
Dengan raut muka masam dan pikiran kalut dengan keadaan sang anak, Nada berjalan menuju pintu apartemen untuk melihat siapa yang berkunjung.
Ceklek...
"Dokter! Ya Allah, saya kira siapa! Terimakasih sudah berkunjung malam-malam begini dokter! Saya tidak tahu harus bagaimana untuk berterimakasih sama dokter! " ucap Nada terkejut tapi dengan muka bahagia.
"Kenapa Anda berterimakasih kepada saya Nyonya? Saya tidak melakukan apa-apa! " tanya Martin heran.
"Aqila demam dokter! Saya bingung karena tidak tau mau minta tolong siapa! " jawab Nada dengan nada getir dan sendu.
"Apa!!! " teriak Martin dengan tanpa di suruh langsung masuk begitu saja ke dalam apartemen.
Nada yang kalut akan sakitnya Aqila tidak menghiraukan sikap nyelonong nya Martin apa lagi sampai menegurnya. Ia pun mengikuti Martin dengan setengah berlari karena langkah kaki Martin yang panjang mendahului nya menemui Aqila.
"Aqila.. !! Apa kamu dengar omongan Om?? Aqila.. !! " ucap Martin dengan menepuk pelan pipi Aqila yang terpejam.
Raut cemas pada wajah nya membuat Nada tersentuh dan tanpa di sadari ia tersenyum kecil. Martin menyentuh kompres yang ada di kening Aqila dan menaruhnya di baskom kecil yang letaknya di bawah tempat tidur.
"Sudah berapa lama Aqila demam?? Apakah sudah minum obat?? " tanya Martin dengan masih menatap sendu pada Aqila.
"Baru malam ini Dokter! Tadi siang masih sehat-sehat saja, masih bermain bersama Amirah di kamar sepulang dari kontrol! Sudah saya kasih obat demam yang di kotak p3k sehabis sholat magrib tadi, soalnya demamnya baru saya ketahui selesai saya sholat! " jawab Nada jujur.
"Hmm.. Baru 2 jam minum obat nya! Biarkan saja dulu sambil di kompres terus dan selalu lap keringat nya ! Apa ada termometer?? " ucap Martin sambil bertanya pada Nada.
"Sepertinya tidak ada dok! Tadi saya lihat di kotak p3k hanya ada obat-obatan untuk pertolongan pertama! " jawab Nada dengan yakin.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan pergi sebentar membeli termometer! Agak lama jika aku kembali ke rumah untuk mengambil peralatan medis ku! Jangan lupa tutup pintu setelah aku keluar! " ucap Martin sambil berdiri dari tempat tidur.
Tanpa mereka sadari, mereka berbincang layaknya sepasang suami istri yang cemas anak mereka sakit. Bahkan Martin tidak menyadari jika ia mengatakan aku bukan saya seperti biasanya. Nada juga tidak menyadari jika Martin tidak menyebutkan saya lagi tapi aku saat bicara padanya.
"Iya Dok! Hati-hati di jalan, aku tunggu di sini! " sahut Nada sebelum ia menutup pintu apartemen.
Deg
Jantung Martin tiba-tiba berdetak kencang mendengar perkataan Nada yang terdengar ambigu di telinganya. Ia berhenti berjalan karena merasa telinga nya salah dengar.
"Ah, mungkin hanya perasaan ku aja tadi dia bilang akan menunggu ku! " gumam nya dengan geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Nada yang keceplosan bersandar di pintu apartemen dengan jantung yang juga berdegup kencang, seakan-akan mau loncat keluar.
Ia mendadak lemas dan tubuhnya merosot ke lantai saking shock akan sikap nya sendiri. Wajah nya memerah malu karena berkata seperti itu pada Martin. Tapi dalam sekejap ia menggeleng kan kepalanya dengan wajah sedih dan takut.
