
"Brengsek kau! ingat, aku pergi bukan karena takut dengan perempuan tengik seperti mu! Aku akan datang mencari mu dan membuat mu membayar nya dengan nyawa mu! Ingat itu! " ucap Papa Ajeng dengan wajah penuh dendam.
"Silahkan saja! Aku tidak takut! Aku tunggu kedatangan pecundang seperti anda! " jawab Tata dengan dingin sambil berjalan mendekati Mami Sita.
Ajeng dan kedua orang tuanya pergi dari halaman rumah Mami Sita dengan rasa malu dan dongkol karena jadi bahan tertawaan semua yang melihat mereka.
Mami Sita masih tertegun melihat kedatangan Tata yang dengan cepat mengusir lalat yang datang dengan sekali ancaman.
"Mi, Mami gak papa? " tanya Tata sambil menyentuh pundak Mami Sita.
Mami Sita langsung luruh ke lantai tanpa Tata sempat menahannya.
"Mami/Ndoro...."Teriak Tata dan beberapa pelayan yang melihat kejadian tadi ikut berlari mendekati majikan mereka.
"Mami.... " teriak Abeth dari dalam rumah ikut berlari keluar.
Mami Sita menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Tata. Ia menumpahkan segala sesak di hatinya mendengar hinaan dan cacian orang kepada anak-anak nya.
"Bik, ambilin Mami minum ya? Aku mau bawa Mami duduk di dalam dulu! " pinta Tata kepada pelayan sepuh yang menatap Mami Sita dengan sedih.
"Baik, Non! " jawab nya sambil mengusap air mata di pipinya.
Abeth juga menangis sambil ikut memeluk tubuh Mami nya dan Tata secara bersamaan.
"Kak, ayo kita bawa Mami ke dalam! Kita duduk di sofa ya? " ajak Tata dengan lembut.
Abeth mengangguk kan kepalanya, ia melepas pelukannya dan membantu Tata memegang lengan kanan Mami nya karena Tata memegang yang satunya lagi dan membawanya masuk ke dalam rumah, mendudukkan Mami di sofa ruang tamu.
"Ayo Mi, di minum dulu air putihnya! "ucap Tata dengan menyodorkan segelas air putih yang baru saja di bawa Mbok pelayan.
Mami Sita pun meminum nya dengan pelan kemudian menangis kembali sehingga Tata kembali duduk di samping Mami Sita mengusap pelan punggung nya.
Abeth duduk di lantai dengan menenggelamkan wajahnya di paha Mami Sita dengan menangis.
__ADS_1
"Maafin Abeth ya Mi, udah membuat Mami malu dan di hina seperti ini? Abeth minta maaf karena udah bikin Mami nangis lagi? Abeth minta maaf! " ucap nya dengan suara serak.
Mami Sita menegakkan wajah putrinya dan memintanya untuk duduk di samping kanan nya. Ia membelai wajah Bule putri sulung nya dan mengusap air matanya.
"Kenapa Abeth yang meminta maaf? Abeth gak salah! Mami gak pernah malu dengan kekurangan anak-anak Mami, Mami hanya kecewa dengan diri Mami sendiri yang tidak bisa membela anak-anak Mami dari mulut jahat mereka! Mami gagal jadi orang tua kalian! " sahut Mami Sita dengan memeluk Abeth.
"Mami bukan orang tua gagal! Mami orang tua yang hebat untuk Abeth dan Dave! Di lain waktu, biarkan Abeth yang akan membela Mami dari hinaan mereka! Mami segala-galanya untuk Abeth dan Dave termasuk Papi juga! Kalian orang tua terbaik yang kami punya! Kamu tidak peduli dengan omongan orang, yang penting Mami dan Papi selalu mendukung kami! " jawab Abeth dengan menangis haru.
Mereka kembali berpelukan dan Mami Sita menciumi wajah Abeth berulang-ulang dengan linangan air mata.
Seseorang mengintip dari tempat yang tidak terduga dengan menghapus air mata yang juga jatuh di pipinya. Ia semakin kagum dan terpesona dengan sikap dan sifat Tata yang membela Mami nya tanpa pandang bulu.
"Oh ya, ngomong air yang kamu siram ke lalat itu air apaan sih Ta? " tanya Abeth mengalihkan kan pembicaraan.
"Oh itu... Air cucian piring di tambah air rendaman kaos kaki yang udah tiga tahun gak di cuci punya mamang penjual bakso depan sana yang tadi Tata pinta sewaktu ia hendak membuang air rendamannya. " jawab Tata tanpa merasa bersalah.
"Apaaaaa?? Huek!!! " pekik Abeth kaget sambil berekspresi orang muntah.
"Astaga Tata, kok ya kamu bisa kepikiran mencari air kotor itu? " tanya Mami Sita kepo sambil memegang perutnya yang mulai kram karena tertawa.
