
Suster Sumi menunggu di pinggir jalan dengan santai memakai perut palsu. Beberapa orang yang lewat menegurnya dengan ramah, bahkan ada yang memberikannya makan karena menduga jika ia benar-benar hamil.
Tidak berapa lama datang sebuah mobil SUV yang berwarna putih berhenti di depan Suster Sumi berdiri. Ia langsung masuk ke dalam mobil ketika seseorang membukakan pintu mobilnya. Ternyata dari awal anak buah Tiger sudah mengikuti mobil Harisman dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Sedangkan Harisman saat ini sedang menangis menyesali apa yang telah ia lakukan di masa lalu yang sempat meminta Retno menggugurkan kandungannya ketika Retno meminta pertanggungjawaban dari nya.
Lain dengan Harisman, lain lagi dengan Anika yang sedang makan siang di sebuah warung makan Sunda yang ia singgahi bersama Tata sekalian mereka istirahat dan sholat.
"Kak, kenapa kakak gak langsung jawab aja lamaran Babang Bule waktu itu? " tanya Anika yang sedang memisahkan duri ikan gurame asam pedas yang ada di hadapan nya.
"Kakak hanya ingin lebih yakin saja, karena kakak tidak mau mengambil keputusan terburu-buru! " jawab Tata dengan mata terpejam.
"Maafkan keluarga Anika ya Kak? Yang sudah membuat rumah tangga kakak hancur! Maaf kan Kak Dika juga ya kak, yang begitu bodoh tidak bisa menolak apa yang keluar dari mulut Mama! " ucap Anika dengan wajah hendak menangis.
"Jangan menangis! Itu sudah masa lalu yang harus kita kubur! Jangan lagi mengungkit nya jika masih menorehkan luka, kakak sudah menganggap semua itu takdir yang memang harus kakak jalani. Ibarat kata pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, seperti kakak sekarang ini! Dulu sakit dan kecewa, sekarang kakak sudah bahagia! Jadi jangan pernah mengungkit lagi hal itu lagi! Oh ya, apa nanti di Jakarta kau tidak mau menjenguk Mama dan kakak mu? " jawab Tata dengan bijak sambil bertanya kembali.
"Mungkin akan menjenguk Kak Dika, tapi kalau Mama.... Anika masih belum sanggup Kak ketemu Mama! Rasa kecewa dan marah Anika masih bersarang di hati Anika atas kebohongan Mama akan siapa diri Anika! " jawab Anika dengan wajah terluka.
"Yang sabar ya, siapa pun ayah biologis kamu, kamu tetap anaknya ayah Jamal! Kasih sayang nya tidak akan pernah hilang sampai kapanpun! Kakak ngerti kok dengan kekecewaan kamu, tapi jangan lama-lama ya? Karena bagaimana pun juga Mama kamu adalah ibu yang melahirkan kamu ke dunia ini dengan bertaruh nyawa. Seburuk apapun Mama mu, ia tetap Mama kandung mu, Anika! Sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang Ibu, pasti nanti kau merasakan apa yang dulu di rasakan Mama mu waktu mengandung mu! Kau paham? " ucap Tata menasehati Anika.
"Iya Kak, Anika paham! " jawab nya dengan mengangguk.
"Ya sudah, ayo makan lagi! " ucap Tata menyuruh Anika makan kembali.
Mereka berdua menikmati makan siang dengan begitu nikmat sambil di temani angin sepoi-sepoi yang membuat suasana semakin tenang dan sejuk.
πΏπΏπΏ
Di Villa...
Riko bernafas dengan lega ketika mendapat kabar dari istrinya jika saat ini mereka sedang beristirahat makan siang. Ia lalu mengepak barang nya ke koper untuk di bawa pergi ke Jakarta menyusul Anika.
__ADS_1
"Kamu mau berangkat kapan Ko? " tanya Ayah Jamal berdiri di depan pintu kamar Riko memakai tongkatnya.
"Rencananya nanti sore aja yah sehabis Asar! " jawab Riko sambil berbenah.
"Ya udah... Hati-hati kalau naik kereta api! Jangan sampai lengah karena rawan copet! " sahut ayah Jamal menasehati.
"Iya yah! " jawab Riko singkat.
Di rumah utama, Ibuk dan Mak Ijah sedang duduk santai menonton televisi.
"Anak-anak memang ada aja tingkahnya! Masa tadi katanya cuma keliling sekitar Villa, eh tau-taunya ngasih kabar kalau ikut ke Jakarta! " ucap Ibuk dengan tidak habis pikir.
