
Nada masih terlihat shock saat melihat video yang di perlihatkan Angel padanya. Tampak beberapa orang laki-laki yang memakai pakaian preman memasuki rumah nya dan tak lama keluar dengan wajah marah.
Tidak sampai di situ, saat seorang datang dan mungkin salah satu dari orang mereka berbicara dengan satu yang mungkin adalah pimpinan mereka karena orang itu seperti menunduk seakan-akan memberi hormat pada orang tersebut. Laki-laki yang mungkin pimpinan mereka tampak marah dan mengamuk dengan menendang gubuk Nada sehingga bangunan yang hampir roboh tersebut bolong dan rusak bagian depan nya.
Tidak ingin melihat lebih jauh lagi, Nada cepat-cepat mematikan video tersebut dan menyerahkan nya kepada Angel tanpa berkata apapun.
"Ya Allah... Terimakasih sudah mengirim orang baik untuk menyelamatkan kami semua! Untung saja aku menurut pada mereka dan entah apa jadinya jika aku menolak ajakan mereka untuk pergi dari gubuk itu! " batin Nada mengucap syukur selamat dari kejaran orang-orang dari masa lalu nya.
Angel yang melihat wajah Nada yang masih tampak pucat dan shock hanya diam saja dan tidak bertanya lebih jauh lagi tentang rekaman tersebut. Ia kembali melihat ke depan dan membiarkan Nada larut dalam pemikiran nya.
Amirah dan Aqila tampak senang dan antusias saat mobil yang membawanya melewati gedung-gedung pencakar langit dan mereka asyik berbicara berdua sambil menunjuk ke arah luar.
Tanpa disadari Nada mengeluarkan setitik air bening di sudut matanya saat melihat wajah bahagia anak-anak nya. Ia cepat-cepat mengusap nya sebelum ada yang menyadari jika ia menangis sedikit, tapi Tiger melihat semuanya dari kaca depan dan ia pura-pura tidak tahu dan tidak ambil pusing.
Mobil memasuki kawasan apartemen dan langsung masuk ke basement gedung apartemen tersebut.
Tiger langsung keluar dari mobil begitu ia selesai mematikan mesin mobil dan membuka pintu tengah untuk menggendong Aqila. Nada dan Amirah turun melalui pintu yang satu lagi bersamaan dengan Tiger yang menggendong Aqila. Tanpa di suruh, Amirah berlari ke pintu samping untuk menutup kembali pintu mobil tersebut saat Tiger berhasil membawa Aqila keluar.
"Ayo Bu kita ke sana! " ajak Angel pada Nada seraya menunjuk kotak besi yang akan membawa mereka ke apartemen Dave.
Nada mengikuti langkah Angel dengan menggandeng tangan Amirah. Mereka semua masuk ke dalam lift tanpa bersuara sama sekali.
Ting
Pintu lift terbuka, Tiger melangkah duluan dengan diikuti Angel, Nada dan Amirah di belakang nya.
"Kenapa kalian lama sekali? Aku hampir mau pulang kalau kalian belum juga sampai! " tegur seorang laki-laki Bule yang berdiri tidak jauh dari pintu lift.
"Pulang saja kalau kau mau kepala mu lepas dari badan! " jawab Tiger datar.
"Haishhh.. Kau ini! Aku hanya bercanda! Btw kenapa aku di suruh ke sini? Tempat siapa ini? Kenapa kalian berdua bawa Ibu dan anak-anak ini? Siapa mereka! " sahut nya sembari bertanya dengan wajah kepo.
"Gak usah kepo! Lakukan saja tugas mu nanti! Buruan buka pintu apartemen ini! " ucap Tiger dengan suara tegas pada nya.
"Iya iya... Galak banget kayak emak-emak anak tujuh! Berapa password nya? " jawab nya lagi dengan muka di tekuk.
"Tanggal pernikahan nya Bos besar! " Angel yang menjawab.
"Kok gak mau? " tanya Martin dengan heran.
"Bukan tanggal resepsi, tapi tanggal waktu akad nikah nya Bang! " jawab Angel gemes.