"Sebenarnya Tata heran banget liat orang ramai-ramai datang ke rumah Mami. Karena takut ganggu, Tata pikir itu tamu penting Mami, Tata mau balik lagi masuk ke mobil. Eh, baru juga mau buka pintu mobil, Tata dengar yang prianya menyudutkan Mami, kemudian yang wanita juga ikutan mengeluarkan kata-kata kasar. Ya udah Tata langsung tancap gas aja mencari kedai bakso mau minta air cucian piringnya. Eh, rezeki emang gak kemana, si mamang nya mau buang air rendaman kaos kakinya yang ia rendam semalaman,yang udah tiga tahun gak ia cuci dan baunya beuh... Lebih dari bau bangkai. Tata pinta aja air rendaman nya dan mamang nya langsung ngasih plus ember nya juga. Tata campur aja semua nya sambil minta tolong buat bawa ke rumah Mami! " jawab Tata dengan santai.
"Ha... Ha...Ha... Ha... " mereka kembali tertawa dan kali ini tertawa dengan keras sampai-sampai mereka pada berlarian ke belakang karena ada yang sampai ngompol di celana.
Sedangkan seseorang yang mengintip pun menyunggingkan senyuman manis nya yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selama ini.
"Ya ampun Ta... Kamu benar-benar pintar banget! Pintar bikin sakit perut kayak gini! " ucap Abeth sambil mengusap air mata yang keluar di sudut matanya karena kebanyakan tertawa.
"Iya, Non memang hebat! Bisa membuat orang jahat kayak itu pergi dengan cepat. Kalau perlu jangan datang lagi ke sini selama nya! " celutuk salah satu pelayan dengan wajah kesal.
"Iya, apa lagi saya Sri! Liat mulutnya yang lemes itu jadi gregetan banget. Pengen tak sobek mulutnya itu biar gak bisa lagi ngomong! " jawab yang satunya lagi dengan geram.
"Ha... Ha... Ha.. Mbok-mbok bisa aja! Lain kali kalau mereka datang lagi, Mbok telpon saya aja biar saya datang lagi dan kita kerjain lagi mereka sama-sama! " jawab Tata dengan wajah tersipu malu.
__ADS_1
"Siap atuh Non! " jawab Mbok yang di panggil Sri dengan memberikan jempolnya.
"Tapi, Mami sedikit khawatir Ta, biar bagaimana pun juga Mas Galang itu orang yang nekat. Mami takut nanti dia mencelakakan kamu Ta. " ucap Mami Sita dengan nada khawatir.
"Mami gak perlu cemas! Tata gak akan takut dengan laki-laki seperti itu. Oh ya, emangnya keluarga Mami gak ada yang tau kalau kak Abeth udah nikah? " tanya Tata kepo.
"Gak ada Ta, kecuali keluarga inti Nata kusuma! Ini semua salah kakak yang belum mau mengungkapkan pernikahan kami yang di lakukan secara mendadak karena mertua kakak waktu itu sakit parah. Kami bahkan hanya menikah di rumah sakit dan karena kesibukan masing-masing belum juga merayakan resepsi nya. " jawab Abeth dengan wajah menyesal.
"Eh, ngomong-ngomong kamu datang emang mau nemuin Mami ya? " tanya Mami Sita yang baru ingat belum menanyakan tujuan kedatangan Tata.
"Kalau kamu sibuk, telpon Mami aja! Biar Mami yang main ke sana! Kan jadi gangguin aktivitas kamu lagi Ta! " ucap Mami Sita lagi sebelum Tata mengeluarkan suaranya.
"Tata lagi gak sibuk Mi? Kan ada Sandra yang akan gantiin Tata kalau Tata ada keperluan lain. Tata kesini mau tanya Mami, Mami ada gak nemuin gelang kaki Tata yang dari perak di rumah ini?Soalnya sepulang dari pesta malam itu, gelang kaki Tata udah hilang dan gak ada lagi di kaki Tata. Seingat Tata, gelang tersebut masih ada waktu Tata duduk di bangku ujung taman makan kue! " jawab Tata panjang lebar.
"Mami gak nemuin apa-apa? Kalian nemuin gak Sri, Lastri, Imah sewaktu beres-beres kemarin? " tanya Mami kepada para pelayan nya.
Mereka serentak menggelengkan kepalanya dan Tata hanya menghela nafas kasar karena gagal menemukan gelang kaki kesayangan nya itu.
"Emang nya itu gelang kaki dari siapa sih Ta, kamu kayak gak rela gitu kalau hilang? " tanya Abeth heran.
"Itu gelang kaki dari almarhum ayah Tata Kak? Di belikan nya waktu Tata menang lomba taekwondo antar kabupaten. " jawab Tata dengan sendu.
"Maaf jika pertanyaan kakak membuat kamu sedih? " ucap Abeth dengan sangat menyesal.
"Bukan ucapan kakak yang bikin Tata sedih, tapi Tata sedih karena gak ada lagi barang pengingat Tata dengan almarhum ayah. "jawab Tata dengan kembali tersenyum.
"Wah, ada apa nih ramai-ramai kalian berkumpul di sini?? " tanya Papi Dayton yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga kalian suka othor Up lagi....
__ADS_1