikap kurang ajar pada orang yang lebih tua! " jawab Pak lek Batari dengan nada keras.
"Pelan kan suara mu Pak lek! Jangan buat kegaduhan di rumah orang! Dan jangan mengajari kami tentang bersikap! Apa pun sikap kami tidak ada sangkut pautnya dengan kedua orang tua kami! Apa Pak lek gak ngaca pada diri Pak lek sendiri? Apa Pak lek sudah mengajarkan adab yang baik pada anak-anak Pak lek bagaimana adab bertamu? " sergah Bude Ditha dengan suara keras.
"Kurang ajar kamu Ditha... Begini lah kalau anak yang nikah dengan orang sembarangan yang tidak tau silsilahnya, tidak tau Tata krama! Akibat pengaruh suamimu yang biasa itu membuat mu kurang ajar seperti ini! Asal kau tahu saja, anak-anak ku anak yang bagus kualitasnya, bebet, bobot, bibit nya terjamin! Jangan kau samakan anak-anak ku dengan dirimu yang kurang ajar sama orang tua! Walau bagaimana pun juga, aku ini masih saudara jauh Bapak mu! " jawab Pak lek Batari dengan kencang merendahkan Suami Bude Ditha.
Wajah Bude Ditha merah padam menahan amarah, namun Bude Rini dengan sigap meraih jemari kakak nya agar sebisa mungkin menahan emosi.
"Kalau kedatangan Pak lek kesini hanya untuk membuat keributan, lebih baik Pak lek dan keluarga Pak lek pulang saja! Tuh pintunya masih terbuka lebar kalau kalian mau pulang sekarang! " ucap Mami Sita dengan menunjuk ke arah luar.
"Heh.... Ayu, jangan kurang ajar kamu! Jangan kamu kira bisa bersikap seenaknya pada kami semua! Kamu pikir aku takut meski ini rumah mu? Heran dengan Pak De Kusuma dan Bude Ratna, bisa-bisa nya punya anak-anak yang kurang ajar kayak gini! " bentak Kinasih dengan menunjuk Mami Sita, Bude Ditha, Bude Rini dengan telunjuknya.
Bude Ditha naik pitam mendengar hinaan Kinasih terhadap kedua orang tuanya, seakan-akan orang tua mereka yang tidak mengajarkan mereka bersikap selama ini.
"Hei... Gak punya kaca kau di rumah! Seharusnya kau ngaca dan lihat dirimu sendiri? Apakah kau itu sudah benar hah! Orang tuaku tidak ada sangkut pautnya dengan sikap kami! Kami akan baik dan sopan pada orang yang baik dan sopan pula, bukan untuk orang yang seperti kalian yang tidak ada sopan nya sama sekali di sini! Pak lek lihat, ini anak Pak lek yang kayanya bagus kualitasnya, bibit, bebet dan bobot nya? " tunjuk Bude Ditha lagi pada Kinasih dengan tersenyum remeh pada Pak lek Batari.
"K-kau.... " teriak Pak lek Batari seraya berdiri dengan amarah yang bergemuruh di dadanya hendak mengarahkan tangkai cerutu nya pada Bude Ditha.
"Ada apa ini ribut-ribut! Batari... Apa yang kau lakukan pada Putri ku! " tegur Eyang Kakung secara tiba-tiba dengan suara keras.
Pria sepuh itu cepat sekali berubah sikap dan perilaku nya saat Eyang kakung datang tiba-tiba menghampiri mereka. Ia seakan-akan lupa jika tadi ia akan memukul Ditha dengan tangkai cerutu nya.
Eyang kakung duduk di hadapan sepupu jauhnya Batari bersama Eyang Putri. Mami Sita duduk di sofa satu lagi bersama Papi Dayton. Bude Wati, Bude Ditha, Bude Rini berdiri tegak di belakang Eyang kakung. Sedangkan Aunty Ela dan suaminya berdiri di belakang sofa Mami Sita.
"Apa maksud perkataan mu itu Batari? Kenapa tadi aku mendengar suara kau bersitegang dengan Putri ku Ditha? Apa yang kalian ributkan? Dan jelaskan perkataan mu tadi dengan meluruskan hubungan cucu-cucu kita? " tanya Eyang kakung dengan muka datar.
"Ah, Kang Mas salah dengar itu.... Aku tadi tidak bersitegang dengan Ditha, kami tadi hanya berbincang ringan. Biasalah Kang, anak-anak sekarang suka beda pendapat dengan orang tua seperti kita ini... " jawab nya dengan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Benarkah begitu? Lalu, apa maksud perkataan mu tadi? Hubungan cucu-cucu kita yang mana? Setau ku cucu ku tidak ada yang berhubungan dengan cucumu? " tanya Eyang kakung lagi yang langsung membuat wajah Pak lek Batari menjadi agak salah tingkah.
"Kang Mas bisa aja bercandanya... Ya hubungan Davin dan Ajeng lah Mas! Kang Mas kan tau jika sedari dulu cucuku Ajeng sangat mencintai Davin! Aku ingin meminta Davin menikahi Ajeng! Biar bagaimana pun juga kita kan masih kerabat Kang, Sama-sama berdarah Ningrat! " jawab Pak lek Batari dengan tidak tau malunya.
"Gak usah ngarang deh Pak lek! Sedari dulu juga, putra ku Davin tidak pernah sedikitpun mencintai cucumu itu! Lagi pula Putra ku sudah punya perempuan yang paling ia cintai yang melebihi standar yang aku tetapkan! Jadi, bagaimana mungkin Pak lek mengatakan jika mereka berdua ada hubungan seperti layaknya sepasang kekasih! " bantah Mami Sita dengan keras.