"Ya mana gue tau bebeb sayang?? Bos cantik gak ngundang gue... Berapa tanggal nya? " ucap Martin membela diri.
Angel menyebutkan tanggal nya dan Martin memencet nya dengan cepat.
Ceklek...
Pintu terbuka dan Martin dengan cepat membuka daun pintu lebar-lebar agar Tiger dan lainnya segera masuk.
"Oppa... Langsung masuk ke kamar yang di ujung sana aja! Soalnya hanya kamar itu dan yang di tengah saja yang tidak di kunci kakak ipar! " ucap Angel memberitahu Tiger.
"Tau dari mana kamu beb kalau ada kamar yang di kunci sama Bos Bule? " tanya Martin dengan wajah heran.
"Ya tau lah Bang, soalnya sebelum kesini aku meretas dulu CCTV apartemen ini! Hehehehe... " jawab Angel dengan terkekeh kecil.
__ADS_1
"Asem.... ! " gerutu Martin sebel.
Ia lalu ikut masuk ke kamar yang di tuju Tiger untuk meletakkan anak kecil yang ia gendong.
"Jadi ini pasien yang harus aku periksa? " tanya Martin seraya duduk di samping pembaringan Aqila.
"Hmmm... ! " jawab Tiger hanya berdehem.
"Haishhh... ! " gerutu Martin dengan wajah masam.
Nada yang melihat interaksi mereka hanya tersenyum kecil. Ia duduk di kasur yang di sebelah nya lagi yang masih kosong.
"Om Bule siapa? Ini rumah siapa? Rumah nya bagus banget, kasur nya juga bagus dan empuk! Qila belum pernah tidur di kasur yang lembut dan empuk kayak gini! " tanya Aqila yang akhirnya membuka mulutnya setelah dari mereka berangkat hanya bungkam.
"Om adalah Dokter yang akan memeriksa Qila! Ini rumah nya Bos nya Om, dan Qila bisa tidur di kasur ini semaunya Qila! Sekarang Om periksa Qila dulu ya? " jawab Martin dengan lembut.
"Iya Om... Tapi nanti Qila bisa jalan lagi gak Om? Qila pengen banget main sepeda kayak teman-teman yang selalu di ceritakan Kak Mirah! Qila juga pengen bisa lari-lari lagi... ! " sahut Aqila dengan wajah sendu.
Nada tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya akan harapan besar anak bungsunya. Ia membuang muka nya ke samping agar air mata nya tidak menetes.
"Bisa dong! Qila harus bersabar dan mau mengikuti semua perkataan Om! Om akan berusaha semampu Om untuk membuat Qila berlari seperti dulu lagi! " jawab Martin dengan tersenyum lebar pada Aqila.
"Hore.... Kalau gitu cepetan dong Om periksa Qila, Qila udah gak sabar pengen jalan lagi! " sahut Aqila tersenyum dengan penuh semangat.
"Oke... ! Kalau ada yang sakit langsung teriak ya? " jawab Martin dengan memberikan jempol nya.
"Oke Om! " sahut Aqila dengan memberikan jempol nya juga.
Martin mulai memeriksa keadaan Aqila dengan memegang kedua kakinya. Menekuk nya secara perlahan serta mengetuk tulang kaki nya dengan alat yang ia keluarkan dari tas medis yang selalu ia bawa.
"Apakah sakit? " tanya Martin dengan menghentikan kegiatan nya.
"Gak sakit Om, tapi ngilu ! Kadang kalau Kak Mirah sedang bersihin badan Qila, Qila sering merasa sedikit nyeri dan terkadang tiba-tiba ngilu seperti yang Om Dokter lakukan tadi! " jawab Aqila dengan lancar.
"Oke... Sekarang kamu berbaring aja ya biar nyaman! " sahut Martin yang langsung paham dengan keluhan Aqila.
"Gimana keadaan nya? " tanya Tiger yang berdiri dengan bersandar di dinding.
"Aku harus membicarakan nya dengan Bos cantik dan suaminya! " jawab Martin dengan wajah serius.