"Gak! Gak! Ini gak boleh terjadi! Dokter Martin terlalu mulia untuk perempuan kotor seperti aku! Tidak hanya kotor tapi aku juga perempuan yang gak jelas status nya! Istri orang bukan janda juga bukan! Dokter Martin pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku! " ucapnya dengan nada getir syarat akan kesedihan.
Tanpa di sadari ia mengeluarkan air mata dan memeluk erat kedua lututnya dengan menangis dalam diam. Beruntung Aqila tertidur karena pengaruh obat, Amirah yang menjaga Aqila juga tertidur di sebelah Aqila sambil berpegangan tangan.
Cukup lama Nada menangis dalam diam dengan di tandai bahu yang terguncang dan wajah yang tenggelam dalam lutut nya. Ia mengangkat wajah nya setelah merasa air mata nya tidak keluar lagi. Perlahan ia bangkit dan berdiri, berjalan menuju kamar nya setelah melihat anak-anak sudah tertidur.
Nada memasuki kamar mandi di kamar yang dia tempati. Ia mencuci wajahnya di wastafel lalu kemudian menyikat giginya. Ia melihat pantulan wajahnya yang sembab di cermin kamar mandi.
"Selama dua tahun aku kabur, ini pertama kalinya aku nyaman dekat dengan laki-laki kecuali Bang Sandi. Itu saat anak-anak masih kecil, sebelum Bang Sandi berubah sikap. Kejadian sialan itu membuat aku semakin terpuruk hingga berhasil kabur semakin membuat aku takut, tidak nyaman dan was-was bertemu orang baru terutama laki-laki! Tapi Dokter Martin berbeda, pria itu terlihat cuek dan datar tapi sangat lembut di dalam terlebih lagi dengan anak-anak. Sadar lah Nada, kau tidak pantas untuk laki-laki baik seperti dokter itu! " ucap nya bicara sendiri seolah-olah berbicara dengan bayangan nya di cermin.
__ADS_1
Nada memejamkan mata nya sesaat menepis sekelebat ingatan akan kejadian yang membuatnya trauma.
"Astaghfirullah... Kau harus kuat Nada! Enyahkan ingatan terkutuk itu dari pikiran mu! Kau harus kuat untuk anak-anak mu dan jangan perlihatkan wajah lemah mu di hadapan orang lain ! " ucapnya lagi sembari menormalkan detak jantung nya yang berpacu dengan cepat bagaikan lari kuda.
Terdengar suara bel yang menandakan jika Martin sudah kembali lagi ke apartemen.
"Tenang Nada, tenang! Tetap fokus dan anggap saja tidak terjadi apa-apa! " gumam nya lirih sembari berjalan ke arah pintu.
Ia mengintip dari lubang kecil dan memang Martin lah yang datang. Ia menghirup oksigen banyak-banyak sambil memegang gagang pintu.
"Bismillahirrahmanirrahim... " bisik nya pelan.
Ceklek
"Ayo masuk Dokter! Maaf kalau saya lama bukanya, soalnya ketiduran! " ucap Nada dengan muka tidak enak.
"Tidak apa-apa Nyonya! Tadi saya mampir beli martabak, apa anda suka martabak? Soalnya saya beli martabak manis dan martabak telur karena tidak tau anda suka martabak yang mana! " sahut Martin panjang lebar menjelaskan pada Nada.
"Jangan repot-repot dokter! Saya tidak mau membuat Anda capek ! Terimakasih karena saya suka dua-duanya! " ujar Nada dengan tersenyum kecil.
Setelah menutup pintu, mereka berdua berjalan menuju dapur untuk meletakkan martabak yang di beli Martin.
"Lihat lah dia Nada! Dia tidak melirik mu apalagi sampai tertarik pada wanita seperti mu! Hapus semua perasaan itu di hatimu mumpung baru bertunas! Jangan sampai menjadi kuncup hingga mekar menjadi sebuah bunga! Patahkan tunas nya hingga ke akar-akar nya! " batin Nada dengan pilu.
Bersambung...
__ADS_1