Wajah Pak lek Batari mengeras mendengar pernyataan telak dari Mami Sita. Begitu juga dengan wajah Sekar dan Galang suaminya yang juga tersinggung dengan ucapan Mami Sita tentang standar menantunya. Ajeng menangis dalam diam di samping Mama nya dengan wajah menunduk seperti seorang korban yang teraniaya.
"Apa maksud perkataan mu itu Mbak Yu? Kau menyatakan jika Putri ku tidak sesuai standar menantu mu? Begitu? " teriak Sekar dengan suara meninggi.
__ADS_1
"Rendahkan suara mu di rumah ku! Tidak perlu aku katakan langsung dengan mulutku, kau bisa menilai sendiri bagaimana Putri mu itu? Sekarang kau ingin meminta Putra ku menikahi putri mu? Atas dasar apa kau meminta semua itu pada Putri ku? Jangan mimpi! Sampai kiamat pun aku tidak akan membiarkan Putra ku menikahi putri mu! Camkan itu! " bentak Mami Sita dengan berdiri dan napas terengah-engah karena terlalu emosi.
Sekar semakin sakit hati mendengar kata-kata Mami Sita, begitu juga dengan kakak dan adiknya yang langsung memerah menahan amarah mereka.
"Jangan sombong kamu Ayu, Kau pikir ada yang mau dengan Putra mu yang duda dan impoten itu? Huh... Jangan kalian pikir aku tidak tahu rahasia Putra kesayangan kalian itu? Kalian lah yang jangan bermimpi bisa mendapatkan perempuan yang benar-benar mau menerima kekurangan putramu itu! " ucap Kemuning dengan wajah mengejek Mami Sita.
"Ha... Ha... Ha... Ayu, ayu... Lagak mu itu memang patut di acungi jempol! Punya anak cacat aja belagu! Ha... Ha... Ha... " sahut Kinasih menertawakan masalah Dave di masa lalu.
Mereka menertawakan wajah kaget keluarga Kusuma dengan menghina dan mencemooh keadaan Davin.
"Seharusnya kalian bersyukur jika ada perempuan cantik dan terpelajar seperti Putri ku mau menikah dengan pria cacat seperti Putra mu itu! Dan asal kalian tau ya, gara-gara Davin, Ajeng mau bunuh diri dan hampir saja ia kehilangan nyawanya! Davin harus bertanggungjawab dengan menikahi Ajeng secepatnya! " ucap Sekar dengan berapi-api.
"Cih... Tidak tahu malu! Sudah menghina Davin, tapi seenaknya saja minta di nikahkan! Dasar muka tembok! Pak lek lihat tuh sikap anak kesayangan Pak lek itu! Dengan tidak tahu malunya meminta keponakan ku menikahi anaknya! " ejek Bude Ditha mencemooh balik Sekar.
"Heh Ajeng! Apa tidak ada laki-laki lain yang mau menikahi mu sampai-sampai minta di nikahkan sama laki-laki yang di bilang cacat sama Mama kamu ini?? Apa benar kamu mau menerima Davin apa adanya? Apa benar kamu mau terima Davin yang tidak bisa memberikan mu nafkah bathin, apa lagi sampai memberikanmu anak? " cerca Bude Wati dengan menatap sinis wajah pucat Ajeng.
"Alah.... Bulshit itu Mbak! Mana ada perempuan yang mau menerima laki-laki yang tidak bisa memberikan kepuasan batin! Kalau pun ada itu sudah menjadi takdir mereka dan sudah jodoh mereka! " tukas Bude Ditha menimpali ucapan Bude Wati.
"Saya mencintai Kang Mas Davin tulus Bude, dan saya siap menerima kekurangan Kang Mas! Lagipula zaman sekarang sudah canggih, kami bisa berobat ke luar negeri agar Kang Mas Davin bisa sembuh! Asal Kang Mas Davin setuju saja, setelah menikah kita akan berjuang berdua supaya bisa sembuh dan punya anak! " jawab Ajeng dengan pedenya.
"Apa kamu pikir selama 15 tahun ini kami tidak mengobati Davin begitu?? " tuduh Eyang Putri dengan menatap tajam Ajeng.
"Bu-bukan begitu maksud Ajeng, Eyang! " jawab nya dengan agak ketakutan dan menundukkan kepala nya.
"Sudah... Sudah.... Jangan di perpanjang lagi! Batari dan kalian semua nya! Dari dahulu sudah aku katakan berulang kali jika aku tidak akan pernah menjodohkan anak dan cucu ku seperti tradisi keluarga ku di masa lalu. Mereka semua bebas memilih jodoh mereka masing-masing asalkan bertanggung jawab, seagama dan seiman, serta hormat pada orang tua! Jadi, untuk masalah Davin aku tidak akan ikut campur karena saat ini Davin sudah memiliki perempuan pilihan nya. Dan aku beritahu kalian semuanya jika Davin dan perempuan itu sudah menikah secara agama! Mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri! " ucap Eyang kakung dengan suara tegas dan lantang.
"Apaaaaa???? " pekik mereka kaget dan langsung berdiri dari tempat duduk mereka.
"Bruk.... "
"Ajeng...... ! " teriak Sekar dengan begitu histeris.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers ku semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..
__ADS_1