Melihat wajah Dokter yang memeriksa anaknya tampak begitu serius dan tidak seperti waktu awal membuat sedikit perasaan Nada menjadi tidak enak.
"Dokter.. ! Boleh kah saya tau apa yang terjadi dengan kaki anak saya? Apa anak saya bisa di sembuhkan? " tanya Nada dengan jantung yang berdebar kencang.
Belum sempat Martin membuka mulutnya, tiba-tiba Angel datang dan berseru kencang pada mereka semua yang ada di kamar tersebut.
"Ayo semuanya kita makan siang dulu.. ! Khusus untuk Aqila makan nya di dalam saja! " teriak Angel dengan membawa beberapa kotak makanan bersama Amirah yang tersenyum kegirangan.
"Qila makan di kamar aja Mah sama Mirah! Mamah, Om dan Tante aja yang makan di luar! " sahut Amirah saat Nada hendak membuka mulutnya.
"Ide bagus! Ayo semuanya kita keluar dan mengisi kampung tengah dulu biar gak pingsan gara-gara kelaparan! " ucap Angel memberikan jempol nya.
Ia lalu keluar lagi dengan membawa kotak makanan yang masih ada di tangan nya dan meletakkan nya di meja yang ada di dapur.
"Wah, pas banget kursi nya ada empat! " pekik Angel berseru kencang.
__ADS_1
"Berisik... ! " ucap Tiger dengan wajah datar nya.
Ia langsung duduk di kursi dan mengambil bagian nya. Begitu juga dengan Martin yang langsung duduk dan memakan bagian nya.
Melihat Nada hanya diam saja dan tidak bergerak dari tempat ia berdiri membuat Angel menegur nya dengan kencang.
"Bu Nada.. ! Ayo duduk dan dimakan makanan nya! Ngapain bengong di situ! Ayo... ! " panggil Angel dengan menggerakkan tangannya memanggil Nada.
"Eung... Duluan aja Mbak makannya! Saya merasa gak pantas duduk makan bareng Mbak dan Mas-mas semua! Biar saya makan nanti saja setelah kalian selesai makan! " tolak Nada dengan muka agak sungkan.
Mendengar perkataan Nada membuat Tiger dan Martin menghentikan kegiatan mereka yang akan menyuapkan nasi ke dalam mulut. Angel langsung berdiri dan mendekati Nada yang masih tegak seperti patung.
Tanpa bicara, Angel menarik tangan Nada agar mengikutinya menuju meja makan dan mendudukkan paksa Nada di kursi yang kosong di samping nya.
"Kita semua di sini sama Bu.. ! Gak ada perbedaan sehingga membuat Ibu menjadi sungkan sama kami bertiga! Ayo dimakan makanan nya Bu biar tambah semangat menjalani hidup ! Memikirkan masa depan itu perlu tenaga yang banyak. " ucap Angel dengan suara tegas pada Nada.
Mendengar perkataan Angel membuat Nada tanpa sadar menangis tanpa suara. Tangan nya gemetar memegang kotak makanan yang di sodorkan Angel tadi.
"Orang-orang itu bilang kalau barang jaminan seperti saya tidak pantas makan di meja makan bersama mereka! Sampah hanya pantas makan di tempat sampah juga! Hiks... Hiks... Hiks... ! Sa-saya tidak mau membuat selera makan Mbak dan Mas hilang karena keberadaan saya di tengah-tengah kalian! Sa-saya bisa makan di dapur yang tidak bisa di lihat oleh orang-orang itu! Hiks... Hiks... Hiks... " ucap Nada membuka lukanya dengan menangis terisak-isak dan bahu terguncang.
Wajah Angel dan Tiger mengeras mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Nada. Mereka saling berpandangan memberi kode pada Martin yang juga menatap Tiger dan Angel dengan pandangan yang hanya mereka saja yang paham.
"Sudah Bu, jangan di ingat lagi hal yang menyakitkan seperti itu! Kalau Ibu masih teringat akan hal itu, lebih baik Ibu pejamkan mata, tarik nafas banyak-banyak dan anggap saja kami ini anak-anak Ibu! Bayangkan saja kalau saat ini Ibu makan bersama kedua anak Ibu di meja makan! " sahut Martin dengan lembut.