"Namanya juga anak-anak Nyah, pasti mereka selalu punya keinginan yang mendadak! " jawab Mak Ijah maklum.
"Iya, saya itu juga ngerti Ijah! Hanya saja rumah seperti ini terasa sepi jika gak ada yang berbuat keributan yang selalu membuat rumah ini tampak hidup, tidak sunyi senyap kayak gini! " jawab Ibuk dengan menerawang melihat langit-langit rumah.
"He... He... Itu karena kita sudah terbiasa rumah ini ramai dengan teriakan dan kehebohan Anika, Nyonya! Jadi, begitu Anika pergi rumah ini terasa sunyi dan sepi, seperti sekarang ini! " ucap Mak Ijah dengan terkekeh pelan.
Tepat sehabis sholat Asar, Riko pamit pada semua orang untuk pergi ke Jakarta menyusul Anika yang sudah berangkat duluan bersama Tata. Ia di antar Tegar ke stasiun kereta api menggunakan sepeda motor.
πΏπΏπΏ
Harisman memutuskan untuk kembali ke Jakarta dengan tangan kosong. Ia hanya terdiam tanpa bicara sepatah kata pun ketika ada yang bertanya kepada nya. Hati dan jiwa nya terasa hampa karena penyesalan akan apa yang ia lakukan di masa lalu terhadap anak kandung nya.
Ia hanya duduk diam di jok belakang karena ia memutuskan untuk membawa sopir dadakan. Ia tampak seperti cangkang kosong yang tidak ada isinya, karena hati dan pikiran nya hilang entah kemana. Ia seperti orang yang kehilangan semangat hidup.
Sedangkan Anika begitu senang ketika mobil yang Tata kendarai sudah masuk kota Jakarta. Ia begitu bahagia melihat bangunan tinggi di hadapannya seolah-olah ia sudah pergi bertahun-tahun dari kota Jakarta.
Tidak berapa lama, mereka pun sampai di kediaman utama Tata. Anika begitu terpana melihat bangunan megah yang ada di hadapannya, ia sampai terbengong- bengong melihat mobil yang di kemudikan Tata memasuki gerbang besar tersebut.
"MasyaAllah Kak, keren banget masuk rumahnya! Gak ada penjaga di luar, tapi pintunya tiba-tiba bisa terbuka! Padahal kalau di dorong pasti berat banget itu pintu, orang segede gaban gitu! " celetuk Anika dengan wajah melongo.
__ADS_1
"Gak usah komen! Tutup gih mulutnya, ntar masuk lalat baru tau rasa! " ucap Tata begitu mobil melewati pintu gerbang.
"Ish kakak! Mana ada lalat masuk! " jawab Anika cemberut dengan langsung menutup mulutnya.
Tata hanya terkekeh melihat Anika yang cemberut tapi hanya sebentar karena ia langsung melongo lagi dengan wajah kagum ketika mobil mereka berhenti di rumah gedongan yang begitu besar dan mewah.
"Kita ke rumah siapa dulu Kak? " tanya Anika begitu Tata mematikan mesin mobil.
Anika memang belum pernah ke rumah ini karena saat ketemu, ia langsung masuk rumah sakit saat menjenguk Mama nya yang masuk rumah sakit karena berbuat ulah di penjara.
"Udah, keluar aja dulu! Nanti kamu juga bakalan tahu! " ucap Tata sambil melepaskan safety belt nya.
Anika menuruti perkataan Tata dengan melepaskan juga safety belt nya dan turun dari mobil. Seorang penjaga menghampiri mereka dan Tata langsung menyerahkan kunci mobil setelah penjaga tersebut membungkukkan badan di depan Tata.
"Ayo kita masuk! " ajak Tata dengan pura-pura tidak melihat wajah heran Tata.
Anika yang masih bengong hanya mengikut saja saat Tata menarik tangannya untuk berjalan masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Ketika baru saja mau memencet bel, pintu tiba-tiba saja terbuka dan terdengar jeritan Kayla yang berlari ke arah mereka.
"Aunty Ika???? " pekik Kayla sambil berlari.
"Loh, Kayla! Aunty kangen....! Kenapa kamu bisa keluar dari rumah gedongan ini?? " ucap Anika juga memekik sambil bertanya kepada keponakannya tersebut.
"Ila kan tinggal di sini sekarang Aunty?? Sama dedek Kana, Papa, sama Mama! " jawab Kayla dengan wajah polosnya.
"Apa???? Yang bener ?? " ucap Anika dengan wajah terkejut dan langsung melihat ke arah Tata.
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...