Nada langsung mengusap air mata dengan cepat karena ia malu telah membeberkan sedikit kesakitan yang ia alami saat menjadi jaminan suaminya dulu.
"Gak usah malu Bu.. ! Lakukan lah seperti apa yang saya katakan tadi! Ayo Bu di coba, Ibu pasti bisa melakukan nya! " ujar nya lagi memberikan semangat dan dukungan pada Nada.
Tiger dan Angel mengangguk saat Nada melihat kearah mereka berdua. Ia pun memejamkan mata nya dan mulai membayangkan jika ia sedang makan bersama kedua anak-anak nya.
Dengan mata masih terpejam ia meraih kotak makanan dan perlahan membuka. Nada membuka matanya dan fokus melihat makanan yang ada di depannya. Sesuap, dua suap hingga beberapa suapan masuk ke dalam mulut nya tanpa melihat ke kiri atau ke kanan agar konsentrasi nya tidak buyar karena ia masih menganggap jika ia hanya bersama anak-anak nya di meja tersebut.
Tiger, Angel dan Martin melanjutkan makan mereka tanpa bersuara sedikitpun agar tidak mengganggu ketenangan Nada yang masih berkonsentrasi dengan khayalan nya.
"Alhamdulillah... " ucap Nada setelah ia selesai makan.
"Ibu hebat bisa makan tanpa bayang-bayang masa lalu! Saya harap Ibu terus seperti itu setiap makan di meja makan jika bersama orang yang baru Ibu temui! Jangan peduli kan perkataan mereka dan anggap saja mereka anak-anak Ibu seperti yang Ibu lakukan tadi! " sahut Martin dengan wajah puas karena berhasil mengatasi sedikit trauma yang di alami Nada.
Nada langsung kaget mendengar suara Martin, ia langsung menundukkan wajah nya karena takut di marahi seperti keadaan di masa lalu.
"Ayo kita ruang tengah saja! " ajak Angel seraya berdiri agar Nada tidak teringat akan masa lalu yang menyakitkan nya.
"Bolehkah saya ke kamar Aqila? Saya mau melihat keadaan anak-anak saya! " pinta Nada saat ia sudah berdiri dan menjauh dari meja makan tersebut.
"Tentu saja boleh Bu... ! " jawab Martin cepat seraya memberi kode pada Angel dan Tiger.
Angel dan Tiger mengangguk saat Nada melihat kearah mereka meminta persetujuan. Nada tersenyum senang dan berjalan menuju kamar yang di tempati Aqila.
"Lebih baik kita bicara di luar saja ! " ucap Martin dengan wajah serius begitu Nada sudah masuk ke kamar anaknya.
Tiger hanya berdehem dan berjalan keluar apartemen bersama Martin dan Angel. Angel menengok kebelakang dan menutup pintu apartemen dengan pelan agar tidak di ketahui Nada jika mereka membicarakan hal yang penting.
"Katakan dengan jujur apa hasil pemeriksaan mu pada Aqila tadi! " ucap Tiger dengan kedua tangan di masukkan ke kantong mantel nya.
"Anak itu harus melakukan serangkaian tes untuk lebih jelasnya lagi. Aku tidak mau menyimpulkan hal yang masih aku ragukan kebenarannya! Jika semuanya sudah jelas, baru aku bisa mengambil tindakan untuk mengatasi masalah nya! Dan sepertinya Ibu itu juga perlu di bantu, bukan hanya anak nya saja! Apa yang ia alami tadi adalah sebuah trauma yang bisa saja menjadi semakin parah jika tidak di tangani dengan ahlinya! Kau harus membicarakan ini semua pada Bos cantik dan katakan apa yang aku katakan ini secara langsung! Semakin cepat kita bertindak, semakin cepat lagi kita menangani nya! Aku khawatir anak itu tidak bisa berjalan untuk selama-lamanya! " jawab Martin dengan wajah serius dan sedikit kasihan.
__ADS_1
Bersambung...